29 May 2014

[FACTS] Kamisan #2 Kartu Pos - Alienation and Peter Skrzynecki's Post Card

Have you ever read Peter Skrzynecki's Post Card?



Post Card
Peter Skrzynecki
 
A post card sent by a friend
Haunts me
Since its arrival -
Warsaw: Panorama of the Old Town
He requests I show it
To my parents

Red buses on a bridge
Emerging from a corner -
High-rise flats and something
Like a park borders
The river with its concrete pylons
The sky's the brightest shade


Warsaw Old Town
I never knew you
Expect in third person -
Great city
That bombs destroyed,
Its people nassacred
Or exiled - you survived
In the minds
Of a dying generation
Half a world away.
They shelter you
And defend the patterns
Of your remaking,
Condemn your politics,
Cherish your old religion
Abd drink to freedom
Under the white eagle's flag.

For the moment,
I repeat, I never knew you,
Let me be.
I've seen red buses
Else where
And all the rivers have
And obstinate glare
My father
Will be proud
Of your domes and towers,
My mother
Will speak of her
Beloved Ukraine
What's my choise
To be?

I can give you
The recognition
Of eyesight and praisee.
What more
Do you want
Beside
The gift of despair?


I stare
At the photograph
And refuse to answer
The voiced of red red gables
And a cloudless sky

And the rivers bank
Alone tree
Whispers:
"We will met
Before you die."


***


Skrzynecki merupakan seorang penyair keturunan Polandia yang lahir di Jerman pada tahun 1945, sebelum akhir Perang Dunia II. Kemudian, pada tahun 1949, keluarganya bermigrasi ke Amerika.

Puisi di atas merupakan refleksi Skrzynecki saat melihat kartu pos Warsawa. Bila kita memutar waktu, kembali ke sejarah Warsawa di masa sebelum Perang Dunia II, kota ini dikenal sebagai kota yang penuh dengan vitalitas; penuh kehidupan dan memiliki nilai historis budaya yang kental, seperti yang digambarkan Skrzynecki saat dia menyatakan Warsawa sebagai berikut: "Red buses in motion", "High-rise apartments", dan "The sky's the brightest shade". Gambaran ini adalah gambaran kota Warsawa sebelum Perang Dunia II berlangsung.

Pada masa Perang Dunia II, kota Warsawa dibom hingga hancur dan akhirnya banyak penduduk Warsawa yang beremigrasi. Ada banyak yang meninggal dunia, dan meskipun selamat, orang-orang tersebut harus melarikan diri; keluar dari kota Warsawa. "You survived. In the minds of a dying generation. Half a world away". Gambaran ini, sesungguhnya, menjadi gambaran yang juga dialami oleh keluarga Skrzynecki saat harus pindah ke Australia. Kota Warsawa menjadi kenangan bagi generasi dari orang tua Skrzynecki, sementara bagi dirinya sendiri, kota Warsawa seperti sebuah kota yang asing dan tidak dikenal. Ada perasaan terasing, alienation, dan entah mengapa kota Warsawa terasa sangat jauh. Tidak ada jejak, sense of belonging terhadap kota Warsawa tidak bersisa, kecuali di dalam hati dan pikiran generasi yang secara langsung meninggalkan kota Warsawa di masa Perang Dunia II.

Analogi dari generasi yang tercabut dari kampung halaman ini seperti ketika kita melihat sebuah kartu pos yang dikirim dari sebuah tempat yang tidak pernah kita datangi. Melihat sebuah tempat yang (mungkin) cantik, menggugah untuk didatangi, tetapi ada jarak begitu jauh dan ini sulit untuk digambarkan selain melalui sebuah kata; asing. Bedanya, jika kita memang tidak memiliki ikatan khusus dengan tempat tersebut, maka perasaan asing tadi hanya berjejak sebagai perasaan asing biasa. Maka bayangkan jika sebenarnya kita memiliki ikatan khusus dengan tempat di kartu pos tersebut, ada kejanggalan di dalam rasa asing yang tersisa. Rasa asing berbaur kesedihan, dengan rasa sedih yang juga asing.

Nah lho?!

Kartu pos merupakan simbol dari sebuah perjalanan. Kali ini, kartu pos Warsawa menjadi representasi dari sebuah perjalanan yang tidak pernah dilakukan secara langsung, hanya didasarkan pada cerita turun temurun. Mirip seperti sebuah dongeng atau cerita rakyat yang diperdengarkan kepada kita secara turun temurun, tetapi kali ini, menyebabkan kecemasan sekaligus perasaan excited karena kisah tersebut menjadi bagian dari jati diri kita.

Kenapa?

Karena dongeng tersebut berangkat dari kisah nyata, menjadi bagian dari sejarah kehidupan pribadi kita secara umum. Sebuah kisah, yang sebenarnya sangat pilu. Ada unsur sejarah kelam dunia yang berbaur di dalamnya. Secara personal, saya merepresentasikan kisah ini seperti kisah di dalam keluarga besar Ibu saya; komunisme, yang menyebabkan tercabutnya banyak kisah dan kehidupan di dalam keluarga Ibu saya di masa itu -- seperti akar pohon yang dicabut secara paksa dari dalam tanah untuk ditanam di dalam lahan baru, yang menjadi simbol kehidupan dan harapan baru.

Skrzynecki merefleksikan pengalamannya dengan juga membandingkan kehidupan di Warsawa dengan kehidupan modern yang dijalaninya di Australia. Dia memberikan dua pandangan dari dua negeri tersebut. Dia menggunakan persona, bahkan secara retoris mempertanyakan (dan juga mengajak pembacanya untuk bertanya) untuk apa persona itu dia gunakan? Dia sendiri tidak merasa yakin dengan jati dirinya; orang Warsawa atau orang Australia? Dia tidak merasa yakin dengan latar belakang budaya yang menjadi jati dirinya. Semua orang, terutama orang tuanya, menyatakan bahwa Skrzynecki merupakan orang Warsawa, sementara dia sendiri merasa asing dan merasa tidak memiliki keterikatan langsung dengan Warsawa. Lebih buruknya, dia tidak pernah ke Warsawa.

Pernah membaca novel Pulang karya Leila S. Chudori? Bayangkan Skrzynecki seperti tokoh Lintang di novel tersebut. Beruntungnya Lintang karena akhirnya dia berhasil mengenal Indonesia secara langsung. Skrzynecki, tidak. Ada kecemasan yang ditampilkan oleh Skrzynecki terhadap kota Warsawa. Kecemasan ini, merupakan efek yang terasa wajar, karena ada sejarah kelam yang dilalui oleh keluarganya saat akhirnya memutuskan keluar dan melarikan diri dari Warsawa. Di sisi lain, ada keinginan mendalam untuk bisa menjejakkan kaki di Warsawa. "We will met before you die", kata persona lain yang ditampilkan oleh Skrzynecki melalui personifikasi sebuah pohon di Warsawa.


***


Belonging

Bagi kita, yang tidak pernah merasakan jauh atau terasing dari keluarga dekat atau kampung halaman, mungkin akan merasa bahwa ide dasar mengenai belonging (kepemilikan) ini terlalu "drama". 

Dulu, ada sebuah website, sayangnya saya lupa di mana dan saat mencari lagi belum juga ketemu sampai sekarang, yang mengajak kita untuk menganalogikan puisi ini sebagai berikut...

Bayangkan diri kita seperti sebuah daun yang terpisah dari pohon dengan jarak yang sangat jauh, dan di saat kita menyadari jauhnya jarak tersebut, kita sudah terlalu jauh -- sangat jauh -- untuk bisa kembali ke tempat semula. Nah, masa lalu adalah daun kering dan akhirnya layu ini. Sudah tidak ada lagi hubungannya dengan kehidupan kita sekarang, di tempat yang baru.

Sedih ya? Iya...

Artinya, kita sudah benar-benar tercabut dari akar. Sialnya, sisa-sisa dari masa lalu, sisa-sisa dari sejarah keberadaan kita di dunia ini, sudah sedemikian menghilang dan yang tersisa tinggal "dongeng" belaka.

Masalahnya...

Seperti selayaknya sebuah sejarah pada umumnya, generasi sekarang pasti akan diminta untuk melanjutkan sejarah yang sudah terlupakan sebelumnya. Jika di masa lalu terjadi pembantaian, penyerangan, pembuangan, bahkan kematian, maka di masa sekarang akan diminta untuk melanjutkan kenangan yang tersisa dari masa lalu tersebut. Apalagi, ini menyangkut sebuah eksistensi dan juga belonging, di mana demi menjaga eksistensi tersebut seolah ada "tuntutan" untuk merekonstruksi sejarah itu kembali; mencari jejak-jejak yang hilang, bahkan bilang memungkinkan, membalas dendam. Bukan sekedar membalas atas hak kepemilikan, melainkan juga mereklamasi puing-puing supaya menjadi kembali utuh. 

Reklamasi inilah yang terlihat dari puisi Post Card karya Peter Skrzynecki.  Ada ambivalensi, sikap yang saling bertentangan antara tidak ada keinginan untuk merekam kembali jejak masa lalu, bahkan cenderung menolak kota Warsawa sebagai tanah leluhur, dan keinginan untuk merekonstruksi kepemilikan orang tuanya dulu terhadap kota Warsawa -- kota yang menjadi simbol bagi keturunan Polandia.

In the end...

Seberapa jauh pun jarak kita dengan semua yang menjadi hal atau tempat kita berpijak atau memiliki sense of belonging terhadapnya, walaupun ada saat di mana kita akan lari dari mereka, tetapi saja rasa sense of belonging juga yang akan membuat kita kembali.


Have a blessed day!

Howreee!!!

#Kamisan dimulai lagi!!!

Ada sedikit perbedaan formasi di #Kamisan Season 2 ini. Sekarang kami ber-12, yaitu:
  1. Olih
  2. Devi
  3. Aria
  4. Cikie
  5. Nia
  6. David
  7. Ria
  8. Koto
  9. Adji
  10. Renee
  11. Febi
  12. Adham
Ketentuan dasar mengenai penulisan di #Kamisan Season 2 masih sama dengan sebelumnya. Tema kedua ini adalah "KARTU POS".

Sekarang, kami juga memiliki akun twitter, silakan follow @nuliskamisan. Kami juga memiliki blog khusus, silakan klik link ini.