30 May 2014

[FACTS] #1Minggu1Cerpen - Dawai yang Berhenti Bersuara


"Sebuah biola, jika dia berdiri sebagai dirinya sendiri; biola, dia hanya seonggok kayu. Tidak dapat bergerak." katamu di suatu malam, saat kita menikmati ragam bintang dan kekayaan langit yang begitu cerah terlihat.

Suasana malam yang ditemani oleh kejernihan langit merupakan suasana yang paling kau sukai, aku sangat tahu tentang itu. Bagimu, suasana seperti itulah yang paling tepat untuk menggesek biola, meniupkan nyanyian pujian terhadap alam, sekaligus menyebarkan energi penuh cinta ke sekelilingmu. Gesekan dawaimu, suara yang dihasilkan dari biolamu, selalu mampu menggerakkan dan menghidupkan semangat bagi kami yang mendengarkan.

Mungkin, kau tidak menyadarinya.

"Kamu ingat puisi Sheila Black?"
 Aku tersentak, lamunanku buyar, "Puisi yang mana?"
"Violin."

Violin.
Bagaimana mungkin aku lupa?

Violin karya Sheila Black merupakan saksi dari pertemuan pertama kita. Saat itu, kau melakukan musikalisasi puisi Violin dengan berteman biola kesayanganmu itu. 

"You must use the body - its curves, its hollows, the spring of the sound, which brings back what is absent, what has been and is now gone, fading. Cat-gut, fret, the busy machinery of longing, which takes its strength from the presence of absence, the body's darkness, the wood carved out, thinned and made to flex." 

Kau melantunkan bagian dari puisi Violin, senyummu seolah menggodaku untuk melanjutkan, "There is a pain at the source of it - so easily broken, this tree without a heart, the sap dried to amber patina. Only in the sound can you hear it move, the veins in the blood of the body that is no more. The bow pulled along the taut strings, a pitch that is all but unbearable."

Kemudian, hening. Kita terhanyut ke dalam dimensi yang, mungkin, berlainan. Aku tak tahu, saat itu aku hanya merasakan kesedihan di dalam lantunan puisi tersebut. Kita sama-sama tenggelam, terdiam, menarik napas panjang.

"Biola hanya dapat digerakkan oleh pemainnya. Tapi, setelah itu, setelah dawainya digerakkan dan dimainkan... Biola menjelma menjadi sebuah alunan yang menggerakkan hati siapapun yang mendengarkan suaranya."

Aku tersenyum menanggapimu, "Only in the sound can you hear it move."

"Iya. Only in the sound can you hear it move, the veins in the blood of the body that is no more." dan kau terdiam lagi. Entah apa yang menggelayuti alam pikiranmu saat itu. Aku tak mampu menerkanya.

"Puisinya menjadi personifikasi dari biola, mencoba secara implisit untuk melihat konotasi antara biola dan gerakan; gerakan dalam tanda kutip ya. Makanya aku suka dengan puisi Violin. Puisinya sederhana, tapi ngena banget." aku mengeluarkan berpendapat, berusaha memecahkan keheningan yang terasa berbeda. Ada kejanggalan, tetapi aku tak tahu apa. Aku melihatmu menutupi sesuatu, tetapi aku tak mampu menebak apa yang saat itu kau tutupi.

Kau berpaling, menghadap ke arahku, dan kembali tersenyum, "She knew really well how to describe the parallel between playing an instrument and making a poem. Dia, Sheila Black itu. Style dia dalam berpuisi itu membuat kita, indirectly aware kalau dia menggunakan gaya confessional..."

"Seolah bercerita. Lebih tepatnya, curhat." sahutku.
"Iya. Dia memang selalu curhat melalui puisi-puisinya." serumu lagi. 

Saat itu, kita berdiskusi panjang lebar mengenai puisi-puisi karya Sheila Black, terutama mencoba menginterpretasikan Violin; menganalisa dengan cara kita, versi kita. Termasuk membahas tentang Sheila Black itu sendiri. Pengetahuanmu mengenai puisi yang sangat luas, membuatku selalu terkagum kepadamu. Apalagi, jika kau sudah membahas puisi-puisi ataupun kutipan yang terkait dengan biola. Puisi dan biola tidak pernah lepas darimu, menjadi ciri khas bagi siapapun yang mengenalmu. Seolah hidup dan matimu memang hanya demi puisi dan biola.

"As a poet is a storyteller. An instrument player is a storyteller also. Aku ketika berpuisi maupun aku ketika memainkan biola, keduanya sama-sama sedang mencoba bercerita."

Aku tahu, sangat tahu, dan suasana kembali terasa melow. Seperti ketika Sheila Black menggambarkan bagaimana suasana hati dari kayu yang sedang diukir menjadi sebuah biola, kemudian menipis dan menjadi lentur.  
"There is a pain at the source of it - so easily broken, this tree without a heart, the sap dried to amber patina." kau kembali bersuara, dan aku hanya mampu tersenyum. Mata kita saling menatap, dalam dan lama. Tidak seperti mudahnya kita dalam menerjemahkan puisi-puisi karya Sheila Black, setidaknya dalam versi kita berdua, aku tidak mampu untuk menerjemahkan makna dari tatapanmu saat itu.


***


Aku memegang biolamu, merasakan getaran yang mungkin tersisa. Aku membayangkan caramu memegangnya dulu. Aku berdiri, menatap ke arah matahari dan kembali terbawa ke dalam putaran kenangan tentang kita dulu.

The Art of Violin

Aku kembali mengingat percakapan kita, masih di masa itu, saat matahari sudah menyapa bumi dan kita masih terlalu malas untuk beranjak dari beranda tempat kita bercengkrama sejak malam. Pagi hari yang diawali dengan dirimu mengalunkan musikalisasi Violin karya Sheila Black, berteman dengan biolamu itu.


Violin 
Sheila Black

You must use the body - its curves,
its hollows, the spring of the sound, which
brings back what is absent, what has
been and is now gone, fading. Cat-gut,
fret, the busy machinery of longing,
which takes its strength from the
presence of absence, the body's darkness,
the wood carved out, thinned and
made to flex. There is a pain at the
source of it - so easily broken, this tree
without a heart, the sap dried to amber
patina. Only in the sound can you
hear it move, the veins in the blood of
the body that is no more. The bow pulled
along the taut strings, a pitch that
is all but unbearable.


The veins in the blood of the body that is no more...
Aku terdiam, rasanya ini sangat familiar.

"The bow pulled along the taut strings, a pitch that is all but unbearable. Seperti berkisah tentang rasa sakit yang tak tertahankan." seperti mengigau, aku mengucapkan kalimat ini secara spontan.

Kau, lagi-lagi, tersenyum, "Dia belajar dari Frida Kahlo untuk bisa membuat puisi dan berkisah mengenai rasa sakit, supaya bisa diubah menjadi sesuatu yang lebih indah. Membuat semua hal dipandang dari media yang lebih positif."

"Hmm..."
"Kenapa?"

Aku masih terdiam, benakku tiba-tiba dipenuhi oleh beberapa kilasan episode tentangmu. Seketika, perasaanku menjadi tidak enak.

"Lihatlah biola. Bayangkan bagaimana sebuah biola dimainkan. Setiap gesekan dan setiap tarikan yang dilakukan ketika memainkan biola, jika dianalogikan dengan tubuh kita, sama seperti kita sedang diobati ketika sakit. Mungkin. Itulah yang aku bayangkan. Rasa sakit atau rasa pahit yang dirasakan saat sedang diobati itu merupakan langkah kita untuk menikmati kesenangan lainnya, yaitu kesehatan. Sebuah hal yang membahagiakan. Dawai-dawai biola digesek dan ditarik untuk memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang mendengar."

Sakit.

"A pain, somehow, is a sort of a forceful thing which makes us creative. Ada kalanya, kita akan melihat rasa sakit sebagai sebuah cara untuk membuat kita menjadi lebih peka terhadap setiap hal yang terjadi di sekitar kita. Sama seperti ketika Sheila Black, dengan disability yang dideritanya dan membuat dia harus menjalani serangkaian operasi, terinspirasi oleh Frida Kahlo. Mengalami rasa sakit yang luar biasa justru memancing ide-ide untuk berkarya dan melalui rasa sakit tadi lewat cara yang lebih kreatif."

Dan itulah akhir dari kisah kita berdua. Aku tidak pernah menduga bahwa itu adalah pertemuan terakhir kita. Meninggalkan biola yang kini dawainya sudah berhenti bersuara.

Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-17 di program ini.