17 May 2014

[THOUGHTS] #1Minggu1Cerpen - Mimpi


PROLOG

"Hentikan..." Aku memohon kepada sosok di depanku, "Saya mohon, lepaskan saya..."

"Kau pikir bisa selamat kali ini, hah?!! Tidak akan!!" seringainya menyeramkan. Aku tahu, aku tidak akan pernah selamat jika tidak mampu melarikan diri secepatnya.

Pikiranku terus berputar, aku berusaha untuk mengulur waktu, "Tolonglah..."

Aku tidak tahu siapa atau apa sebenarnya sosok di depanku ini. Aku melewati jalan ini, seperti biasa aku lalui setiap hari. Ini pun masih sore hari dan matahari belum menghilang dari peredaran langit di atasku. Sepertinya aku terkena mimpi buruk karena tiba-tiba harus berhadapan dengannya.

"Bersiaplah!" dia melesat cepat ke arahku. Jarak di antara kami semakin menipis.

"Tidak... Jangan... Tolonglah..." Aku terus memelas, berharap rasa kasihan darinya. Namun, dia justru semakin mendekat.

"Akan kupastikan, kau tidak akan pernah bisa lari dariku!" suaranya semakin tegas, nyaliku semakin menciut. 

Aku terus bergerak mundur, mundur, hingga aku mendapatkan kesempatan untuk lari dan terus berlari. Aku berteriak kesetanan sambil terus berlari kencang, tanpa mempedulikan sekitarku lagi. Tujuanku hanya satu, selamat.

Aku terus berlari, berlari, berlari secepatnya. Aku tidak peduli dengan ngilu yang mulai terasa di kakiku. Flat shoes yang aku pakai sudah terlepas entah di mana. Tujuanku hanya satu, selamat. 

Sialnya, dia mengejarku dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja aku terjebak. Aku tidak tahu ini di mana. Di sekitarku hanya ada rerumputan tinggi dan lebat. 

Sumber: Pinterest

Sosok tadi muncul di hadapanku sambil tertawa melengking, sontak bulu kuduknya berdiri. Aku heran, bagaimana bisa dia melesat dengan cepat seperti ini?

Siapa dia?

Tubuhku gemetar. Tidak ada jalan lain lagi, aku harus menghadapinya langsung.

"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku!" dan dengan bodohnya aku mengangguk, mengiyakan bahwa aku memang tidak akan pernah bisa lari darinya.

Aku melihat gelisah ke sekelilingku, berharap dapat menemukan jalan keluar. Sialnya, lagi, sepertinya aku sedang tidak ditakdirkan untuk melarikan diri. Pilihanku, selamat atau mati. Aku melihatnya mengeluarkan pedang, panjang, dan berkilat. Aku bisa memastikan, dari kilaunya, pedang itu pasti sangat tajam.

"Rasakan ini!!!"

Belum sempat aku menghindar, aku merasakan pedang itu sudah menusuk pinggang bagian belakangku, tembus ke bagian depan tubuhku.

Aku menatap ngeri ke arah ujung pedang yang nampak terlihat jelas.

Freeze.

Aku hanya mampu berdiri, mematung. Aku, pasrah.

Sosok itu mengeluarkan pedangnya dari pinggangku dan darah mengucur deras sekali, memuncrat ke segala arah. Tawanya menggelegar, semakin terdengar mengerikan.

Duhai.

Kemungkinkan besar, aku akan mati. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkanku.


***


Aku melangkah gontai menyusuri jalanan, tanpa semangat. Pikiranku melayang ke kejadian yang baru saja aku alami di kantor. Atasanku menolak proposal untuk event terbaru kami, untuk yang ke sekian kalinya. Ditambah lagi, aku melakukan kesalahan cukup fatal saat melakukan presentasi di depan klien. Imbasnya, tentu saja, kemarahan atasanku semakin menjadi-jadi. Kami kehilangan klien yang sangat potensial. Bisa jadi, dalam beberapa hari ke depan akan keluar surat pemecatan dengan tidak hormat yang ditujukan kepadaku.

"Gila!!!" teriakku putus asa. Aku tidak peduli orang-orang yang sekitarku menatapku seperti apa, aku juga tidak peduli jika mereka menganggapku benar-benar gila. Rasanya memang aku lebih memilih gila daripada menghadapi kemungkinan bahwa aku akan segera dipecat.

"Anda bukan pegawai baru di sini. Selama ini, performa Anda juga baik. Mengapa sebulan ini justru terus menurun drastis?! Kalau tidak ada perubahan signifikan dalam waktu satu bulan ke depan, sepertinya Anda sudah harus memikirkan untuk berkarir di tempat lain."

Pikiranku, buntu.

Kantor ini adalah obsesiku sejak lama. Bahkan, sejak sebelum aku masuk kuliah. Saat aku lulus kuliah dan langsung diterima bekerja di sana, rasanya sangat membahagiakan. Aku tidak pernah memikirkan berkarir di tempat lain.

Aku terus berjalan sambil memikirkan segala teguran yang aku terima belakangan ini.

"Aarrgghh!!!" Aku kembali berteriak di jalanan. Rambutku sudah berantakan, tidak lagi tercepol rapi. Pakaianku sudah tidak karuan, sama berantakannya.  Sangat berbeda dengan tampilanku biasanya, namun kali ini aku sudah benar-benar tidak peduli.

Aku kemudian memilih duduk di halte terdekat, kakiku rasanya cenat-cenut. Aku melihat ada penjual flat shoes yang menghamparkan dagangannya di samping halte. Murahan, jelas. Harganya hanya Rp. 35.000,00. Tidak bisa dibandingkan dengan stiletto berharga jutaan yang sedang aku kenakan. Dengan nanar aku melihat penampakan stiletto yang kumaksud, bebannya sore ini sungguh berat. Dia kupaksa berjalan, mungkin sudah sekitar 5 km, di jalanan yang tidak mulus. Kulit-kulit luarnya mengelupas. Kasihan, batinku. Aku segera melepas stiletto dengan sayang, mengusapnya lembut. Aku mengutuk diriku karena sudah bertindak kejam kepadanya. Bagaimanapun juga, ini salah satu sepatu kesayanganku.

"Mbak..." panggilku kepada penjual sepatu murah tadi.

"Coba lihat sepatu yang itu, yang ada pita bunga warna hitam. Berapa ukurannya?" Aku menunjuk ke arah sepatu yang kumaksud.

"Nomor 39, Neng. Tinggal satu nomor ini..."

"Ya sudah, sini, saya coba dulu." tanganku menjulur menerima sepatu dari si Mbak dan aku segera mengenakan sepatu itu di kedua kakiku. Pas. 

"Saya ambil, Mbak." Aku segera membayar, menjejalkan stiletto ke dalam tas kerjaku, dan kembali berjalan menyusuri jalanan.

Aku tidak memperhatikan dengan jelas ke mana kakiku melangkah. Di sekelilingku mulai menggelap. Matahari senja akan segera digantikan oleh rembulan dan bintang. Tiba-tiba saja, aku sudah berada di sekitar pasar. Ada jajaran becak di sebelah kananku dan akutergoda untuk menaikinya, mungkin aku bisa menyewanya sampai ke rumahku. Dipikir-pikir, terakhir kali menaiki becak adalah 15 tahun yang lalu.

Belum sempat aku memanggil salah satu Bapak pengendara becak, aku merasakan pundakku ditepuk dari belakang. Sontak aku menoleh, dan di sanalah berdiri satu sosok tinggi berambut panjang. Aku tidak mengetahui jenis kelaminnya, entah manusia atau bukan aku pun tidak tahu. Aku hanya terus berjalan ke arah depan, menghindari sosok tadi. 

Aku merasakan ketidak-nyamanan menjangkiti tubuhku, terasa mencekam. Aku merasa sedang dalam bahaya, dan untuk menghindari bahaya ini artinya aku harus terus berjalan menjauh dari sosok yang terlihat menakutkan itu. Dia pasti sosok yang jahat, keringat dingin mulai terasa di tubuhku dan aku semakin mempercepat langkah kaki. Bahkan, setengah berlari. Tetapi, sejauh apapun aku berusaha menghindar, semakin aku merasakan keberadaannya terus mengikutiku dari belakang.

Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Benar saja, dia ada di sana. Mengikutiku dari belakang. 

Aku berjalan lagi, terus berjalan. Kemudian, aku kembali menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Masih ada sosok itu di sana. Kali ini, dia menyeringai. 

Aku ketakutan, air mata sudah menggenang di mataku. Aku tidak lagi berjalan cepat, aku berlari, terus berlari. Aku tidak peduli saat sumpah serapah beberapa orang menghantamku ketika aku menyenggol kasar mereka, di sela-sela larianku yang tak tentu arah. Aku hanya ingin selamat dari apapun kemungkinan bahaya yang segera menimpaku. Perasaanku semakin tidak nyaman akibat kehadiran sosok tadi. Aku tidak tahu apa tujuannya mengikutiku.

Sosok itu, mungkin terbang, dalam sekejap mata dia ada di hadapanku. Mengerikan. Wajahnya begitu menakutkan. Gigi taring mencuat dari kedua ujung bibir, matanya menatap nyalang. Terkesan buas. 

Makhluk apa ini?

Sosoknya seperti manusia, tetapi aku pun tidak yakin. Belum pernah sekali pun aku melihat manusia dengan penampakan sebuas itu, seperti anjing hutan yang kelaparan.

"Siapa Anda?!" tanyaku waspada. Aku berusaha memberanikan diri untuk menghadapinya, meskipun sebenarnya aku sangat ingin pergi dari situasi tidak menyenangkan seperti ini. Diam-diam, aku menyesal karena memilih meninggalkan mobil di parkiran basement kantor dan memilih berkeliaran seperti sekarang.

Sosok itu hanya menjawab pertanyaanku dengan tawanya yang melengking. Suara tawa dia, bulu kudukku yang berdiri sempurna, dan tatapan tajam dari kedua bola mata sosok itu yang membuatku menyadari bahwa aku terjebak berdua saja di sini -- di pinggir jalan yang sepi dan tidak terlihat tanda-tanda kemunculan orang lain, bahkan tidak terlihat ada kendaraan apapun yang berlalu lalang di sekitar kami berdua. 

Bahaya. Alarm waspada berbunyi nyaring di kepalaku.

"Bersiaplah!" teriaknya.

Apa ini? 

Bersiap apa?

Segala skenario buruk bermunculan di pikiranku. Konyol. Aku mungkin akan mati konyol karena menjadi korban kejahatan random oleh sosok yang tidak jelas manusia atau bukan.

"Anda siapa?!" panik, aku melihat tonjolan dari balik pakaian yang dia kenalan.

Oh, tidak. Itu pasti senjata.

Aku berbalik dan kemudian lari kencang. Tetapi, sosok itu mampu mengejarku.

"Hentikan...." pintaku, "Jangan lagi mengejar saya. Apa mau Anda?"

Tubuhku mulai terasa lemas.

"Kau tidak akan kulepaskan!!" seringaiku membuat tubuhku semakin terasa lemas.

"Hentikan... Tolong lepaskan saya. Siapa Anda? Mengapa mengejar saya?"

Bukannya menjawab pertanyaan, sosok itu justru semakin menakutiku. Dia melayang. Iya, melayang!

"Kau pikir bisa selamat kali ini, hah?!! Tidak akan!!" 

"Tapi, kenapa? Kenapa saya?" tanyaku frustrasi. Aku tidak paham kenapa aku tiba-tiba harus berhadapan dengan sosok ini. 

Apa-apaan?!

"Kenapa Anda berusaha menyerang saya?!" Aku merasa semakin frustrasi. Fakta bahwa aku harus berhadapan dengan makhluk asing yang kemungkinan besar akan segera menyerangku dengan entah apa senjata di balik pakaiannya itu, membuatku merasa marah. Apa salahku sehingga harus berhadapan dengan sosok aneh ini.

"Akan kupastikan, kau tidak akan pernah bisa lari dariku!"

Tuhanku...

Aku terus bergerak mundur, mundur, hingga aku mendapatkan kesempatan untuk lari dan terus berlari. Aku berteriak kesetanan sambil terus berlari kencang. Aku terus berlari, berlari, berlari secepatnya. Sepatu murahku sudah terlepas dari tadi. Aku yakin, kakiku sudah terluka cukup parah sehingga terasa sangat ngilu. Aku tidak peduli, aku hanya ingin selamat. Satu-satunya cara untuk selamat yang terpikirkan olehku hanya ini, berlari dan terus berlari.

Sialnya, dia mengejarku dengan sangat cepat. Tiba-tiba saja aku terjebak. Aku tidak tahu ini di mana. Di sekitarku hanya ada rerumputan tinggi dan lebat. 

Dan belum sempat aku kembali berlari, belum sempat aku menemukan jalan keluar, tiba-tiba ada pedang berkilat muncul di hadapanku. Belum sempat aku mencari senjata untuk melawan, tiba-tiba pedang itu sudah menghujam pinggangku. Tembus. Darah. Aku membeku.

Tuhan, tolong berikan aku kekuatan. Apapun itu, tolong berikan aku kesempatan untuk melawan.

Aku memohon dan terus memohon kepada Tuhan. Aku tidak tahu apakah Tuhan akan memberikan bantuan-Nya kepadaku, mengingat aku sendiri tidak tahu sedang memohon kepada Tuhan yang mana. Sudah lama aku tidak ber-Tuhan.

Angin berhembus kencang. Rasanya dingin sekali. Di sekitarku sudah sangat gelap. Bulan dan bintang di langit seperti sedang mengejekku.


***


Kriiingg!!!

Berisik.

Bunyi alarm ini selalu saja menggangguku, tetapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku adalah budak dari alarm, yang waktu berbunyinya bahkan aku atur sendiri. 

Aku memaksa mataku untuk terbuka, meski sangat berat. Aku tidur kurang dari satu jam, yang benar saja! Semua demi mengerjakan proposal yang sudah direvisi puluhan kali, tetapi tidak juga disetujui oleh atasanku. 

Payah. Ini pertama kalinya, dalam sejarah akademik dan pekerjaanku, aku merasa begitu payah.

Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, "Aduh!" Aku refleks berteriak kesakitan. Pinggangku terasa sakit sekali. Kenapa ini?

Aku memaksakan untuk bangun dan ke kamar mandi, aku harus segera bersiap ke kantor. Susah payah aku bangkit, pinggangku masih terasa sakit.

Di dalam kamar mandi, di antara air hangat di dalam bathup, aku merenung; berusaha mengingat kejadian aneh yang baru aku alami, terasa sangat nyata. Buktinya, pinggangku tadi benar-benar terasa sakit. Untungnya, air hangat ini membantuku untuk lebih rileks dan ngilu di pinggangku sudah menghilang.

Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-16 di program ini.