04 April 2014

Jumatulis #3 Cepirit - O.B.S.E.S.I


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor kelinci kecil yang lincah berlari ke sana ke mari tiada henti. Setiap pagi, ia selalu pergi ke padang rumput di balik gunung dan bercengkerama dengan segerombolan kambing yang diasuh oleh seorang gembala kurus berwajah malas.

Jumlah kambing-kambing tersebut ada sepuluh ekor. Mereka bertubuh gemuk dan terlihat sangat subur. Kelinci mendapatkan cerita bahwa mereka memang selalu disuruh makan di padang rumput sepuasnya dan bermain sepuasnya pula di sana, dengan diawasi oleh penggembala berwajah malas yang bekerja hanya demi mendapatkan upah dari pemilik kambing.

Kambing-kambing ini menjadi teman yang menyenangkan bagi si kelinci. Mereka sering mengajak kelinci untuk berlarian di padang rumput yang sangat luas dan sepuasnya menaiki tubuh kambing-kambing secara bergantian. Rumput-rumput di sana tidak semuanya berukuran rendah, sehingga tubuh kelinci yang kecil dapat tenggelam di lautan rumput dan mungkin saja tersesat jika ia tidak hati-hati.

Kelinci dan kambing-kambing itu akan berada di sana hingga matahari tepat di atas kepala. Setelah itu, gembala berwajah malas akan mengajak kambing-kambing untuk kembali ke kandang mereka yang terletak di ujung desa. Sementara, kelinci akan beralih ke kaki gunung untuk menemui seekor sapi yang terpasung di dalam kandang.

Badan kelinci yang kecil sangat mudah masuk di antara pagar kayu penghalang gerak si sapi, sehingga kelinci akan mudah bermain-main dengan sapi yang sangat kesepian itu. Bayangkan saja, setiap hari  hanya dilakui oleh sapi dengan berada di dalam kandangnya sendirian. Makanan untuknya diletakkan di dalam wadah di sela-sela pagar kandang yang sempit.

Sapi pernah berkata kepada kelinci bahwa dia ingin sekali kabur dan ia pernah mencobanya. Tapi, pemiliknya langsung menemukan sapi dan ia dihadiahi hukuman cambuk sebanyak 100 kali hingga kulitnya mengelupas. Sejak saat itu, penjagaan di kandangnya semakin diperketat.



Biasanya, sapi akan meminta kelinci untuk bercerita. Maka, kelinci akan memulainya dengan cerita tentang petualangan bersama 10 ekor kambing di padang rumput yang luas. Sapi sangat menikmati cerita ini. Dia membayangkan dirinya berada di padang rumput yang diceritakan oleh kelinci dan membayangkan bahwa dirinya pun pasti akan berteman akrab dengan kambing-kambing itu. Bahkan mungkin, kelinci tidak lagi menumpangi tubuh para kambing melainkan tubuh sapi saat mereka berlarian untuk bermain di padang rumput itu. Tubuh sapi yang lebih besar akan membuat kelinci yang baik hati ini menikmati pemandangan di sekitar padang rumput dengan jangkauan yang lebih luas lagi.

Selanjutnya, kelinci akan menceritakan pengalaman-pengalamannya saat mengitari wilayah-wilayah dari tempat dirinya tinggal menuju ke padang rumput di balik gunung, dan dari padang rumput ke kandang sapi di kaki gunung yang sama.

Kelinci akan menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan buaya putih penunggu sungai yang membelah desanya dengan desa di balik gunung, saat bertemu dengan kakek tua pemanggul kayu yang bersepeda setiap pagi dari desanya menuju hutan di dekat padang rumput untuk mencari kayu bakar, saat bertemu dengan harimau loreng yang baru saja memiliki anak lucu dan harimau loreng ini sangat membanggakan anaknya yang baru lahir ini, serta gembala berwajah malas yang sering dijadikan bahan bercanda oleh kambing-kambing yang menjadi teman bermainnya di padang rumput.

Kelinci pun menceritakan pengalamannya saat melewati kandang ayam milik petani tua di kaki gunung, yang dilewati oleh kelinci sebelum ia sampai di kandang sapi. Petani tua tersebut hanya memiliki sepetak sawah, dengan padi yang dihasilkan dari sawahnya inilah ia bisa hidup dan makan setiap hari. Telur-telur yang dihasilkan oleh ayam peliharaan dialah yang menjadi lauk makannya.

Awalnya, ayam-ayam pejantan dan betina di kandang itu merasa marah dengan petani karena mengambil telur mereka -- anak mereka. Tetapi, demi rasa terima kasih karena petani ini selalu menyisihkan beras yang ia hasilkan dari sawah kecilnya untuk dikonsumsi oleh ayam-ayam tersebut, maka ayam-ayam tidak lagi mempermasalahkan jika petani tua mengambil telur mereka. Apalagi, petani tua ini tidak pernah sekalipun memotong ayam untuk dikonsumsi olehnya. Petani tua benar-benar hanya mengambil telur.

Kelinci akan berada di kandang sapi hingga matahari semakin bergeser ke sebelah Barat. Setelah itu, kelinci akan kembali ke tempat asalnya. Ia akan melalui pengalaman baru lagi saat melewati wilayah-wilayah yang menjadi rute pulangnya.

Saat kembali ke rumahnya dan bertemu dengan kelinci-kelinci lain, yang sama-sama bertualang seharian itu, kelinci dan teman-temannya akan saling berbagi kisah dan menarik pembelajaran dari setiap kisah yang diceritakan.


***


Aku menghembuskan napasku yang terasa berat. Bersandar di kursi empukku ini tidak juga membuat kepenatan di hati dan pikiranku membaik. Kepalaku makin terasa ingin pecah. Rasanya aku ingin sekali membelah kepalaku ini, mengambil otakku, menyikat kotoran-kotoran yang ada di otakku, dan terakhir memijat otakku supaya syaraf-syaraf di otakku menjadi lebih kendur. Baru kemudian aku kembalikan otakku pada posisinya dan kepalaku mungkin akan terasa lebih enteng.

Layar LCD komputer 21 inch di depanku masih berkedip-kedip. Pelan-pelan aku kembali duduk dan bersiap kembali mengetik. Setiap hari aku selalu mengetik sebuah kisah, tentang apapun, yang penting pikiranku tersalurkan lewat tulisan-tulisan tersebut.

Aku membaca ulang ketikanku barusan sembari menyesap teh hijau hangat.

"Lisa! Revisi konsep terbaru sudah ada progress belum?!"

Panggilan tiba-tiba dari atasanku mengagetkan sekali. Aku segera mengeluarkan file ketikanku barusan dan kembali ke ketikan mengenai konsep terbaru untuk project yang menjadi tanggungjawabku.

"Sudah, Pak. Ini sedang final editing. 10 menit lagi saya akan ke ruangan Bapak untuk menunjukkan konsep terbarunya." kataku gelagapan.

Semoga atasanku tidak pernah yang menyadari tentang kebiasaanku mengetik cerita ini. Kantorku sangat melarang pekerjanya untuk mengerjakan hal lain selain mengerjakan tugas. Bahkan gadget selain yang disediakan oleh kantor tidak boleh digunakan, begitu pula dengan penggunaan smartphone. Aktivitas selain bekerja hanya boleh dilakukan saat tidak ada di kantor atau saat jam istirahat yang sangat terbatas.

Sudah lama aku mengajukan cuti karena rasanya aku semakin stress saja, tetapi tidak ada approval sampai sekarang. Sama halnya dengan pengajuan resign yang tidak pernah disetujui sejak tahun lalu, dengan alasan sulit sekali mencari orang yang bersedia menempati posisi kerjaku.

Ada yang bilang, atasanku ini terobsesi kepadaku. Kendali sepenuhnya terhadap apa yang bisa atau tidak bisa aku lakukan ada di tangannya. Aku pun tidak dapat berkutik karena, entahlah, aku memang sangat takut menghadapi atasanku ini. Di sisi lain, aku memang mendapatkan gaji sesuai dengan permintaanku ditambah dengan bonus-bonus lainnya.

Tapi...

Sepertinya, jika akhir bulan ini cuti yang aku ajukan masih saja ditolak, maka aku dengan senang hati memilih menjadi gila supaya ada alasan sangat kuat untuk berhenti dari pekerjaanku ini. Aku sangat ingin berlibur dan melepaskan diri dari kewajiban untuk menghadapi atasanku.


***


"Kalian tahu apa yang membuat hidup kita terasa semakin bergairah setiap harinya?"

Suatu hari, pemimpin kami memberikan pertanyaan seperti itu. Sejak saat itu, kami diberikan kebebasan untuk melakukan petualangan ke manapun yang kami inginkan demi mendapatkan pengalaman-pengalaman baru di tempat-tempat yang kami datangi.

"Kalian, para kelinci muda, adalah calon pemimpin di masa depan. Sayang sekali jika hidup kalian hanya dihabiskan di balik habitat asli kalian saja tanpa melihat dunia luar."



"Keluarlah. Temukan gairah hidup kalian dari kehidupan-kehidupan yang kalian temukan di luar sana."

Baiklah. Aku tahu apa saja yang ingin aku lakukan.

Aku dan teman-teman yang tergabung di dalam kelompok pemuda di habitat kami ini segera berkumpul dan menyusun rencana apa saja yang ingin kami lakukan, beserta target-target lain yang ingin dicapai.

"CEPIRIT!!" seru kami dengan lantangnya.

Dan di sinilah aku sekarang, di pertemuan rutin setiap malam untuk mengumpulkan progress report tentang apa saja yang kami alami setiap harinya, mencatat peristiwa-peristiwa penting dan signifikan yang kami lakukan, serta menyusun target untuk kegiatan esok hari.

Cemumudh!




Cheers!
Have a blessed-day!














#Jumatulis merupakan project beberapa orang dari komunitas Klub Buku IndonesiaProject ini berupa menulis dengan tema tertentu di setiap hari Jumat, dengan bentuk tulisan dibebaskan kepada masing-masing anggota. Ini merupakan tulisan ke-3 di project #Jumatulis, dengan tema CEPIRIT.

Anggota #Jumatulis sampai saat ini:
  1. Nia - Twitter @niafajriyani - Blog Nia Fajriyani Sofyan
  2. Ijul - Twitter @juliardi_ahmad - Blog Ahmad Juliardi
  3. Bije - Twitter @ipehalena - Blog Binatang Jalang
  4. Yoga - Twitter @YogaPrakoso01 - Blog Sebuah Perjalanan, Sebuah Perjuangan
  5. Andy - Twitter @ndylesmana - Blog Andy Lesmana
  6. Ndeh - Twitter @ndehyaminaris - Blog Tangan-tangan Sukses
  7. Diah - Twitter @diahrizki_ - Blog Gadis Tulip Merah
  8. Miftah - Twitter @heymiftah - Blog Quirky Mind
  9. Lia - Twitter @ainiamaliaaini - Blog Ini Tentang Aku, Kamu, dan Kita Semua
  10. Joko - Twitter @setyojoko - Blog Setyo Joko
  11. Lina - Twitter @linhandc - Blog Life of Lins
  12. Wira - Twitter @wiradwiirawan - Blog Wira D. Irawan
  13. Vy - Twitter @vitox_vy - Blog ^Vy^