19 April 2014

[THOUGHTS] #1Minggu1Cerpen - Kutukan Kalila


Kalila diculik!

Hidup Ma dan Pa semakin tidak tenang. Makan tidak sanggup, melakukan pekerjaan seperti biasa pun rasanya sudah tidak mampu lagi. Sekedar memejamkan mata saja sulit, apalagi untuk tidur dengan nyenyak.

Sudah tiga hari Kalila tidak pulang ke rumah. Gadis kecil berusia enam tahun ini diketahui sedang diculik. Dia diambil secara paksa dari halaman rumah saat Ma dan Pa sedang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun Kalila. Sampai saat ini, belum diketahui siapa yang menculik Kalila dan apa motif utamanya. Ma dan Pa belum menerima telepon yang meminta uang tebusan atau sejenisnya dari si penculik.

Sejak mengetahui Kalila menghilang, Ma berulang kali pingsan. Kalaupun sedang sadar, Ma hanya mampu menangis dan menangis, bahkan sampai meraung dan berteriak histeris. Sedangkan Pa, sibuk menelepon kenalannya di kepolisian dan menghubungi sahabatnya yang seorang detektif swasta. Seluruh keluarga berkumpul di rumah, semua menanti kabar terbaru tentang Kalila. Semua terlihat sangat kacau.

Pa bahkan sampai memanggil cenayang, dukun, paranormal, entah siapa saja yang menurutnya bisa menerawang keberadaan Kalila. Menurut mereka, Kalila dalam kondisi baik-baik saja. Dengan kata lain, Kalila masih hidup! Hal ini sedikit melegakan Pa, paling tidak masih ada harapan bahwa Kalila akan kembali dan kondisi tidak kurang satu apapun.


***


"Permisi..." ujar seorang wanita tua berpakaian lusuh di depan rumah. 

Pa melirik wanita tersebut dengan malas. Pa menduga dia adalah seorang pengemis yang memang banyak berkeliaran di sekitar kompleks rumah.

Wanita tua ini berkulit hitam dan sangat kotor, rambutnya berwarna coklat tua kusut dan seperti dipenuhi debu berwarna kehitaman sehingga sangat kusam, pakaiannya compang-camping tidak beraturan entah berwarna apa, giginya banyak yang patah dan kehitaman, seringainya mengerikan dengan mata yang selalu terlihat waspada, dan tubuhnya... uh! Entah kapan tubuh tersebut tersentuh air dan sabun bersih, bau sekali.

"Siapa ya?" tanya Pa dengan tidak sabar.

"Boleh saya masuk?" wanita tua tadi melihat ke arah ruang tamu. "Saya mau berbicara dengan dia." begitu lanjutnya, sambil menunjuk ke arah Ma.

Pa terkejut, begitu juga Ma.

"Ada apa?" Ma berusaha bangkit dari kursi dan mendatangi wanita tua. "Ada perlu dengan saya?"

"Ya, saya perlu berbicara serius dengan Anda. Berdua saja." sorot mata wanita tua ini terkesan misterius bagi Ma. Tubuh Ma gemetar dan berpegangan erat pada lengan Pa.

"Saya hanya ingin berbicara berdua dengan Anda, tidak dengan yang lain." tegas wanita tua.

"Anda siapa? Kami tidak mengenal Anda. Saya tidak akan mengizinkan Anda berbicara dengan isteri saya, tanpa seizin saya!" sejak awal Pa merasa wanita tua ini bersikap aneh.

"Baik, kalau begitu saya akan berbicara dengan Anda berdua. Di ruang tertutup. Saya tidak mau ada orang lain yang mendengarkan kita. Itu kalau kalian ingin mengetahui kabar tentang anak kalian." wanita tua tersenyum tipis dan membuat bulu kuduk Pa dan Ma berdiri tegak. Apalagi, saat itu ada angin berhembus lembut yang membuat suasana di sekitar mereka mendadak mencekam.

"Ikuti saya." tegas Pa sambil merangkul tubuh Ma yang semakin gemetar.


***


"Saat ini, anak kalian sedang menghilang kan?"
"Dari mana Anda tahu?" Pa memandang wanita tua dengan curiga.

"Tidak ada yang saya tidak ketahui di dunia ini." seringai wanita tua sambil berkeliling ruang kerja Pa. 

"Keluarga yang bahagia." tunjuk wanita tua ke arah foto Pa, Ma, dan Kalila. "Sayangnya, anak kalian dipenuhi oleh kutukan jahat!" lanjutnya.

"Apa maksud Anda?!" Pa sangat emosi mendengarkan ceracau wanita tua yang memang tidak disukai Pa sejak awal melihatnya tadi. "Jangan berbicara macam-macam tentang anak saya!" lanjut Pa, dan Ma menangis histeris.

"Seperti yang saya katakan tadi, anak kalian dipenuhi oleh kutukan. Dia menghilang juga bagian dari kutukan itu hahahaha."

Plak!
Pa yang semakin emosi menampar wanita tua dengan keras sekali. 

Wanita tua menjadi marah, "Kau akan menyesal karena menamparku! Kutukan itu akan semakin membesar dan mengacaukan hidup kalian hahahaha!"

"Tolong, tolong beritahu bagaimana nasib anak saya..." Ma berusaha meredakan ketegangan dan memohon kepada wanita tua.

"Ada satu cara. Itu kalau Anda bersedia melakukannya." wanita tua melirik tajam ke arah Ma. Sambil tergagap, Ma menjawab, "Apapun! Katakan, apapun itu akan saya lakukan."


***


Ma berdiri di depan sebuah gang kecil yang sangat gelap. Malam semakin pekat dan tidak ada satupun penerangan lampu yang ada di sana. Ma melihat sekeliling dengan bermodalkan lampu senter yang dia bawa dari rumah.

Ma mengingat perkataan wanita tua yang datang tadi pagi. Katanya, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Kalila dan itu hanya dapat dilakukan oleh Ma. Awalnya Pa sangat keberatan, mengingat kondisi Ma yang lemah. Namun, Ma berusaha meyakinkan Pa bahwa ia akan baik-baik saja. Apapun akan Ma lakukan demi menemukan Kalila.

Wanita tua berkata bahwa mereka tidak boleh menghubungi polisi atau apapun itu. Tidak ada yang dapat menyelamatkan Kalila kecuali ibunya langsung. Kutukan Kalila akan musnah jika Ma berhasil menyelamatkan Kalila.

"Kau ikuti jalan lurus di gang tersebut. Hingga nanti kau akan menemukan sebuah rumah kosong di ujung jalan. Di situlah kau akan mulai melakukan tugasmu untuk menyelamatkan Kalila." begitu kata wanita tua. 

Ma merapal pernyataan wanita tua di dalam hati dan perlahan mulai menyusuri jalan menuju lokasi yang dimaksud. Tadinya Ma mengira akan ditemani oleh wanita tua. Namun, secara misterius, wanita tua tersebut menghilang setelah menempatkan Ma di bibir gang tadi.

Diam-diam, Pa meminta bantuan teman-temannya yang polisi dan detektif swasta untuk mengikuti Ma. Tetapi anehnya, mereka kehilangan jejak Ma. Padahal, mereka mengikuti Ma sejak masih di rumah. Saat Ma memasuki wilayah yang tanpa penerangan sama sekali, tiba-tiba Ma menghilang. Tidak ada yang mengetahui ke mana Ma menghilang. Apalagi, Ma tidak membawa ponsel sehingga sulit dilacak menggunakan GPS.


***


Ma tiba di sebuah rumah besar, gelap, dan tanpa pagar. Ma memasuki rumah tersebut dengan tubuh berkeringat dingin, rasanya Ma ingin menangis jika tidak mengingat bahwa dia berada di sana untuk menyelamatkan Kalila.

"Kalila..." panggil Ma. "Ini Ma, kamu bisa mendengar suara Ma?" Ma berteriak memanggil Kalila. Anehnya, suasana di sana terlihat sangat sepi dan sepertinya tidak ada orang selain Ma.

"Kalila, kamu di mana?" panggil Ma lagi.

Bruk!
Benda keras menghantam leher Ma dari belakang. Ma terjatuh ke lantai. Sesaat Ma sempat melihat siapa yang menghantam lehernya dan matanya membelalak kaget. Suasana menjadi semakin gelap. Ma tidak sadarkan diri.


***


Ditemukan sosok wanita muda, berusia sekitar 28 tahun, yang pingsan di dalam sebuah rumah kosong di sudut sebuah gang. Di sebelahnya, ditemukan pula sebuah peti mati yang berisi mayat seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun, dan diketahui sebagai anak dari wanita tersebut yang sudah dilaporkan hilang sejak lima hari yang lalu. Wanita muda ini juga dilaporkan hilang sejak dua hari yang lalu. Mayat anak perempuan ini berbau busuk dan diduga sudah meninggal sejak lebih dari tiga hari yang lalu. Belum diketahui penyebab kematian anak perempuan tadi dan mengapa Ibunya juga bisa berada di sana. Pihak-pihak terkait masih menyelidiki dan melakukan pemeriksaan intensif terhadap kasus ini.


Sementara itu, di balik sebuah pohon besar, dan tertutup dari penglihatan orang yang berlalu-lalang di dalam rumah Kalila... ada seorang wanita tua yang mengamati aktivitas di sana. Matanya memperhatikan dengan nyalang dan mulutnya berkomat-kamit entah menyebutkan apa. Di tangannya, ada sobekan kertas koran yang memberitakan berita penemuan mayat Kalila.


Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-12 di program ini.