26 April 2014

[THOUGHTS] #1Minggu1Cerpen - Aastha Haven


Aku mempercepat langkah kaki. Matahari mulai tenggelam. Lampu-lampu penerangan di sekitarku mulai bermunculan, dinyalakan oleh setiap pemilik rumah yang ada di sini. Suara orang mengaji yang dari tadi ikut menemani langkahku sudah tergantikan dengan adzan Maghrib dari masjid.

Aku melihat ke jam murahan di pergelangan tangan kiriku, berharap dengan begitu waktu akan berhenti sejenak. Usaha sia-sia sebenarnya. Dengan kondisi seperti sekarang, jelas sekali bahwa aku pulang melebihi jadwal yang diperbolehkan oleh Tuan. Entah apa omelan yang harus siap aku terima kali ini. Keringat semakin membasahi telapak tanganku.

Salahku sendiri karena tadi terlalu lama menikmati suasana pasar di sore hari. Nyonya memintaku untuk membeli beberapa daging dan sayuran di tempat biasa berlangganan. Meski Tuan dan Nyonya terlihat kaya, mereka lebih suka membeli sayuran, daging, dan ikan di pasar.

"Lebih fresh. Apalagi di tempat langganan itu, saya tahu persis bagaimana pemiliknya menjaga kualitas daging dan sayur mereka." begitu kata Nyonya saat saya dulu bertanya kenapa harus membeli di pasar, apalagi Tuan dan Nyonya juga sering berbelanja bulanan untuk membeli kebutuhan sehari-hari di toko-toko besar.

Aku bertanya bukan karena aku mau menolak perintah ke pasar. Justru aku sangat menyukai suasana pasar. Aku hanya merasa bingung dengan kebiasaan majikanku. Apalagi, jika aku sedang diberi waktu senggang dan diperbolehkan keluar rumah, aku sering mendengar dari teman-temanku tentang kebiasaan majikan mereka. 

Para majikan di lingkungan sekitar rumah, kata mereka, tidak suka dengan keberadaan pasar yang lokasinya tidak terlalu jauh dari pemukiman kami. Padahal itu adalah pasar yang jauh dari kesan kotor dan sangat rapi. Pedagangnya juga kebanyakan menjaga kualitas dagangan. Bahkan, langganan majikanku itu selalu memasok sayuran dan daging yang selalu terjaga kualitasnya. Stok pagi, siang, dan sore berbeda. Jadi, kalau berbelanja di sore hari seperti yang tadi aku lakukan, pembeli tetap mendapatkan sayuran dan daging yang terbaru.

Jika sore hari, akan ada pemandangan indah di pintu masuk dan keluar pasar. Matahari yang beranjak terbenam adalah harta karun dunia yang benar-benar aku suka. Makanya aku suka berada dan berkeliling di pasar saat sore hari. Tapi, kali ini aku sedikit lupa diri.

Tidak ada waktu lagi, aku harus segera sampai di Aastha Haven. Waktu makan malam segera tiba. Aku tidak ingin anak majikanku sampai terlambat makan. 

Aku menyukai gadis kecil yang berperilaku sangat manis itu. Aku bisa menahan rasa sakit hati karena diomeli Tuan atau Nyonya, apalagi jika aku memang bersalah. Tetapi, aku akan tidak tahan jika melihat gadis kecil menangis. Matanya terlalu indah untuk dihiasi dengan air mata. Aku lebih suka melihat mata itu menatap takjub ke arah masakanku.


***


"Ibuk sudah sampai belum?" aku bertanya pada Jan, kakak laki-laki yang berusia tiga tahun di atasku.

"Mana aku tahu," jawabnya. "Memangnya apa peduliku dia sampai di rumah atau belum?"

Aku melirik kesal ke arah Jon. Walau usianya lebih tua, tetapi kelakukannya, menurutku, lebih buruk dibandingkan Jon -- adik laki-laki bungsu kami yang baru berusia lima tahun. Aku sendiri berusia sembilan tahun.

Jon tahu bagaimana bersikap yang baik kepada semua orang. Sampai-sampai aku merasa bahwa Jon ini sebenarnya bukan berumur lima tahun, tetapi lebih tua dibandingkan Jan. Perilaku Jon dewasa sekali dibandingkan usianya. Terkadang aku malu jika tidak bersikap lebih baik daripada Jon.

Mama selalu berkata supaya kami menghormati siapapun yang berusia lebih tua dari kami. Siapapun. 

Makanya Mama akan marah jika kami tidak bersikap baik kepada Papa dan Mama atau kepada Opa dan Oma. Bahkan kami harus bersikap baik juga kepada semua pengasuh, supir, tukang kebun, maupun juru masak kami. 

Mama tidak akan mentolerir jika kami ketahuan berkata kasar dan merendahkan mereka. Jika sampai ketahuan, yaa... paling minimal, kami tidak akan diberi makan malam dan uang saku selama beberapa hari. Belum lagi diharuskan untuk menuliskan surat permintaan maaf berlembar-lembar dan diharuskan pula melakukan tugas khusus tertentu. 

Baru pekan lalu Jan dihukum untuk menggantikan tugas menyapu halaman belakang karena ketahuan melempar piring ke arah Ibuk saat Jan menolak untuk makan. Salah Jan sendiri. Siapa suruh dia bersikap kekanakan seperti itu hanya demi dibelikan sepatu baru, padahal Papa baru membelikan dia tiga pasang sepatu baru sebagai oleh-oleh dari Eropa.

Aku bergegas ke jendela, berusaha mengintip ke luar untuk memastikan Ibuk sudah sampai atau belum. Tapi aku hanya dapat menghela napas begitu tidak melihat tanda-tanda keberadaan Ibuk di luar sana.

Aku berjalan ke arah belakang rumah, di sana aku melihat Nena yang sedang duduk sambil merajut di kursi tempat dia biasa duduk menyendiri. Nena ini salah satu pengasuh kami. 

Nena berusia lebih tua dibandingkan Opa atau Opa, dia sudah menjadi pengasuh di sini sejak Papa baru lahir. Sementara, Ibuk berusia jauh lebih muda. Bahkan lebih muda dari usia Mama.

Sayangnya, Nena pun belum melihat Ibuk.

Aku kembali lagi ke ruang atas, di sana ada Mama yang sedang berasama Jon. Ah, Mama mungkin bahkan tidak tahu jika Ibuk belum kembali. Aku mengintip ke arah ruang kerja Papa, aku melihat Papa sedang sibuk membaca. Entah membaca apa, yang jelas mukanya terlihat serius sekali. Aku selalu merasa takut melihat Papa jika sedang serius begitu.

Bagaimana jika tidak lama lagi Papa akan mengomel?

Di Aastha Haven, tidak ada bisa menghindari omelan Papa kalau sudah terkait dengan ketepatan waktu. Papa sangat menjaga supaya semua berjalan sesuai jadwal dan peraturan yang berlaku. 

Dan kali ini, yang terancam akan diomeli oleh Papa adalah Ibuk. Sungguh, aku tidak tega membayangkan Ibuk terkena omelan.

Aku berharap Nena akan menenangkan Papa jika Papa mengomeli Ibuk nanti. Apalagi, Papa sangat menghormati Nena. Bahkan sepertinya jauh lebih menyayangi Nena daripada Opa dan Oma yang sikapnya lebih kaku itu.

Ibuk, ayo cepat pulang.


***


Sepertinya Jen panik sekali...

Aku melihat ke arah jam dinding dan baru tersadar jika aku sudah duduk di sini selama dua jam. Pantas saja punggungku terasa pegal. Aku segera merapikan bahan rajutanku dan membawanya ke dalam kamar.

Di perjalanan menuju kamar, aku mengintip ke arah dapur. Seharusnya, jam segini Ibuk sudah mulai memasak makan malam dan wangi-wangian yang berasal dari aroma masakan Ibu akan merebak. Ibuk tidak pernah gagal dalam membuat perut keroncongan hanya karena aroma masakannya. Apalagi, jika masakan itu dimakan. Rasanya sungguh enak. 

Tidak ada penghuni Aastha Haven yang tidak menyukai masakan Ibuk. Hanya Jan -- yang memang sering sekali bertingkah menyebalkan -- yang akan menolak untuk memakan masakan Ibuk, jika dia sedang menginginkan sesuatu tetapi tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya. Aku sampai terheran sendiri melihat kelakuan Jan yang sangat berbeda dengan kelakuan seluruh anggota keluarga lainnya sepanjang aku tinggal di sini.

Aroma masakan Ibuk tidak tercium sama sekali. Ke mana Ibuk? 

Dia pamit ke pasar tidak lama sebelum aku duduk untuk merajut di sini. Seharusnya dia sudah sampai dari tadi.

Sepertinya malam ini akan dibuka dengan omelan dari Rudolf.


Sumber: Sanctuary Home Design

***


Catatan

Aastha dapat bermakna faith, yang berarti kesetiaan, keyakinan, atau kepercayaan. Sementara Haven dapat bermakna sebagai sanctuary, yang berarti tempat berlindung -- sebuah tempat yang akan membuat kita terlindungi dari bahaya atau kesulitan.

Jadi, saya menggambarkan Aastha Haven di sini sebagai nama sebuah rumah. Kediaman yang membuat para penghuninya (diharapkan) untuk saling setia dan saling menjaga, di dalam sebuah rumah yang membuat mereka semua terlindungi dari bahaya maupun kesulitan apapun.



Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-13 di program ini.