04 April 2014

#1Minggu1Cerpen - Anantaboga


Mereka menyanjungku, mereka memujaku. 
Namun, di sisi lain mereka mencelaku.

"Bagaimana mungkin seorang Raja tidak memiliki keturunan?" begitu perdebatan yang terus menghantamku di saat kabinet kepemimpinanku sedang melakukan rapat internal kerajaan.

"Yang Mulia, angkatlah seorang selir jika Yang Mulia Ratu tidak mampu memberikan keturunan."

Lancang sekali permintaan itu. 

Tetapi, aku tidak mampu berkutik karena Ibuku -- pemimpin tertinggi dari penasehat utama kerajaan menyetujui ide tersebut. Ibuku, sebagai Ibu Suri Agung, ikut memaksaku untuk menikahi perempuan lain. 

Tidak ada perlawanan. Salah satu tugas utamaku sebagai seorang raja adalah memastikan bahwa aku memiliki keturunan laki-laki yang akan menjadi pewaris takhta kerajaan sepeninggalan aku kelak.

Entah apa yang dirasakan oleh permaisuriku, Ratu Utama negeri ini. Aku hanya ingat bahwa ia mengizinkan aku untuk menikah, walau aku tahu dengan pasti bahwa dia pasti merasa sedih. Apa yang bisa dilakukan oleh permaisuriku yang hatinya terlalu lembut itu?

Permaisuriku memang seorang Ratu. Tetapi, keberadaan Ratu tidak akan pernah berarti selama Ibu Suri Agung masih hidup. Kepemimpinan tertinggi untuk urusan terkait perempuan di kerajaan ini berada di tangan Ibu Suri Agung.

"Aku tidak mampu memberimu anak, Yang Mulia. Nikahilah Naganini dan perlakukan ia dengan baik. Aku tahu tentangnya. Dia pasti mampu melayanimu dengan baik pula." hanya ini nasihat yang diberikan Permaisuriku di malam sebelum aku menikahi Naganini.

Permaisuriku benar, Naganini memang seorang perempuan yang baik. Paling tidak, hingga saat ini ia tidak pernah menuntut apapun. Padahal, ia sedang mengandung anakku. Jika saja Naganini mau serakah, ia bisa mendapatkan lebih dari apa yang sudah ia peroleh sekarang. Apalagi, jika kelak anak yang dikandungnya ternyata seorang laki-laki.



***



Sejak menikahi Naganini, aku semakin disibukkan oleh berbagai urusan kerajaan. Dunia atas pun sedang bergejolak.

Kehamilan Naganini membuat rakyat dan para menteriku diliputi euphoria setiap saat, membuat beban pikiranku semakin bertambah saja.

Urusan dunia bawah tanah ini belum selesai aku benahi, urusan dunia atas memintaku segera bertindak. Akhirnya aku memilih untuk bermeditasi dalam waktu cukup lama. Hasil meditasiku membuahkan sebuah negeri baru bernama, Bedwang, negeri kura-kura. Keberadaan negeri ini cukup membuat dunia atas berhenti bergejolak. Ketika aku kembali ke kerajaan, ternyata Naganini sedang dalam proses melahirkan.

"Yang Mulia..." panggil permaisuriku.

"Kapan Yang Mulia sampai di kerajaan? Jika aku tahu Yang Mulia kembali hari ini, aku pasti akan menyiapkan jamuan untuk menyambut kedatangan Yang Mulia." lanjutnya.

"Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan dirimu. Kau pasti lebih lelah karena harus menghadapi banyak sekali tuntutan kepada dirimu."

Permaisuriku hanya tersenyum, "Naganini sedang berjuang untuk melahirkan anak Yang Mulia. Apa Yang Mulia mau ikut denganku ke kediamannya? Dia pasti senang jika didampingi oleh Yang Mulia..."

"Baiklah, jika itu maumu..."


***


Aku melihat Naganini berteriak kesakitan saat sedang berusaha mengeluarkan anak kami dari perutnya. Rupanya proses melahirkan yang harus dilaluinya cukup rumit dan melelahkan karena memakan waktu yang sangat panjang. Terlihat sekali wajahnya kelelahan, napasnya mulai tersengal-sengal.

Menurut tabib kerajaan, Naganini sudah melewati waktu nyaris seharian. Tetapi, anakku tidak juga keluar.

Di tengah perdebatan antara Ibu Suri Agung dan para menteri, yang bertengkar saat memutuskan bagaimana harus menghadapi proses kelahiran Naganini yang sudah menghabiskan waktu lama, tiba-tiba Naganini berteriak sangat keras.

Tabib segera berlari menuju Naganini, dilihatnya kepala bayi mulai terlihat. Akhirnya, Tabib dan para pelayan utama berkonsentrasi membantu kelahiran anakku. Semua menteri, Ibu Suri Agung, aku dan juga permaisuriku menunggu dengan semakin cemas.

Tangisan bayi tiba-tiba terdengar dari balik ruangan tempat Naganini berada. Tabib memberitahu bahwa Naganini melahirkan seorang putera. Semua menghembuskan napas lega dan memberikan ucapan selamat kepadaku. Para kasim pun segera berlari dan memberitahukan pengumuman ini ke seantero kerajaan.

Aku bergegas menuju ruangan Naganini untuk melihat anakku, putera mahkota negeri ini. 

Terlihat Naganini tersenyum lemah kepadaku, "Yang Mulia... Anak Yang Mulia telah lahir dengan selamat."

"Aku tahu. Terima kasih karena telah melahirkan dengan selamat. Kau beristirahatlah, pulihkan tubuhmu."

Permaisuri menggendong bayi laki-lakiku dengan kelembutan sejati seorang Ibu. Sudah diputuskan sejak jauh-jauh hari bahwa anakku dan Naganini akan diadopsi menjadi anak Sang Ratu. Artinya, semua tanggung jawab pengasuhan terhadap anak ini berada di tangan permaisuriku. 

Hal ini diputuskan untuk menghindari kemungkinan tidak baik di kemudian hari, terutama terkait dengan posisinya sebagai putera mahkota. Sudah lazim di kerajaanku ini bahwa gelar putera mahkota hanya diberikan kepada anak Raja dan Ratu. Jika anakku ini berada di tangan permaisuriku, maka ia berada di bawah perlindungan yang tepat.

Demi masa depan anaknya, Naganini merelakan hak asuh bayi yang baru lahir ini langsung berada di tangan Raja dan Ratu sepenuhnya. Ia hanya diizinkan untuk menengok dan mengasuh puteranya sesekali saja.

"Yang Mulia, nama apa yang telah Yang Mulia siapkan untuk anak ini?"

Aku menatap permaisuriku dengan penuh cinta, "Anantaraja. Ini nama yang telah aku siapkan untuk anak kita."


***


Catatan Khusus

Anantaboga dikisahkan sebagai seekor naga, yang dikenal sebagai Raja dari Kerajaan Kematian. 

Kisahnya merupakan salah satu kisah yang ada di dalam pewayangan Jawa dan muncul pertama kali di masa pra-Islami, bersatu dengan kisah mitologi Jawa lainnya, terutama di masa sebelum kejayaan Kerajaan Demak. 

Setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit dan proses Islamisasi memasuki wilayah Jawa, pusat kebudayaan Hindu pun bergeser ke Bali. Begitu pula dengan mitologi tentang Anantaboga ini. Hal inilah yang menyebabkan kisah Anantaboga tidak hanya ada pada kisah pewayangan masyarakat Jawa, melainkan juga ada di dalam mitologi yang beredar di masyarakat Bali. 

Jadi...

Anantaboga yang berkembang saat ini juga dikenal sebagai merupakan keturunan Dewa tertinggi bagi umat Hindu, yaitu Dewa Shiwa, namun kisahnya dikombinasikan dengan animisme Jawa.

Anantaboga memiliki anak bernama Anantaraja, dari isterinya yang bernama Naganini.

Wujud Anantaboga di dalam Pewayangan Jawa


Alkisah, pada saat dunia ini muncul, makhluk yang hidup hanyalah Anantaboga. Kemudian, Anantaboga melakukan meditasi dan dari hasil meditasinya ini muncul dunia kura-kura bernama Bedawang. Konon, dunia yang kita kenal saat ini bermula dari dunia Bedawang ini. Setelah itu, Anantaboga ke dunia bawah dan menjadi pemimpin tertinggi bagi dunia bawah.

Masyarakat Jawa dan Bali di masa kini masih ada yang percaya bahwa jika bumi bergejolak, atau gempa, berarti Anantaboga sedang melakukan pergerakan di pusat bumi. Jika diselingi juga dengan adanya banjir atau tsunami, artinya baik Anantaboga maupun naga Basuki, sedang sama-sama bergerak di pusat bumi sana.


Cheers!
Have a blessed-day!
















#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-10 di program ini.