24 March 2014

Talking about Woman in the Book of Pope Joan by Donna Woolfolk Cross

BLURB

Selama seribu tahun lebih, keberadaannya diingkari. Itulah Paus Joan, sosok kontroversial dalam sejarah, perempuan yang menyamar menjadi seorang laki-laki dan berhasil memegang tampuk tertinggi kekristenan selama dua tahun. Novel yang menyentuh ini menghidupkan kembali legenda itu dengan potret seorang perempuan tangguh yang berjuang menerjang segala penghalang yang tidak dapat diterima jiwanya.

Ketika kakak laki-lakinya tewas oleh serbuan bangsa Viking, Joan muda yang brilian itu menggunakan identitas sang kakak dan masuk ke pertapaan Benediktin. Di situlah, sebagai Bruder John Anglicus, ia membuat dirinya dikenal luas sebagai seorang akademisi dan tabib.

Ketika akhirnya sampai di Roma, ia segera terperangkap dalan gelegak gairah dan kehidupan politik berbahaya yang mengancam dirinya sekaligus juga mengangkatnya ke posisi tertinggi di dunia Barat.


***



Judul: Pope Joan
Pengarang: Donna Woolfolk Cross
Jenis: Novel, Fiksi Sejarah
ISBN: 979-1112-43-6
Penerbit: Ballantine Books, NY / Terjemahan Indonesia oleh PT Serambi Ilmu Semesta
Tahun Terbit: 1996 / Terjemahan Indonesia 2007
Jumlah Halaman: 736++
Harga: Rp 7.500,00 (Indobookfair Jakarta). Sekarang sering lihat dijual dengan harga mencapai Rp 90.000,00



***


Joan of Ingleheim

Lahir pada tahun 814 M. Ibunya, seorang Saxon bernama Gudrun, melahirkannya melalui perjuangan hebat dan proses yang rumit di tengah hujan salju. Ayahnya, Canon of Ingleheim, langsung menolak kehadiran Joan begitu ia mengetahui bahwa isterinya melahirkan anak perempuan. Bagi Ayahnya, perempuan sangat tidak berharga dan merupakan sumber dosa.

Di usianya yang ke-6 tahun, Joan memohon kepada Matthew - salah seorang kakaknya - untuk mengajarinya membaca dan menulis. Kegiatan ini berlangsung rahasia, untuk menghindari kemarahan sang Ayah. Joan merupakan murid yang sangat pandai dan ini membuat Matthew memberinya penghargaan khusus.

Di sisi lain, kakak Joan lainnya yang bernama John harus menghadapi tekanan dari sang Ayah. Sayangnya, John tidak sepandai Joan sehingga ia sangat tersiksa menjalani semua tuntutan dari Ayahnya yang ingin supaya John selalu belajar dan belajar.

Saat Matthew meninggal, sang Ayah memaksa John untuk meneruskan jejak Matthew dan bersekolah. Joan yang sangat sadar bahwa John secara mental sangat tidak siap untuk bersekolah, meminta Ayah mereka supaya ia juga masuk ke sekolah dan menemani John. Joan juga membuktikan bahwa ia bisa membaca, tapi justru kemarahan Ayahnya yang Joan terima.

Joan tidak putus asa. Ia terus mencari cara dan akhirnya menemukan kesempatan untuk masuk sekolah di Dorstadt dengan kakaknya. Sayangnya, Joan dipaksa menikah oleh Ayahnya. Tepat pada hari pernikahannya, muncul serangan pasukan Viking (Norseman) di Dorstadt. Joan selamat, tetapi John tidak. Akhirnya, Joan melarikan diri dan bergabung dengan biara pertapaan Benediktin di Fulda dengan menggunakan nama John Anglicus, nama kakaknya. Saat itu usia Joan masih 15 tahun.

Joan sangat brilian dan memiliki motivasi tinggi untuk belajar agama dan obat-obatan. Dengan nama John Anglicus, dia belajar dan praktek kedokteran di bawah supervisi dokter residen biara.

Joan kemudian melakukan perjalanan ke Roma, kabur dari Fulda yang terserang wabah demam mematikan, dan masih dengan menyamar sebagai John Anglicus. Di sana, ia membuktikan bahwa dirinya adalah seorang dokter yang hebat dan berhasil menyembuhkan dengan pendekatan yang dianggap ilmiah, tidak seperti para laki-laki lainnya yang menggunakan pendekatan common sense karena terlalu kaku pada ajaran Katolik dan membuat mereka membatasi keyakinan di luar keyakinan agama yang mereka percayai.

Rangkaian episode Joan selanjutnya dimulai di Roma di mana Joan menjadi tabib pribadi Paus Sergius. Ia kemudian terpilih sebagai Paus Roma setelah melewati beberapa proses. Satu-satunya orang yang mengetahui bahwa ia seorang wanita hanya Count Gerold, ayah angkat sekaligus satu-satunya cinta bagi Joan.

Ketika Count Gerold terbunuh, Paus John Anglicus keguguran dan meninggal. Ia meninggal dengan catatan yang memalukan dan tercela.


***

Pertanyaan selanjutnya:

APAKAH PAUS JOHN (PAUS JOAN) MEMANG ADA?


***

Setelah epilog, ada catatan pengarangnya khusus untuk ini. Donna ini memang seorang peneliti dan dia dibantu juga oleh peneliti-peneliti lainnya untuk mendapatkan data-data pendukung mengenai Pope Joan selama proses riset untuk novelnya ini.

Kalau dibilang kontroversi, novel ini memang kontroversi. Jangankan novelnya, yang memang didominasi kisah fiksi, kisah Pope Joan di kekristenan pun konon dianggap tidak lebih dari sekedar legenda. Teman-teman Kristiani bisa bantu koreksi ya, hihi.

Paus Joan/John/Yohanes/Yohana alkisah seorang tokoh besar dan menakjubkan pada masanya. Setidaknya, sampai abad 17, keberadaan Paus bernama John ini diakui dan diterima secara universal.

Nah, di abad 17, gereja Katholik kan mulai mendapat serangan dari gerakan Protestanisme. Kalau ingat pelajaran Sejarah dulu, dengan tokoh gerakannya Martin Luther King itu. 

Gerakan Protestanisme ini semakin kuat, akibatnya pihak Gereja Katholik katanya melakukan suatu upaya sistematis untuk menghancurkan berbagai catatan historis yang memalukan mengenai Joan. Ingat lagi, di akhir kepemimpinan dia yang hanya sekitar 2-2,5 tahun itu ada catatan tentang perangai seksualnya yang dianggap aneh (sebagian besar karena dia dianggal terlalu "perempuan" sementara dia diketahui sebagai laki-laki) dan di catatan sejarah konon juga ada catatan tentang dia yang melahirkan dan akhirnya meninggal. Hal ini yang membuat catatan terkait Pope Joan dianggap sangat memalukan.

Terus begini...

Pihak Gereja Katholik juga mengajukan 2 argumen utama untuk mendukung pendapat mereka bahwa Pope Joan tidak pernah ada.

Pertama
Tidak ada referensi apapun yang menunjukkan keberadaan Pope Joan dalam berbagai dokumen kontemporer.

(Catatan khusus: ingat catatan sejarah yang membuktikan bahwa semua dokumen terkait Pope Joan memang dibumihanguskan karena dianggap memalukan. Bukan sekedar karena dia melakukan perbuatan tercela, hamil dan melahirkan tadi. Tapi juga karena dia perempuan. Di masa itu, perempuan kan dianggap hina. Abad kegelapan itu masa di mana perempuan tidak dianggap berarti, termasuk di kalangan gereja. Ini jadi salah satu poin tambahan kenapa catatan Pope Joan bisa hilang dari sejarah).


Kedua
Tidak ada kurun waktu yang cukup bagi masa kepausan Pope Joan.

(Catatan khusus: kalau diputar waktu ke belakang, perkiraan masa kepausannya ini seharusnya setelah masa kekuasaan Pope Leo IV. Masalahnya, setelah masa Pope Leo IV ini adalah masa kekuasaan Pope Benediktus III, bukan Pope John/Joan).


JADI?

Tahun 2009, kisah Pope Joan ini difilmkan. Kisah Pope Joan dan segala misterinya jadi kembali diteliti banyak pihak, ya ada kaitannya dengan kontroversi penyerta juga.




Saya pernah membaca tulisan beberapa orang yang meneliti khusus tentang Pope Joan. 

Di beberapa hasil penelitian bilang kalau pada masa itu adalah hal yang lumrah kalau perempuan berdandan seperti laki-laki untuk bisa bertahan di tengah gempuran patriarki, terutama perempuan yang berani dan pintar seperti Joan ini.

Terus, fakta kalau membahas Pope Joan bisa dianggap sebagai anti-Kristen atau anti-Gereja juga membuat argumen bahwa Pope Joan memang pernah ada semakin besar.


TAPI...

APAKAH DATA INI CUKUP KUAT?


Ada banyak sekali versi terkait keberadaan Pope Joan ini. Bukan tidak mungkin karena berkembang lebih sebagai sebuah legenda dibandingkan fakta sejarah. Catatan yang berhasil dikumpulkan pun hanya sedikit dan yang sedikit ini tidak cukup kuat untuk mengesahkan kisah Pope Joan sebagai kisah sejarah yang sengaja dihapus.

Kasus Pope Joan ini serupa dengan cerita tentang isteri Pilatus. Data Pilatus sebagai seorang Gubernur besar di masa Kerajaan Romawi sangat banyak. Tetapi, kisah tentang isterinya dan segala kehebatannya seolah seperti sebuah legenda saja. Tidak banyak catatan penyerta yang menyatakan tentang isteri dari Pilatus. Hal ini yang membuat Antoinette May akhirnya membukukan kisahnya di dalam sebuah novel fiksi Pilate's Wife.


APAKAH KISAH POPE JOAN SAMA DENGAN KISAH JEANNE D'ARC?

Nope.

Dua kisah ini sangat berbeda. Pope Joan merupakan kisah di tahun 800an (abad ke-9), sementara Jeanne d'Arc (disebut juga sebagai Joan d'Arc) adalah kisah di tahun 1400an (abad ke-15). Kisah Pope Joan fokus pada masa-masa ketika ia menjadi Paus, sementara kisah Jeanne d'Arc berfokus pada kisah heroisme.

Persamaan di antara keduanya hanyalah bahwa mereka perempuan dan merupakan tokoh di dalam kisah Katholik Roma.


***


Ada banyak kisah perempuan lainnya yang mengalami nasib serupa, tidak banyak tercatat di dalam sejarah. Sebenarnya hal ini tidak dianggap aneh, terutama pada kisah-kisah perempuan yang melegenda dari abad pertengahan ke atas. Contohnya adalah kisah Cuthburga of Wimborne dan Hilda of Whitby, keduanya konon berhasil memerintah biara dengan kekuatan quasi-episcopal.

Apabila kita kembali ke kisah Pope Joan, banyak yang bertanya-tanya tentang proses penyamarannya juga. Bagaimana mungkin seorang perempuan seperti Joan dapat menyamar dengan sukses sebagai seorang laki-laki, terutama sebagai seorang Paus?

Sejarah pada abad ke-9 merupakan masa di mana atmosfer semua laki-laki di gereja bergaya vintage. Maksudnya, secara fisik, semua laki-laki di gereja pada masa itu diharuskan mencukur habis jenggot, kumis, dan jambang mereka. Wajah mereka terlihat "polos" dan "bersih" dari atribut maskulin. Maka, wajar saja jika Pope Joan dapat lolos dengan mudah dari screening ini.

Apabila kisah Pope Joan akhirnya terkesan ditutupi, ada kemungkinan bahwa ini merupakan usaha gereja untuk melindungi umatnya dari kisah perempuan (seperti Joan) yang melakukan cross-dressing demi mencapai ambisi.

Saya sendiri berpendapat bahwa Pope Joan memang seorang tokoh sejarah. Walaupun tidak semua kisah tentang dirinya, terutama yang berkembang setelah abad pertengahan, adalah kisah yang benar. Ditambah lagi, ada ilmuwan anti-Joanite bernama Professor Dollinger yang menemukan bahwa ada naskah kuno di Museum Vatikan berisi tentang kisah Pope Joan ini.

Kisah Pope Joan pun dianggap sebagai sebuah sexy story

Kenapa?

Pope Joan, bagi kalangan feminisme, dianggap sebagai sebuah ikon wanita feminist yang pemberani. Dia sangat pintar dan juga opportunist. Kepandaiannya bahkan bisa menyaingi para laki-laki di zamannya sehingga tidak heran jika akhirnya dia bisa terpilih sebagai pemimpin tertinggi di agama Katholik.

Sebagai pemimpin, dia dikisahkan sebagai pengambil keputusan yang sangat bijak. Sementara itu, di sisi lain, sebagai seorang wanita, Pope Joan dikisahkan sebagai wanita yang tidak berakhlak. Dia hamil oleh entah siapa, meski di dalam novel dikisahkan bahwa ia mengandung anak orang yang dicintainya yaitu Count Gerold. 

Dua sisi dari Joan yang tergambar sangat bertolak belakang, yang kemudian berkembang menjadi isu bahwa kisah Pope Joan merupakan contoh dari feminisme yang gagal.


***

Secara umum, saya salut dengan cara Donna merangkai kisah Pope Joan menjadi novel dengan tebal lebih dari 700 halaman dan penuh dengan dokumentasi sejarah, agama, intrik politik, dan isu sosial lainnya. Riset yang dilakukan oleh Donna selama 7 tahun rasanya tidak sia-sia, apalagi dia meneliti kisah dari abad pertengahan dan juga abad kegelapan yang terlihat seperti sulit untuk dibuka.

Alur yang menarik ini rasanya tidak akan dapat dinikmati juga bila tanpa penerjemahan yang apik dari FX Dono Sunardi karena berhasil mempertahankan narasi yang enak diikuti hingga tuntas.

Untuk membahas bukunya secara khusus, ada website Pope Joan yang bisa dilihat.

Cogito, ergo Deus Est. Salah satu kutipan favorit di buku ini yang artinya Saya berpikir maka Tuhan ada. Kutipan yang memberikan efek positif bagi saya pribadi saat membaca buku ini untuk pertama kalinya.



Overal, saya beri rating 4/5

***


"Partout ou vous voyez une legende, vous pouvez etre sur, en allant au fond des choses, que vous trouveres une histoire."

Kapan pun kau berjumpa dengan sebuah legenda, kau bisa yakin, jika kau mendalaminya hingga ke dasarnya, kau akan menemukan sejarah.


- Vallet de Viriville -


Cheers!
Have a blessed-day!
















#PsyTalk merupakan pembahasan, terkait apa saja yang  pernah saya bahas di dalam grup whatsapp KBI, baik yang terkait dengan rubrik mingguan bertema Psikologi yang saya moderasi setiap Jumat malam maupun di luar pembahasan itu. Bukan tidak mungkin, terkait juga dengan pembahasan di grup lainnya atau bahkan di pembahasan personal saya dengan beberapa teman di luar grup manapun. Pembahasan yang bersifat online maupun offline.

Khusus kali ini, materi #PsyTalk digabung dengan book review yang terkait dengan tema pembahasan.