22 March 2014

#1Minggu1Cerpen - Rahasia Sasa

Sumber Gambar: Schuberts Bakery


Hari Minggu.

Akhirnya hari ini datang juga. Pagi-pagi Mama sudah asyik sendiri di dapur, ia sudah berjanji untuk membuat mango cake super spesial untuk Sasa karena hari ini Sasa ulang tahun yang ke-delapan. Tadi malam, Mama dan Papa sudah membuat kejutan dan memberikan hadiah kepada Sasa.

Sudah sejak sebulan yang lalu Sasa bilang kepada Mama untuk dibuatkan mango cake dengan hiasan coklat dan buah stroberi di atasnya. Buah mangga, stroberi, dan coklat memang makanan kesukaan Sasa. Khusus hari ini, Sasa meminta mango cake super spesial seperti itu. Sedikit berbeda dibandingkan mango cake yang biasa dibuat oleh Mama.


Mama sering mengajak Sasa untuk mengundang teman-temannya di sekolah dan mencicipi makanan-makanan buatan Mama. Mango cake ini adalah favorit semua teman-teman Sasa juga. Terkadang, Mama harus membuat sampai lima loyang mango cake sekaligus! Tapi Mama melakukannya dengan senang hati karena Mama memang senang memasak. Tidak jarang Mama juga memberikan bungkusan berisi mango cake untuk dibawa pulang oleh teman-teman Sasa yang datang ke rumah.

Mango cake buatan Mama paling enak sedunia. Membayangkannya saja membuat Sasa menahan air liurnya supaya tidak tumpah, apalagi kalau ia memcium baunya seperti sekarang.

Sasa bolak balik antara kamarnya dan dapur. Ia senang sekali dengan wangi masakan dari dapur, ia juga senang berada di dapur bersama Mama. Tapi, kali ini Sasa merasa takut dan tidak pantas untuk menerima mango cake spesial dari Mama.

Mama mengira Sasa terlalu antusias, sehingga Mama menggoda Sasa "Kamu enggak sabar yaa...?". Mama kemudian meminta Sasa menunggu saja di ruang makan bersama dengan Papa.

Sasa mendesah dalam hati, "Ah, Mama... Kalau saja Mama tahu, pasti Mama akan marah."

Sasa mengelap keringat yang membasahi tangannya. Ia lalu memilih kembali ke kamar dan berpikir di sana sambil mencari cara untuk segera mengatakan hal yang disimpannya sejak seminggu lalu. Sasa merasa bersalah, tetapi juga belum berani untuk berterus terang.

"Tuhanku, apa yang harus aku lalukan?"


***


"Sasa, ayo sini ke ruang makan. Mango cake untuk kamu sudah jadi lho..." Papa memanggil Sasa.

Sasa berlari dari kamar dan bergegas menemui Papa dan Mama. Dilihatnya Mama membawa mango cake yang baru diangkat dari oven, di bawa ke meja, dan bersiap dihias oleh Mama. Ritual ini merupakan saat-saat yang paling disenangi oleh Sasa.





"Nah, Sasa, kamu mau menghias mango cake dengan apa saja?" Mama menyerahkan mango cake yang baru jadi ke hadapan Sasa.

"Wangiiiiii... Aku suka cium wanginya, Ma..." Mama tersenyum mendengar ucapan Sasa.

"Kamu mah, Sa. Apa sih masakan Mama yang enggak kamu suka hahaha" Sasa hanya tertawa mendengar gurauan dari Papa. Sasa dan Papa saling tahu bahwa mereka berdua adalah fans utama untuk semua masakan Mama.

"Sudah, sudah. Papa dan Sasa mulai deh hahaha. Kita mulai hias yuk!"
"Yuk, Ma!"

"Sa, kamu tolong ambil coklat-coklat yang sudah Mama bentuk. Ada di dalam kulkas. Papa, tolong ambilkan krim mangga ya. Mama lupa, tertinggal di dapur, hehehe."

"SIAP!" teriak Sasa dan Papa berbarengan.

Papa, Mama, dan Sasa menghias mango cake sampai tuntas dan kemudian mereka simpan di lemari pendingin dulu supaya lebih enak ketika nanti siang dimakan.

"Ma, Pa, aku mau cerita..."
"Anak cantik mau cerita apa?"
"Ih Papa, aku serius..."
"Papa juga serius..."
"Maaa... Papa nih!"

Mama yang mendengar ribut kecil antara Papa dan Sasa hanya tersenyum, "Sini, anak Mama-Papa yang sedang ulang tahun mau cerita apa? Pasti didengarkan ceritanya sama Papa dan Mama."

"Supaya lebih enak, gimana kalau kita ke ruang keluarga saja ceritanya?" ajak Papa.

Papa, Mama, dan Sasa pun ke ruang keluarga. Duduk di karpet merah yang ada di sana, tempat favorit jika sedang berkumpul bertiga seperti sekarang.

"Sebenarnya..."
"Ya, Sa..."

Raut wajah Sasa berubah menjadi lebih sendu, wajahnya muram, dan air matanya tiba-tiba menetes.

"Lho, kok Sasa menangis? Ada apa, nak?" Mama bergegas memeluk Sasa.

"Sebenarnya aku punya rahasia, Ma. Aku menghilangkan boneka punya Syilla. Aku enggak sengaja, Ma. Aku lupa, tertinggal di taman bermain waktu aku dan Syilla bermain di sana Minggu lalu. Syilla marah ke aku. Ya, aku juga mau mengganti boneka Syilla. Tapi kan aku enggak punya uang banyak, jadi aku enggak tahu mau ganti pakai apa. Tadinya, mau aku ganti pakai uang tabungan di celengan barbie punyaku, tapi aku takut dimarahi Papa-Mama kalau pakai uang itu sembarang." Sasa mengakui semuanya di sela tangisan dan air mata yang mengalir semakin deras.

"Tadi malam kan Papa sama Mama kasih boneka ke aku, boleh enggak kalau boneka itu aku kasih ke Syilla untuk ganti boneka dia yang aku hilangkan?"

Papa dan Mama berpandangan sebentar. Sembari tersenyum, keduanya mengiyakan permintaan Sasa. "Boleh, sayang. Boleh.... Papa dan Mama mendukung kamu."

"Benar, Pa?"
"Tentu!"
"Papa dan Mama enggak marah ke aku?"

"Aku minta maaf ya Ma, ya Pa..." Sasa memeluk Papa dan Mama, kemudian mencium tangan Papa dan Mama.

"Papa sih akan marah kalau kamu tidak pernah meminta maaf kepada Syilla." dengan lembut Papa mengacak rambut Sasa.

"Hmm. Kalau Mama, akan marah ke kamu kalau kamu tidak pernah mengakui perbuatan kamu ke kami berdua,"

"Iya, Ma. Iya, Pa. Aku berjanji enggak akan mengulangi lagi."

"Ya sudah. Sekarang, apa yang mau kamu ke lakukan ke Syilla?"
"Ya, itu tadi Ma. Aku mau ganti boneka Syilla pakai boneka baru dari Papa dan Mama. Bonekanya masih di plastiknya, belum aku buka."

"Kapan rencananya mau kamu kasih bonekanya ke Syilla?"
"Aku belum tahu, Pa. Sebenarnya aku takut Syilla masih marah ke aku."

"Dimarahi karena kita bersalah itu wajar, Sa. Yang penting kamu berani mengakui bahwa kamu bersalah dan kamu bertanggung jawab dengan meminta maaf. Berhubung kamu juga menghilangkan boneka Syilla, maka wajar juga bila kamu menggantinya dengan baru..."

"Aku sebenarnya suka dengan boneka baru dari Papa dan Mama."
"Lalu?"
"Kalau boneka yang baru dikasih ke Syilla, aku boleh dapat boneka baru yang lain lagi enggak?"

"Hahaha, Sasa kamu ini ya. Untuk kali ini, Papa dan Mama tidak akan membelikan boneka baru untuk kamu sebagai pengganti boneka yang kamu mau berikan kepada Syilla." tegas Mama.

"Kenapa?" Sasa kembali menangis.
"Begini..."

"Rasanya gimana waktu kamu harus melepas boneka baru untuk diberikan ke Syilla sebagai pengganti boneka Syilla yang kamu hilangkan?"
"Enggak enak, Ma."

"Ada lagi?"
"Sedih, aku tadi pagi menangis di kamar."

"Waktu kamu dikasih tahu kalau kamu enggak akan dibelikan boneka baru untuk mengganti boneka yang akan kamu berikan ke Syilla, apa yang kamu rasakan?"
"Aku nangis, kayak sekarang ini."

Mama memegang kedua pipi Sasa, "Itulah yang akan kamu rasakan kalau kamu mengulangi perbuatan yang sama."

"Sore ini kita ke rumah Syilla. Kita berikan boneka baru ke dia, ya. Papa dan Mama akan temani kamu."

"Ma, mango cake sudah bisa dimakan atau belum?"
"Wah iya, hampir saja lupa dimakan!"


***


"Syilla, aku ganti boneka kamu ya..."




"Syilla, kamu masih marah ke aku?"
"Enggak..."
"Kita masih temenan kan?"
"Iya..."

***


Cheers!
Have a blessed-day!














#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita kedelapan di program ini.