31 March 2014

#1Minggu1Cerpen - Pak Tua dan Becak Kesayangannya



Aku mengenalnya sejak masih berusia 5 tahun, ketika Ibuku meminta dia untuk mengantarkan aku pulang-pergi ke sekolah TK dan SD tempatku belajar, yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Sejak saat itu, nyaris selama 7 tahun lamanya aku berlangganan menaiki becaknya. Kegiatan ini baru terhenti ketika aku masuk SMP karena lokasi sekolahku cukup jauh dari rumah dan tidak memungkinkan untuk diantar-jemput menggunakan becak lagi. Jadi, orangtuaku mengizinkan aku untuk naik kendaraan umum saja. 

Yaa... 
Orangtuaku memang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memungkinkan untuk mengantar atau menjemputku ke sekolah, sementara keluarga kami pun tidak memiliki supir pribadi yang bisa menggantikan tugas antar-jemput ini. Jadwal Bapakku sudah terlalu padat untuk digunakan mengantar dan menjemput Ibuk, yang jadwal kerjanya sama dengan Bapak dan lokasi kantornya  Ibu pun berdekatan dengan kantor Bapak.

Tidak ada pilihan lain bagiku dan kakakku, yang berusia satu tahun di atasku, selain mengikuti arahan orangtua kami untuk menggunakan alternatif pulang-pergi ke sekolah sesuai yang dipilihkan oleh mereka.

Kembali ke becak...


Becak langgananku itu dikendarai oleh Pak Tua. Kami memanggilnya demikian. Sejak aku mulai berlangganan becaknya, hanya panggilan itu yang aku ketahui. Pak Tua mungkin seusia dengan Kakekku dari Bapak. Aku lihat penampakan mereka serupa, hanya saja Pak Tua lebih kurus dan hitam. Urat-urat nadi begitu menonjol terlihat di leher dan tangannya, begitu pula dengan otot-otot di lengan dan betisnya, seolah ia bekerja terlalu keras saat harus mengayuh becak setiap hari sejak pagi buta hingga petang menjelang malam. Tapi jangan salah, tenaga Pak Tua masih sangat baik. Tidak seperti Kakekku yang walaupun kulitnya lebih bersih, tetapi sangat mudah sakit.

Pak Tua sangat pendiam, hanya sapaan "Selamat pagi, Majikan Kecil..." yang ia keluarkan dari mulutnya ketika menjemput aku dan kakakku untuk berangkat ke sekolah, serta "Selamat istirahat, Majikan Kecil..." yang ia lontarkan kepada kami saat selesai mengantarkan kami dari sekolah untuk kembali ke rumah. Selebihnya, di sepanjang jalan hanya kami lalui dengan berdiam diri. Maksudku, aku dan kakakku sibuk sendiri di dalam becak sementara Pak Tua sibuk mengayuh tanpa bicara sedikit pun.

Aku pernah mencoba bertanya kepadanya, mengajaknya mengobrol, tetapi hanya dibalas dengan senyuman atau anggukan. Wajahnya cenderung tanpa ekspresi, datar, kecuali saat sedang tersenyum tadi.

Oh!
Aku ingat sesuatu...

Wajahnya pernah terlihat sedih saat kami melihat preman di pengkolan dekat rumah itu dikeroyok oleh warga sekitar kompleks sebelah perumahan tempat kami sekeluarga tinggal, dan akhirnya meninggal dunia. Baru kali itu aku melihat matanya digenangi air mata. Belakangan kemudian aku ketahui bahwa preman itu adalah salah satu anaknya. Aku sempat merasa bersalah. Kata Ibuku , aku bahkan sampai terbawa mimpi dan mengompol terus menerus selama beberapa hari, karena terus terpikir peristiwa preman nahas itu. 

Bagaimana mungkin aku tidak merasa bersalah?

Saat kami melihat preman itu dikeroyok, sebenarnya Pak Tua sempat turun dari becak. Sepertinya, saat itu ia ingin menyelamatkan anaknya. Tetapi, begitu melihat wajahku menjadi pucat pasi karena ketakutan, bahkan sampai beberapa kali muntah. Lalu ditambah dengan melihat kakakku yang terus saja menjerit dan menangis, juga karena ketakutan. Akhirnya, Pak Tua memutuskan kembali mengayuh becaknya, kali ini dengan lebih cepat dibanding biasanya demi mengantarkan kami supaya segera sampai ke rumah. Aku tidak banyak ingat hal lainnya lagi di kejadian itu, kecuali tidak ada ucapan "Selamat istirahat, Majikan Kecil..." untuk aku dan kakakku dari Pak Tua -- yang matanya memerah dan semakin digenangi air mata. Pak Tua langsung balik badan, mengayuh sepedanya dengan segera, tanpa menatap ke arah kami lagi.

Keesokan harinya, Pak Tua meliburkan diri selama satu minggu. Bapak yang paling marah dengan berubahnya pola hidup kami selama satu minggu itu. Bukan marah kepada Pak Tua yang tidak masuk. Seingatku, Bapak marah kepada warga yang katanya main hakim sendiri. Kata Bapak, "Edan!!! Kalau mereka itu tidak main hakim seenaknya, mungkin anak Pak Tua tidak harus mati. Kalau anaknya Pak Tua tidak mati, kita tidak akan kebingungan begini untuk atur jadwal antar-jemput anak-anak."

Kurang lebih seperti itu.

Seminggu kemudian, Pak Tua memang kembali masuk, tapi kali ini semakin menjadi pendiam. Sapaan-sapaan yang menjadi ciri khasnya itu terasa semakin tidak bernyawa. Aku dan kakakku menjadi tidak enak sendiri jika harus berisik di dalam becak seperti biasanya.


***


Saat aku tidak lagi berlangganan becak Pak Tua, aku pernah mendengar tukang ojek -- yang biasa mangkal di dekat tempat Pak Tua dan becaknya mangkal jika sedang tidak ada penumpang -- membicarakan Pak Tua. Katanya, becak yang biasa digunakan Pak Tua itu adalah becak kesayangan Pak Tua, yang sudah menemani Pak Tua sejak dia masih muda dan belum menikah.

Biasanya, setiap hari Jumat, Pak Tua tidak akan menarik bayaran kepada penumpangnya. Di hari biasa pun, Pak Tua tidak akan menentukan tarif khusus kepada penumpangnya. Maka dari itu, Pak Tua yang menjadi pilihan paling disenangi oleh siapapun yang sudah mengenal dirinya. Ajaibnya, Pak Tua tidak pernah mengalami kekurangan penghasilan. 

Dari hasil mengayuh becak setiap hari itu, Pak Tua bisa menyekolahkan kelima anaknya hingga menjadi sarjana. Sayangnya, anak Pak Tua yang ke-empat berakhir menjadi preman kampung. Menurut tukang ojek itu, anak Pak Tua yang ke-empat menjadi preman semenjak dia di-PHK oleh kantornya. Lalu, anaknya itu menjadi kehilangan semangat dan terpengaruh pergaulan tidak baik, menjadi gemar berjudi dan lupa untuk kembali mencari pekerjaan, serta senang mabuk-mabukan. 

Pak Tua sempat marah besar kepada anaknya ini, tetapi si anak yang sudah semakin terjerumus pergaulan tidak baik malah memilih kabur dari rumah dan tidak kembali lagi, hingga akhirnya meninggal saat dikeroyok warga ketika ketahuan maling.

Pak Tua dihormati, tetapi tidak dengan anaknya. Warga sangat segan kepada Pak Tua, tetapi sudah tidak tahan dengan kelakuan anaknya -- beserta kelompok premannya itu -- yang sudah semakin meresahkan warga.


***


Sudah lama sekali aku tidak mendengar kabar tentang Pak Tua. Aku bahkan nyaris lupa dengannya. Semenjak aku SMA dan tinggal di luar kota, aku jarang berada di rumah kecuali ketika sedang berlibur.

Terakhir yang aku tahu, Pak Tua masih mengayuh becak meski tidak serutin dulu. Usianya sudah mencapai 80 tahun, tetapi tidak menghalangi niatnya untuk tetap memberikan tumpangan becak secara gratis setiap hari Jumat.

Pas sekali.

Di liburan kali ini, Aku sudah berniat untuk menumpangi becak Pak Tua sekaligus mengenang masa kecilku yang diisi dengan kenangan bersama Pak Tua dan becaknya. Aku mempersiapkan diri sejak subuh karena ingin menikmati udara pagi dari becak Pak Tua. Syukur jika aku bisa bercakap-cakap dengan Pak Tua.

Baru saja aku selesai mandi...

"Assalammualaikum warohmatullohi wabarokatuh. Telah meninggal dunia, Bapak Saefulloh atau Pak Tua, pada hari ini pukul 5 Subuh. Jenazah akan dikebumikan hari ini juga, di pemakaman umum Kober...."

Pak Tua...


***

Cheers!
Have a blessed-day!














#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-9 di program ini.