09 March 2014

#1Minggu1Cerpen - Love Is...


Yang aku tahu, aku senang berada di dekatnya. Kisah kami bukan kisah romantis seperti layaknya kisah Romeo dan Juliet, tapi bagiku ini menyenangkan. Kisah Romeo dan Juliet bukankah hanya sebuah kisah bodoh atas nama romantisme tolol? Bodoh sekali mengakhiri kisah cinta dengan tragis, mati membunuh diri sendiri padahal kau belum memeriksa bahwa pasanganmu belum mati? Hei!

Oke. Aku mulai lari ke sana sini. Intinya aku ingin bercerita tentang dirinya. Dia yang hadir di dalam hari-hariku yang suram. Aku harus hidup di antara tumpukan kertas setiap hari. Jadi, kau bayangkan saja betapa merana diriku.

Suatu hari, ia datang ke dalam ruanganku. Di saat aku sedang berhadapan dengan banyak sekali kemarahan tiada henti dari orang yang, well, orang ini yang salah sebenarnya. Siapa suruh melakukan kesalahan berulang kali dan menimpakan kemarahan pada diriku hah?! Punya hak apa dia membanting dan meremas tubuhku ketika kesal?! Sakit sekali rasanya tahukah kau orang yang tak punya hati?!

Kehadiran dirinya ini yang seolah oase di padang pasir. Dengan segala hal yang sifatnya masa kini sekali di ruangan ini, gadget bergelimpangan, komputer dan printer tercanggih di masa kini – ia hadir dengan keunikan yang justru menjadi pesona tersendiri, antik.

Astaga!
Aku terpesona sekali melihatnya. Ini apa?


Pertama kalinya tubuhku disentuh secara unik. Hmm. Ini membingungkan. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada kalian, ya?

Cobalah kalian bayangkan seperti ini saja, aku terbiasa disentuh secara flat. Kau tahu itu? Datar. Tidak ada sensasi menggelitik yang aku rasakan, semua hambar. Sementara ketika aku bersentuhan dengannya, wow, ini seru sekali. Rasanya badanku disentuh dengan penuh perasaan, setiap sentuhan ada artinya, setiap rasa ada alasannya. Dan aku ketagihan, kami semua ketagihan.

Wujudnya unik. Aduh, lagi-lagi aku hanya mampu menggunakan kata ini untuk menggambarkan dirinya. Dia tidak canggih, tidak mencerminkan dunia up-to-date, apalagi futuristic. Dia seolah terlempar dari masa lalu ke dunia di masa depan. Dirinya terlihat sangat ketinggalan zaman saat berada di tengah-tengah kami semua di ruangan ini. Tapi justru di situ daya tariknya di mataku. Entahlah, mungkin aku sudah terlalu bosan dengan duniaku yang biasa, sehingga saat ia hadir dan mulai berhubungan denganku, akupun terlena dan terhisap ke dalam pusarannya.

***
“Shey, ketikan kamu sudah selesai belum? Buruan! Kamu harus bersiap temani Mama arisan.”

Duh! Mama mulai deh. Teriak-teriak lagi. Sudah tahu aku sedang banyak tugas ketikan dari Pak Bowo. Sudah aku jelaskan ke Mama kalau aku tidak ingin diganggu sampai besok. Ini lagi, Pak Bowo reseh! Zaman sudah serba canggih begini, tugas kuliah malah disuruh mengetik menggunakan mesin tik. Edan!

“SHEYLA!!!”
“Ma, please. Aku kan sudah bilang kalau aku enggak mau ikut. Aku lagi banyak tugas, Ma. Please. Ketikanku belum selesai, apalagi ini harus pakai mesin tik… Masih banyak sekali yang harus aku selesaikan… Mesin tik sialan ini merepotkan aku, Ma! Mana bisa aku mengetik dengan cepat di mesin tik!”

***

“Kau yang sialan, Shey!” makiku. Tentu saja ia tak akan paham. Kapan seorang Sheyla Hardjokusumo bisa memahami orang lain? Apalagi memahami sosok sepertiku.

Aku tak peduli. Sheyla, orang ini sedang mengalami apa aku tak peduli. Yang aku peduli, aku dan dia kembali menari bersama di antara jemari Sheyla. Please, Sheyla, menarilah dengan irama lambat. Kau tak perlu terburu-buru dan berakhir dengan memaki aku dan dia.

Kau tidak lihat kami sekarang? Kami menikmati setiap sentuhan. Tarian jemarimu merupakan kenikmatan duniawi bagiku. Melihatnya tersenyum saat setiap tuts-nya menyapaku merupakan pelipur dahagaku akan sentuhan ragawi yang mampu membuatku terbang ke dimensi lain, penuh kebahagian.

Persetan dengan Sheyla. Aku tak ingin ia cepat menyelesaikan ketikan karena itu berarti aku dan dia mungkin berpisah, selamanya, dan aku harus kembali kepada sentuhan penuh basa basi busuk dari printer keparat yang sangat mesum itu. Tidak! Aku tidak mau.


Sumber Gambar: Microsystem Tools


Cinta. Kata yang lain, aku sedang jatuh cinta. Apapun lah, bebas kalian sebut.
Mereka bilang cinta itu begini dan begitu. Apakah cinta itu? Mengapa mereka rumit sekali membuat batasan tentang mana yang disebut cinta? Apakah cinta tak bersyarat itu? Apa pula cinta tanpa perhitungan?

Mengapa mereka sebut cinta seperti kau memakan coklat kesukaan? Hingga kau bisa merasakan berjuta sensasi rasa yang kau idamkan.

Mengapa pula mereka bilang cinta itu seperti eek? Maksudnya apa lagi?



Aku tak mau ambil pusing dengan segala definisi itu. Biarkanlah selama aku dan dia dapat saling bersentuhan seperti sekarang. 

TITIK.




Cheers!

Have a blessed-day!















#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita keenam di program ini dan diikutsertakan di lomba yang diadakan oleh Om David di grup Line super random