16 March 2014

#1Minggu1Cerpen - Gadis Kecil




Gadis kecil duduk di bangku taman. Badan berselimut jaket tebal berwarna hijau, kaki berayun di antara rerumputan di bawahnya, mata lurus menatap ke arah kupu-kupu terbang, tangan kanan memegang payung berwarna merah, dan tangan kiri memainkan bunga matahari yang tumbuh di samping bangku taman.

Sudah sejak pagi tadi ia duduk di sana seorang diri. Hingga matahari bergeser tepat di atas kepala, tak ada tanda ia akan segera meninggalkan bangku taman. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya tanpa seorangpun yang peduli untuk sekedar duduk dan menyapanya. Tak ada pula yang bahkan sekedar berbasa-basi memberikan makanan kepada gadis kecil.

Gadis kecil beranjak berdiri. Ia pergi menyusuri taman. Semua barang bawaan ia tinggalkan, kecuali tas selempang kecil yang tidak pernah ia lepaskan. Kakinya berlari mengikuti arah terbang seekor kupu-kupu kuning. Tawanya memecah keheningan di taman siang itu.

Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia terpaku melihat seorang anak laki-laki yang digendong oleh Ayahnya. Gadis kecil terdiam dan kemudian terduduk membisu di tengah taman. Air matanya mulai menetes. Ia menangis dalam diam.


Gadis kecil masih terduduk di sana, di tengah taman. Kepalanya menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan, dan ke belakang seolah mencari seseorang yang tak kunjung datang. Ia berdiri, berlari ke setiap sudut taman, dan terus menoleh ke sana dan ke mari. Tapi semua berakhir dengan decak kesal dari mulut mungil si gadis kecil.

Oh, gadis kecil. Andai mampu untuk menemanimu di sana,pasti akan menemanimu dan menghiburmu agar raut wajah sedih yang menggelayutimu segera menghilang. Tak sanggup sekali melihat wajah mungilmu dirundung pilu.

Gadis kecil kembali ke bangku taman tempat ia meninggalkan semua barangnya tadi. Ia duduk, kaki disilangkan, dan tangannya menopang dagu. Sepertinya ia telah lelah. Entahlah. Mungkin ia lelah menunggu. Tapi, siapa yang ia tunggu? 

Gerimis turun membasahi bumi dan gadis kecil terlonjak kaget. Ia segera membuka payung merahnya dan bergegas berjalan ke luar dari taman. Tak ada yang tahu ke mana ia hendak pergi.

Gadis kecil terus berjalan di bawah gerimis. Ditundukkannya kepala sembari menangis. Suaranya tercekat meringis. Hati siapapun yang mendengarnya akan teriris.


***


"Anak itu ditinggal Bapaknya tadi. Entah ke mana Bapaknya pergi, sampai sekarang belum kembali lagi. Jangan-jangan memang sengaja ditinggal..."

"Wah. Parah tuh Bapaknya kalau begitu!"

"Ssstt, jangan keras-keras. Kan belum tentu."

"Apalagi namanya? Tapi kok enggak ada yang mau dekat-dekat anak itu?"

"Siapa di sini yang mau berurusan dengan anak yang kelihatan sengaja ditinggalkan orangtuanya? Males. Enggak ada yang mau repot...."


Sayup-sayup aku mendengarkan percakapan dua orang di sebelahku tentang gadis kecil. Ke mana kau hendak pergi?

Andai aku bukan sekedar pohon tua yang sudah bertahun-tahun hanya bisa berdiri mematung, tanpa mampu berbuat apapun untuk menemani anak-anak yang dengan sengaja ditinggalkan oleh orang tua mereka di taman ini.

Semoga kau selamat, gadis kecil. Semoga.


*** 


Terinspirasi dari puisi Gadis Kecil karya Sapardi Djoko Damono.

Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
Di tangan kanannya bergoyang payung
Tangan kirinya mengibaskan tangis
Di pinggir padang, ada pohon
Dan seekor burung



Cheers!
Have a blessed-day!














#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ketujuh di program ini.