31 March 2014

The Kite Runner by Khaled Hosseini


"Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang."

Khaled Hosseini dalam The Kite Runner


***



Saat The Kite Runner tiba-tiba diajukan menjadi materi pembahasan diskusi buku bulanan di grup Whatsapp Klub Buku Indonesia, saya sebenarnya agak keberatan. Dengan pemikiran songong saya saat itu, pembahasan The Kite Runner rasanya sudah ratusan kali saya dengar. Beberapa di antara pembahasan itu saya ikuti langsung, dulu.

Pertama kali saya membaca buku ini sekitar tahun 2003, dipinjamkan oleh seorang teman. Edisi terjemahan belum masuk di Indonesia. Awal ditawari membaca, saya pikir ide ceritanya akan sederhana, lucu, dan khas anak-anak. 

Pengejar Layang-layang.

Ini "anak-anak" sekali, bagi pemikiran remaja norak ala Nia saat itu.

Siapa sangka kalau novel ini tidak sesederhana pikiran saya saat itu. Sotoy yak! Ckck. 

Sejak itu pembahasan tentang The Kite Runner ini semakin sering saya dengar. Mulai dari diskusi buku, bedah film, dan lainnya. Semuanya, banjir air mata oooTuhaan saya rapuh! Hahaha.

Novel ini juga sering dijadikan materi untuk dianalisa di ranah ilmiah, bahkan hingga sekarang. Salah satu yang saya pernah baca langsung adalah tulisan Dian Maya di dalam Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya.

"Novel sebagai salah satu karya sastra memegang peranan penting dalam memberikan pandangan untuk menyikapi hidup secara artistik imajinatif. Persoalan yang dibicarakan dalam novel adalah persoalan tentang manusia dan kemanusiaan."

Kemudian...

Sekitar awal tahun 2006, seorang Mbak di kosan saya dulu berkata, "Ni, buku terjemahan The Kite Runner sudah ada di Gramed tuh!"

Wih!
Serbuuuuu~

Oh, deym!

Bertepatan dengan disahkannya The Kite Runner sebagai bahan bacaan bersama di Januari 2014, untuk kemudian didiskusikan bersama juga di Februari 2014, di saat yang sama saya menyadari bahwa BUKU THE KITE RUNNER SAYA HILANG DARI RAK BUKU!!!

Sakit hati ke sekian kalinya akibat buku-buku favorit yang lenyap di tangan para peminjam. Sialnya, saya lupa siapa saja yang sudah meminjamnya karena tidak memiliki catatan data peminjam.

Jadi, saya membaca ulang The Kite Runner dari ebook berbahasa Inggris yang banyak bertebaran di google. Aplikasi epub untuk edisi terjemahan berbahasa Indonesia juga banyak bertebaran di google.

Cekidooott~


***


Cover Edisi Perdana Berbahasa Inggris


Judul: The Kite Runner
Pengarang: Khaled Hosseini
Jenis: Novel, Fiksi Sejarah
ISBN: 1-57322-245-3 (Edisi perdana berbahasa Inggris)
Penerbit: Riverhead Books / Terjemahan Indonesia oleh Qanita (Mizan Group)
Tahun Terbit: 2003 (English) / 2006 ((Terjemahan Indonesia cetakan pertama)
Jumlah Halaman: 324++ (English) / 616++ (Terjemahan Indonesia)
Harga: Variatif*


(*)
Buku The Kite Runner ini banyak dicetak ulang dengan beragam edisi, termasuk gold edition. Sekarang pun ada edisi picture book yang masih beredar luas di toko-toko buku besar di Indonesia.

Di Pesta Buku Bandung awal Maret lalu, saya menemukan buku ini, secondhand, edisi terjemahan Indonesia cetakan kedua (2006) seharga Rp 10.000,00 saja. Lumayan mengobati rasa sedih karena kehilangan edisi terjemahan yang cetakan pertama.


***


Novel ini memiliki 25 chapters. Banyak. Tetapi secara umum, ada 3 menu utama di dalam kisah The Kite Runner, yaitu:
  1. Masa kecil Amir di Kabul, Afghanistan
  2. Masa-masa Amir dan Baba di Fremont, CA, USA
  3. Masa-masa Amir kembali ke Kabul, Afghanistan

MASA KECIL DI KABUL - AFGHANISTAN

Masa kecil Amir terlihat bahagia. Dia hidup serba berkecukupan, bahkan mewah. Amir memiliki Ayah super tajir, Baba sang bussinessman handal. Sayang, Ibunya meninggal ketika melahirkan Amir.

Amir memiliki pelayan bernama Ali dan Hassan, ayah dan anak keturunan Hazaras -- sebuah etnis minoritas di Afghanistan. Tetapi, Amir dan Baba bukanlah orang yang menilai orang lain berdasarkan status sosial. Meski demikian, Ali dan Hassan tetap mengalami tindakan abusive dari lingkungan sekitar. Apalagi, Ali pun memiliki cacat fisik.

Amir dan Hassan memiliki kesamaan, mereka berdua sama-sama ditinggalkan oleh Ibu kandung masing-masing. Bedanya, ibu Amir meninggal ketika melahirkannya sementara ibu Hassan kabur meninggalkan Ali dan Hassan.

Baba sepertinya tidak terlalu senang memiliki anak seorang Amir, yang terlihat lemah dan lebih menyukai sastra dibandingkan olahraga. Selain itu, Baba juga terlihat lebih memperhatikan Hassan. Inilah yang membuat Amir mencoba menarik perhatian Baba dengan melakukan satu-satunya yang ia bisa: memenangkan turnamen pertandingan layang-layang.

Di Afghanistan, layang-layang bukan hanya diterbangkan melainkan juga dibuat menjadi sebuah pertandingan bergengsi. Jadi, Amir (dibantu Hassan) merancang strategi supaya menang pertandingan ini. Nah, di sinilah ujian dalam hidup Amir yang sebenarnya dimulai. Selama proses ini, ada ujian bagi Amir dalam usahanya untuk memenangkan cinta Baba. Ada juga ujian persahabatan antara Amir dan Hassan, ketika cinta antar sahabat berubah menjadi pengkhianatan.

Begitu pula bagi Hassan. 

Ketika proses pertandingan berlangsung, ada tragedi kelam yang menimpa Hassan. Di situ, terlihat jelas sekali bagaimana pengecutnya seorang Amir dan betapa nelangsanya seorang Hassan.

Hassan menjadi korban bullying, lebih tepatnya sexually abused. Amir menyaksikan semuanya, tetapi dia tidak pernah mengaku bahwa ia melihat kejadian tersebut.

Dengan ditambah fakta bahwa bagi Amir, Baba jauh lebih perhatian kepada Hassan -- well yes, kinda sibling rivalry -- Amir pun semakin dikuasai oleh kepengecutan dan kecemburuan menghadapi Hassan.

Sayangnya, Amir memilih solusi yang justru menambah poin tentang kepengecutan dirinya. Amir memfitnah Hassan mencuri barang-barangnya. Hassan sebenarnya bisa saja membela diri. Tetapi, Hassan the golden heart terlalu baik dan juga sadar bahwa Baba tidak akan pernah memaafkan Amir jika ia ketahuan berbohong. Maka, Hassan memilih mengakui fitnah dari Amir.

Keinginan Amir terkabul. Ali dan Hassan pergi dari rumahnya, dan meninggalkan Baba yang patah hati.


MASA-MASA DI FREMONT - CA

Masih ingat dengan kisah turnamen layang-layang tadi kan ya?

Selama masa pertandingan itu, perang mulai terjadi di Afghanistan. Akibat perang, banyak hal buruk yang menimpa Baba dan Amir. Pasukan Soviet memiliki mata-mata di mana-mana, akibatnya tinggal di Kabul jelas menjadi tidak aman lagi. Baba dan Amir kemudian mengungsi ke Pakistan, setelah itu mereka hijrah ke California - USA.

Hidup Baba dan Amir sangat berubah drastis di Amerika. Baba bekerja sangat keras di Fremont, tetapi hidup mereka tetap saja sulit. Solah akhir dari masa-masa sulit ini tidak akan pernah mereka temui lagi saking kerasnya beban hidup yang harus mereka lalui saat itu. Mereka sampai harus menjual satu per satu barang berharga ke pasar loak demi menghasilkan tambahan uang.

Di sisi lain dari masa-masa sulit ini, Amir jatuh cinta kepada Soraya. Pertemuan mereka bermula di pasar loak.

Dibandingkan kehidupan Amir, maka kehidupan Baba adalah yang paling menyedihkan selama mereka harus bertahan hidup di Amerika. Kekayaan yang mereka miliki selama di Afghanistan seolah tinggal menjadi legenda karena semua kekayaan mereka dulu tidak ada apa-apanya, tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi kehidupan Baba dan Amir di Amerika.

Selain itu, kesehatan Baba juga semakin memburuk. Apalagi, Baba harus bekerja ekstra keras selama berjam-jam tanpa hasil memadai. Hasil akhir dari semua kerja ekstra keras ini pun buruk sekali, Baba kemudian diketahui menderita kanker dan sudah stadium akhir.

Sebelum Baba meninggal, ia sempat menikahkan Amir dan Soraya. Pernikahan yang indah dan Amir - Soraya sungguh saling mencintai. Hanya saja, seberapa keras pun Amir dan Soraya berusaha, mereka sulit memiliki anak.


MASA-MASA KEMBALI KE KABUL

Sahabat dan juga partner bisnis Baba yang bernama Rahim Khan, orang yang dianggap Amir sebagai ayah keduanya, menghubungi Amir di Amerika. Ia meminta Amit untuk kembali ke Afghanistan.

There is a way to be good again.

Sebuah sindiran Rahim Khan yang sangat dimengerti maknanya oleh Amir. Lalu, Amir pun segera bergegas kembali ke Kabul.

Saat tiba di Kabul, Rahim Khan bercerita tentang segala hal yang terjadi selama Amir dan Baba meninggalkan Afghanistan. Ternyata Rahim Khan, Ali, Hassan, dan Farzana (isterinya Hassan) kembali ke rumah Baba. Hassan dan Farzana juga memiliki seorang anak laki-laki bernama Sohrab.

Suatu hari, Taliban bertindak sangat keji dengan membunuh Hassan dan Farzana yang mati-matian berusaha melindungi rumah Baba, meski dengan resiko dianggap pencuri karena status sosial mereka yang rendah. Hassan dan Farzana dibunuh secara brutal. Ali pun meninggal. Akibatnya, Sohrab menjadi yatim piatu dan kini tidak diketahui di mana rimbanya. Rahim Khan khawatir dengan Sohrab yang sudah tidak lagi memiliki perlindungan.

Isu Sohrab inilah yang menjadi titik balik kehidupan Amir sekembalinya ia ke Kabul.

Rahim Khan meminta Amit untuk mengambil-alih pengasuhan atas Sohrab. Lebih tepatnya, Rahim Khan mendesak Amir untuk menyelamatkan Sohrab. Apalagi, sejak awal Amir selalu menolak. Penolakan sikap yang ditunjukkan oleh Amir ini yang membuat Rahim Khan mengeluarkan rahasia penting lainnya.

Wah, ada apa ini?!

Ternyata...

Rahim Khan kemudian menyampaikan sebuah fakta yang selama ini tersimpan rapat dan sekaligus menjelaskan kenapa Baba bisa begitu menyayangi Hassan.

HASSAN ADALAH SAUDARA TIRI AMIR. MEREKA SATU AYAH, YAITU BABA.

Baba pernah mengkhianati teman sekaligus pelayan setianya, Ali, dengan cara meniduri isteri Ali (Sanaubar). Jadi, bisa dibilang bahwa Sohrab adalah keponakan sedarah dengan Amir. 

Artinya, menyelamatkan Sohrab sama dengan salah satu cara yang dapat digunakan oleh Amir untuk membersihkan dosa masa lalu Baba dan dirinya sendiri, yaitu dosa saat Baba mengkhianati Ali dan saat Amir mengkhianati Hassan.

Rupanya, usaha penyelamatan Sohrab bukanlah hal yang mudah. Sohrab tidak tinggal di panti asuhan, ia ditahan oleh Taliban dan ditempatkan di kediaman petinggi Taliban pula. 

And another fact twisted the story.

Petinggi yang dimaksud adalah seorang pedophil. Orang ini merupakan orang yang sama dengan yang pernah melakukan sexual abuse terhadap Hassan, yaitu Assef -- yang sosoknya di masa kecil dulu sangat ditakuti oleh Amir.

Oh, no!

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Amir akhirnya berani menghadapi Assef -- pemerkosa Hassan dan juga yang menahan Sohrab. 

Amir jelas bukan tandingan Assef. Ia hampir saja kalah ketika berkelahi dengan Assef saat berupaya menyelamatkan Sohrab. Untungnya, Sohrab berhasil membantu Amir dengan sangat berani, menggunakan ketapel. Cara yang sama yang sering dilakukan oleh Hassan di masa kecil mereka dulu, ketika Hassan yang berani selalu membantu dan membela Amir.

Setelah menyelamatkan Sohrab, Amir ingin membawanya ke Amerika. Hanya saja ada kendala, berupa sulitnya upaya untuk mengadopsi Sohrab secara resmi karena tidak ada catatan resmi tentang kematian Hassan dan Farzana. Di tengah keputusasaan itu, Amir pun kembali ke Amerika dan dengan berat hati meninggalkan Sohrab di panti asuhan sementara ia kembali dulu ke Amerika untuk mengurus semuanya di sana.

Sohrab yang patah hati, merasa dikhianati Amir yang sempat berjanji tidak akan meninggalkan dirinya, kemudian sempat mencoba bunuh diri. Ia selamat dan berhasil bertahan, tapi belum sepenuhnya memaafkan Amir. 

Ketika Amir kembali ke Afghanistan untuk membawa Sohrab, Amir sempat membawa Sohrab ke taman yang penuh dengan anak-anak yang sedang bermain layang-layang. Membawa kembali ke masa ketika Amir dan Hassan bermain layang-layang dulu.

Sohrab dan Amir menerbangkan layang-layang, bahkan sempat menang ketika bertanding dengan layang-layang lainnya. Seolah membawa kembali memori tentang Hassan, di mana cinta Hassan-lah yang telah membuat hubungan Amir dan Sohrab akhirnya membaik.

For you, a thousand times over.

Kalimat yang sering diucapkan Hassan dulu, kini diucapkan Amir di dalam hatinya ketika ia bermain bersama Sohrab di taman penuh layang-layang terbang itu.

Then I turned and ran.

It was only a smile, nothing more. It didn't make everything all right. It didn't make anything all right. Only a smile. A tiny thing. A leaf in the woods, shaking in the wake of a startled bird's flight.

But I'll take it. With open arms. Because when spring comes, it melts the snow one flake at a time, and maybe I just witnessed the first flake melting.


***


Hom.ma.gah.

Novel ini benar-benar menguras air mata saya, bahkan ketika saya menyalin ini sekarang hahaha.

Kisah Amir di sini memang sebagai central. Penyesalan Amir terhadap masa lalu. Atau di dalam novel, penyesalan Amir digambarkan sebagai unatoned sins. Sampai ada adegan pembuka, di mana Amir berkata seperti ini,

I though of life I had live until the winter of 1975 came along and changed everything. And made me what I am today.

Kisah Amir dan Hassan bukan hanya tentang kisah pertemanan dan kesetiaan. Melainkan juga kekejaman, keinginan untuk diterima, pembebasan dalam beragam makna, dan bertahan hidup di tengah segala suasana. Jadi, dapat dikatakan bahwa The Kite Runner mengajak kita menelaah isu kemanusiaan.

Novel The Kite Runner ini muncul pasca kejadian 9/11 2001 yang menyebabkan isu terorisme mendunia dan negara Afghanistan muncul sebagai salah satu negara yang paling banyak disebutkan sebagai pusat para teroris berada. Di sini ini, The Kite Runner dapat menjadi salah satu rujukan untuk mengenal Afghanistan dari sudut pandang yang lebih berbeda, di mana kita belajar mengenai sejarah dan budaya yang ada di sana.

Afghanistan "diserang" oleh beragam ideologi, mulai dari penjajahan ala Komunisme oleh Uni Soviet serta aktivitas gerakan Mujahiddin yang menggaungkan sistem demokrasi, tetapi kemudian menjadi bentuk teror tersendiri bagi rakyat Afghanistan dan akhirnya melahirkan perang saudara di mana-mana. Belum lagi ditambah konflik antara Syiah dan Sunni yang juga melahirkan perang saudara.

Konflik antara Syiah dan Sunni ini berwujud pula dalam konflik kesenjangan sosial yang dibedakan oleh kasta Pashtun dan Hazara. Pashtun diwakilkan oleh keluarga Amir dan Baba yang kaya raya, golongan Islam Sunni, dan sangat dihormati serta berpengaruh di antara kalangan lainnya. Sementara Hazara merupakan etnis minoritas, bukan penduduk asli Afghanistan, ideologi keagamaan mereka berlandaskan Islam Syiah, dan diwakilkan dalam wujud Ali dan Hassan. Dengan kata lain, Hazara merupakan etnis berkasta rendah dan merupakan kelompok bagi kaum pekerja level terbawah, yaitu budak.

Membaca kisah The Kite Runner pasti membuat saya teringat dengan film Kandahar, yang ber-setting di Afghanistan dan memperlihatkan dengan jelas beberapa konflik yang menimpa warga di sana. Sama seperti konflik yang juga terangkum di dalam The Kite Runner.

Dan kalau ada yang membaca buku Selimut Debu karya Agustinus Wibowo, maka bisa belajar mengenal Afghanistan dari sana juga.

Buku ini paket lengkap dan sangat berkesan bagi masa-masa akhir remaja ketika saya baru lulus SMA dan menjalani awal perkuliahan hampir 11 tahun yang lalu. Jadi, buku ini masuk jajaran buku-buku favorit sepanjang masa ala saya. Seperti biasa, untuk buku-buku favorit saya, pasti akan saya beri rating tertinggi.

Overal saya nilai sebesar 5/5.


Cheers!
Have a blessed-day!
















#BookReview kali ini dilakukan dalam rangka pembahasan diskusi buku bulanan yang diadakan di dalam grup Whatsapp Klub Buku Indonesia. Kebetulan, untuk diskusi buku The Kite Runner ini saya moderasi langsung.