02 February 2014

Lucid Dream dan Astral Projection





Suatu hari, Aristoteles melakukan percobaan. Ia mengobservasi perilaku ketika manusia tidur. Aristoteles kemudian menyimpulkan bahwa seringkali ketika kita tidur, ada sesuatu di alam sadar kita yang wujudnya seolah nyata, namun sebenarnya itu hanyalah mimpi.

Hasil observasi inilah yang kemudian mengantarkan kita pada fenomena yang saat ini dikenal sebagai lucid dream.

Lucid dream secara sederhana berarti mimpi di saat kita sedang tidur -- di mana kita sadar bahwa ia sedang bermimpi. Lucid dream ini dapat realistis, tetapi mungkin juga samar-samar wujudnya.

Kemudian, muncul teori yang menyanggah fenomena ini. 

Teori tersebut mengatakan bahwa lucid dream bukanlah di fase tidur, melainkan di saat kita mulai tersadar dari tidur.

Akhirnya, untuk membuktikan bahwa lucid dream memang fenomena yang nyata, dilakukanlah serangkaian penelitian untuk mencari tahu apakah lucid dream dapat dibuktikan secara ilmiah.

Yang jelas, di saat mengalami lucid dream, ada peningkatan aktivitas di lobus parietal kita. Hal ini yang membuat lucid dream merupakan proses mimpi yang disadari keberadaannya oleh para lucid dreamer.

Prokprokprok!!!



Ada seorang neuroscientist, bernama Hobson, yang mencoba membuktikan fenomena lucid dream dengan menggunakan neurobiological model. Dia penasaran, apa ya yang terjadi di otak ketika kita mengalami lucid dream?

Ada yang tahu?

Gelombangnya beda?
Jika terkait gelombang REM, ada hubungannya.

REM?
Rapid eye movement.

Ada dua tipe tidur, yaitu:
  1. Non-rapid eye movement (NREM) sleep, dikenal juga sebagai quiet sleep.
  2. Rapid eye movement (REM) sleep, dikenal juga sebagai active sleep atau paradoxical sleep.


Selain itu, ada pula tahapan dari tidur, yaitu:

Tahap dimulainya proses tidur

Selama fase awal ini, kita masih relatif sadar dan terjaga. Otak kita memproduksi gelombang beta. Gelombang ini kecil dan bergerak dengan cepat. Pada saat otak mulai merasa rileks dan secara perlahan gelombang alpha, gelombang yang bergerak lebih lambat dari beta, mulai diproduksi. 

Apabila kita belum terlalu tertidur di fase alpha ini, maka akan ada kemungkinan kita merasa memiliki pengalaman aneh dan sensasi yang begitu jelas. Sensasi atau pengalaman ini bernama hypnagogic hallucination. Contohnya, kita tiba-tiba merasa terjatuh atau merasa mendengar nama kita dipanggil seseorang.

Ada pula pengalaman sleep paralysis, dikenal juga dengan istilah hypnagogic sleep paralysis atau predormital sleep paralysis, di mana kita merasa tersadar tetapi sulit sekali untuk menggerakkan tubuh.

Kejadian lainnya yang biasa terjadi di periode ini dikenal dengan nama myoclonic jerk. Contohnya, ketika kita tiba-tiba merasa kaget dan akhirnya terbangun.


Tahap 1

Tahap ini menandai dimulainya siklus tidur, yang merupakan fase transisi antara masih terjaga dengan mulai tertidur. Pada fase ini, otak memproduksi gelombang theta, gelombang yang bergerak dengan sangat lambat. Periode di fase ini biasanya membutuhkan waktu yang singkat, hanya sekitar 5-10 menit. 

Apabila kita terbangun di tahap ini, artinya kita belum benar-benar memasuki siklus tidur.


Tahap 2

Tahap kedua dari siklus tidur, yang biasanya berlangsung selama 20 menit. Otak mulai memproduksi sleep spindles, yaitu gelombang yang bergerak seperti tersembur dengan cepat dan berirama.

Selain itu, suhu tubuh kita juga akan menurun dan detak jantung juga akan mulai melambat.


Tahap 3

Tahap ini merupakan periode transisi antara fase light sleep dan very deep sleep dari keseluruhan siklus tidur.  Gelombang delta, yaitu gelombang otak yang bergerak dengan mendalam dan lambat, mulai diproduksi. 


Tahap 4

Gelombang delta masih berproduksi di tahap ini dan periode deep sleep yang dialami berkisar 30 menit. Hal yang bisa terjadi di tahap ini adalah mengompol dan sleep-walking, umumnya terjadi di fase akhir dari tahap 4 ini.


Tahap 5

Proses mimpi biasanya dialami di tahap kelima ini, dikenal juga dengan rapid eye movement (REM) sleep. REM sleep ditandai dengan pergerakan pada mata, detak jantung meningkat, dan peningkatan pula pada aktivitas otak.

REM sleep juga dikatakan sebagai paradoxical sleep karena ada kaitannya dengan semakin meningkatnya sistem kerja otak dan tubuh, sementara otot-otot kita justru semakin rileks.

Mimpi yang terjadi di tahap ini pun ada kaitannya dengan meningkatnya aktivitas otak tadi, serta otot tubuh yang justru menjadi lumpuh (paralyzed).


Ada catatan penting yang perlu kita ingat.

Siklus tidur dimulai sejak tahap 1, kemudian berlanjut ke tahap 2, 3, dan 4. Setelah tahap 4, maka tahap 3 dan 2 kemudian berulang terus sebelum kita memasuki tahap 5 yaitu fase REM sleep. Apabila fase REM sleep telah usai, maka tubuh kita biasanya akan kembali ke tahap 2.

Siklus tidur ini biasanya akan berulang sebanyak 4-5 kali dan khusus REM sleep, biasanya akan dimulai setelah kita tertidur selama 90 menit.

Fenomena sleep paralysis juga mungkin terjadi ketika kita terbangun dari tidur, dikenal dengan istilah hypnopompic sleep paralysis atau postdormital sleep paralysis.


***


Kembali ke pertanyaan sebelumnya, apakah yang terjadi di otak kita ketika kita sedang mengalami lucid dream?


Apakah aktivitas otak meningkat?
Hmm, aktivitas otak ada yang meningkat dan ada pula yang justru menjadi less intensive.

Fase awal di fenomena lucid dream ditandai ketika kita menyadari bahwa kita sedang bermimpi.

Nah, proses ketika kita sadar ini ada kaitannya dengan aktivitas di prefrontal cortex, bagian otak yang menjadi manajer dari sistem kerja otak kita dan tempat di mana kerja memori di otak kita terjadi. Bagian ini justru sedang tidak aktif ketika fase REM sleep lho~


Jadi, kalau kita sampai menjadi sadar tadi, artinya...

Kita, pelaku mimpi alias lucid dreamer ini, menjadi cukup sadar untuk mengetahui bahwa kita sedang bermimpi. Kita juga bisa memilih untuk melanjutkan mimpi tersebut atau tidak.

Saat kita sedang mencoba menyeimbangkan kesadaran ini, amygdala dan parahippocampal cortex akhirnya menjadi tidak terlalu aktif lagi.

Fakta-fakta inilah yang menjadi landasan bahwa lucid dream does exist and scientifically proven.

Horree!!!




Ada lucid dreaming dan ada pula dream controlling, di mana bedanya?

Pada dasarnya, lucid dream baru sah disebut lucid dream ketika mimpi tersebut dapat dikontrol. Lucidity dan dream control saling terkait, tapi salah satu bisa terjadi tanpa melibatkan lainnya.

Contoh 1:
Banyak lucid dreamer yang hanya mengontrol sedikit saja di mimpinya itu, bahkan ada yang mengatakan bahwa ia tidak melakukan kontrol sama sekali. Di sisi lainnya, lucid dreamer juga bisa mencoba untuk mengontrol mimpi tanpa sepenuhnya aware kalau itu hanya mimpi. Kalau lucid dream itu ada di fase ketika kita mulai sadar dari mimpi. Maka, dream control bisa dilakukan di fase sadar maupun tidak sadar.

Contoh 2:
Ada mimpi, yang kadang abstrak, tapi teringat terus sampai bangun. Ada mimpi yang jelas banget, tapi saat bangun langsung lupa itu mimpi apa. Ini masuk kategori mana?

Contoh 2 itu hanya mimpi yang biasa. Batasannya jelas, jika lucid dream maka kita sadar kalau kita sedang bermimpi (ingat saja film Inception, mimpi di dalam mimpi. Ini rumit juga ya hahaha). Sementara contoh 1 itu menjelaskan perbedaan dari lucid dream dan dream control.


Bedanya, apa kak?
Itu tadi. Untuk lucid dream, kontrol dimulai ketika kita mulai aware kalau kita mulai bermimpi. Untuk dream control, fase dimulai sejak sebelum kita sadar, menggunakan sugesti juga bisa.


Jadi, lucid dream bisa dibikin?
Bisa. Lebih tepatnya, dikontrol.


Jika dilihat dari contoh 1, maka dicobalah eksperimen untuk menjadikan lucid dream sebagai bentuk terapi. Terutama untuk mengatasi masalah-masalah klinis. Seringnya digunakan untuk healing masalah terkait dengan stress, trauma, menumbuhkan kepercayaan diri, dan lainnya.


Siapa pernah mencoba melakukan lucid dream untuk terapi? Cung!
Saya! Hahaha.

Pada kasus saya, dulu di periode tahun 2000-2010, saya selalu diserang dengan mimpi buruk dengan pola yang sama setiapkali berhadapan dengan masalah yang sama.

Saya memiliki standar akademik tertentu, kind of perfectionist -- dulu ya, dulu hahaha -- terutama untuk setiap hal terkait dengan nilai atau performa akademik. Efek sampingnya, saya mudah cemas kalau sudah berhadapan dengan momen menunggu nilai ulangan atau ujian akhir. Sampai awal tahun 2000, hal ini masih mudah diatasi. Tetapi, di pertengahan tahun 2000 hingga pertengahan tahun 2010, dengan standar akademik yang saya buat semakin tinggi, saya mulai menghadapi mimpi yang sama dengan pola yang sama dan selalu muncul ketika saya berhadapan dengan momen akademis yang krusial. Misalnya, menunggu hasil pengumuman kelulusan.

Hayo, mimpi apa coba tebak, hihi.

Di mimpi itu, saya pasti berhadapan dengan segala jenis makhluk astral, contohnya tante kuntilanak, mbak sadako, atau mbah genderuwo, dan sebangsa lainnya hahaha. Adegannya, perkelahian dengan segala scenes terbang, adu kekuatan ajaib, tusuk-tusukan entah apa saja, atau tiba-tiba teleportasi ke tempat lain tapi tetap dengan adegan perkelahian tadi.

SERU!!!

Terus terang, saya kangen sekali dengan mimpi seperti itu hahaha.

Sayangnya, ketika saya sudah berhasil mengatasi masalah ini, mimpi jenis ini tidak pernah lagi muncul ketika saya tidur. Sekarang, jika cemas terkait akademik ya sudah langsung berhadapan dengan objeknya. Misalnya, ketikan laporan atau berdebat dengan dosen! Ups...

Dulu, di tahun 2000-2003, saya belum aware bahwa astral beings yang muncul di mimpi saya merupakan simbol dari objek yang membuat saya merasa cemas, yaitu akademik tadi. Jadi, ketika saya bermimpi mengenai hal ini, dan saya juga sadar bahwa saya sedang bermimpi, saya tidak pernah mengontrol mimpi tersebut. Tahu-tahu ketika saya bangun, saya sudah basah kuyup karena keringat dingin dan banjir air mata saking takutnya berhadapan dengan astral beings yang dengan kurang ajarnya hadir di mimpi saya tadi, hahahaha.

Ketika saya mulai kuliah dan berkenalan dengan lucid dream, baru kemudian saya juga mulai untuk mengontrol si mimpi ini.

Salah satu kuncinya kan begitu sadar kalau ini mimpi, maka saya harus langsung ambil kendali terhadap mimpi tadi. Nah, kendali inilah yang saya latih. Berhubung polanya sama dan objeknya pun sama, saya tidak terlalu kesulitan untuk melakukannya.

Begitu saya sadar sedang bermimpi dan bertemu para astral beings, saya mencoba untuk mengalahkan mereka saat momen adegan perkelahian dengan segala jenis jurus tadi. Asik, terbang! Hahahaha.

Sampai tiba di satu titik saya bisa mengalahkan mereka, maka kecemasan saya tadi berlangsung pulih. Begitu terus.

Cemas >> mimpi >> sadar sedang bermimpi >> kalahkan objek yang muncul di mimpi >> kecemasan menghilang

Balik lagi ke pernyataan saya sebelumnya, astral beings yang muncul di mimpi saya merupakan simbol dari objek yang membuat saya cemas. Jadi, saya harus bisa mengalahkan simbol tadi terlebi dahulu supaya kecemasan aslinya dapat berkurang.


"Kalau begitu, ketika kita "berperang" melawan dedemit tadi, itu akan mempengaruhi kehidupan nyata kita terhadap masalah yang kita hadapi?"

Iya.
Hooh.


"Artinya, kalau ada masalah dan muncul di mimpi lewat simbol dedemit itu, harus siap berperang melawan dedemit juga dong ketika mimpi?"

Hahaha. You must try deh! Ini seru, benar-benar seru, parah! Kapan lagi bisa berperang melawan dedemit dan terbang ke sana ke mari sambil adu ilmu segala rupa seperti yang biasa kita lihat di film?


"Jadi, kalau misalnya kita mimpi buruk dan kita sadar kalau itu hanya mimpi, itu lucid dream juga?"

Iya. Fase di mana kita sadar kalau sedang bermimpi, itu jelas merupakan fase awal kita lucid dreaming.


"Tapi, kalau setelah sadar kalau kita sedang bermimpi, lalu kita langsung terbangun, artinya kita hanya sampai di fase awal saja?"

Iya. Itu artinya kita belum sampai mengontrol si mimpi. Kunci lainnya dari lucid dreaming.


"Tunggu, tunggu... Lucid dream itu kita bisa mengontrol mimpi? Jadi, kita bisa menentukan mimpinya mau jadi seperti apa?"

ABSOLUTELY!!
Ini asiknya lucid dreaming.


Contoh lainnya lagi yaa, iyaa~
Di contoh ini, membahas kaitan lucid dreaming dan sleep paralysis.

Saya pernah membaca hasil penelitian tentang orang yang memiliki masalah dalam menulis tugas kuliah dan ia menyembuhkan masalah ini dengan menggunakan lucid dreaming.

Nah, ketika dia mencoba lucid dreaming untuk membantu dia terapi, dia juga sempat mengalami sleep paralysis di fase awal lucid dreaming dia.

Di mimpinya, dia sedang ada di ruang tidur. Kalau di dalam kondisi real,  komputer yang biasa dia  gunakan untuk mengetik tugas diletakkan di dalam kamar. Tetapi, di mimpi itu, komputernya ada di ruangan lain! Di adegan inilah, dia langsung tersadar bahwa dia sedang bermimpi.

Lalu, ketika dia mulai mau mengambil kontrol terhadap mimpi dan memulai adegan di mimpi bahwa dia akan memindahkan komputer ke dalam kamar, tiba-tiba dia mengalami sleep paralysis. Dia tahu, dia sedang bermimpi. Tetapi, tetap saja tubuhnya tidak dapat digerakkan.

Berulang kali, dia gagal melanjutkan lucid dreaming untuk terapinya karena stuck di fase ini.

Akhirnya, dia terus latihan untuk memberikan sugesti positif ke diri dia, dari sebelum mulai tidur hingga ketika dia memulai fase lucid dreaming.

Sampai akhirnya, setelah berulang kali latihan dan mencoba, setiap kali dia mengalami sleep paralysis ketika akan memulai action memindahkan komputer ke dalam kamar mulai mengetik atau menulis tugas, dia selalu mengatakan ke dirinya sendiri, "Saya bisa. Ini hanya mimpi. Saya sedang bermimpi. Saya pasti bisa bergerak. Saya pasti bisa memindahkan komputer dan mulai menulis."

Suatu hari, perlahan, akhirnya badan dia mampu bergerak lagi. Dia bisa memindahkan komputer dan membiasakan diri untuk mengetik di mimpinya saat lucid dreaming ini.

Awalnya, kata dia, pengalaman itu terasa menakutkan. Apalagi, sempat ada adegan kursi yang dia duduki ternyata jatuh ke dalam lubang gelap. Tapi, dia tetap nekat menulis meski harus menulis sambil mengalami adegan terjatuh.

Ketika dia mulai terbiasa, dia pun tidak lagi memiliki masalah di dalam menulis tugas.


"Kalau sering mimpi beberapa kegiatan dan ternyata menjadi nyata 100% namanya apa, Kak?" atau "Kalau mimpi yang sudah pernah dimimpikan? Mimpi yang sama tempat, pembicaraan, dan tokohnya. Ini apa?" atau "Mimpi dan sering kejadian, ini juga apa?"

Hmm~
Sugesti?

Ketika kita meyakini mimpi tadi dan alam bawah sadar menuntun kita ke arah sana di kehidupan nyata. Atau, jika memang sangat sering, mungkin saja itu vision.  Bisa juga ini permainan state of mind. Sama dengan deja vu; state of mind.


"Kalau bukan sugesti atau deja vu, itu apa?"

Coba tanyakan pada setiap memori di long term dan short term memories yang tersimpan di alam bawah sadar. Jika memang tidak ada di sana, berarti mungkin saja itu benar bukan sugesti maupun deja vu, melainkan vision.


"Mimpi vs masalah katanya berkaitan ya?"

Well...
Opa Freud once said, mimpi itu bisa jadi simbol dari masalah yang sedang kita hadapi.


"Terbawa ke pikiran ya masalahnya?"

Yup!
Terbawa ke pikiran, kemudian masuk ke alam bawah sadar, dan voila dia menjelma menjadi mimpi. Hahaha.


"Bisa diasah gak?"

Apa?
Lucid dream? Ini jelas bisa, pasti bisa.
Kuncinya satu, latihan.


"Mimpi bisa dilatih lewat hypnotherapy-kah?"

Mimpi dan hypnotherapy merupakan dua hal yang berbeda. Hypnotherapy merupakan terapi lewat metode hipnosis. Sementara, mimpi ya mimpi.


"Dalam Psikologi, keberadaan hypnotherapy dan lucid dream ini kontra ya, Kak?"

Pro dan kontra weeess biasyaaa~
Hypnotherapy selama dilakukan untuk melakukan terapi masalah, ini masih acceptable. Jika disalahgunakan untuk hal lain, seperti dianggap bisa untuk menebak kepribadian, ini yang sepenuhnya salah.

Lucid dream ini seringkali dianggap sama dengan astral projection, padahal jelas sekali berbeda. Ini juga memicu muncul silang pendapat. Selain itu, jika mengkaji lucid dream secara Neuropsychology  atau Neuroscience, setahu saya, hingga saat ini bisa dibuktikan secara scientific. Contohnya lewat kinerja otak tadi.

Tetapi, jika mengkaji lucid dream murni secara Psikologi, ini perdebatannya masih sengit hahaha. Ada beberapa pihak yang meragukan sisi scientific fenomena ini. Pihak-pihak ini biasanya menganggap kajian lucid dream lebih tepat dilihat dari sudut pandang Parapsychology.

Terapi dengan metode lucid dream ini dianggap cara "aman" untuk membuktikan eksistensi lucid dream secara psikologis.


"Tapi, di mimpi itu mungkin saja ada adegan berbahaya kan, Kak?"

Sebahaya-bahayanya adegan di dalam mimpi, ia hanya mimpi.


Sedikit intermezo yaa, iyaa~
Penulis dan sutradara film Inception adalah seorang lucid dreamer lho!


"Kenapa di Indonesia gak ada jurusan Parapsikologi, Kak?"

Eh?
Hahahaha.
Karena...

Parapsikologi dianggap sebagai pseudopscience, ilmunya semu, antara ilmiah dan tidak ilmiah. Sementara, kajian Psikologi basisnya harus ilmiah. Makanya, banyak ilmu Psikologi yang akhirnya dilepas dari payung besar Psikologi karena makin ke sini, makin tidak dianggap ilmiah atau diragukan sisi ilmiahnya, walaupun eksistensinya masih ada.

Contohnya, graphology serta hypnosis - hypnotherapy.

Dan keberadaan mereka sebagai ilmu tidak kuat dan kurang ilmiah. Tapi, sebagai ranah praktik, diakui keberadaannya selama tidak disalahgunakan. Misalnya, diperbolehkan selama digunakan untuk kepentingan terapi.


"Graphology tidak ilmiah?"

Dulu, graphology masuk ke dalam payung besar Psikologi tetapi sudah bertahun-tahun dikeluarkan dari ranah Psikologi.


"Kalau kita sadar itu mimpi, tapi langsung sesak napas, itu normal?" atau "Mimpi, terus tidak bisa bangun. Sulit untuk bangun. Ini apa?" atau "Kalau kita mimpi sesuatu yang menakutkan dan kita sadar kalau itu mimpi, terus kita merasa kaki kita jadi sulit bergerak dan mata juga sulit dibuka. Ini apa?"

Kemungkinan besar, ini sleep paralysis. Lihat lagi penjelasan di atas yaa, iyaa~



***


Apa bedanya lucid dream dan astral projection? 
Film Insidious, itu masuk ke lucid dream  atau astral projection?

Coba kita kaji yuk!

Film Insidious itu alamnya real atau tidak?

Yup!
Alamnya tidak real.

Alam real vs unreal inilah kunci utama yang membedakan antara lucid dream dan astral projection.

Artinya, kejadian di film Insidious itu termasuk apa?
ASTRAL PROJECTION.

Beberapa perbedaan mendasar antara lucid dreaming dan astral projection, yaitu:

Pertama
Lucid dreaming, pengalamannya berupa mimpi. Sementara astral projection, ketika tubuh dan jiwa berpisah, ini merupakan pengalaman yang real.

Maksudnya, lucid dreaming  dialami ketika kita tidur. Sementara astral projection dialami ketika kita full awaken.


Kedua
Di dalam lucid dreaming, kita bebas untuk menentukan setting lokasi di manapun. Sementara setting saat astral projection ya sesuai dengan di mana kita meletakkan tubuh kita.

Makanya, asik kan lucid dreaming itu? Hahaha.


Ketiga
Kesadaran kita ketika lucid dreaming masih ada dan melekat ddi dalam diri kita, ada di dalam tubuh kita lah lebih tepatnya. Sementara ketika kita astral projection, alam sadar kita akan ikut keluar melanglangbuana bersama jiwa yang keluar dari tubuh. Jadi, tubuh kita dibiarkan saja tergeletak, kosong.

"Arwah dong, Kak?" 
Hahaha bukan hih! Kesannya dedemit  amat.

"Ketika melakukan astral  projection, kita sedang sadar?"
Astral projection ya dilakukan dengan sepenuhnya sadar. Consciousness kita juga ikut ke soul atau jiwa kita, ketika proses dilakukan.

"Kak, itu kalau tersesat (jiwanya), jadi tidak dapat kembali ke dalam tubuh ya?"
Tersesat? Belum berhasil kembali saja, mungkin.


Keempat
Di dalam lucid dreaming, kita dapat mengontrol lingkungan yang kita ingin hadirkan adalah lingkungan yang seperti apa. Kemudian, kita juga bisa mengontrol karakter yang ingin kita munculkan yang bagaimana. Misalnya, seperti yang saya ceritakan di kasus saya di atas. Di sana, saya memunculkan karakter superhero, jagoan yang bisa memiliki banyak ilmu di atas kemampuan para dedemit dan juga mampu mengalahkan mereka. Hahaha.

Sementara itu, di dalam astral projections, kita dapat memanipulasi lingkungan. Tetapi, kita tidak dapat mengontrol siapa saja makhluk lain yang akan kita temui. Ada kasus dari temannya om saya. Ketakutan yang dialami oleh temannya si om ketika ia mencoba astral projection dan berhadapan dengan beragam astral beings ternyata sampai terbawa sekali di kehidupan aslinya.

Eh...
Jangan menyamaratakan semua wujud astral beings hanya sebatas yang kita pahami berdasarkan apa yang sering kita lihat di film horor ya hahaha. Jangan tertipu dengan penggambaran dedemit begitu saja.

"Astral projection sama dengan mata batin?"
Hastagaah~
Beda! Hahaha.

"Kak, pernah lihat hantu?"
Ebuset!
Hadudududu~

Dedemitan itu makhluk astra, iya. Tetapi, ada banyak sekali jenis astral beings ini. Luas sekali ragamnya.

"Contohnya selain demit apa, Kak?"
Hahahaha. Banyak! Di alam semesta ini bertebaran segala jenis astral beings.

Jangan menyamakan astral projection dengan dedemitan lho. Just, don't! 
Hahahaha...


Kelima
Di dalam lucid dreaming, ketika yang dialami di mimpi sudah selesai, yasyudaaa~ kita pun akan bangun dari tidur. Namanya juga mengalaminya di dalam mimpi hihi.

Sementara ketika kita selesai melakukan astral projection, ketika pengalamannya selesai, maka jiwa kita akan kembali ke dalam tubuh dulu bersama dengan consciousness (kesadaran, alam sadarnya kita) yang terbawa tadi. Baru deh setelah itu, jiwa-raga akan menyatu kembali.

"Consciousness itu artinya kita tidak dapat membedakan mana yang real dan tidak ya?"
Bukan. Kalau tidak dapat membedakan mana yang real dan tidak, ini sih kemungkinannya delusional.

"Ada kaitannya dengan emosional juga (pengalaman membedakan real dan tidak)?"
Beda hahaha. Emosi ya, emosi. Alam sadar, ya alam sadar. Membedakan mana yang real dan tidak, ini bukan tugas emosi.

Delusional adalak ketika kita tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan nata. Apalagi, sampai memaknai sesuatu yang tidak nyata sebagai sesuatu yang nyata, dan kemudian mempercayai semua itu.

"Ketika astral projection, mungkin gak kita bertemu dengan jiwa orang lain yang sedang melakukan astral projection juga, lalu mengobrol selayaknya di dunia nyata?"
Logically, pasti bisa. Karena kita dalam kondisi full awaken, sepenuhnya sadar ketika menjalani astral projection ini.



***


Lucid dreaming dan seks.

Duh~

Ada sebuah kampus, kalau saya tidak salah ingat - Stanford, yang pernah membuat eksperimen terkait lucid dreaming dan seks. Intinya, eksperimen yang dilakukan itu ingin membuktikan apakah pengalaman seks dan orgasme dapat dilakukan ketika lucid dreaming.

Hasilnya?
BISA!

Penelitian ini pernah dibuktikan di Journal of Psychophysiology.


***


"Lucid dreaming ini ada fasenya ya?"



Lucid dream ada latihannya, terkadang tidak langsung berhasil dan membentuk kebiasaan dahulu. Tetapi, ada juga yang langsung berhasil melakukannya.


"Kalau astral projection ada tahapannya gak? Ya mirip dengan fase tidur tadi, ada theta - beta - alpha  dan lainnya."

Astral - out of body experience - ini dilakuka ketika kita fully awaken. Tidak ada fase khusus. Dari beberapa pengalaman orang yang saya kenal, ada yang mencobanya dengan step by step tertentu untuk menuju proses move the soul from the body hingga mencapai yang namanya enjoying the astral plane. Tetapi, beberapa pengalaman lainnya tidak sampai seperti ini.


***


Sudah ya. Hahaha.

SELAMAT MENCOBA!!

Cheers!
Have a blessed-day!
















***

#PsyTalk merupakan pembahasan, terkait apa saja yang  pernah saya bahas di dalam grup whatsapp KBI, baik yang terkait dengan rubrik mingguan bertema Psikologi yang saya moderasi setiap Jumat malam maupun di luar pembahasan itu. Bukan tidak mungkin, terkait juga dengan pembahasan di grup lainnya atau bahkan di pembahasan personal saya dengan beberapa teman di luar grup manapun. Pembahasan yang bersifat online maupun offline.