01 February 2014

Deja Vu




Suatu hari, di sebuah whatsapp group yang isinya super random, muncul pertanyaan dari anaknya Bu Ucum, "Kak Nia, deja vu itu apa?".

Duh, dek.

Kak Nia bahkan merasa deja vu karena sepertinya pertanyaan ini sudah  terjadi lama sekali.

Halah~

Lebih tepatnya, seringkali dibahas di beberapa forum diskusi, baik di whatsapp groups lainnya, convo penting - gak penting dengan beberapa teman, dan kali ini yaagitudee~

Hahaha. 

Jadi, dimulai dari tulisan ini, saya akan membuat tema khusus #PsyTalk - terkait apa saja yang  pernah saya bahas di dalam grup whatsapp KBI, baik yang terkait dengan rubrik mingguan bertema Psikologi yang saya moderasi setiap Jumat malam maupun di luar pembahasan itu. Bukan tidak mungkin, terkait juga dengan pembahasan di grup lainnya atau bahkan di pembahasan personal saya dengan beberapa teman di luar grup manapun. 

Pembahasan yang bersifat online maupun offline.

Tujuannya?

Yaa, supaya kalau saya ditanya lagi, biasanya via BBM atau WA, saya tinggal memberikan link tulisan ini kepada siapapun yang bertanya hahahaha.

Capek yes cyiin jempol eike kalau mengetik hal yang sama berulang kali. 

Bisa kram atau bahkan kapalan deh. 


***





Sepemahaman Kak Nia yang seikhlasnya ini, deja vu atau juga disebut paramnesia, ini tentang apa yang pernah kita alami dulu dan kemungkinannya berulang terjadi pada kita di saat ini.

Batasannya, deja vu adalah tentang "the past" dan "the present".

Ada istilah lainnya, yaitu jamais vu.

Jamais vu merupakan kebalikan dari deja vu

Jika di deja vu kita merasakan sesuatu atau merasa mengalami sesuatu yang kemungkinannya pernah kita alami di masa lalu -- sesuatu yang familiar, maka di jamais vu kita merasakan sesuatu yang bagi kita terasa tidak familiar.

Deja vu sendiri ada tiga bentuk, yaitu deja vecu, deja senti, dan deja visite. Ketiganya saling berkaitan. Namun secara neurologis, pengalaman ketiganya ini berbeda.

Deja vecu terjadi ketika kita merasa pernah mengalami. Ini merupakan versi intensif dari deja vu. Di deja vu kita hanya merasa pernah mengalami saja, sudah selesai. Nah, di deja vecu, saking kuatnya kita merasa pernah mengalami kejadian tersebut, maka sensasi yang kita rasakan itu luar biasa. Kita bisa sampai merasa bahwa kejadian di masa lalu dan di masa kini benar-benar identik. Selain itu, kita juga bisa sampai seolah merasakan dan mengetahui apa yang akan terjadi di selanjutnya.

Hmmm~
Kok, jadi ingat film If Only yaa?
Film sedih.
Skip.

Deja senti secara sederhana berarti pernah merasakan. Hanya saja, kemunculannya tidak seintensif deja vecu tadi. Di deja senti, proses pengumpulan memorinya itu semacam kita melakukan recovery dari informasi yang sudah tersimpan lama sekali. Bahkan, terkadang bisa sampai ke koleksi memori yang sudah tidak aktif lagi!

Ini tidak ada kaitannya dengan premonition yang khas terjadi di deja vu lho. Hal-hal seperti ini banyak sekali kita temukan di kasus-kasus kepikunan; di kasus dementia, atau sekedar alzheimer.

Deja visite konon merupakan bentuk deja vu yang paling jarang terjadi. Dianggap serupa dengan time travelling ke masa depan. Soalnya, kejadiannya itu sering berbentuk seperti ini; kita sedang berkunjung ke tempat baru, tetapi tempat itu sudah terasa akrab sekali bagi kita, sangat familiar.


Deja visite dan deja vecu seringkali membingungkan karena terasa mirip. 

Batasannya, deja vecu fokus di situasi dan proses pemanggilan memori, sementara deja visite fokus di dimensi spasial.


Ada bentuk dan istilah lainnya terkait dengan pengalaman deja vu ini, yaitu:
  1. Deja entendu - pernah mendengar
  2. Deja eprouve - pernah mengalami
  3. Deja fait - pernah melakukan
  4. Deja pense - pernah memikirkan
  5. Deja raconte - pernah menceritakan
  6. Deja su - pernah mengetahui (intellectually)
  7. Deja trouve - pernah menemukan atau pernah bertemu
  8. Deja voulu - pernah menginginkan
  9. Deja arrive - pernah terjadi
  10. Deja connu - pernah mengetahui (secara personal)
  11. Deja dit - pernah dikatakan atau pernah membahas konten dari pembicaraan tersebut
  12. Deja goute - pernah merasakan (tasted)
  13. Deja lu - pernah membaca
  14. Deja parle - pernah mengatakan (act of speech)
  15. Deja pressenti - pernah merasakan (sensed)
  16. Deja rencontre - pernah bertemu (bedanya dengan deja trouve;  pengalaman bertemu pada deja rencontre terkait dengan situasi interpersonal)
  17. Deja reve - pernah memimpikan

Bedanya deja vu dengan premonition atau precognition apa?

Batasannya jelas sekali.

Tadi disebutkan bahwa deja vu is about "the past" and "the present".

Maka, premonition or precognition is about what could happen. Fokusnya pada apa yang mungkin terjadi di masa depan. Mirip dengan wangsit atau penerawangan gitu deh.

Mimpi, jika dikaitkan dengan ini, berarti termasuk ke dalam kategori premonition atau precognition yang secara logika bisa mengarah ke intuisi juga.

Psychology of deja vu itu yang seperti apa sih?




Secara psikologis, pengalaman deja vu erat kaitannya dengan sistem kerja otak, terutama terkait proses kerja otak di dalam memori.

Dalam hal ini, deja vu sangat terkait dengan proses ketika kita mengumpulkan kembali ingatan-ingatan yang sudah tersimpan di dalam otak. Di dalam pengalaman deja vu saat kita mengenali kembali ingatan-ingatan tadi, kita juga menjadi sadar bahwa apa yang kita alami sekarang rasanya seperti sama dengan kejadian yang pernah kita alami dulu.

Contoh paling sederhana di proses memory recognition ini adalah ketika kita bertemu dengan teman lama, kita mungkin saja sudah lupa dengannya, tetapi kita merasa bahwa kita kenal dia di masa lalu.

Contoh lainnya misalnya ketika kita mendengarkan sebuah lagu, yang rasanya begitu familiar. Lagu ini, mungkin, adalah lagu lama yang sering kita dengarkan ketika kita masih kecil.


"Kak, berarti itu pernah terjadi ya? Bukan "merasa" itu pernah terjadi?"

Prinsip deja vu ada di familiarity  kan ya? So yes, ada kaitannya dengan apa yang pernah kita alami atau kita bayangkan dulu.


"Dibayangkan dulu? Imajiner?"

Something related.


Secara neurologis, ada beberapa kemungkinan kenapa deja vu dapat terjadi.

Kemungkinan yang paling banyak diteliti terkait dengan adanya kemungkinan terjadi sesuatu yang tidak serasi, mismatch, di dalam kerja otak.

Misalnya:
Otak merespon stimulus dengan terlalu utuh, dengan membuat gambaran penuh mengenai suatu informasi yang didapatkan dari sistem sensoris tubuh kita. Padahal, informasi yang diolah secara utuh oleh otak kita tadi hanya informasi yang jumlahnya sangat kecil. Kasarnya, otak mengolah informasi secara prematur.

Kenapa bisa begitu?

Bayangkan otak kita ini seperti sebuah hologram. Kita hanya membutuhkan input sensoris seuprit untuk bisa membuat otak kita mampu merekonstruksi gambaran utuh tentang suatu hal dalam bentuk tiga dimensi. Ketika otak kita menerima input sensori sekecil apapun (lewat perasaan, bau-bauan, maupun suara) yang memiliki kesamaan dengan kejadian utuh di masa lalu, otak kita ini mampu membawa kembali kenangan atau ingatan yang sama itu ke masa sekarang.

Hal inilah yang disebut dengan mismatch tadi.

Muncul istilah yang disebut dengan anomaly of memory, yaitu ada malfunctioning antara long term memory dengan short term memory.


"Anomali itu apa, Kak?"

Secara sederhana, anomali berarti terjadi hal yang berbeda dengan apa yang menjadi standar atau hal yang normal dilakukan atau sesuatu yang diharapkan.


Kaitannya anomali tadi dengan deja vu?

Tadi sudah disebutkan bahwa ada malfunctioning antara long term memory dengan short term memory pada pengalaman deja vu kan ya?

Kenapa itu bisa terjadi?

Karena ada yang tidak serasi antara input sensoris yang diterima otak dengan output saat recalling memori terkait dengan input sensoris itu.

Tadi juga disebutkan kan ya bahwa dari input sensoris yang jumlahnya hanya seuprit, otak kita bisa langsung merekonstruksi kejadian utuh yang persis sama dengan pengalaman atau kejadian di masa lalu. Padahal, yang direkonstruksi tadi belum tentu kejadian yang sama atau yang dimaksud dengan pengalaman kita saat ini, apalagi sampai sama persis.

Ibaratnya, saat menerima input sensoris dan mengolahnya, si otak kita ini langsung lompat begitu saja dari lokasi di short term memory ke gudang penyimpanan data ingatan kita di long term memory

Whuuuzz!!
Si otak potong jalan seenaknya!

Makanya, kita jadi seolah merasakan kembali pengalaman yang sama, yang kita sebut dengan deja vu tadi.

Kita ditipu oleh otak sendiri hahahaha. 

Seolah kita mengalami kejadian yang pernah kita lakukan di masa lalu. 

Padahal?
Belum tentu!


Kalau dikaitkan dengan lebih spesifik ke proses kognitif, penjelasannya seperti apa?



Hmm~
Pengalaman deja vu ini terkait dengan adanya error.

Penyebab error ada di timing antara proses menerima informasi dengan proses mengolah informasi.

Input sensoris yang kita terima mengalami pengulangan jalan ketika dia on the way menuju gudang penyimpanan data di long term memory. Makanya, si input sensoris jadi tidak bisa langsung diterima oleh otak secara baik atau utuh, dan ujung-ujungnya jadi tidak bisa diolah secepatnya dengan tepat sasaran.

Ada delay.

Short delay inilah yang membuat kita seolah merasakan sensasi pengalaman yang sama dan mengingat sesuatu yang sama, secara bersamaan.

Perasaan yang sifatnya tidak sempurna, terlalu prematur, karena setting sebenarnya kan belum benar-benar pas.

Teori ini sebenarnya debatable.

Ada overlap, terlalu banyak informasi dan ingatan yang terlibat.

Bukan tidak mungkin, ingatan dan informasi yang terlibat ini merupakan kombinasi dari segala jenis ingatan kita mengenai suatu informasi kan yaa? Iyaa~

Di bawah ini adalah contoh gambaran tentang pernyataan barusan.




Pembahasan mengenai deja vu ini seru juga kalau dibahas dari sudut pandang psycho-analytical maupun parapsychology.

Psikoanalis merupakan salah satu cabang Psikologi. Jika dikaitkan dengan pembahasan mengenai deja vu, fokusnya pada teori yang menyatakan bahwa pikiran yang tidak disadari bisa mempengaruhi perilaku dan pengalaman kita.

Sementara, parapsikologi adalah kajian Psikologi yang mempelajari tentang interaksi organisme dengan lingkungan di sekitar. Sekarang, kajian ini sudah masuk ke adalah pseudoscience karena dianggap tidak scientific. Contoh kajiannya adalah hipnosis, telepati, aktivitas terkait paranormal, dan termasuk juga deja vu ini.

Dari sudut pandang psikoanalis, deja vu adalah semacam manifestasi pemenuhan keinginan.

Deja vu di sini merupakan pengulangan hal-hal yang sebelumnya ada di alam subconscious kita, yang kali ini kita munculkan dengan ending yang lebih positif.

Subconscious?

Subconscious adalah salah satu bentuk alam bawah sadar yang posisinya tepat sebelum alam sadar (conscious/awareness).

Mirip dengan tagline from Deja Vu movie yang diperankan oleh Denzel Washington dulu ya~


What if you could change the past?

Nah lho!

Kok jadi menyerempet ke time travelling?

Kita segera bahas lagi secara lebih rinci.





Dari sudut pandang parapsikologi, bagaimana?

Wohhooo~

Pembahasan ini bisa terkait dengan dunia paralel, multiuniverse, time travelling!!!

Howayoooo~

Prokprokprok!!!

Hahahaha, saya lebih suka membahas deja vu secara parapsikologi. Lebih nampol dan bebas sekali untuk mengekspresikan konsep ini dari sudut pandang yang paling tidak masuk akal sekalipun!


Parapsikologi menyatakan bahwa deja vu ini seperti kesempatan kita untuk reinkarnasi. Bisa juga untuk "mengintip" masa lalu.

Bahaya bahaya bahaya bagi penganut susah move on!
Hahaha.

Konsep reinkarnasi ini sebenarnya terlalu bersifat western theory. Dulu sekali, istilah reinkarnasi ini banyak digunakan di dalam western literatures, yang menyebabkan banyak sekali error dalam pemahaman tentang deja vu.

Ada scientist yang pernah mengatakan bahwa reinkarnasi ini sangat terkait dengan deja visite. Dua hipotesa penyerta tentang ini, yaitu:
  1. orang yang mengalami sensasi reinkarnasi atau deja visite ini memang pernah berada di sekitar lokasi yang dimaksud, memang pernah mengunjungi tempat yang dimaksud, dan lainnya TETAPI dia tidak dapat mengingat secara utuh pengalaman tersebut.
  2. orang yang mengalami sensasi reinkarnasi atau deja visite ini pernah diceritakan atau dijelaskan mengenai lokasi yang dimaksud sehingga ia bisa mengetahuinya.

 


Reinkarnasi ini merupakan fenomena "old soul" juga. Biasanya langsung dikaitkan dengan fenomena orang dengan indigo maupun crystal.

Kekhasan yang ada di mereka bukan sekedar deja vu, tetapi memang ada aura kebijaksanaan dari masa lampau yang masih menyertai mereka.

Lagi-lagi, konsep ini sangat pseudoscience, makanya pendekatan parapsikologi yang paling tepat untuk mengkaji fenomena ini.

Jangan menyama-ratakan konsep ini dengan sixth sense ya!

Sesat pikir sekali kalau kita sekedar menganggap fenomena indigo atau crystal ini dengan sixth sense. Apalagi semakin banyak orang yang mengaku indigo, atau pura-pura indigo, karena sepertinya fenomena ini semakin hipster. Mungkin supaya dianggap keren?

Hidih!

Beberapa teman dan kenalan saya susah payah lho menjalani kehidupan sebagai orang dengan indigo atau crystal ini. Apalagi masa kecil mereka dulu. Pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dan mungkin tidak dapat diterima secara akal sehat yang mereka lalui, membuat tidak semua dari mereka bisa membuka diri dengan luas. Makanya, mereka tidak bisa dengan mudah mengakui bahwa mereka indigo  atau crystal.

Eh, kemudian muncul sekelompok orang yang dengan gampangnya mengaku indigo atau crystal demi tren, mungkin? Pengakuan (yang banyak sekali) palsu. Memalukan, hih!

Oke.
Fokus.

Ada lagi konsep thermodynamic yang digunakan untuk menjelaskan deja vu.

Thermodynamic kan membahas tentang energi. Konon, bahkan yang namanya energi yang membentuk jiwa (soul) dapat dibentuk dan dihancurkan. Tetapi, sifatnya akan tetap konstan. Inilah mengapa, meskipun jiwa telah "mati" bersamaan dengan matinya tubuh seseorang bertahun-tahun lampau, tapi ketika ia melingkupi tubuh yang baru maka energinya akan "hidup" lagi.

Konsep yang kelihatannya menjawab fenomena reinkarnasi, bahkan deja vu ya?

Kelihatannya...

Masalahnya, konsep thermodynamic itu analoginya seperti gelas yang sudah jatuh dan pecah, dan ketika ia balik lagi maka kondisinya ya tetap saja pecah.

"... itu hubungannya sama entropi juga ...." kata teman saya, salah satu dari orang dengan indigo yang saya kenal, ketika ia membantu saya menjelaskan thermodynamic dengan fenomena deja vu.

"... deja vu kan gitu, yang seakan-akan pengulangan, padahal juga gak ...." lanjutnya.




"Tachyon particle, piye bang?"

Iya, ini saya yang bertanya via BBM ke teman saya ini hahaha. 

"Tachyon particle kan lebih cepat dari cahaya. Konooon. Tapi dia kan kaya anti time particle gitu. Konoon. Gak lebih. Intinya kalau menurut aku sih ya, thermodynamic dan tachyon itu pembuktian bahwa deja vu kemungkinan besar cuma state of mind tok. Kan Einstein bilang kalau ada kecepatan lebih dari cahaya, which is 300.000 km/detik, itu bisa lompat ke depan atau ke belakang garis ruang-waktu. Sementara kalau seiring, bakal kekal. Nah, tachyon ini kan cuma andai-andai aja. Orang kecepatan partikel paling cepat ya cahaya, di alam hukum Fisika kita ya."

State of mind.





Iyaa~

"... hubungannya sama time travel, dalam arti luas tapi."
"Hooh bang. Pasti dikaitkan dengan time travel juga. Terutama yang 2nd law of thermodynamics itu pasti dibahas di deja vu dan time travel deh."


2nd law of thermodynamics? 
Entropy?

Emm~

Secara sederhana, saya mengartikan 2nd law of thermodynamics dan entropy di dalam fenomena deja vu itu seperti ini...

Ada energi, yang secara spontan, menyebar dari satu posisi yang terlokalisasi dan kemudian menyebar ketika energi ini tidak terhalang. Nah, entropi ini mengukur penyebaran energi spontan tadi; seberapa banyak energi tersebar yang terukur di dalam proses penyebaran tadi, atau seberapa luas energi tadi tersebar pada suhu tertentu?

"Biarpun bisa gak linear dan ada kemungkinan paralel seperti di quantum physics, (sesungguhnya) time travelling itu gak possible. Tachyon aja udah nyalahin semua hukum sebab-akibat Fisika yang ada. Thermodynamics aja nunjukin bahwa mengubah masa lalu itu gak mungkin bisa dilakuin kalapun kita bisa balik waktu ya. Aku justru liatnya berseberangan semua itu."

Hooh bang.
Sepakat!
Hahahaha.

"Itulah kenapa, membahas thermodynamics dan tachyon terkait dengan deja vu (terutama yang deja visite) selalu membuatku merasa ada yang missed. Lebih mirip membahas konsep deja vu ala parapsikologi."
"Nah bener. Kalau arah parapsychology emang lebih make sense, Ni. Apalagi aku pernah coba juga beberapa kali."

WAH WAH WAH!!!
Si abang gak ngajak-ajak, hih!

"... dari eksperimen yang aku lakuin, aku jadi tahu bahwa space-time paralel itu ternyata bener ada. Maksudnya gini. Misalnya ya, aku ke kemarin, Ni. Padahal itu udah lewat. Itu atral beings di sekitar tempat yang aku datangin itu masih bisa interaksi lho. Unik banget. Dan kaget banget waktu nemuin. Deja vu untuk aku sih misplacement data di otak aja sih, Ni. Tapi juga receptor. Tapi, di luar itu, kita suka gak nyadar bahwa otak kita juga sebetulnya bukan cuma organ processor. Pikiran ya, lebih tepatnya. Itu berfungsi juga kaya satellite dish yang nerima."

Definitely, yes!!!

"... dan kita juga harus sadar kalau interaksi kita dalam segala lingkup sama lingkungan itu selalu ninggalin energi imprint di space-time. Ada yang kuat, ada yang lemah. Nah, ini juga kadang ketangkep sama orang-orang sensitif dan kadang bisa ada misplacement ke dalam personal memory karena dia emang ngebingungin sih. Input-nya gak jelas. Bukan dari panca indera biasa tapi ketangkep telepathically dan kita suka merasionalkan itu secara subjektif banget. Belum lagi kalau kita connected  sama entah itu namanya, lauful mahfuz atau apa ya, yang jelas itu data storage masa lalu - sekarang - depan, selain dari manajemen alam dan nampung doa juga. Dia ngerespon pikiran kita juga. Kadang kita pun bisa nangkep data-data dari situ. Seharusnya gak, sih ya ...."

Hmm~
Jin, ini kaitannya pasti ke jin.
Astral beings.

"... kalau jin emang nyari ...."

Tuh kan!

"... dan dia (jin) emang bisa ke sana. Untuk jadi komoditas meramal dan lainnya. Kongsian sama para nujum dan penyihir ...."

Heuu~

"... Naaah. Balik lagi ke tachyon, Ni ...."

Oke.
Lanjut, bang.

"Kalau emang astral beings punya nature fisik yang atomic, harusnya emang dia bisa ada di beberapa tempat dalam satu waktu."

Iyaa~
Terus?

"Eh, tapi yang maksud aku (tadi), aku ketemu mereka itu ya mereka yang di waktu lalu, Ni. Kemarin. Tapi, bisa interaksi. (Walau) tapi, ternyata gak bisa. Kalau dari situ, sebetulnya, perubahan masa depan di masa lalu itu mungkin aja kita lakuin kan? Tapi, ya itu (tadi), bener banget entropi yang udah dilepas udah gak bisa ketarik dan keulang lagi. One way. Kalau kita cari manusia yang sensitif, receptive di masa lalu, dan kita usahain untuk making contact sampai komunikasi dua arah bisa kejadian, logikanya kita bisa ubah masa depan. Tapiiii, itu sebetulnya cuma bikin percabangan space-time tanpa mengubah masa depan, yang udah jadi masa sekarang atau masa lalu kita sama sekali."

HAWKING!!!

"Itu yang Hawking bahas juga kan, Ni..."

Iyaa~
Mau tahu Hawking yang dimaksud?

Dulu, waktu awal-awal semakin tertarik dengan konsep time machine di masa SMP, pernah membaca satu artikel menarik di salah satu majalah science. Kemudian, Daily Mail membahas tentang konsep Hawking terkait ini di tahun 2010. Klik saja link di sini untuk versi online-nya. Artikel yang selalu saya baca, terutama kalau diajak membahas konsep time machine atau time travel huehehe.

"... tapi aku secara parapsychology udah buktiin sendiri bahwa (masa lalu) emang bener gak bisa diapa-apain (diubah). Tapi juga ada percabangan lain. Dan tachyon itu kan partikel fiktif. Tapi arahannya udah bener kalau mau time travel. Secara gelombang, bukan secara fisik karena gak akan pernah mungkin sih ya kejadian."


Kecuali, ada intervensi yang belokin hukum Fisika kita selama ini.

Cheers!
Have a blessed-day!