01 February 2014

Run Nathan, Run!


Mereka bilang, pertemuan dan perpisahan itu dapat terjadi di mana saja, tanpa pernah kita duga.

Seperti kita.

Pertemuan kita bermula di sini, di dalam bis ini. Pertemuan yang kemudian membawa kita ke dalam dimensi lain, dimensi yang penuh warna dan memberikan cahaya baru bagi kita berdua. 

Dunia kita sebelumnya sama-sama kelam. Hanya ada dua warna, hitam atau putih. Tidak ada warna lain, bahkan abu-abu pun tak nampak. Bagaimana kita bisa berharap akan hadir warna lain yang lebih terang dan cerah?

Aku bahkan tak pernah menyangka bahwa hasil kawin silang pertemuan antara aku dan kamu akan menghasilkan gradasi warna yang lebih kaya. Ini pasti keberuntungan. Jika aku tahu hasilnya akan seperti sekarang, aku pasti akan mencarimu sejak dulu. Akan aku kejar ke manapun aku harus mencarimu.


***


"Boleh aku menemanimu di sini?"

Aku sedang duduk termenung memandang langit dari balik jendela bis ini, ketika kamu menyapaku saat itu. Sapaan yang akhirnya melarutkan kita ke dalam banyak percakapan selanjutnya.

"Kamu selalu duduk di kursi belakang, bagian pojok." suatu hari kamu menyatakan hal itu kepadaku, entah di pertemuan ke berapa, dan aku hanya membalas dengan tersenyum.

Prang!

Ah.
Kaca jendela bis ini bergoyang akibat angin yang sedang kencang. Aku pandangi langit senja ini, tiba-tiba gelap, sepertinya akan segera hujan.

Hujan.

Kata ini kembali mengingatkan aku pada dirimu, pada salah satu percakapan kita.

"Petrichor. Aku suka sekali dengan wangi ini."
"Kenapa?" tanyaku.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya menyukai wanginya. Wangi setelah hujan membuatku tenang."

"Kamu tahu, petrichor ini ada kaitannya dengan mitologi Yunani." lanjutmu.

Aku tak peduli dengan petrichor.

Bukan. 

Lebih tepatnya, aku tak pernah peduli dengan petrichor sebelum aku mengenalmu. Aku benci hujan, simply, hujan seringkali menghambat aktivitasku! 

Bagaimana mungkin aku bisa sedemikian tertarik pada dongeng hujan yang kamu ceritakan kepadaku?!

Itu semua pasti karena matamu!
Aku suka sekali menatap matamu ketika bercerita. 

Matamu memiliki magnet yang mampu menyedotku dengan kuat, hingga aku tak memiliki pilihan selain menikmati setiap tarikan yang dikeluarkan oleh kedua bola mata hitam yang selalu nampak berbinar itu. 

Matamu seperti mata anak-anak, yang belum mengenal dosa. Begitu bersih dan memancarkan kebahagiaan. Sebenarnya, aku sangat ingin memiliki mata seperti matamu. 

Aku tidak pernah menyukai mataku, begitu layu dan kosong. Kata banyak orang, mataku ini memancarkan aura sendu, seolah aku selalu sedih.

Pendapat mereka tidak salah. Justru karena aku tahu bahwa pendapat mereka benar, makanya aku semakin membenci mataku. Kalau ada pilihan untuk mengganti mataku, ingin sekali aku tukar dengan mata milikmu.

"Petrichor itu berasal dari kata petra dan ichor. Kata  petra artinya batu, sementara ichor artinya air. Tapi, air ini bukan sembarang air. Air yang dimaksud berasal dari cairan pilihan yang mengalir di nadi para dewa Yunani. Itulah kenapa petrichor pasti istimewa! Kamu coba deh cium wangi petrichor..."

Tidak.

Aku tidak  tertarik pada petrichor. Aku hanya tertarik pada dirimu. Teruslah bercerita.

The scent of  the rain on the dry earth.

Apa menariknya petrichor ini?

Kemunculannya justru mengingatkanku pada wangi kematian.

"Senyawa petrichor ini sebenarnya berasal dari tumbuhan yang diserap oleh tanah dan bebatuan ketika musim kering. Kemudian, dia dilepaskan lagi ketika kelembapan udara mengalami perubahan yang signifikan. Spesial kan?  Dia tidak akan muncul begitu saja."

Iya.

Bagiku dirimu yang spesial. Kehadiranmu di hidupku juga tidak muncul begitu saja, aku yakin sekali.

"Secara biologis, wangi petrichor ini diciptakan oleh actinomycetes. Bakteri. Dia biasanya hidup di tanah basah dan sayangnya, dia mati jika tanah tadi kering."

Mati.

Mati sajalah. Persetan. Aku tidak peduli pada kehidupan lagi, kecuali semenjak ada kamu di situ.

"Untungnya, sebelum bakteri tadi mati, dia menghasilkan telur berbentuk spora yang memiliki daya tahan lebih kuat. Saking kuatnya, telur tadi dapat melakukan hibernasi hingga bertahun-tahun lamanya di tanah kering! Hebat ya?!"

Hebat?

Bagiku, kamu yang hebat. Dirimu benar-benar mengajarkan banyak hal kepadaku. Aku justru heran ketika kamu bercerita bahwa sebelumnya tidak ada yang menganggap kehadiranmu nyata. Katamu, baru aku yang mau bersikap bersahabat kepadamu. Bertahun-tahun, kamu berkeliling dan mencari orang-orang yang mau melihatmu, mau mendengarkan cerita-ceritamu. Tapi, orang-orang yang kamu maksud itu, tidak pernah kamu temui. Katamu lagi, di saat kamu merasa sangat putus asa, di saat itulah kamu bertemu denganku.

"Aku ingin sekali menjadi telur actinomycetes. Rasanya pasti menyenangkan!"

Berkenalan denganmu, berkenalan dengan dunia lain yang lebih berwarna dibandingkan duniaku, bagiku ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan menjadi telur, spora, apapun namanya tadi.

Kamu sendiri yang mengatakan, keberadaan kita sebelumnya begitu flat. Datar. Apa menariknya warna hitam dan putih? Nuansanya kaku sekali. Pertemuan kita yang membuatnya menjadi memiliki lebih banyak gradasi warna.

Jadi, apa hebatnya menjadi telur dari bakteri yang sudah mati?

"Actinomycetes. Di musim kering, dia mati. Tapi, kematiannya bukan tanpa meninggalkan jejak. Dia memberikan kehidupan baru terlebih dahulu, baru pergi. Dia meningggalkan harapan baru terlebih dahulu, baru menghilang selamanya. Hebatnya, apa yang dia tinggalkan mampu memberikan warna baru, dimensi baru di kehidupan lainnya. Kita bahkan bisa menikmati langsung setiap kali hujan turun. Keberadaan dia tidak sia-sia."

Sia-sia?

Hidupku yang sia-sia. Sebelum aku bertemu kamu, tidak ada yang aku anggap menarik. Justru karena bertemu kamu, maka aku bisa merasakan keinginan untuk dapat bertahan hidup. Aku mau hidup lebih lama lagi, jika ada iming-iming keberadaan kamu di hidupku. 

"Telur-telur peninggalan actinomycetes tadi akan terbangun dari hibernasinya ketika hujan datang membasahi tanah. Beberapa dari telur itu ada yang bangkit, melepaskan diri dari tanah, dan akhirnya terhirup wanginya oleh kita. Wangi yang kita sebut petrichor tadi."

Actinomycetes.

Bagiku, kehadiran kamu di hidupku seperti cerita actinomycetes.

Kamu pernah bercerita bahwa kamu telah pergi dengan sia-sia. Kamu meninggalkan kehidupan, tanpa meninggalkan jejak yang berarti bagi hidupmu, bagi keluargamu, bahkan bagi kekasihmu. Kamu juga pernah bercerita, di awal kepergianmu dulu, kamu melihat keluarga dan kekasihmu banyak mengutukmu karena kamu meninggalkan kekasihmu sebelum kamu sempat menikahinya. Pernikahan yang bagimu seharusnya telah jauh-jauh hari kalian laksanakan, kalau saja kamu tidak melancarkan banyak alasan untuk menundanya.

Tidak.

Bagiku, jika saja pernikahan itu kalian lakukan sejak lama, kepedihan yang akan dirasakan oleh kekasihmu pasti akan jauh lebih menyakitkan. Aku sendiri tidak berani membayangkan jika harus ditinggal pergi selama-lamanya oleh suamiku.

Siapalah aku berani membayangkan hal seperti itu?

Kehadiranmu di dalam hidupku seperti telur actinomycetes. Kamu, actinomycetes, bertemu denganku dalam wujud telur.

Telur berbentuk spora yang terbangun setelah hibernasi panjang, untuk mengajarkan aku tentang hal baru. Aku baru berani berkhayal dan bermimpi setelah bertemu denganmu. Mengajakku untuk menciumi wangi kehidupan dengan cara baru. Kamu mengajakku untuk melihat dunia dalam kacamata yang lebih indah, lebih berwarna.

"... Supaya kamu tidak pernah merasakan penyesalan sepertiku." katamu.





***


DALAM BIS
Sapardi Djoko Damono


langit di kaca jendela bergoyang
terarah ke mana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada …



Di dalam bis ini, bis yang sama dengan bis yang selalu menjadi saksi pertemuan kita, aku menuju ke rumahmu. Aku segera bertemu dengan keluargamu, juga dengan kekasihmu. Semoga apa yang akan aku sampaikan tentangmu dapat membantu mereka untuk berhenti meratapi kepergianmu, seperti yang kamu inginkan.

"Run Nathan, Run! Berlarilah dengan damai ke dimensi baru kehidupanmu, dimensi yang seharusnya telah kamu masuki sejak detik pertama kepergianmu..." bisikku.

Kamu, tersenyum. Untuk yang terakhir kalinya.

***


Cheers!













#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita perdana di program ini.