15 February 2014

#1Minggu1Cerpen - Rona Merana di Sana


"Namaku Rona." katanya singkat.
"Iya, Rona. Aku selalu tahu bahwa namamu Rona. Sesuai sekali dengan wajahmu yang selalu merona, merah alami." jawabku lembut dan tersenyum padanya.

"Namaku Rona." ia berkata lagi.
"Iya. Kau Rona. Gadis pemilik hati lembut dan sikap welas asih."

"Namaku Rona."
"Aku mengenalmu, Rona. Kau tidak perlu khawatir bahwa aku akan melupakan namamu. Tidak, tidak akan pernah aku lakukan. Aku akan selalu menemanimu."

"Temani aku."
"Pasti, Rona. Pasti."

"Jangan tinggalkan aku."
"Aku temani kau selamanya, seumur hidupmu."

"Seumur hidupku? Jika aku mati, apa kau akan meninggalkanku?"
"Rona!"

"Kau sendiri yang bilang! Kau baru saja mengatakan bahwa kau akan menemaniku seumur hidupku. Apa maksudnya jika bukan berarti kau akan meninggalkanku jika aku mati. Sama seperti yang lainnya, meninggalkanku sendiri! Apa salahku hingga kalian bersikap seperti ini kepadaku hah?!"

Rona menangis. Setiap hari selalu begini. Berteriak, menangis, meratap. Aku hanya mampu terdiam, tak tahu lagi harus berkata apa untuk menenangkannya.


"Aku senang di sini."
"Alasannya?"
"Di sini sunyi, aku bebas menyendiri."
"Menyendirilah, aku temani, selama menyendiri bisa menenangkanmu." hiburku.

"Rona..."
"Ya."
"Kau sudah tenang?"
"Tenang?"
"Melihatmu tidak berteriak lagi, maka aku menyimpulkan bahwa kau sudah tenang." aku tersenyum padanya, berharap senyumanku mampu membuatnya lebih terhibur.

"Entahlah..." Rona berdiri lemah. Ia menyeret kakinya melangkah ke pojok ruangan, menatap halaman melalui jendela kamarnya yang berukuran besar.

"Kau betah di sini?"
"Apa aku ada pilihan lain?"
"Tidak ada. Mereka yang memaksamu pindah ke mari."

"Paling tidak, di sini aku bisa menatap bunga-bunga di taman ketika aku berdiri di dekat jendela seperti sekarang." matamu berubah lebih cerah saat mengatakan ini, Rona. Aku turut senang melihatmu.

"Kamar ini terlalu sepi untukmu, Rona." 

Aku menatap keseluruhan ruangan bercat putih pucat ini. Hanya ada satu ranjang, satu meja, dan satu kursi. Berbeda sekali dengan kamar Rona sebelumnya yang didominasi warna merah muda, dihiasi wallpaper bunga dan kupu-kupu, ada lemari pakaian besar, meja rias yang penuh dengan perlengkapan kecantikan, dan entah apa lagi aku tak ingat semua saking banyaknya. Kamar ini terlalu sepi dan kamar lama Rona terlalu ramai.

"Kau tidak kesepian?"
"Tidak lagi. Kau bilang akan menemaniku."
"Iya. Aku akan selalu menemanimu."

"Rona..."
"Namaku Rona."
"Iya, aku selalu mengingatmu dan akan selamanya mengenalmu."

Rona membuka jendela kamar, "Teralis jendela ini seperti penjara. Pintu kamarku juga dipasangi jeruji besi. Sepertinya mereka memang sengaja ingin membuatku mati kesepian. Kau lihat mereka di luar sana? Orang-orang yang senasib denganku. Bahkan sekedar untuk menikmati udara segara di taman pun dibatasi, harus ditemani manusia robot berwajah kaku yang selalu memaksa kami memakan obat-obatan yang tidak pernah kami sukai!"

"Paling tidak, kau memiliki aku."
"Kau sejak kapan hadir di hidupku?"
"Kau tidak ingat?"
"Tidak. Aku baru melihatmu sekarang."

Ingatanku melayang ke peristiwa setahun yang lalu, saat Rona mengalami guncangan hebat pertama kalinya. Tidak ada yang menyadari bahwa Rona mulai berubah. Orang-orang di rumahnya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak melihat Rona mulai sering melamun dan menyendiri setelah Rona ditinggalkan Oma. Semua hanya menganggap Rona sedih. Tidak, Rona kehilangan separuh jiwanya. Oma adalah sumber kehidupan Rona, gadis cantik yang sekarang baru berusia 19 tahun ini. Dengan misi menemani Rona maka aku datang kepadanya, mungkin aku bisa menggantikan posisi Oma sebagai teman hidup Rona? Mungkin.

Butuh waktu setahun bagi Rona untuk bisa menyadari kehadiranku. Padahal aku tak pernah lepas dari sisinya semenjak setahun yang lalu. Rona terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga tidak pernah menangkap isyarat yang aku sampaikan kepadanya.

Sebulan yang lalu, keluarganya memutuskan supaya Rona dipindahkan ke sini. Katanya, agar Rona mendapatkan bantuan yang lebih intensif. Alasan klise, keluarga Rona memang tidak pernah memberikan perhatian dan perawatan yang semestinya bagi Rona. Bagiku, ini seperti pembuangan. Wajar saja Rona menjadi marah dan merasa ditinggalkan. Tanpa ada yang menyadari, aku ikut menemani Rona di sini. Selalu menemaninya. Berharap dengan demikian, ia tidak lagi merasa kesepian di sini atau di manapun ia berada.

"Hei... Kau belum menjawab pertanyaanku." 
Aku tergagap kaget, "Eh... Maaf. Sudah lama."
"Sejak kapan?"
"Aku tak ingat persisnya kapan." 

Maafkan aku. Kali ini aku sengaja memilih berbohong. Aku tak ingin kau mengingat awal kejadian yang membuatmu seperti sekarang, Rona.

Sumber Gambar: Meh


"Kau tahu Rona? Aku punya rahasia kecil untuk kubagi denganmu."
Mata bulat Rona berseri-seri mendengar ini, "Apa?"

"Kau lihat perempuan yang sedang duduk di bangku taman itu?"
"Ya, aku melihatnya."
"Apa kau tahu dengan siapa ia berbicara?"
"Ia berbicara sendiri."
"Tidak. Kau salah."
"Oh ya?"
"Lihatlah baik-baik."

Kening Rona berkerut. Nampaknya ia sedang berpikir keras. Aku memandangi Rona, lama sekali, dan menahan diri untuk tidak tertawa melihatnya serius sekali memperhatikan perempuan itu.

"Aku tak melihat orang selain perempuan itu."
"Dia sedang berbicara dengan temanku."
"Maksudmu?"
"Iya. Dia berbicara dengan temanku."
"Temanmu tak terlihat?"
"Menurutmu?"
"Jika itu temanmu, apa kau juga tak terlihat?"
"Tidak. Kami terlihat."
"Aku tak mengerti."
"Hanya orang beruntung yang dapat melihat kami."
"Apa aku juga terlihat seperti perempuan itu?
"Maksudmu?"
"Aku berbicara denganmu."
"Iya, kau berbicara denganku."
"Apa artinya aku terlihat sedang berbicara sendiri?"
"Tidak."
"Benarkah?"
"Kau tidak berbicara sendiri."
"Hmm..."
"Kau berbicara denganku, Rona. Kau tidak sendiri."
"Kau benar! Aku tak lagi sendiri."

Rona tertawa lebar. Pertama kalinya sejak setahun yang lalu. Berbahagialah, Rona. Berbahagialah. Aku akan selalu menemanimu, selamanya.


***

Cheers!
Have a blessed-day!















#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ketiga di program ini.