08 February 2014

Cerita Koran Pak Rahadian



Kania menatap jam dinding, sudah pukul lima sore. Sebentar lagi Ayah akan sampai di rumah.

Rambut sebahu Kania masih basah, mukanya masih belepotan bedak tabur yang ia bubuhkan dengan asal-asalan, dan tubuhnya masih memancarkan wangi sabun mandi kesukaannya.

Kania duduk dengan dengan kedua kaki terus bergantian menghentak lantai, tangannya bergerak sesuai dengan hitungan yang ia sebutkan dalam hati. Ajakan Ibu untuk makan pun ia gubris.

Setiap sore, Kania hanya inginkan satu hal; koran yang dibawa pulang oleh Ayah.

Tepat di hitungan ke-seratus, Kania mendengar bunyi pagar terbuka.

"Ayah pulang!" teriak Kania spontan.

Kania bergegas lari ke depan rumah dan membukakan pintu untuk Ayah. Wajah lelah Ayah yang pertama kali terlihat jelas oleh Kania.

"Ayah capek? Ayah mau kopi? Kania buatin ya..."
"Anak Ayah kalau sudah begini pasti ada maunya.."

Kania hanya menyunggingkan senyum dan segera membawakan tas kerja Ayah.

Ayah tahu, Kania menginginkan koran-koran yang sengaja dibawa  pulang ke rumah untuk dibaca oleh Kania, putri satu-satunya yang juga memiliki kebiasaan membaca koran seperti dirinya.

"Ayah, kok Ayah cuma bawa 3 koran? Biasanya bisa sampai 5 jenis..."

Kania protes ke Ayah. Kalau sampai jumlah koran berkurang, artinya bacaannya sore ini akan berkurang juga.

"Tadi kayaknya ada yang dipinjam sama teman Ayah, tapi gak dibalikin. Ayah gak merhatiin."

Seketika, Kania benci sekali dengan teman Ayah itu.

"Ngomong-ngomong, kopi Ayah mana?"

Eh iya. Hampir saja Kania lupa.


***




Rino, remaja tanggungberusia sekitar 15 tahun, sudah mengenal Pak Rahadian sejak 5 tahun lalu. Ia ditemukan oleh Pak Rahadian di pinggir jalan, ketika Pak Rahadian sedang mempir di warung kaki lima milik Mbah Sutedjo. Rino di masa itu baru sebulan berprofesi sebagai loper koran keliling dan masih belum memiliki pelanggan. Ayahnya yang seorang buruh, tiba-tiba meninggal tanpa sebab dan membuat kehidupan ekonomi keluarganya semakin buruk. Ibunya hanya tukang cuci harian dengan penghasilan tidak menentu. Rino sebagai anak sulung terpaksa putus sekolah karena biaya yang mampu dikumpulkan oleh Ibunya hanya cukup untuk makan sehari-hari, belum ditambah dengan memikirkan adiknya yang saat itu akan mulai masuk sekolah dan membutuhkan biaya lainnya.

Warung Mbah Sutedja terletak persis di depan kantor Pak Rahadian. Sejak pertemuan dengan Pak Rahadian itu, Rino memiliki pelanggan tetap pertama. Pelanggan yang paling disegani oleh Rino.

Terkadang Rino merasa iri dengan Kania, anak Pak Rahadian. Selama mengenal Pak Rahadian, Rino bisa merasakan bahwa Pak Rahadian sangat menyayangi Kania. Rino menebak, Kania yang saat ini kelas 7 berusia lebih muda 3 tahun darinya.

Pak Rahadian sering bercerita tentang Kania yang katanya cantik, Kania yang katanya sangat senang membaca koran seperti Pak Rahadian dan akan ngambek jika tidak membaca koran sehari saja, Kania yang juga sering menemani Pak Rahadian menonton berita di televisi, Kania yang sudah melahap beragam jenis buku dan senang meminjam buku dari perpustakaan sekolah sejak sekolah dasar, Kania yang cerewet dan suka bertanya ini-itu kepada Pak Rahadian, dan lainnya.

Tidak hanya koran yang akan dibawakan pulang oleh Pak Rahadian untuk Kania. Rino juga sering memergoki Pak Rahadian membeli beragam makanan yang dijual oleh penduduk lokal di sini. Ada lempok -- makanan sejenis dodol durian, otak-otak panggang maupun kuah, keripik, bahkan berkilo-kilo durian atau buah-buahan lainnya. Rino memang terkadang beruntung dan dibelikan juga oleh Pak Rahadian, tetapi  pasti rasanya berbeda jika ia adalah Kania.

Setiap pagi tepat pukul sembilan, Rino menghampiri Pak Rahadian di meja kerjanya dan memberikan lima judul koran. Harus lima judul, masing-masing satu eksemplar. Jika ada koran lain yang baru terbit, maka artinya bertambah pula jumlah koran yang dibeli oleh Pak Rahadian.

Tapi, kali ini Rino akan terlambat datang ke kantor Pak Rahadian. Tadi pagi adiknya mendadak sakit panas. Jadi, ia ke puskesmas dulu dan setelah itu mengantarkan adiknya kembali ke rumah. Baru kemudian ia bisa mengayuh sepedanya ke tempat agen koran. Seberapa pun usaha Rino untuk cepat-cepat mengayuh sepedanya, tetap saja kali ini ia terlambat pula dua jam untuk menemui pelanggan-pelanggannya.

"Ini dia orangnya sudah datang..."
"Iya, Pak. Maaf saya terlambat datang."

Rino segera memberikan koran-koran pesanan Pak Rahadian.

"Kamu tumben sekali hari ini."
"Iya, Pak..."
"Ada apa?"

Ingin sekali Rino menangis saat itu juga dalam menghadapi pertanyaan Pak Rahadian. Tapi ia tidak ingin dianggap cengeng. Bukankah laki-laki tidak boleh menangis?

"Kamu ada masalah? Sini, kamu duduk dulu."

Entah apa yang merasuki Rino saat itu, sehingga mengalir seluruh cerita pagi ini. Mulai dari Ibunya yang menangis karena tubuh sang adik panas sekali, adiknya yang nyaris pingsan, ia yang seperti kesetanan mengayuh sepeda ke puskesmas dan sang adik duduk di belakang dengan tangan yang terpaksa diikat ke pinggangnya supaya tidak jatuh, dan seberapa panjang antrian di puskesmas pagi itu sehingga mereka harus menunggu sekitar satu jam sebelum dapat giliran.

Pak Rahadian mendengarkan cerita Rino dengan sikap yang membuat Rino merasa nyaman. Ia segera teringat pada almarhum Bapaknya.

"Begini saja. Saya ada sedikit uang untuk kamu, semoga bisa membantu. Jika ada perkembangan tentang adik kamu, bisa beritahu ke saya. Sekarang, saya tebak, kamu pasti belum makan sejak pagi. Lupakan kesedihan kamu, kita makan siang dulu. Bagaimanapun, kamu tetap harus makan."

Dan Rino, semakin iri dengan Kania.


***


Ayah bekerja Senin-Jumat, artinya jatah koran lima judul Kania tidak berlaku di hari Sabtu dan Minggu. Khusus hari Sabtu dan Minggu, Ayah akan mengajak Kania mengunjungi lapak kecil di dekat rumah mereka yang menjual koran maupun majalah. Rutinitas Kania dan Ayah di setiap Sabtu dan Minggu pagi, yang sudah mereka jalani sejak Kania belum lancar membaca.

Ayah baru membuat keputusan baru, Kania bebas memilih majalah baru yang ingin ia baca; mau tetap berlangganan majalah anak atau beralih ke majalah remaja?

Kania masih bingung ketika mereka sampai di lapak. Ia masih belum mengambil keputusan apapun. Sebelumnya, Kania berlangganan dua majalah anak.

"Ayah, aku belum tahu mau pilih apa..."
"Kamu bingung di mana, Nak?"
"Aku mau tetap langganan ini, tapi juga mau baca yang itu. Aku penasaran. Kata temanku, majalah yang itu bagus. Sering dikasih bonus juga."

Kania tidak pernah kebingunan jika memilih koran, lima judul yang biasa dibaca pasti akan segera dipilihnya tanpa ragu. Begitu pula ketika ia mulai memilih majalah langganan, dua judul langsung ia pilih tanpa ragu. Tapi, kali ini berbeda. Entah apa yang membuatnya bingung.

Akhirnya, rutinitas kali ini berakhir dengan Ayah yang membelikan beberapa judul majalah remaja sekaligus untuk dibaca Kania sebelum nantinya Kania memilih akan berlangganan majalah yang mana.

Ah itu, majalah nanti sajalah dipikirkan lagi. Kania tidak sabar dan menarik tangan Ayah untuk segera pulang, ia ingin lekas membaca koran-korannya.


***



I admired him for his power - his honesty and integrity.
It was his daring to be himself, his outspokenness and refusal to yield, that got him into trouble eventually.
If hundreds were about him, he command them with a word.

(Gibran Khalil Gibran)


***


Tulisan ini terinspirasi dari tulisan lama saya tentang Ayah. Bisa dibaca di sini dan di sini.

Cheers!
Have a blessed-day!















#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita kedua di program ini.