11 January 2014

Raya


Kak, kamu kapan datang ke rumahku?

Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Dari siapa lagi jika bukan dai gadis yang sudah aku kenal sejak ia lahir.

RAYA.
Anak dari Om Ram dan Tante Win, tetangga di samping rumahku.

Raya gadis yang polos. Melihatnya dapat bertahan selama 20 tahun ini membuatku sangat takjub. Di tengah kondisi Tante Win yang, yaa semua orang di kompleks kami sadar jika Tante Win menderita sakit bahkan sejak ia belum menikah dengan Om Ram, Raya tetap mampu tegak menghadapi kondisinya sendiri. Tante butuh pendampingan Om Ram untuk dapat menjalani hari-harinya, akibatnya Raya seringkali merasa kesepian karena Om Ram harus membagi waktunya lebih besar untuk Tante Win karena Tante Win tidak akan mampu memenuhi kebutuhannya tanpa Om Ram.

Raya adalah anak tunggal. Tapi, sebenarnya tidak dapat dikatakan bahwa Raya sendirian. Selalu ada hal lain yang juga tumbuh bersama Raya. Aku sadari ini 3 tahun belakangan ketika aku dan Raya memutuskan bertunangan. 

Entahlah.

Mungkin aku yang lengah sehingga tidak menyadari keberadaan dia, yang ternyata selalu bersama Raya, entah sejak kapan. Aku tak pernah mengenalnya sebelumnya. Bahkan aku yakin, Raya pun tak menyadarinya.

Ah.
Hampir saja aku lupa membalas pesan singkat dari Raya tadi.

Kamu tunggu aku ya. 30 menit lagi aku ke rumahmu.


***



"Kak, ada yang aneh lagi." keluh Raya, lagi-lagi ia mengeluhkan keanehan yang dialaminya.
"Ada apa?"

"Seingatku aku belum membelikan jaket untuk kamu, Kak. Tapi, kenapa tiba-tiba ada jaket laki-laki di lemariku ya? Aku tanya Papa, dia bilang itupun bukan punya Papa."

Raya ....
Kejadian ini terulang kembali, ya?

Aku menyayangi Raya, sangat menyayanginya. 

Kami tidak pernah berpacaran, hubungan kami mengalir begitu saja seiring dengan intensitas pertemuan kami yang memang rutin setiap hari, bahkan sejak Raya lahir. Alasan inilah yang membuatku bertekad untuk menikahinya ketika ia lulus kuliah.

Raya terlihat begitu rapuh dan secara alamiah naluriku berkata untuk selalu melindunginya, memastikan dirinya sehat dan bahagia, Raya terlihat begitu lemah dan tak berdaya, sehingga melihatnya akan membuatku merasa begitu iba. Apalagi jika ditambah dengan kondisi Tante Win yang tak juga stabil.

"Sudahlah. Mungkin kamu yang lupa." hiburku.
"Mungkin juga ya, Kak. Nanti aku coba ingat-ingat lagi."
"Iya, sekarang kamu tidur ya. Ini obatnya diminum dulu."

Raya tersenyum, cantik sekali. Senyuman yang tak akan pernah ingin aku lepaskan. Apapun itu, akan aku lindungi senyum manis Raya.


***

Baru saja aku kembali ke rumahku, ada telepon masuk ke ponselku. Aku lihat layar, ternyata dari Raya..

"Ya, Raya. Kenapa? Kangen ya? Hehe"
"Anjing!!"

Suara bass ini.

"Ramon?"
"Berani-beraninya ya lo!!"
"Ramon ...."
"Berapa kali gue bilang hah?! JANGAN BERHUBUNGAN DENGAN RAYA!!!"

Aku mencoba tenang, seperti yang biasa aku lakukan selama 3 tahun ini.

"JANGAN GANGGU RAYA!!"
"Ramon, tenanglah ... Mana Raya?"
"Elo tau di mana Raya? Iya kan?!!"

Aku menghela napas panjang.

"Iya, Ramon. Tolong, kembalilah ke Raya." pintaku.
"JANGAN DEKAT-DEKAT RAYA!!"

Tanpa berpikir panjang, aku bergegas lari ke rumah Raya. 

Aku harus melindungi Raya. 
Aku harus membantu Raya.

Ramon bisa saja bertindak nekat. 

Pernah ia mengancam akan lompat dari balkon atas rumah Raya jika aku masih saja berhubungan dengan Raya, dan ancaman itu aku abaikan. Akibatnya, Ramon benar-benar lompat dan Raya yang harus menanggung luka-lukanya. Jika saya Om Ram tidak segera menyadari perbuatan Ramon dan membawa tubuh Raya segera ke rumah sakit, mungkin saat itu Raya meninggal.

Raya ....
Kapan Ramon akan sepenuhnya menghilang dari dirimu?



Cheers!
Have a blessed-day!