30 December 2013

[THOUGHTS] Kamisan #12 Lemari: The Forbidden World


Dia datang!

Aku harus segera menyimpan semuanya ke dalam lemari rahasiaku lagi. Jangan sampai dia tahu bahwa aku memiliki lemari rahasia, tersembunyi di tempat yang sejauh ini tidak diketahuinya, dan lemari itu menyimpan banyak hal yang tidak ingin aku beritahukan ke dia. 

Sstt, rahasia. 
Oke?

Dia ini bukan bandit, bukan.
Hanya saja, dia ini seperti seorang teroris.

Keberadaannya di hidupku, sejak aku pertama kali mengenalnya, merupakan sebuah teror!

Mengerikan.

Dia tampan, terlihat seperti seorang family man sejati. Setidaknya seorang Ayah yang baik bagi satu-satunya putra kami. Semua kebutuhan putra kami dipenuhinya dengan baik. Sepertinya, putra kami lebih bahagia berada di dekat Ayahnya, dibanding di dekatku. Sayangnya, usia putra kami hanya 5 bulan. 

Hingga kini aku belum kembali hamil. Aku tahu bahwa dia sangat menginginkan anak lagi. Tapi mau bagaimana? Aku belum diberikan kehamilan baru meski sudah lewat 2 tahun sejak kematian putra kami tersebut. Dan perangainya terhadapku terasa semakin memburuk.

Entahlah, mungkin memang aku yang terlalu buruk dalam menilai orang lain. Aku bahkan tidak berani menilai diriku sendiri. Bagiku, aku adalah sampah, sehingga pantas saja jika dia dan mungkin banyak orang di luar sana yang tidak menghendaki keberadaanku. Sementara suamiku adalah seorang pekerja keras, disayangi seluruh keluarga besarku, serta dikagumi oleh banyak teman-teman kami.

Aku tak mengerti mengapa dia bersikap berbeda terhadapku, tidak seperti yang ia tampilkan ketika bersama orang lain. Keramahan yang ia tunjukkan kepada orang lain, tidak pernah sedikitpun ia lakukan kepadaku. Dia ketus, mudah marah, senang sekali mengancam, dan sepertinya tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah aku berikan kepadanya.

Lemari rahasia inilah ruang ternyamanku di rumah besar ini. Rumah yang begitu dingin, sampai aku selalu menggigil saat berada di dalamnya. Di lemari inilah aku menyimpan semua kesedihan yang aku alami, menyimpannya rapat, dan tidak pernah sekalipun mengeluarkan isinya di hadapan suamiku. 

Aku harus selalu ceria, bahagia, dan tidak boleh terlihat lemah. Semuanya demi membahagiakan dia. Seorang isteri harus memberikan pengabdian sepenuhnya kepada suami. Begitu yang selalu aku lihat dari pernikahan Ibu dan Bapakku. 

"Kikan, masuk ke kamar. Cepat!"

Dia memangggilku. Ini sebuah kode bahwa sudah saatnya aku harus memenuhi kebutuhan hariannya.

"KIKAN!!", teriaknya. Semakin membuat bulu kudukku berdiri.

"Iy.... Iya, Mas. Aku segera ke kamar". Segera saja kukunci rapat pintu lemari dan berlari ke kamar.


***

"Hentikan segera, Kikan...", begitu isi hatiku selalu berbisik setiap saat. 

"Apa kau tidak menyayangi dirimu sendiri? Hingga kapan kau ingin hidup seperti ini?", tambah hatiku lagi.

Aku tak tahu jawabannya.
Sungguh.

Aku bertemu dia pertama kali sekitar 6 tahun yang lalu, melalui pertemuan keluarga. Orangtuanya adalah teman lama orangtuaku. Dia dan keluarganya tinggal lama di luar kota sebelum akhirnya mereka pindah ke kotaku. Setahun berkenalan, kami menikah.

Aku jatuh cinta, tanpa aku tahu pasti apa yang membuatku begitu takluk oleh segala pesona yang ia miliki. Aku jatuh cinta, tanpa paham mengapa aku mudah sekali luluh dan seolah dibutakan oleh ketampanan yang ia punya.

Dia memiliki banyak sekali sisi lain, yang terkesan tersembunyi, dan hanya terlihat olehku. Sialnya, itu bukan hal yang menyenangkan.

Sekali saja ia berkata, maka perkataan itu harus aku penuhi. Ancaman selalu saja keluar dari bibirnya dan aku takut sekali dengan ancaman yang ia muntahkan untukku. Aku tak tahu apakah semua ancaman itu akan terwujud menjadi nyata. Aku tak berani membayangkan, jadi aku memilih untuk menuruti apapun yang ia inginkan. Termasuk ketika ia membutuhkanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Pernah suatu hari ia memintaku untuk melayaninya. Tetapi permintaan itu aku tolak karena aku benar-benar sedang lelah mengurus 100 hari kematian putra kami. Penolakan itu membuatnya tidak pulang ke rumah selama seminggu, entah ia ke mana. Tak pernah sekalipun pesan singkat dan telepon dariku ditanggapi olehnya.

"He'll grow up", hiburku.

Hiburan yang membuatku memilih bertahan hingga kini.

"Kapan, Kikan?", nurani kembali mencoba mengetukku.
"Suatu saat nanti... Aku yakin, ia akan berubah".

"Satu-satunya perubahan pesat dia adalah kemampuannya untuk menyiksamu, Kikan! Lihatlah dirimu sekarang! Apakah kau bahagia? Apakah kau menikmati setiap paksaan yang ia lakukan kepadamu? Apakah ia tahu dengan semua kesakitan yang kau rasakan setiap kali harus melayaninya?".

Diamlah. 
Aku tak ingin mendengar ocehanmu.

"Sudah tengah malam begini, ia pergi meninggalkanmu teronggok membusuk di pojokan kamar. Padahal baru saja ia memaksamu melayaninya dengan caranya yang kau anggap kasar itu. Kali ini akan kau ma'afkan lagi?".

Diamlah.
Kumohon, diamlah.
Biarkan aku selesaikan tangisanku.
Biarkan aku menenangkan luka baru yang aku hadapi kali ini.

"Untuk ke sekian kalinya kau dicekik! Untuk ke sekian kalinya kau ditampar! Untuk ke sekian kalinya kepalamu dibenturkan ke lantai hanya karena menjerit kesakitan saat melayaninya!"

DIAM!!!

Lemariku di mana? 
Aku butuh lemariku segera. 
Aku harus mengenyahkan segala kesedihan dan rasa sakit ini.

Aku mohon muncullah. 
Aku mohon datanglah.

Aku berlari segera ke arah lemari begitu ia muncul di hadapanmu. Aku masuk, dan aku kunci diriku di dalamnya. Aku ingin menghilang, meski sejenak, dari dunia luar yang begitu mengerikan.

Kalau bisa menghilang selamanya, mungkin itu lebih baik.


***


Tambahan

Ada sebuah mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa pelaku perkosaan dan bentuk-bentuk sexual abuse lainnya adalah orang asing. Faktanya, pelaku dari sekitar 85% kasus perkosaan atau sexual abuse lainnya adalah orang terdekat - dalam hal ini, sebagian besar pelaku adalah partner atau ex-partner. Merujuk pada kasus marital rape, pelaku perkosaan di dalam hubungan pernikahan (dengan korban ada di pihak wanita) adalah suami atau mantan suami.

Marital rape merupakan salah satu bentuk dari Intimate Partner Sexual Violence (IPSV). Marital rape adalah bentuk kekerasan seksual yang sangat serius dan dapat memberikan luka mendalam seumur hidup kepada korbannya.

Setiap orang berhak untuk berkata "TIDAK" terhadap hubungan seksual, meskipun hubungan seksual tersebut dilakukan di dalam lembaga pernikahan. Intinya, harus ada kesediaan di KEDUA PIHAK untuk melakukan hubungan seksual. Apabila salah satu pihak tidak bersedia, maka hubungan seksual tersebut dapat dikatakan sebagai perkosaan. 

Marital rape mencakup segala sesuatu yang tidak diinginkan selama proses intercourse atau penetrasi (vaginal, anal, maupun oral), karena dipaksa, diancam, atau salah satu pihak tidak bersedia melakukannya. 



Sex without concent is a rape.
Titik.

Wanita lebih banyak menjadi pihak "korban" tetapi "harus" atau "terpaksa" untuk "bertahan" di dalam hubungan pernikahan, meskipun ia mengalami kekerasan seksual di dalamnya karena beberapa hal. Umumnya karena ada tekanan sosial untuk memiliki anak hasil pernikahan, ketergantungan finansial, takut jika memilih meninggalkan atau bercerai dari suami maka akan menghadapi kekerasan lainnya, merasa malu untuk bercerita tentang apa yang ia alami, sulit untuk mengenali atau menerima apa yang sebenarnya sedang ia alami, menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi, serta berharap (atau mungkin bermimpi?) bahwa pasangannya akan berubah.


Padahal, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dampak fisik maupun psikologis dari korban marital rape ini bisa jauh lebih besar dibandingkan kasus perkosaan yang dilakukan oleh orang asing.

Untuk lebih berkenalan dengan marital rape, ada website yang - saya tahu - khusus membahas tentang marital rape dan fokus pada pemberian support kepada korban dan survivors  yaitu Approdhite Wounded dan After Silence

Kelompok lokal yang juga fokus di isu seperti ini, yang saya ketahui adalah Yayasan Pulih milik Mbak Iput (Kristi Poerwandari), dosen saya di Psikologi Universitas Indonesia. Yayasan Pulih juga memiliki Gerakan 5 Jari, kampanye khusus untuk kekerasan seksual yang terjadi pada remaja - terutama Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Selain itu, ada pula Lentera Indonesia, sebuah support group (anonymous) bagi para survivors perkosaan dan bentuk sexual abuse lainnya.


LET'S BREAKING THE SILENCE!!!


Have a blessed day!

Special Note:
Kamisan ini merupakan salah satu agenda yang baru saya ikuti, bergabung bersama dengan 8 teman lainnya. Saat saya bergabung, sudah memasuki tema ke-8 (berubah setiap pekan). Tulisan dengan tema "Lemari" ini menjadi tulisan kelima saya di agenda Kamisan.