30 December 2013

Kamisan #13 Takut: Fear vs Anxiety vs Worry



Di Kolom Psikologi, saya pernah menulis sedikit tentang Fear vs Anxiety vs Worry. Ada perbedaan yang mendasar di antara istilah ketiganya, yang sayangnya, belum semua orang bisa membedakan. Untuk lebih jelasnya, bisa di-klik link tadi dan resapi perbedaannya.

Halah~
Serius amat, hahaha.

Berhubung ini tentang Kamisan, maka saya akan memilih untuk tjurhats tjantiks tentang pengalaman saya terkait isu takut. 

T.A.K.U.T

Dulu, sampai sekitar tahun 2004an kayanya, saya sangat takut dengan gelap. Sudah mengarah ke phobia juga ternyata, kalau dianalisa.


Saya tidak tahan menghadapi gelap yang pekat, tanpa cahaya meski sedikit. Entah apa penyebabnya, saya tidak ingat sama sekali sejak kapan saya takut dengan kegelapan. And yes thank you, saya tidak tertarik untuk hypnosis - misalnya - untuk menggali alam bawah sadar saya, hingga bertemulah unconsciousness dan consciousness, dan terpanggillah semua kejadian di masa lalu yang terkait pengalaman ini. Bagaimana jika yang terpanggil adalah ingatan yang "berbahaya"? I mean, berpotensi memunculkan masalah baru lagi di diri saya hahahaha. Ogah!

Ngomong apa sih, Ni?!
Hih!

Rasanya kalau berhadapan dengan kegelapan itu seperti matik. Sensasinya terasa seperti berada di dalam kuburan dan saya sedang dikubur hidup-hidup.

Ingat film Buried?
Nah, begitulah kira-kira kepanikan yang saya alami jika berhadapan dengan gelap.

Di masa-masa itu, saya harus tidur dalam kondisi lampu menyala dengan terang. Minimaaaaaal sekali, ada sedikit cahaya yang terlihat oleh saya, baru saya bisa tidur.

Jleb!
Bagaimana jika tiba-tiba listrik mati dan lampu tiba-tiba padam?
Matilaaah~

Di kondisi seperti itu, saya yang sedang tidur bisa terbangun karena kaget dan sesak napas!

Saat tiba-tiba sesak napas itu, rasanya seperti sisa nyawa yang terambil tiba-tiba, seperti proses sakaratul maut yang sering diperlihatkan di tipi itu lho...  

Amit-amit yaaAlloh rasanya~

Sesak napas baru akan berhenti kalau saya sudah melihat cahaya lilin atau lampu senter, atau apapun itu, menyala di dalam kamar.

Takut gelap ini tidak hanya terjadi saat berada di dalam ruangan saja. Ketika berada di luar rumah juga.

Hayaampuuun~

Dan bertahun-tahun saya menjalani pengalaman seperti ini hahahaha. 

Alhamdulillaaaaaaah sejak tahun 2004 sudah sembuh dengan sendirinya tanpa melalui proses terapi khusus yang dibantu para ahli. 

Ada untungnya juga saya kuliah di jurusan yang memiliki tugas segambreng dan menuntut saya untuk melek hingga tengah malam, bahkan terkadang tanpa tidur hingga 2-3 hari jika sudah berhadapan dengan deadline dan jiwa procrastinator di dalam diri saya begitu kuat, sehingga saya sering lelah dan akhirnya bisa tidur kebo dengan pulasnya. 

Maka, bayangkan jika saya lelah dan sulit tidur apa yang harus dilakukan? 
Mematikan lampu kamar solusinya hahaha.

Bukan proses yang langsung brek - sekejap mata selesai perkara sih yang harus saya lakukan. Ada tahapannya. Di masa-masa awal tetap butuh sedikit cahaya. Mulai dari tetap menyalakan lampu tidur, kemudian mematikan lampu tidur dan hanya mengandalkan cahaya dari hiasan glow in the dark di dinding dan langit-langit kamar. Sampai akhirnya, saya mengalami kelelahan akut dan butuh tidur nyenyak tanpa merasa silau karena cahaya.

Apa yang saya lakukan? 

Mencabut semua hiasan glow in the dark saat itu juga dan mematikan lampu kamar dengan puasnya.

Tidur nyenyak!
Mhehehe~

Dan semenjak itu, secara resmi, saya tidak pernah lagi merasa sesak napas jika berada di dalam ruangan yang gelap gulita sekalipun. Horreee!!!

Kalau di luar ruangan, atau di luar rumah, yaa masih pikir panjang juga kalau ada di sana sendirian. Nope, bukan takut gelapnya. Bukan pula takut berhadapan dengan setan - demit - iblis - jin - dan sebangsanya, justru lebih takut berhadapan dengan setan berwujud manusia - yang jauh lebih mengerikan. Hiyy!

Takut lainnya lagi kalau berhadapan dengan ular!
Allohuakbar!

Jangankan melihat langsung, hanya melihat di tipi atau majalah saja membuat takut, merinding, dan jejeritan tak karuan yaaAlloh. Bahkan, melihat bangkai ular pohon yang sudah gepeng di jalanan dan bentuknya hanya seuprit pun cukup untuk membuat saya lari ketakutan. 

Sebenarnya takut ular ini pernah hilang, sekitar tahun 2009-2011. Entah bagaimana ceritanya sampai bisa kumat lagi. Hih!

Sudah ah, sudah.
Menulis tentang ular ini membuat saya senewen.

Bubye!

Cheers!
Have a blessed-day!

Special Note:
Kamisan ini merupakan salah satu agenda yang baru saya ikuti, bergabung bersama dengan 8 teman lainnya. Saat saya bergabung, sudah memasuki tema ke-8 (berubah setiap pekan). Tulisan dengan tema "Takut" ini menjadi tulisan keenam saya di agenda Kamisan.