30 December 2013

Kamisan #11 Lem Kertas : Glukol Selalu Di Hati


Heyhooo~

Kembali lagi dengan tulisan di agenda #Kamisan yang tertunda berminggu-minggu karena saya sedang (sok) sibuk. Huehehe~

Sempat ada banyak ide berseliweran ketika tema "Lem Kertas" didengungkan. Mulai dari membuat tulisan yang agak surealis dan kemudian mabok sendiri mengolah ide-ide dasar lainnya, menulis cerita pendek seperti salah satu cerita edukatif anak yang pernah saya baca dulu ketika masih Sekolah Dasar, hingga mencoba mengangkat cerita tentang phobia lagi. 

Akhirnya saya memilih menyerah dengan semua ide tadi dan tenggelam di dunia lebay penuh sempoyongan selama sebulanan kemarin, akibat maag dan gejala typus berkali-kali hahahaha.

Dan sekarang, saya memilih bernostalgia. Sedikit mengulang tema "Masa Kecil" di agenda Kamisan #8, tetapi dengan cerita yang berbeda. 


***






Pernah tahu gambar di atas?

Tahu?
Ingat?

Ketahuan jelas berarti angkatan jaman baheula hahahaha. Soalnya, anak jaman sekarang yang saya kenal jarang sekali yang masih menggunakan lem kertas jenis ini.

Lem kertas yang saya kenal pertama kali, seingat saya adalah lem kertas merk Glukol. Biasa saya gunakan untuk mengerjakan prakarya menggunting dan menempel di masa Taman Kanak-kanak (TK) hingga awal Sekolah Dasar (SD). Tangan pasti akan belepotan tidak karuan dan meninggalkan kerak-kerak menghitam di tangan yang digunakan untuk mencolek lem kertas ini.

Tetapi, seingat saya, dulu saya menikmati sekali aktivitas cocol-colek-uwel lem Glukol ke kertas-kertas prakarya saya. Masa kecil yang indah, hahahaha.

Lem jenis ini mirip lem buatan rumahan; lem aci. Kalau sedang ada acara di kampung, saya beberapa kali melihat proses pembuatan lem aci ini. 

Uwuwuwuw~

Lem jenis ini banyak sekali kompetitornya, menggunakan merk yang serupa-tapi-tak-sama dengan merk Glukol. Contohnya ada di bawah ini.



Sebagai pengguna setia lem Glukol, tentu saya kesal dengan Dlukol dan Inikol hahahaha.

Halah~

Saya tidak tahu mana merk dagang yang duluan hadir, tetapi karena saya lebih dulu kenal Glukol, maka Glukol yang selalu ada di hati saya dibandingkan Dlukol dan Inikol.

Ribet deh, Ni!

Hih!

Dlukol dan Inikol lebih mengecewakan saya. Lemnya tidak se-asik tekstur Glukol, lebih mudah kering dan keras dibanding Glukol, dan jika menggunakan Dlukol atau Inikol saya seperti mengelem dengan menggunakan nasi; berantakan-keras-kering-tidak rapi.

Oke, ini sangat subjektif.

Seharusnya saya meminta bayaran sebagai tim marketing lem Glukol karena sudah membela mereka seperti ini hahahaha.


***


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.

Si Nia yang tjantiks semakin mempesona dan mulai memperhatikan penampilan. Padahal, masih SD puuun~

Hooh.
Hahahaha.

Posisi lem glukol pun tergeserkan oleh lem kertas berbentuk tube, karena saya tidak mau jari dan kuku-kuku saya kotor akibat menggunakan lem Glukol. 

Yaa seperti inilah contoh lem tube tadi.


Lem seperti ini bentuknya padat, seperti gel padat. Kalau hanya digunakan untuk menempel yang sederhana, lebih baik menggunakan lem kertas seperti ini. Mirip lipbalm hahaha.

Simple
Tapi, mudah patah.

Yaiyalaaaah patah, Nia!
Digunakan dengan barbar, hih!



Nah, lem jenis ini bentuknya cair. Kalau digunakan, apalagi kalau badan tube-nya dipencet dengan barbar pula, lem akan meleber ke mana-mana. Kalau untuk mengelem kertas sekaligus untuk bidang yang besar, ini favorit saya. Langsung saja sebaaaarrr sebanyak-banyaknya di kertas hahahaha.

Sewaktu saya mulai masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya makin centil. Mulai memakai kuteks atau stiker kuku ala meni-pedi yang syuperhits sekarang ini. Tapi, berapa sih uang jajan anak SMP seperti saya di masa itu? Sering membeli kuteks dan stiker kuku artinya pemborosan.

Solusinya?

Kuku digambar sendiri menggunakan waterproof-pen.
ATAU
Gunakan lem fox untuk menggantikan posisi kuteks hahahaha.

Pernah mencoba?
Gak pernah?
Ah, masa kecil kalian kurang gahol ternyata.
Eaaa~


Lem fox ini sering saya lihat di SMP saya waktu itu, digunakan untuk menempel kertas penanda nomor ujian di meja. Kalau lem kertas lain kan begitu diaplikasikan ke kertas, akan menempelkan kertas tadi dengan kuat. Nah, kalau lem fox, tidak sebegitunya. Mudah dilepas lagi.

Fenomena inilah yang memunculkan ide brilian untuk mengaplikasikan lem kertas fox sebagai kuteks!
Prett~

Kalian coba aplikasikan lem fox ke kuku deh, tunggu sampai kering di kuku. Nanti kuku kalian akan terlihat seperti menggunakan kuteks bening lho~

Lem fox adalah kuteks mursida, murah meriah.

Bagaimana tidak?

Lem fox sebagai kuteks tidak membutuhkan nail polish remover untuk membersihkannya. Cukup tarik sedikit di bagian ujung, tarik terus hingga terlepas semua. Mirip kalau kita menggunakan masker muka yang punya sifat yang sama lah, membersihkannya cukup dengan ditarik seperti mengupas kulit tipis gitu deh.

Selamat mencoba yaa, iyaaa~

Hahahaha.



Have a blessed day!

Special Note:
Kamisan ini merupakan salah satu agenda yang baru saya ikuti, bergabung bersama dengan 8 teman lainnya. Saat saya bergabung, sudah memasuki tema ke-8 (berubah setiap pekan). Tulisan dengan tema "Lem Kertas" ini menjadi tulisan keempat saya di agenda Kamisan.