12 November 2013

Saya, Cinta (yang Dulu Katanya) Pertama, dan Opa Gibran




Judul: The Prophet
Pengarang: Kahlil Gibran / Khalil Gibran / Gibran Khalil Gibran
Jenis: Non Fiksi
ISBN: 0-14-19561-0
Penerbit: Penguin Arkana (Penguin Group)
Tahun Terbit: 1923 (pertama kali) ; 1992 (Penguin Arkana),  1998 (edisi revisi dengan Introduction)
Jumlah Halaman: 107+v



BLURB
Almustafa the Prophet, or "The Chosen", is about to return to his native land. Before leaving his place of exile, he delivers twenty-six homilies to the people he is about to leave. Together, these short sermons form The Prophet, the most inspirational work of the twentieth century.

To the ploughman the prophet speaks of work, to the merchant of buying and selling, to the judge of crime and punishment, and to the teacher of teaching. But his words speak to everyone, worldwide, and the astonishing popularity of The Prophet confirms that its spirituality has a timeless appeal. The message it imparts is that through love each us can find our own potential or divinity.


***


Kahlil Gibran. Saya mengenal nama ini  sudah cukup lama, tetapi baru mau mengenal lebih intim ketika saya baru saja masuk SMA di tahun 2000. Belakangan baru saya ketahui bahwa nama aslinya adalah Gibran Khalil Gibran, saat saya membaca buku Fuad Hassan yang berjudul Menapak Jejak Khalil Gibran di tahun yang sama. Suatu saat mungkin saya akan mencoba membaca buku ini lagi supaya dapat menuliskan pandangan saya terkait buku tersebut.

Panggilan sayang saya?
Opa Gibran.

The Prophet sendiri merupakan buku Opa Gibran yang pertama kali saya baca. Awalnya karena dipinjamkan oleh teman, yang saat itu tahu bahwa saya membutuhkan bacaan baru. Saya membaca segala jenis genre tulisan dan ini telah saya lakukan sejak masih SD. Ayah saya pembaca koran sejati, yang nyaris tidak dapat hidup tanpa membaca koran setiap hari, dan ini menular ke saya. Bedanya, sekarang saya lebih senang membaca online dibanding membeli koran fisik sementara Ayah masih tetap harus membaca koran fisik. Dari situ, saya meng-eksplor segala bacaan lainnya mulai dari novel, komik, atau majalah. Bahkan saat SD saya pernah membaca stensilan. Oke, ini bukan kebanggaan sepertinya hahaha. Stensilan saya temukan di antara selipan baju di kamar salah satu sepupu.

Kembali ke awal mula saya tertarik dengan karya Opa Gibran.

Saat masuk SMA, saya mulai mencari genre lain yang belum pernah saya baca. Saat itu, mau novel klasik, novel populer, buku puisi, hikayat, fabel, komik lokal maupun manga, majalah anak-remaja-dewasa, buku biografi, named it  sudah pernah saya baca. Sebagian besar saya temukan di perpustakaan sekolah (SD-SMA) maupun perpustakaan daerah. Hanya sebagian kecil (terutama majalah) yang pernah saya punya, dan sebagian kecil lainnya saya pinjam dari saudara dan teman-teman. Dulu saya belum begitu tertarik untuk mengoleksi. Jadi, saya rada bosan sejenak dan butuh "hiburan" baru untuk meredakan kehausan saya.

Di puncak kehausan itulah datang tawaran teman untuk membaca buku Opa Gibran yang The Prophet. Dia dapatkan itu dari koleksi sepupunya, dan dia sendiri tidak begitu tertarik membaca karya Opa Gibran ini.

Awalnya saya pikir karya ini akan sulit saya mengerti, apalagi dengan kemampuan berbahasa saya yang biasa saja. Jujur saja, tidak semua tulisan dapat mudah saya mengerti, terutama yang saya anggap sastra banget. Dan karya Opa Gibran termasuk ke dalam kategori sastra banget versi saya.

Teman saya kemudian menawarkan untuk membaca The Prophet versi terjemahan Indonesia dulu. Kebetulan sepupu teman saya itu juga punya yang terjemahan dan diterjemahkan dengan baik tanpa menghilangkan unsur sastra-nya, begitu teman saya bilang. Akhirnya mendaratlah buku Sang Nabi ke tangan saya.

Setiap halaman Sang Nabi membuat saya begitu terpesona, seperti tersihir hingga saya tanpa henti dan tidak pernah bosan membacanya berulang-kali. Bahkan muncul keengganan untuk saya mengembalikan buku itu ke pemiliknya. Beruntung, sepupu teman saya memaklumi jika saya belum ingin mengembalikan buku itu segera, diperbolehkannya saya meminjam hingga satu bulan. Praktis, selama satu bulan itu tiada hari yang saya lewati tanpa membaca Sang Nabi.

Ada cerita khusus lainnya yang saya lewati bersamaan dengan perkenalan awal saya bersama Opa Gibran, yaitu pengalaman jatuh cinta (lebih tepatnya, suka) pertama kali. 

Saya, cinta (yang dulu katanya) pertama, dan Sang Nabi Opa Gibran.
Itu uwuwuwuw-able banget yes? Iyeesss hahaha preettt.
Memorable, indeed.

Cerita lebih lengkap pernah saya tuangkan di sini dan pernah masuk buku antologi bersama Asma Nadia dkk. Terima kasih kepada Mbak Nanik, dulu salah satu editor LPPH, yang berhasil merayu saya untuk mau menulis dan berbagi cerita unyu itu hahaha. Mungkin karena bercampur dengan kisah itulah, saya menjadi lebih tersihir ketika membaca bagian "Tentang Cinta" di buku Sang Nabi. Bagian yang paling saya senangi saat itu.

...  pabila cinta memanggilmu, ikutilah dia, walaupun melewati jalan terjal dan berliku.
Dan pabila sayapnya merengkuhmu, pasrahlah, walaupun pedang yang tersembunyi di sela sayapnya melukaimu.
Dan apabila dia bicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpi indahmu, bagai angin utara mengobrak-abrik petamanan di hatimu ...

... cinta tidak akan memberimu apa-apa, kecuali keseluruhan dirinya, seutuhnya pun tidak mengambil apa-apa, kecuali dari dirinya sendiri
Cinta tidak memiliki apapun bahkan dimiliki
Karena cinta telah cukup bagi cinta ...


Aduh. Tiba-tiba jadi geli-geli malu bila ingat tentang masa itu. 
Kreyzih, itu gue banget! Bagian itu, gue banget (tapi dulu).

Saking menganggap itu gue banget, sepenggal bagian dari bait "Tentang Cinta" itu sempat saya anggap sakral dan tidak boleh disalah-gunakan secara sembarang. Makanya, saya sempat kesal dan berhenti menjadi penyuka salah satu grup band besar di Indonesia ketika mereka membuat satu album yang saat itu saya anggap berisi lirik-lirik jiplakan karya Opa Gibran. Coba saja lihat  ini dan simpulkan kenapa saya bisa kesal dengan grup band tersebut.

Bila cinta memanggilmu
Kau ikuti ke mana ia pergi
Walau jalan terjal berliku
Walau perih selalu menunggu
Cintamu butakan matamu dan hatimu
Harusnya cintamu buka pintu kalbumu
Cinta adalah misteri
Kita hanya manusia
Tak berdaya melawan takdir sang Raja manusia
(telah terlukis di langit)
Jika sayapnya merangkulmu
Dan pisau tajam siap melukaimu


Pasti mengerti kan ya kenapa saya kesal? Ya iyalah. Itu kan liriknya Sang Nabi banget, serupa dengan penggalan "Tentang Cinta" yang sangat saya sukai. Duh! Saya sakit hati, ini lebay. Tapi memang saat itu saya sakit hati. Sekarang, yasyudalaaa...


***


Semakin saya membaca karya Opa Gibran di Sang Nabi, semakin saya terobsesi dengan karya lainnya, dan semakin pula saya terobsesi untuk memiliki semua buku karya Opa Gibran dengan versi Bahasa Inggris. Ini cerita baru lagi. 

Beberapa teman yang tahu kalau saya pencinta karya Opa Gibran juga turut rempong membantu saya untuk mencarikan karya Opa Gibran versi Bahasa Inggris, yang ternyata susah ditemukan itu. Sampai saat ini saya hanya memiliki buku Opa Gibran versi bahasa Inggris yang ini saja, The Prophet.

Cerita saya bersama Opa Gibran masih terus berlanjut hingga saat ini dan menjadi pembuka bagi saya mengenal lagi karya serupa dari penulis epik lainnya. Tetapi, entah mengapa saya tidak merasakan kedalaman emosi sejauh yang saya rasakan ketika membaca karya Opa Gibran. Perasaan ini semakin dalam ketika saya membaca yang versi bahasa Inggris.

Saya pernah mencoba membaca lagi The Prophet versi terjemahan, tetapi tidak terasa menyentuh seperti ketika membaca pertama kali dulu. Dan saya semakin kesal ketika melihat ada buku terjemahan karya Opa Gibran bertebaran di luar sana, tetapi diterjemahkan tanpa kedalaman makna dan terkesan murahan. Mungkin mereka mencoba menerjemahkan karya Opa Gibran secara lebih pop, supaya dapat dinikmati secara lebih luas tanpa harus terkesan mengotakkan khusus untuk kalangan pembaca tertentu. Mungkin. Ini hanya dugaan saya karena mencoba menetralisir kekesalan yang saya rasakan ketika melihat karya Opa Gibran diterjemahkan dengan cara seperti itu, seolah kehilangan ruh. 

Makanya saat ini saya lebih memilih membaca karya Opa Gibran yang versi bahasa Inggris, walaupun sebagian besar saya nikmati secara online

Dibandingkan karya Opa Gibran lainnya, The Prophet menempati posisi paling spesial bagi saya. Bukunya sendiri menempati posisi tertinggi dari seluruh koleksi buku yang saya kumpulkan hingga saat ini.


***


Sedang galau atau sedih, baca The Prophet (p.35):

.....When you are sorrowful, look again in your heart, and you shall see that in truth you are weeping for that which has been your delight.


Sedang kangen dengan teman-teman, baca The Prophet (p.66):

..... Your friend is your needs answered. He is your field which you sow with love and reap with thanksgiving. And he is your board and our fireside.  For you come to him with your hunger, and you seek him for peace.


Sedang lelah bekerja atau kuliah, baca The Prophet (p.31-32):

..... When your work you fullfil a part of earth's furthest dream, assigned to you when that dream was born, and in  keeping yourself with labour you are in truth loving life, and to love life through labour is to be intimate with life's inmost secret.



Tiada kesan tanpa The Prophet by Opa Gibran menemani hari-hari saya hingga saat ini.
Viva la Opa Gibran!



Cheers!
Have a blessed-day!















Special Note:
Tulisan ini merupakan tulisan pertama di hari pertama, yang dibuat sebagai rangkaian proyek #5BukuDalamHidupku (diprakarsai oleh Irwan Bajang).
  1. Buku pertama, hari pertama > The Prophet karya Gibran Khalil Gibran.
  2. Buku kedua, hari kedua > Psych101 karya Paul Kleinman.
  3. Buku ketiga, hari ketiga > Helping Children Cope with Divorce karya Edward Teyber.
  4. Buku keempat, hari keempat > Hak Partisipasi: Bukan Sekadar Ikut Bekerja, yang diterbitkan bersama oleh Departemen Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Christian Children's Funds Indonesia, Plan International, Save the Children UK dan US, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, World Vision International Indonesia Office, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, dan Yayasan Pemantau Hak Anak.
  5. Buku kelima, hari kelima > Participatory Research on Commercial Sexual Exploitation of Children in Surakarta (Central Java) and Indramayu (West Java) Indonesia, yang diterbitkan oleh UNICEF.
#5BukuDalamHidupku