13 November 2013

Psych101 - Sepikoloh Nyepik Psikologi



Judul: Psych 101 - Psychology Facts, Basics, Statistics, Tests, and More!
Pengarang: Paul Kleinman
Jenis: Non Fiksi
ISBN: 1-4405-4390-9 / 978-1-4405-4390-6
Penerbit: Adams Media (a division of F+W Media, Inc)
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 288


Sepikoloh. Noted.
Tukang nyepik. Noted.

Apalah saya ini. Lanjut kuliah profesi untuk meneruskan salah satu cita-cita mulia menjadi Psikolog yang baik dan benar, justru nyangsang menjadi Sepikoloh.

Apa itu Sepikoloh?
Ntahlah. Saya juga tidak ingat kapan pertama kali memberi label ke diri sendiri sebagai Sepikoloh dengan tugas utama sebagai tukang nyepik. Tapi, sepikan kosong. Menganalisa pun sepertinya lebih banyak analisa remeh temeh yang (tidak) penting. Eaaak~

Sebagai seorang Sepikoloh, maka sudah selayaknya belajar Psikologi. Ya paling tidak, supaya dasar tebakologi dan kirologi semakin mantap untuk membantu usaha per-nyepik-an supaya makin cespleng dan layak untuk diperbincangkan. Ho'oh. Iyain aja yaa, iyaa...

Btw, apa itu tebakologi dan kirologi?




Keduanya ditemukan oleh saya dan teman ikrib saya sejak masa awal saya nemplok di Depok dulu, ketika kami berdua nyaris frustrasi dan putus asa menghadapi Psikologi. Well, lebih tepatnya, nyaris mabok luar biasa menghadapi Psikologi yang sepertinya terlalu canggih bagi kapasitas otak kami yang biasa saja ini. Terutama saya, yang sepertinya lebih berbakat menjadi Sepikoloh galau tukang nyepik ga karuan dibanding menjadi Psikolog. 

Singkat cerita, di tengah kegalauan akan nasib dunia Psikologi kami berdua, kemudian tercetuslah ide brilian tentang prinsip tebakologi dan kirologi. Subhanallooooh...

Pada dasarnya prinsip tebakologi dan kirologi ini sama saja. Landasan utamanya cukup dengan ilmu tebakan dan perkiraan, yang tentu saja memudahkan kita untuk melakukan analisa terhadap apapun. Dalam hal ini, memudahkan saya untuk menganalisa segala hal menggunakan dasar Psikologi. Horreeee!!!


***


Dosen: "Anak kita tes menggunakan alat ukur ini, hasilnya seperti ini. Kalau begini, artinya apa? Dibandingkan dengan itu, artinya apa?"

Saya dan teman ikrib: (tersenyum lebar).
Saya:  (dalam hati)"gampiiiiillll".
Teman ikrib: "Jawabannya apa, Ni?"
Saya: "Di sinilah tebakologi dan kirologi berfungsi maksimal...".

Saya dan teman ikrib pun cekikikan karena kami senaaaaaaaaang sekali. Sungguh, tebakologi dan kirologi membantu kami secara maksimal untuk segera menyelesaikan masalah melarikan diri dari kenyataan tugas (calon) Psikolog yang terlampau hebring bagi kapasitas otak ini oooTuhaan kami tak sanggup. Allahuakbaaar...

Masalah selesai dengan tebakalogi dan kirologi?  Tentu...
Tentu tidak, maksudnya hahahaha.

Mana ada analisa Psikologi yang selesai cukup dengan tebakan doang woy, Nia!
Mana ada analisa Psikologi yang dapat dituntaskan dengan kira-kira doang woy, Nia!

Bahkan dukun atau cenayang saja membutuhkan wangsit khususon untuk membantu orang lain yang datang ke mereka. Lha ya masa Psikolog, yang katanya Psikologi itu harus berlandaskan teori ilmiah, cuma pakai tebakan dan perkiraan doang woy woy woy!


***

Akibat terlalu sering menghayati peran sebagai Sepikoloh daripada sebagai (calon) Psikolog, maka wajar apabila saya sering galau. Meragukan kembali eksistensi sebagai (calon) Psikolog. Benarkah ini jalanku, Tuhan?

Seriously.
Saya pernah mengalami masa-masa paling kelam di dalam kehidupan saya sepanjang tahun 2010-2012. Terlalu drama untuk diceritakan secara detail apa saja yang alami saat itu karena sangaaaattt panjang. Terdiri dari beberapa rangkaian episode, di mana di setiap episode-nya saya harus berjuang keras untuk menyembuhkan diri sendiri. Beberapa episode bahkan membutuhkan bantuan ahli untuk proses penyembuhannya karena terlalu "dalam". Bagaimana tidak, hampir semua yang saya alami saat itu bermuara pada beberapa titik episode yang saya alami dulu sekali, semenjak saya masih sangat kecil. Dibayangkan saja kemungkinan seperti apa keadaan saya saat itu. Kali ini prinsip tebakologi dan kirologi bisa dipakai lho hahahaha.

Salah satu konsekuensi tambahan yang harus saya hadapi di sepanjang tahun 2010-2012 itu adalah saya harus mengevaluasi ulang apa saja yang sebenarnya saya inginkan, apa saja yang sebenarnya menjadi tujuan hidup saya. Terutama sekali mengevaluasi apakah benar saya ingin menjadi Psikolog, spesifik ingin menjadi Psikolog Anak. Saya sempat jatuh ke titik paling rendah yang membuat kepercayaan diri kuat yang saya miliki sebelumnya - bahwa saya mampu menjadi Psikolog Anak sesuai keinginan saya - menjadi hilang dan menguap begitu saja.

Saya sampai mencoba membawa kembali ingatan tentaang apa saja yang pernah saya lakukan sebelumnya, membaca lagi tulisan-tulisan lama saya, dan membaca buku-buku yang sebelumnya membuat saya begitu yakin untuk serius di bidang Psikologi. Terutama, membuat saya begitu kekeuh untuk lanjut kuliah profesi demi menjadi Psikolog Anak.

Apa yang saya alami di sepanjang 2010-2012 itu berdampak signifikan, bukan saja di area kehidupan pribadi, melainkan juga di area akademik. Kasarnya, raport akademik saya menjadi merah karena saya terlalu fokus untuk menghadapi semua yang harus saya hadapi saat itu, dan itu sangat berat untuk ditanggung sendiri sehingga akademik menjadi terbengkalai, terutama di catatan semenjak semester 3. Daripada semua masalah itu menjadi semakin membuat raport akademik semakin merah, which is amiit-amiit kalau sampai DO karena saya sendiri semakin sulit fokus di akademik, maka saya memutuskan keluar dan pindah.

Puncaknya semuanya ada di pertengahan tahun 2012, ketika saya memutuskan keluar dari kampus sebelumnya dan pindah ke kampus lain di Bandung. Setelah dipikir-pikir, sudah cukup lama juga saya fulltime tinggal di Depok, sejak tahun 2003, dan hanya sempat sebentar fulltime di Jakarta. Mungkin memang saya harus pindah, demi kestabilan kehidupan juga.

Jika stuck di satu titik, harus berani keluar dan mencoba pindah ke titik lain kan? Begitu teorinya. Jadi, saya juga sudah stuck tinggal di Depok, rutinitas juga semakin terasa membosankan, maka tidak ada salahnya pindah ke kota lain yang lebih baru bagi saya. Pilihan akhirnya, pindah ke Bandung. Cari jodoh kehidupan yang lebih baik dan melakukan rutinitas yang lebih berwarna.

Di periode peralihan dari keputusan keluar hingga benar-benar pindah ke Bandung itulah saya melakukan lagi banyak hal yang sebelumnya sempat terhenti, tetapi fokus utama di masa peralihan ini tentunya proses penyembuhan. Rasa "sakit" yang saya alami ketika mengalami beragam episode kehidupan dan masalah personal sejak kecil itu ternyata tidak ada apa-apanya dibanding "patah hati" saat meninggalkan kampus Depok, jadi saya butuh waktu lebih untuk menenangkan diri pasca "putus" tersebut. Salah satunya, kontemplasi.

Proses kontemplasi yang saya lakukan bukan sekedar merenung dan berpikir lebih mendalam tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Kembali ke belakang, ke masa awal saya mencintai Psikologi dan menjadikan Psikologi sebagai salah satu passion saya, merupakan cara yang cukup signifikan untuk refreshing.

Psikologi bukan bidang utama yang saya inginkan. Bahkan bisa dibilang, sayang dipaksa kecemplung di Psikologi oleh Ibu saya karena semua jurusan yang saya minati semua ditolak dengan beragam alasan. Butuh 3 tahun untuk membuat saya sepenuhnya mampu menerima Psikologi menjadi bagian dari hidup saya dan itu bukan perjalanan yang mudah.

Periode 3 tahun pertama saya berkenalan dengan Psikologi tersebut saya sudah bertekad, saya tidak mau sekedar kecemplung. Kalau mau basah, ya sudah basah kuyup sekalian. Saat itu saya memang rada masokis juga ke diri sendiri, kejam. Tapi, memang saya tidak mau basah kuyup yang saya alami bersifat sia-sia. Jadi, kalau mau berkenalan dengan Psikologi ya sudah saya kenalan. Mau saya jadi sakit kepala, ya sudah sakit kepala sekalian yang penting saya jadi bisa berkenalan lebih dalam dengan Psikologi dan menemukan apa menariknya ilmu ini. Banyak cara saya coba. Baca ini-itu, eksplor kegiatan yang kira-kira menarik, coba ikuti mata kuliah piihan yang kira-kira berpotensi menyenangkan untuk saya jalani, mulai mencoba bekerja part time di beberapa tempat, berdiskusi dengan beberapa orang yang anggap dapat membantu, dan yang paling sering adalah curhat-sambil-nangis-bombay-hidung-meler-gak-karuan dengan dosen pembimbing akademik yang subhanalloh baiknya. Beruntung, memang semuanya tidak sia-sia. Saya jadi menemukan minat baru, passion baru yang setengah mati saya cintai saya sampai sekarang. Paling tidak, saya tidak berakhir seperti satu orang teman yang begitu lulus S1 berkata, "Gila ya! 4 tahun gue ngabisin waktu di Psiko rasanya sia-sia. Gue ga ngerasa dapet apa-apa selain gelar, yang itu juga gak gue banggain". Booo~

Mending eike yes?
Iyeesss...

Ingatan tentang semua yang pernah saya lakukan, semua yang pernah saya tulis dan saya baca itulah yang menjadi titik balik saya untuk bangkit pasca periode kelam 2010-2012 itu. Di tengah kegalauan akut yang menjangkiti saya karena di masa peralihan semua buku masih saya tinggal di gudang kos Depok sementara saya mulai pindah (lagi) ke rumah om di Slipi, saya memutuskan jalan-jalan ke Periplus dengan harapan siapa tahu saya ketemu buku kece.  Eh ternyata, voila!  Saya memang menemukan buku Psych 101 ini. Begitu melihat buku Psych 101, saya seolah terlempar kembali ke masa awal berkenalan dengan Psikologi, di mana saya membaca beberapa buku sejenis "Psikologi untuk Pemula" dan kawan-kawannya. Jadi, saya tanpa ragu membeli Psych 101. Lucu juga cover-nya. 

Psych 101, yuhuu!!!

Saya saat itu memang sedang berada di "SOS mode" terkait Psikologi pula, ppfftt.
"Yakin lo, Ni? Lo yakin beneran masih mau nyemplung di Psikologi? ". Ngook!

Berkat Psych 101, saya kembali yakin dengan Psikologi. Saya diingatkan kembali dengan hal-hal yang membuat saya mencintai Psikologi. Yaaa, walaupun ala Sepikoloh nyepik Psikologi sih kemampuannya hahahaha.



***


What is Psychology?

Ho'oh.
Psikologi itu berasal dari bahasa Yunani. Psyche yang berarti "spirit-soul-breath". Diartikan secara umum sebagai "jiwa". Serta, logia yang berarti "ilmu", sebuah ilmu tentang sesuatu. Kesimpulannya, Psikologi adalah ilmu yang mempelajari kejiwaan. Itu saja? Nope. Dijelaskan juga bahwa Psikologi mempelajari proses mental dan perilaku, yang mencakup banyak aspek seperti emosi, proses berpikir, mimpi atau keinginan, ingatan, persepsi, kepribadian, gangguan atau masalah, dan bagaimana mengatasi gangguan atau masalah tersebut.

So, welcome to Psych 101!

Ivan Pavlov, B. F. Skinner, Sigmund Freud, Anna Freud, Lawrence Kohlberg, Stanley Milgram, Alfred Adler, Philip Zimbardo, Solomon Asch, John B. Watson, Hermann Rorschach (HBD WYATB, Opa! Khususon di tanggal 8 November 2013, sampai ada google doodle untuk memperingati 129 tahun tokoh tercinta paling bikin saya semriwing ini), Harry Harlow, Jean Piaget, Albert Bandura, Carl Rogers, Abraham Maslow, Kurt Lewin, Carl Jung, Henry Murray, Karen Horney ("Jangan dibaca horniy ya (dari kata horny), bacanya HORN AY!", begitu kata dosen saya dulu untuk mengingatkan kami para mahasiswa baru), John Bowlby, Albert Ellis, Harry Stack Sullivan, ERICH FROMM - The Art of Love! Hommagah, David Kolb, Mary Ainsworth, Lev Vygotsky. Check!

Teori dasar mengenai kelompok, teori persepsi visual, teori Gestalt, teori kognitif berikut teori tentang disonansi kognitif, teori inteligensi, dan lainnya. Check!

Penasaran dengan mimpi dan penjelasannya ala Freud, termasuk juga tentang hipnosis? Check!

Pembahasan tentang otak kiri dan kanan? Check!



***


Ini bukan textbook kaku. Psych 101 menjelaskan konsep dasar segala teori Psikologi dengan cara yang sederhana, well-written. Semacam ensiklopedia Psikologi, atau mungkin biografi tentang Psikologi? Cukup untuk sekedar refreshing, tetapi masih kurang memuaskan jika ingin yang lebih mendalam lagi. Minimal bagi saya, cukup untuk membawa saya kembali ke track.

Kalau mau lebih mendalam, yuk ikut saya kecemplung basah kuyup sekalian di Psikologi. Siapa tahu kita bisa tandem menjadi Sepikoloh. Fufufu~


***

Duh!
Kalau Sepikoloh yang nyepik Psikologi di blog kaya begini memang berpotensi curcol yes?

Untung bukan sok main analisa pakai tebakologi dan kirologi.

Bye!



Cheers!
Have a blessed-day!


Special Note:
Tulisan ini merupakan tulisan pertama di hari pertama, yang dibuat sebagai rangkaian proyek #5BukuDalamHidupku (diprakarsai oleh Irwan Bajang).
  1. Buku pertama, hari pertama > The Prophet karya Gibran Khalil Gibran.
  2. Buku kedua, hari kedua > Psych101 karya Paul Kleinman.
  3. Buku ketiga, hari ketiga > Helping Children Cope with Divorce karya Edward Teyber.
  4. Buku keempat, hari keempat > Hak Partisipasi: Bukan Sekadar Ikut Bekerja, yang diterbitkan bersama oleh Departemen Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Christian Children's Funds Indonesia, Plan International, Save the Children UK dan US, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, World Vision International Indonesia Office, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, dan Yayasan Pemantau Hak Anak.
  5. Buku kelima, hari kelima > Participatory Research on Commercial Sexual Exploitation of Children in Surakarta (Central Java) and Indramayu (West Java) Indonesia, yang diterbitkan oleh UNICEF.
#5BukuDalamHidupku