16 November 2013

Prostitusi Anak: Antara Kebutuhan dan Eksploitasi



Judul: Participatory Research on Commercial Sexual Exploitation of Children in Surakarta (Central Java) and Indramayu (West Java) Indonesia
Pengarang: Tim Peneliti UNICEF 
Jenis: Non Fiksi, Textbook - Hasil Penelitian
ISBN: -
Penerbit: UNICEF
Tahun Terbit: 2004
Jumlah Halaman: 221+xxix



Sebelumnya saya pernah bercerita bahwa pada tahun 2008 saya mengikuti Child Labour Training-Workshop (CLTW). Para peserta juga diwajibkan untuk membuat sebuah proposal penelitian terkait dengan pekerja (dan/atau buruh) anak di berbagai bidang. Indonesia sendiri memiliki beberapa wilayah yang berpotensi ada pekerja anak di dalamnya, begitu hasil penelitian yang pernah saya baca dulu.

Pekerja dan/atau buruh anak ini tersebar di beberapa sektor, dan biasanya spesifik di populasi tertentu. Misalnya:
  1. Penanaman tembakau dan manufaktur di daerah miskin atau marjinal yang ada di beberapa wilayah di Jawa Timur.
  2. Perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara yang ilegal di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah, dengan para pekerja anak biasanya berasal dari Jawa dan  Madura.
  3. Pekerja tambahan dalam rantai produksi, misalnya menjadi tukang di dalam industri keluarga. Ini umum ditemukan di beberapa daerah di Jawa Tengah.
  4. Anak yang terlibat dalam urusan pekerjaan rumah tangga, misalnya menjadi pembantu rumah tangga.
  5. Perdagangan anak di beberapa kota besar di Indonesia, yang nantinya anak-anak ini dijadikan pembantu rumah tangga, tukang di industri sepatu, pemulung, prostitusi anak, dan lainnya.




Di tulisan sebelumnya, saya sempat membahas sedikit tentang Konvensi Hak Anak.

Nah. Ini dia...

Konvensi Hak Anak ini dapat digunakan secara universal di seluruh negara, TETAPI tidak dapat diimplementasikan semua isinya secara universal.

Ada 3 hak anak yang sangat penting dan lebih baik diprioritaskan, yaitu hak hidup, hak pemenuhan kebutuhan dasar, dan perlindungan keluarga. Hak-hak lainnya akan terbangun apabila hak yang sifatnya prioritas telah tercapai. Di sini, hak hidup merupakan hal yang terpenting.

Sebenarnya sangat sulit untuk menentukan prioritas dari hak anak ini, sehingga dibutuhkan pengetahuan mengenai kondisi dan konteks dari masing-masing kasus anak, beserta regulasi yang digunakan.

Hak anak harus dilihat secara kontekstual karena beda kondisi anak, maka beda pula haknya.

Di dalam kasus pekerja dan/atau buruh anak ini, ada beberapa paradigma di dalam masyarakat tertentu yang turut berpartisipasi dalam munculnya kasus pekerja dan/atau buruh anak ini.

Misalnya...

Anggapan bahwa sekolah itu tidak penting, jauh lebih penting mencari uang karena itu yang lebih dibutuhkan untuk menyambung hidup, tidak ada gunanya juga bersekolah apabila nantinya mereka pun akan tetap kalah bersaing dengan anak yang tinggal di daerah atau kota yang lebih maju, serta sekolah tidak menjanjikan seorang anak nantinya akan mendapatkan pekerjaan.

Anak yang bekerja dan berada dalam kondisi terburuk adalah ketika ia menjadi buruh anak. 

Tidak semua anak yang bekerja dapat disebut buruh anak.

Ada beberapa indikator yang dapat membantu kita untuk menentukan apakah anak yang bekerja terlibat sebagai buruh anak atau tidak, yaitu dilihat dari lama anak bekerja dan ada atau tidaknya paksaan.

Mendefinisikan buruh anak termasuk sulit.

Tetapi yang jelas, ketika pekerjaan yang dilakukan oleh anak itu menggangggu perkembangan anak secara fisik, mental, dan psikologis maka anak yang bekerja ini dapat dikategorikan sebagai buruh anak.

Anak dapat menjadi buruh biasanya karena alasan ekonomi, kecuali anak yang terlibat di pekerjaan rumah tangga (belum tentu menjadi pembantu rumah tangga, bisa saja sekedar membantu orangtua).

Berikut adalah gambaran mengenai alasan seorang anak dapat menjadi seorang buruh anak.
  1. Kondisi ekonomi keluarga (kemiskinan) dan dysfunctional family.
  2. Lingkungan/masyarakat, karena kondisi masyarakat yang mendorong sebuah keluarga untuk konsumtif. Misalnya, pada kasus anak yang ingin bekerja demi membeli gadget tertentu karena melihat realita bahwa dengan memiliki gadget maka akan dianggap gaul oleh masyarakat atau teman-temannya.
  3. Kebutuhan akan pekerja, anak-anak dinilai tidak takut bahaya, mau tutup mulut, dan mau dihargai murah.
  4. Apprenticeship, yaitu upaya pengenalan kegiatan yang menghasilkan uang. Misalnya ditemukan pada kasus pengamen atau pengemis anak.
  5. Paradigma tentang pendidikan, yaitu pandangan bahwa lebih baik bekerja daripada ke sekolah yang belum tentu akan menjanjikan pekerjaan bagus di kemudian hari. 
  6. Migrasi, yang menyebabkan terpisahnya anak dari orang tua sehingga anak terabaikan dan akhirnya dia bekerja untuk menghidupi diri. Migrasi juga terjadi pada keluarga yang pindah ke daerah lain untuk mencari penghidupan yang layak, tetapi kondisinya ternyata lebih buruk dari tempat asal sehingga akhirnya anak dipekerjakan untuk membantu keuangan keluarga.

Salah satu bentuk dari buruh anak ini dapat dilihat pada kasus eksploitasi anak untuk kepentingan seks komersil yang diceritakan di buku Participatory Research on Commercial Sexual Exploitation of Children in Surakarta (Central Java) and Indramayu (West Java) Indonesia.

Apapun yang termasuk ke dalam child sexual abuse masuk ke dalam kategori issues that I concern the most sekaligus isu yang sempat sangat ingin saya hindari sebelumnya. Child sexual abuse ini termasuk isu personal yang cukup berdampak signifikan dan saya sempat tidak tertarik. Tetapi apa daya. Kembali terjadi the law of attraction di sini, sama seperti ketika saya dulu harus berhadapan dengan kasus perceraian orangtua yang berdampak signifikan terhadap anak.

Semakin saya menghindari isu sexual abuse - sexual harassment  child sexual abuse - dkk, maka semakin sering pula saya bertemu teman - kenalan - anak yang mengalami kasus serupa. Jadi yasyudalaa saya terima saja.

Terkait dengan child sexual abuse, entah kenapa, jumlah anak yang dipaksa untuk menjadi pekerja seks komersil semakin meningkat jumlahnya. Ini salah satu fenomena yang terjadi di Indonesia dan dibahas di buku ini.

Kemarin saya sedikit menyinggung tentang pekerja dan/atau buruh anak.

Maka, di sini disampaikan bahwa prostitusi anak merupakan salah satu bentuk TERBURUK dari buruh anak dan sangat-sangat-sangat merupakan PELANGGARAN MENDASAR terhadap hak anak.

Tekanan emosi dan fisik yang dialami para korban pasti berpengaruh terhadap bagaimana nantinya anak tumbuh dan berkembang. Belum lagi ada kemungkinan bahwa anak tersebut bisa menderita penyakit tertentu akibat sexual abuse yang mereka alami. Ada pula resiko kelahiran akibat dari sexual abuse tersebut, dan anak yang dilahirkan oleh korban prostitusi anak ini kemungkinan besar akan mengalami penolakan dari lingkungan sosial dan berpotensi pula nantinya akan juga menjadi sasaran kekerasan dari lingkungan di sekitarnya itu.

Bentuk sexual abuse ini mencakup incest (penganiayaan seksual oleh orang yang masih mempunyai hubungan keluarga), hubungan oro-genital, pornografi, prostitusi, eksploitasi, dan penganiayaan seksual yang bersifat ritual.

Batasan untuk menyatakan jenis eksploitasi seksual pada anak menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ada 3 bentuk, yaitu:
  1. prostitusi anak
  2. perdagangan anak lintas batas dan di dalam suatu negara untuk kepentingan eksploitasi seksual komersial
  3. pornografi yang melibatkan anak-anak

Sayangnya, eksploitasi seksual pada anak ini termasuk ke dalam kategori hidden phenomenon.

Umumnya, alasan kemiskinan mendominasi munculnya eksploitasi seksual pada anak. Umumnya pula, orangtua memegang peranan utama dalam keterlibatan anak di prostitusi.

Miris.

Fenomena seperti inilah yang dulu membuat saya terpikir untuk meneliti tentang kasus prostitusi anak. Lebih spesifik lagi, saya ingin tahu tentang kasus yang menimpa anak laki-laki.

Buku ini lebih cenderung membahas kasus prostitusi yang menimpa anak perempuan, sementara saya ingin lebih banyak melihat fenomena pada anak laki-laki.

Beberapa hari yang lalu ada serial tweets dari so-called-selebtwit yang membahas tentang gigolo di Jakarta dan dia juga menyinggung tentang anak laki-laki yang "diumpankan" kepada para gigolo, gay, yang memiliki kecenderungan phedophilia. Seketika saya teringat dengan proposal saya yang ditolak itu, hehehe.

Fokus utama penelitian yang ingin saya lakukan saat itu memang tentang anak laki-laki yang dieksploitasi secara seksual kepada para gay, biseksual, dan lainnya. Dulu, saya mendapat informasi bahwa ada beberapa tempat di Jakarta yang menjadi "pusat" transaksi ini. Salah satunya, di lapangan yang disebut oleh selebtwit tadi.

Informasi yang saya dapatkan juga menjelaskan bahwa umumnya anak-anak ini adalah anak-anak yang dekat dengan komunitas gay, sehingga mereka dengan mudahnya dapat pula dieksploitasi oleh para gay dan diorientasikan pula preferensi seksualnya untuk menjadi gay.

Pardon me.
Tidak semua LGBT demikian, saya tahu ini.

Beberapa teman saya yang LGBT tidak melakukan hal seperti yang disebutkan oleh informasi yang saya dapatkan tersebut. Mereka tidak terlibat dengan kasus prostitusi anak, saya juga tahu ini.

Orang yang mengaku straight juga ada yang terlibat dengan kasus prostitusi anak.

Jadi bagi saya, mau apapun orientasi seksual yang dimiliki, pelaku yang terlibat di dalam kasus prostitusi anak ini melibatkan segelintir pihak tertentu saja. Tidak semuanya.

Kebetulan saja, pada saat itu saya tertarik dengan isu ini pasca membaca di sebuah buku di perpustakaan kampus dulu bahwa munculnya fenomena prostitusi anak salah satu kemungkinannya adalah karena umumnya pria dewasa gay lebih aktif secara seksual dibandingkan dengan lesbian dan heteroseks. Dibandingkan dengan lesbian, pria gay dapat lebih banyak memiliki pasangan seks dan lebih sering terlibat dalam hubungan seks yang sifatnya casual atau singkat.

Kurang lebih begitu bunyinya. Saya lupa detail lebih lengkap, dan lupa dengan nama tokoh yang menyebutkan pernyataan tersebut.


***


LPAW Tangerang. 2007.
Saya masih awal-awal menjalankan program di sana.

Ada cerita di sini.

Ketika teman lainnya sibuk mengaku bahwa mereka memiliki keluarga yang broken home, ada satu anak yang berbisik ke saya, "Gue diperkosa kakak ipar, Kak...".

Berawal dari bisikan itu, berikutnya anak yang bersangkutan bercerita kepada saya bahwa dia kemudian selalu dipaksa kakak iparnya itu untuk tidak hanya melayani kebutuhan seksual si kakak ipar, tetapi juga dijual kepada teman-teman kakak iparnya itu.

Kreyzih!

Perilaku kakak iparnya ini tidak diketahui oleh pihak keluarga lainnya.

Syuper kreyzih!

Anak ini akhirnya kabur dari rumah dan menjadi anak jalanan. Dia ditangkap bukan karena kasus prostitusi anak, tetapi karena kasus pencurian.

Saya sih berharap semoga anak itu hanya berbohong, seperti pengakuan teman-temannya bahwa anak ini seringkali berbohong tentang kehidupan pribadinya.

Rasanya terlalu cenat-cenut untuk menerima kenyataan bahwa anak semuda dia sudah harus melayani kebutuhan seksual banyak laki-laki dengan harga murah, hanya hitungan puluhan hingga beberapa ratus ribu rupiah untuk sekali melayani - random saja tarifnya, dan itupun uangnya dihabiskan semua oleh si kakak ipar.


***

TESA 129. 2007.
Saya belum terlalu lama resmi wisuda.

Seorang Ibu dan putrinya datang ke TESA 129 Jakarta, katanya mau lihat langsung TESA 129 karena si putri ingin berkenalan dengan kakak-kakak konselor TESA 129. Saya dan teman saya, sebut saja Bang Ucok karena dia laki-laki suku Batak, yang menemui Ibu dan putrinya ini.

Bang Ucok langsung mengajak putri cantik ke ruang hotline TESA 129 dan saya terjebak mengajak Ibu mengobrol.
Saya pikir, hanya sekedar mengobrol santai.
Ternyata...

"Kak Nia, sebenernya anak saya itu baru saja diperkosa oleh supir bis..."

Uh. Oh.
Bang Ucok, tukeran yuk!

Hanya bisa berteriak memanggil Bang Ucok di dalam hati saja.

Berikutnya mengalir deras cerita si Ibu tentang proses putrinya bisa diperkosa dan sempat tidak dipulangkan oleh pelakunya hingga beberapa hari, sederas airmata yang juga menemani selama Ibu ini bercerita.

Sayangnya, tidak sampai ke proses hukum. Atas dasar kasihan dan merasa bahwa pelaku juga menunjukkan penyesalan, akhirnya keluarga tidak memperpanjang kasus ini. Belakangan baru si Ibu menyesal karena ternyata dampaknya ke sang putri sangat serius.

Ho'oh.
Menyesal tak pernah di awal. Ini selalu hadirnya belakangan.
Begitu, kata lagu Desi Ratnasari dulu...

***

Jakarta. 2012.

Sudah sekitar 3 tahun saya tidak pernah bertemu langsung dengan anak-anak yang terlibat di prostitusi anak. Berhadapan dengan anak-remaja-dewasa yang mengalami kasus eksploitasi seksual dalam bentuk lainnya, masih cukup sering. 

Suatu hari, saya melakukan pertemuan dengan beberapa survivor kasus child sexual abuse

Tegang. 

Suasananya mencekam. 

Horror.

Full of drama, of course.

Para survivor ini terdiri dari Psikolog Anak (termasuk Psikolog Anak - soon to be seperti saya), Psikolog Dewasa, mahasiswa Psikologi, Dosen Senior di jurusan Psikologi, praktisi Psikologi, aktivis anak, dan masyarakat umum. 

Isu yang dihadapi mereka sama, pernah mengalami child sexual abuse.

Ada dari masyarakat umum itu yang bahkan sampai pernah menjalankan "tugas" di ranah prostitusi anak, tapi sudah beberapa tahun berhenti.

Menariknya, proses self-healing yang terlihat lebih legowo  adalah pada diri beberapa dari masyarakat awam.

Banyak dari Psikolog Anak, Psikolog Dewasa, mahasiswa Psikologi, dosen Psikologi, dan praktisi Psikologi yang terlihat masih menyimpan kemarahan.

Emm...

Memang Psikolog itu ibarat "sikat" ya. 
Dia bisa membantu membersihkan "kotoran" masalah orang lain.
Tetapi membutuhkan "sikat" lain, Psikolog lain untuk membantu membersihkan "kotoran" masalahnya.
            
Selama pertemuan ini berlangsung, saya tahu bahwa saya berada di tempat yang tepat.
Kembali ke track adalah solusinya.

Segera yaa, iyaaa...


***

Bandung. 2013.
End of Story.

Bukan perkara mudah untuk bisa memilih hanya 5 buku dari sekian banyak buku, yang dianggap layak untuk masuk ke dalam kategori #5BukuDalamHidupku. Dan entah kenapa, 4 dari buku yang saya pilih merupakan buku yang yaagitudee. Hanya buku Opa Gibran yang melenceng sedikit.

Pemilihan buku-buku ini dengan melihat bahwa buku-buku yang saya ikut sertakan adalah buku-buku yang menimbulkan dampak cukup signifikan ke dalam kehidupan saya selama ini, sehingga saya yang sekarang bisa terbentuk. Bagaimana passion saya bisa menjadi seperti yang sekarang.

Saya mengibaratkannya seperti sedang menelusuri sungai kehidupan, di mana 5 buku ini mewarnai periode genting dan signifikan selama aliran sungai mengalir. Titik awal fluktuasi hidup saya meningkat drastis ada di masa SMA dan teman utama saya memang Opa Gibran. Titik lompatan berikutnya ada di periode tahun 2003-2012, dengan masa-masa paling signifikan ada di tahun 2006-2012, dan puncaknya ada di tahun 2012 semua. Jatuh hingga ke lembah paling dasar, hingga bangkit ada naik lagi ke track semula dari aliran sungai ini ada di pertengahn tahun 2012. 

Entah.
Ke depannya, hingga di masa depan nanti, aliran sungai kehidupan ini masih belum tahu akan melewati tahapan apa lagi. Sangat mungkin sekali akan bermunculan banyak buku baru sebagai teman menghadapi tantangan di masa depan sana.


Cheers!


Have a blessed-day!















Special Note:
Tulisan ini merupakan tulisan pertama di hari pertama, yang dibuat sebagai rangkaian proyek #5BukuDalamHidupku (diprakarsai oleh Irwan Bajang).
  1. Buku pertama, hari pertama > The Prophet karya Gibran Khalil Gibran.
  2. Buku kedua, hari kedua > Psych101 karya Paul Kleinman.
  3. Buku ketiga, hari ketiga > Helping Children Cope with Divorce karya Edward Teyber.
  4. Buku keempat, hari keempat > Hak Partisipasi: Bukan Sekadar Ikut Bekerja, yang diterbitkan bersama oleh Departemen Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Christian Children's Funds Indonesia, Plan International, Save the Children UK dan US, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, World Vision International Indonesia Office, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, dan Yayasan Pemantau Hak Anak.
  5. Buku kelima, hari kelima > Participatory Research on Commercial Sexual Exploitation of Children in Surakarta (Central Java) and Indramayu (West Java) Indonesia, yang diterbitkan oleh UNICEF.
#5BukuDalamHidupku