21 November 2013

[EXPERIENCES] Kamisan #9: Meteor, Mitologi, Banten Science Day



Bukan.
Kali ini bukan mau membahas Meteor Garden.
Bukan juga mau membahas Shan Cai, Dao Ming Shi, Hua Ze Lei, Xi Mei, dan Mei Zuo.

Orang-orang dari seputaran angkatan saya biasanya akan otomatis mengaitkan "meteor" dengan drama Meteor Garden, drama versi Taiwan dengan garis besar kisah yang sama dengan drama versi Jepang yang berjudul "Hana Yori Dango", dan berikutnya muncul versi Korea yang berjudul "Boys Before Flower/Boys Over Flower".

Iya, saya menonton semuanya hahaha.

Sebelum tema "Meteor" disahkan sebagai tema Kamisan #9, saya sudah berpikir untuk memuat beberapa kisah terkait dengan mitologi meteor yang pernah saya dengar dulu sekali. Seperti jodoh, mungkin. Ingin menulis tentang meteor, luar angkasa, dan teman-temannya kemudian "Meteor" dijadikan tema Kamisan #9.

Fufufu~


***


Ada sebuah mitologi Romawi yang bercerita tentang Elagabalus di era kekaisaran Romawi. Suatu hari, Elagabalus memasang benda surgawi di bukit Palatine, The Thunderstone

The Thunderstone yang jatuh di Gurun Suriah, diyakini sebagai penjelmaan Dewa El-Gabal. 

Alkisah...

Di setiap titik kembalinya matahari musim panas, sebuah kereta akan membawa pecahan meteor (yang dianggap Elagabalus sebagai penjelmaan Dewa El-Gabal) yang berasal dari sekitar Gurun Suriah, dan Elagabalus berjalan di belakang kereta tersebut.

Meteor seringkali dikaitkan dengan kiamat, dan ini berlaku pula pada kisah Elagabalus. Kiamat memang terjadi di kehidupannya pasca ia memasang The Thunderstone di bukit Palatine dan selalu menyembah batu tersebut. 

Elagabalus digulingkan dari pemerintahan akibat ia menyembah batu, sesuatu yang dilarang pada masa kekaisaran Romawi. Alasan lainnya yang memberatkan adalah karena Elagabalus menikahi Vestal Virgins, sekelompok pendeta yang merupakan wanita perawan pilihan, dan mereka dianggap suci serta dilarang menikah.

Belum lagi ditambah semakin berat dasar untuk menggulingkan Elagabus karena ia memiliki kasus trans-sexuality serta hubungan gelap dengan salah satu pengendara kereta yang sering menemaninya saat mengambil The Thunderstone.

Elagabalus akhirnya dipenggal dan jenazahnya dilemparkan ke Tiber. Perilaku kasar yang diberikan kepada mayat Elagabalus ini merupakan efek dari rasa tidak sabar atas perilaku Elagabalus yang dianggap menjijikkan bagi para prajurit Garda Praetorian.

Ada sedikit kisah mengenai Vestal Virgin ini di buku Pilate's Wife karya Antoinette May.

Vestal Virgins dianggap sebagai Goddess of the Hearth, dipilih dari keluarga para bangsawan terpandang di Romawi dan harus menjaga keperawanan mereka selama menjadi Vestal Virgins, setidaknya selama 30 tahun. Ketika seorang anak perempuan dikirimkan oleh orangtuanya untuk menjadi Vestal Virgins bagi kota Roma, maka anak ini otomatis menjadi pengantin bagi kota tersebut.

Aturan yang melingkupi para Vestal Virgins ini sangat ketat dan mereka dilarang untuk bersentuhan dengan kehidupan duniawi. Pemujaan terhadap Vestal Virgins ini sama dengan pemujaan terhadap Dewa-Dewi. Posisi mereka merupakan posisi tertinggi di dalam lingkup keagamaan.

Pilate's Wife sendiri bukan memusatkan cerita pada kisah Vertal Virgins, melainkan bercerita tentang isteri Pilatus yang bernama Claudia Procula. Di dalam bible (Matthew 27;19), Claudia ini menjadi cameo. Disebutkan bahwa ketika Pilatus - seorang gubernur Romawi saat itu - sedang duduk di kursi peradilan, isterinya mengirimi Pilatus pesan yang mengatakan "Biarkan laki-laki lugu itu pergi. Saya tidak tahan menghadapi mimpi buruk  tentang dirinya, yang menghampiri saya semalam ".

Antoinette May kemudian membuat cerita tentang Claudia Procula sebagai wanita yang penuh dengan intrik, serta diberkahi (sekaligus dikutuk) dengan kemampuan untuk menerawang masa depan.

Nah, Claudia dikisahkan memiliki seorang kakak perempuan yang sangat cantik, bernama Marcella. Sayang sekali, Marcella tidak bernasib secantik wajahnya. Ia terjebak di dalam intrik kejam Permaisuri Romawi bernama Livia dan cucunya yang bernama Caligula, kedua tokoh Romawi yang memang terkenal dengan kekejaman mereka. Pada akhirnya, Marcella terpaksa menjadi seorang Vestal Virgin dan harus melupakan kehidupan duniawi yang dipenuhi oleh pemujaan laki-laki akan kecantikan parasnya.

Namun Marcella tetaplah Marcella. Ia tetap haus cinta dan belaian laki-laki, meskipun sudah ditasbihkan sebagai pendeta suci. Akibatnya, Marcella harus dihukum ketika diketahui menjalin kisah cinta. Marcella dikubur hidup-hidup saat usianya masih sangat muda.

Di Sejarah aslinya, memang pernah ada seorang Vestal bernama Marcia (nama asli dari tokoh Marcella di novel Pilate's Wife). Marcia diketahui menjalin hubungan cinta dan akhirnya ia dihukum mati, dengan cara dikubur hidup-hidup. Marcia dipaksa mati dengan cara seperti itu karena penduduk Roma menghindari nasib buruk yang mungkin akan menimpa kehidupan para Vestal Virgins, katanya.

Mirip dengan cara Antoinette May menjelaskan proses kematian Marcella, di legenda Marcia juga diceritakan bahwa Marcia menghadapi kematiannya dengan mengenakan pakaian khusus dan diikat sebelum dimasukkan ke dalam tandu. Tetapi, ia masih tetap terlihat cantik dan menawan. Marcia didampingi imam dan diarak melewati jalan-jalan di Roma sebelum harus melakukan prosesi pemakamannya. Saat tiba di pintu makam yang diperuntukkan untuknya, para imam memalingkan wajahnya dari Marcia dan kemudian Marcia diminta untuk menuruni tangga menuju pusat makam. Marcia hanya diberi sedikit sekali makanan dan air, serta hanya diberikan lampu seadanya. Lalu pintu masuk makam disegel dan Marcia dibiarkan mati kelaparan.

Membaca kisah Marcella (Marcia) membuat saya berpikir, apakah Vestal Virgins yang dinikahi oleh Elagabalus juga mengalami nasib dan kematian yang sama?


Ada pula legenda Yunani kuno, di mana masyarakat di masa itu menjadikan meteor sebagai objek pemujaan. Sebuah batu meteor diletakkan di salah satu tempat pemujaan penting bagi kepercayaan Yunani, yaitu di kuil Apollo yang terletak di Delphi.

Mitos menyatakan bahwa Saturnus (Cronos) dan Cybele (Rhea) memiliki 4 orang anak laki-laki, tetapi Rhea kemudian hanya memberikan batu meteor tadi kepada Zeus dan kemudian Zeus menyembunyikan batu tersebut dari saudara-sadauranya.

Setelah Saturnus turun tahta, ia kemudian berusaha mengembalikan posisi batu meteor. Entah Saturnus atau Zeus yang akhirnya membuang batu tersebut dari surga dan batu tersebut jatuh ke pusat bumi. 

Di kemudian hari, lokasi tempat jatuhnya batu meteor di bumi menjadi situs yang dikeramatkan bernama kuil Apollo dan batu meteor atau titik pusat tempat jatuhnya batu meteor itu tetap ada.


Ka'bah di Mekkah yang menjadi tempat ibadah paling suci bagi umat Islam juga tidak terlepas dari mitologi terkait meteor. Di dalam Ka'bah ada batu hitam yang katanya berasal dari meteor. 

Alkisah, Malaikat Jibril memberikan batu kepada Nabi Ibrahim yang kemudian menyertakan batu itu saat membangun rumahnya. Setelah itu, batu  tersebut diberikan kepada Nabi Muhammad, yang menyertakannya untuk membangun dinding Ka'bah.

Batu hitam tersebut bukanlah objek untuk disembah, bukan juga simbol untuk dihormati, karena bagi umat Islam yang patut disembah adalah Allah SWT. 

Penelitian di kemudian hari menyatakan bahwa batu hitam tersebut kemungkinannya berasal dari kawah meteor yang terletak di Wabar, sekitar 100 km dari Mekkah.




Dari mitologi Romawi, lalu mitologi Yunani Kuno, serta kisah tentang batu hitam di Ka'bah, kemudian ada lagi mitos terkait hujan meteor.


"When you wish upon a star, makes no difference who you are,
anything your heart desires will come to you"


Masih ingat dengan opening line lagu dari film Pinnochio yang berjudul "When You Wish Upon A Star" ini?

Ide lagu ini sederhana. Hujan meteor dan/atau bintang jatuh dianggap sebagai momen di mana harapan kita akan dikabulkan.  Ide inilah yang juga menjadi salah satu jalan cerita di drama Meteor Garden. Meskipun sebenarnya ada mitos lainnya yang menyatakan bahwa hujan meteor dan/atau bintang jatuh juga bermakna nasib buruk.

Semua ide ini berasal dari mitologi kuno yang penuh dengan hal-hal yang bersifat supranatural. Mau itu bermakna nasib baik atau buruk, harapan dikabulkan atau tidak, fenomena alam ini tetap dianggap menakjubkan. Bahkan, kita tidak segan berburu hujan meteor dan bintang jatuh demi kepuasan tertentu.

Tidak jarang, fenomena hujan meteor ini selalu dikaitkan dengan kisah romantisme percintaan.

Ya, contohnya di drama Meteor Garden itu, ketika hujan meteor menentukan apakah takdir kisah cinta Dao Ming Shi dan Shan Cai di dalam drama itu akan berakhir atau bersatu.

Bagi saya sih jelas, drama itu tidak akan membuat pemeran utama pria dan pemeran utama wanitanya berpisah. Meteor Garden bukan tipikal melodrama, melainkan tipikal Cinderella story yang pasti berujung dengan akhir kisah happily-ever-after.

Tapi, bagi teman saya, penentuan kisah cinta berdasarkan kehadiran hujan meteor atau bintang jatuh atau apapun itu namanya merupakan bagian dari romantisme.

Wew!
Biasalah, anak SMA. Masih abege.
Dan saya hanya bisa mengurut dada.
Suram.

Saya meragukan eksistensi diri sendiri.
Apakah saya memang kelainan?

Kata beberapa teman, saya ini lupa kodrat sebagai perempuan. Katanya juga, saya ini alur berpikirnya terlalu macho.

Apa pulak itu?




Di saat teman-teman SMA mengatakan bahwa pacar mereka romantis karena memberikan bunga, saya justru menghancurkan bunga dari pacar untuk dijadikan bahan bermain ulekan.

Di saat saya diberi coklat, saya hanya mengeluh dalam hati karena saya tidak begitu suka coklat.

Suatu hari, urusan coklat ini kembali membuat saya sakit kepala ketika membahas definisi cinta dengan salah satu teman. Saat itu, dia baru saja saya kenal.

Edyan!
Belum apa-apa pembahasannya beginian.

"Cinta itu mirip kaya kita makan coklat, Ni. Berjuta rasanya"
"....."
"Kenapa, Ni?"
"Aku biasa aja ama coklat..."
"Analoginya, Niaaaa!!"

Itu baru di pembuka percakapan.

Dan teman saya ini, langsung berkata bahwa saya mirip cowok.

"Kenapa?"
"Karena alur berpikir kamu terlalu maskulin, Ni. Mirip kaya aku di mata teman-temanku. Masalahnya, aku memang cowok. Kamu kan cewek..."
"....."


Mungkin benar kata teman-teman saya, terlalu banyak menganalisa (mostly hal yang sangat tidak penting) membuat saya lupa diri bahwa tidak semua hal harus dianalisa, tapi cukup dirasai dan dimaknai hahaha.

Termasuk urusan romantisme ini.

Kemarin, saya kembali membahas romantisme ini dengan seorang teman.

Pembahasan yang diawali dengan percakapan random, tapi kemudian muncul bagian yang membuat saya gatel untuk membahas romantisme karena saya teringat percakapan-percakapan absurd tentang romantisme sebelumnya.

"Memangnya romantis itu apa? Kenapa definisinya bisa kaya cinta, acak abstrak?"
"Romantis itu kaya gini loh... Feeling this? Feeling that?"

"Makin acak abstrak dengan pembahasan lo barusan"
"Nah keabstrakan itu ada 1 titik di mana thermal body meningkat tiba-tiba kan?"

"Tapi itu kan sifatnya general. Gak berpatokan cuma di kondisi tertentu aja"
"True, tapi standarnya sama"

"Kalo standarnya sama, gimana bisa itu dipake kali ini karena romantis, ntar karena hal lain. Standar ganda?"
"Yes standar ganda, dinamis dong. Makanya beauty"

"Dan justru itu membingungkan..."
"Eh bukan cuma standar ganda yaa, ada multigrand kamehameha gigantic ultra standard di universe ini. Eh, multiuniverse!!"

MULTIGRAND KAMEHAMEHA GIGANTIC ULTRA!!!

"Kalo itu mah jelas atulaa bang, tapi kan terlalu melebar kalo sampe ke sana woy"
"Everything's related. Kutumbaba sama ulubaba itu sebenernya 1 sound kan? Monophone. Tapi artinya beda. Yang 1 bilang I love You, yang 1 bilang I hate You"

"Nah itu kalo kita bahas monophone. Kalo balik ke thermal body, atau kalo balik ke konsep romantisme, kenapa itu definisi operasionalnya terlalu membingungkan karena bagiku patokannya terlalu luas. Gejala fisik love-hate itu mirip, perilaku yang muncul juga ada yang mirip. Misal, ada unsur obsesi. Romantisme bagi si A begini, romantisme bagi si B begitu. And sooooo ooonn"
"Serumit apapun, romantisme tetap berujung pada 1 hal sih, munculnya si feromon. Setelahnya kemudian, hal-hal yang dijelaskan secara teoritis luluh lantah, heuhu. Makanya itu kaya tadi penjelasannya. Romantisme itu kaya gini loh: ....... Feeling that?"

"....... (titik titik titik) Isdet?"
"Noooo. Diem. Don't move. Feeling? Enggak? Dashaaar makhluk tidak berperasahaaaaaan"

Dan saya dibilang sebagai makhluk tidak berperasaan.
Atulaaa atu tedih pican.


Romantisme. Cinta.
Rempong amat urusan 2 kata ini.

Pantas saja Plato sampai menyatakan bahwa "love is a serious mental disease".

Baru saja saya kembali terjebak di pembahasan tentang cinta. Kali ini dengan serombongan cewek, yang sebagian dari mereka mengaku sedang galau cinta.

Booo~

Lebih baik saya membaca ulang "Bermain-main dengan Cinta" karya Mas Aten, alias Bagus Takwin. Salah satu dosen Filsafat saya dulu.


"Kak Nia, liat hujan meteor yuk! Kan romantis..."

Hmmm....

***


Untuk kamu yang hobi berburu hujan meteor, ada kegiatan bertema "Have Fun With Science"dari teman-teman Banten Science Day, dengan salah satu agenda melihat hujan meteor.

Acara ini dilaksanakan di Anyer pada tanggal 14-15 Desember 2013.



Tuh!
Buat yang mau berburu hujan meteor, langsung cekidot  ke website mereka yaa...

Yakalik aja ada yang mau ke sana untuk lihat peruntungan kisah percintaan sama pacar, mirip Shan Cai dan Dao Ming Shi itu. Bhihik.


Minta bayaran ke panitianya aaah~


***


The Meteorite
C. S. Lewis


Among the hills a meteorite
Lies huge; and moss has overgrown,
And wind and rain with touches light
Made soft, the contours of the stone.

Thus easily can Earth digest
A cinder of sidereal fire,
And make her translunary guest
The native of an English shire.


Nor is it strange these wanderers
Find in her lap their fitting place,
For every particle that's hers
Came at the first from outer space.

All that is Earth has once been sky;
Down from the sun of old she came,
Or from some star that travelled by
Too close to his entangling flame.

Hence, if belated drops yet fall
From heaven, on these her plastic power
Still works as once it worked on all
The glad rush of the golden shower.



Have a blessed day!

Special Note:
Kamisan ini merupakan salah satu agenda yang baru saya ikuti, bergabung bersama dengan 8 teman lainnya. Saat saya bergabung, sudah memasuki tema ke-8 (berubah setiap pekan). Tulisan dengan tema "Meteor" ini menjadi tulisan kedua saya di agenda Kamisan.