13 November 2013

Masa Kecil, Bullying, dan Anti-Bullying Campaign


Ada satu cerita di masa kecil saya, yang turut menjadi salah satu isu yang saya dalami hingga saat ini. Ada beberapa isu yang mendapat label issues that I concern the most, artinya saya pasti akan semangat sekali membahasnya. Bukan tidak mungkin hingga terbawa emosi jika saya kurang mampu menempatkan diri dengan seharusnya.

Saat saya masih TK, ada satu teman yang pasti saya perhatikan setiap hari. Tidak ada dia di kelas, berarti hari-hari saya kurang asik. Saya mendapatkan kesenangan tersendiri jika melihat dia. Ntahlah. Saya juga bingung alasannya, dan cukup sulit juga untuk mengingat setiap detail saat itu karena pernah terlupakan akibat kesibukan serta kesenangan lain di kehidupan saya selanjutnya.

Kita sebut saja teman saya ini dengan nama Erika.

Erika ini anak yang sangat cantik, pendiam sekali, dan nyaris tidak memiliki teman di kelas. Dia lebih banyak sendiri, berbeda dengan saya dan teman lainnya yang kerap bersama, terutama ketika waktunya bermain. Erika juga sangat mudah menangis. Hampir setiap hari dia menangis dan ini sering membuat kami menjadi tidak sabar menghadapi Erika. Mungkin di pandangan kami saat itu, kalau sudah menjadi anak sekolahan berarti sudah tidak boleh cengeng. Jadi, Erika kami anggap cengeng dan itu memalukan.


Sejak awal Erika diketahui sering menangis, Erika menjadi bulan-bulanan gangguan dari saya dan beberapa teman. Kami, atau lebih tepatnya saya, tidak suka dengan Erika yang sedikit-dikit menangis. 

Tidak bisa mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh guru, Erika menangis. 
Tidak selesai mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh guru, Erika menangis.
Diajak bercanda oleh teman, Erika menangis.

Padahal, guru saya saat itu (mari kita panggil dengan sebutan Bu Rhea) sangat baik. Bu Rhea sangat lembut dan sabar sekali menghadapi kami, bocah-bocah yang cukup berisik di kelas. Bu Rhea juga tidak pernah kasar. Pernah satu kali saya terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan,  saat itu Bu Rhea hanya tersenyum dan segera mengantarkan saya ke tempat saya duduk. Pernah juga saya kesulitan menulis huruf "b" latin - saya memang butuh waktu cukup lama untuk menguasai penulisan huruf tersebut bahkan ketika diajarkan Ibu di rumah - dan Bu Rhea selalu mendampingi saya belajar menulis huruf tersebut di kelas tanpa pernah kehilangan kesabaran. Pernah juga saya terlambat dijemput, dan Bu Rhea menemani saya di sekolah hingga saya dijemput orangtua. Jadi, bagi saya Erika sangat nakal karena membuat Bu Rhea harus menghadapi dirinya yang sering menangis. Kasihan Bu Rhea.

Dasar Erika cengeng!

Teman-teman juga mendukung saya dan sepakat bahwa Erika memang cengeng

Semenjak sepakat bahwa Erika cengeng, saya mengajak teman-teman yang (anggaplah) se-genk dengan saya untuk ngerjain Erika, terutama kalau Erika mulai kumat cengeng-nya. Setiap kali melihat Erika, saya akan cubit dia. Akan semakin saya cubit kalau Erika mulai menangis dengan tujuan supaya Erika berhenti menangis. Begitu terus rutinitasnya. Itulah mengapa akan terasa ada yang kurang jika Erika tidak masuk sekolah karena saya jadi tidak bisa "memperhatikan" apakah Erika hari itu menjadi anak yang cengeng atau tidak.

Bu Rhea bukannya tidak tahu jika saya sering mencubit Erika. Toh saya juga sering mencubit Erika ketika kami sedang berada di kelas. Biasanya, Bu Rhea akan bertanya, "Nia, kamu kenapa mencubit Erika?" dan saya jawab karena Erika nakal atau karena Erika cengeng. Setelah itu, biasanya Bu Rhea akan menenangkan Erika dulu baru kemudian kembali ke saya dan meminta saya untuk tidak mencubit Erika. Bu Rhea bilang, "Dicubit itu sakit, Nia. Itu tidak baik. Jadi, kamu jangan mencubit orang lain ya. Kasihan orang yang kamu cubit". Tapi, saya tetap kekeuh, "Erika itu cengeng Bu. Dia harus dicubit biar berhenti nangis!". 

Bu Rhea hanya tersenyum. 
Bu Rhea tidak pernah marah kepada saya.
Hanya saja, Bu Rhea menjadi semakin sering menghampiri saya saat di kelas. 

Belakangan baru saya berpikir. Mungkin dengan menghampiri atau mendampingi saya di kelas, tepat di sebelah saya, itulah cara Bu Rhea untuk mencegah saya mencubit Erika. Memang benar, selama Bu Rhea ada di sebelah saya, maka saya pasti akan memperlihatkan kepada Bu Rhea bahwa saya anak baik.

Sepertinya saat itu saya cemburu.
Iya. Saya cemburu.

Saya tidak suka jika perhatian Bu Rhea teralihkan ke anak-anak lain, terutama ke Erika yang cengeng itu.


***


Cerita saya dan Erika berhenti ketika saya masuk SD yang berbeda dengannya. Sejak itu saya tidak pernah mendengar kabar tentang Erika. Saya juga tidak tahu apakah Erika masih cengeng atau tidak. Semoga Erika mau mema'afkan saya.

Kenapa saya harus meminta ma'af?

Saat saya mulai belajar tentang Psikologi, spesifik di tema bullying, saya baru teringat kembali dengan Erika dan menyadari bahwa apa yang saya lakukan terhadap Erika bertahun-tahun yang lalu merupakan salah satu bentuk bullying.

Saya pernah membahas tentang bullying di sini.

Bullying is a kind of aggressive behavior. It's unwanted and involves real or perceived power imbalance. That aggressive behavior will be called as bullying depending on what happened and how often it happened. IF the aggressive behavior is repeated or has potential to be repeated overtime, it may be bullying. Bullying includes actions that potentially make the victims suffer, physically and psychologically.

Kalau melihat pendefinisian itu, jelas sekali bahwa tindakan mencubit  yang sering saya lakukan ke Erika termasuk bullying. Saya merasa lebih "super" dibanding Erika, lebih kuat dibanding dia yang saya anggap cengeng, sehingga saya merasa pantas "mendidik" Erika supaya tidak cengeng. Bukannya sembuh, Erika justru semakin sering menangis akibat ulah saya. Saya jadi terpikir, Erika termasuk sering tidak masuk kelas dengan alasan sakit, bisa jadi itu karena dia tidak mau bertemu saya atau teman lain yang dianggapnya nakal dan sering menyakiti dirinya. Erika mungkin terlalu baik, naif, dan polos sehingga memendamnya sendiri.

Saya tidak tahu apakah tindakan saya yang sering mencubit Erika berdampak signifikan bagi kehidupannya. Saya juga tidak tahu apakah Erika terus menjadi korban dari pelaku-pelaku lainnya setelah saya. Tentu saya berharap tidak. Tentu saya berharap Erika baik-baik saja, secara fisik maupun psikologis. Ngeri membayangkan kemungkinan apa saja yang berdampak buruk bagi Erika akibat ulah saya  itu.

Pengalaman saya dengan Erika ditambah dengan pengalaman saya berhadapan dengan korban maupun pelaku bullying lainnya yang membuat saya peduli dengan isu ini. Jadi, saya mengajak pembaca kisah ini untuk juga peduli dengan kasus bullying, peka dengan isu bullying, serta mau berusaha mengajak orang-orang untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap isu bullying. Paling tidak untuk menghindarkan orang-orang terdekat kita dari menjadi korban atau pelaku bullying.

Dan yang paling penting, saya tidak ingin orang lain melakukan apa yang pernah saya lakukan terhadap Erika. Bukan contoh yang baik. Bukan pula kenangan yang membanggakan. Apa enaknya memiliki kenangan sebagai pelaku bullying? Tidak ada. Justru saya merasakan penyesalan seumur hidup dan selalu berharap semoga Erika baik-baik saja. Saya berpikir, jka Erika sehat dan baik-baik saja maka akan mengurangi beban rasa bersalah saya terhadap dia, terutama bila (mungkin) suatu saat kami bertemu kembali. Bahkan, saya berharap Erika lupa dengan saya (dan perilaku bullying saya terhadap dia). Dengan demikian, artinya Erika tidak mengalami masalah apapun terkait cubitan-cubitan yang saya berikan kepadanya dulu. Semoga.

Bullying dapat terjadi di mana saja, kapan saja. Siapapun, dari segala usia, dapat menjadi korban maupun pelaku. Dampak bullying tidak main-main, bukan hanya fisik yang mungkin terlalu tetapi juga psikis. Menyembuhkan sakit secara psikis itu jauh lebih sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan mungkin seumur hidup. Inilah yang membuat saya cukup takut memikirkan dampak tindakan saya ke Erika.


***




Berikut ada beberapa video yang terkait dengan #AntiBullyingCampaign.

Cyber-bully. 
Mengangkat tema tentang online bullying dan dampaknya.



Strain.
Silent movie yang mengangkat tema tentang anti-bullying.



It Matters: Stand Up, Speak Up!
Video bagus yang menjelaskan tentang dampak bullying yang tidak mengenal usia.




Please do support #AntiBullyingCampaign.

Cheers!
Have a blessed-day!

Special Note:
Kamisan ini merupakan salah satu agenda yang baru saya ikuti, bergabung bersama dengan 8 teman lainnya. Saat saya bergabung, sudah memasuki tema ke-8 (berubah setiap pekan) jadi saya menulis dengan tema "Masa Kecil" ini sebagai tulisan perdana di agenda Kamisan.