06 June 2012

[THOUGHTS] A Word Is A (S)word

A word is a (s)word.
Children is a fast learner.
Children is a good imitator.

Beberapa minggu yang lalu, saya pernah membahas mengenai kisah ini di twitter pribadi saya. Sumber informasinya dari seorang teman. Teman saya ini tinggal di sebuah kos di daerah Barel. Buat kamu yang tinggal di seputaran kampus UI Depok pasti tahu dengan pasti daerah mana yang saya maksud ini, hehe.

Ibu kos si teman ternyata selalu bersikap sangat kasar kepada anaknya. Pendapat ini awalnya dilontarkan oleh teman saya. Tadinya saya sempat tidak begitu mempercayai ucapan si teman, mengingat teman saya ini termasuk orang yang sangat halus perasaannya dan juga selalu mengucapkan kata-kata dengan lembut. 

Suatu hari, saya menginap di kos teman ini dan mendengar serta menyaksikan secara langsung bagaimana si Ibu kos memperlakukan anaknya. Dari situ saya sepakat bahwa si Ibu kos memang sangat sangat kasar saat bersikap ke anaknya.

Anak si Ibu kos baru berusia 7 tahun. Ibu kos ini selalu berteriak dan mengucapkan kata-kata kasar setiapkali si Ibu menganggap anaknya sulit diatur dan diarahkan. Teriakan dan kata-kata kasar ini paling sering muncul ketika si Ibu mengajarkan anaknya saat anak mengerjakan PR di malam hari. Si Ibu seringkali mengatakan ini "bego lu! masa gitu aja ga bisa?!" ketika anaknya kesulitan mengerjakan PR.

Suatu hari, teman saya kembali bercerita. Kali ini dia bercerita bahwa si anak yang beraksi. Jadi, saat itu si Ibu tidak bisa mengerjakan suatu pekerjaan rumah tangga dan hal ini dilihat oleh si anak. Tiba-tiba, si anak berteriak ke Ibunya "Mama bego! masa gitu aja ga bisa?!".

A word is a (s)word.
Children is a fast learner.
Children is a good imitator.

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita di atas?

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa "a word is a sword".
Buat saya, ini memang benar.

Dulu, Ibu saya selalu mengatakan supaya kita harus menjaga ucapan yang keluar dari lisan kita. Sebuah ucapan itu juga berarti sebuah do'a. Jika kita mengucapkan hal-hal baik, maka hal-hal baik juga yang akan menghampiri kita. Begitu juga sebaliknya. Sebuah ucapan bisa menjadi seperti pedang tajam yang menyakitkan ketika kata yang terucap adalah kata-kata yang buruk.

Masalahnya, sebuah kata atau ucapan, baik atau buruk, bisa membekas pada orang yang mendengar atau menerima kata dan ucapan tersebut. Jadi, bayangkan jika kita memberikan bekas menyakitkan pada seseorang, terutama pada anak-anak yang pada dasarnya merupakan pembelajar cepat dan peniru ulung. Dampaknya bisa jadi lebih mendalam daripada jika diberikan kepada orang dewasa yang sudah memiliki cara-cara tertentu dalam mengatasi masalah. Anak-anak akan menyerap semua informasi yang mereka dengar, lihat, dan rasakan. Sementara orang dewasa bisa memilah mana informasi yang ingin mereka dengar, lihat, atau rasakan.

Pada kasus di atas, bisa jadi si anak telah merasakan luka yang mendalam dan menyakitkan ketika Ibunya sering mengatakan bahwa ia "bego" setiapkali ia tidak berhasil menjawab soal-soal  atau PR. Pedang Ibunya mungkin saja begitu tertancap di dalam hatinya sehingga kata "bego" merupakan kata yang akan muncul di pikirannya setiapkali melihat dirinya atau orang lain tidak bisa mengerjakan sesuatu. Jika memang ini yang terjadi, maka tidak mengherankan apabila suatu hari giliran si anak yang mengatakan "bego" ketika melihat Ibunya tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Beberapa minggu lalu, saya pernah menuliskan kalimat-kalimat ini di sini.
Anak-anak adalah perekam yang baik.
Anak-anak juga peniru yang sangat baik.
Ajarkan mereka kebaikan, maka mereka akan merekam kebaikan itu dengan sempurna.
Jangan ajarkan mereka keburukan, karena mereka bisa meniru keburukan itu dengan lebih buruk.
Ucapkan kata-kata yang baik kepada mereka dan mereka akan mengingat kata-kata baik itu dan membalas melalui ucapan baik yang sempurna.
Jangan ucapkan kata-kata yang buruk kepada mereka, karena mereka bisa meniru kata-kata buruk itu dan membalas dengan ucapan buruk yang lebih buruk.

Ada lagi sebuah ungkapan:
As you sow, so shall you reap.
Your deeds, good or bad, will repay you in kind.
Lagi-lagi, saya sangat setuju dengan pernyataan barusan.
Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Perbuatan kita, baik ataupun buruk, pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal.



Lesson learned untuk saya, kamu, kita, semuanya:
Hati-hati menjaga lisan dan perbuatan, apalagi jika itu ditujukan kepada anak-anak.


Cupsmuach! *never-ending ketjups untuk Ibu saya dan semua anak-anak di dunia*
Have a blessed day!