07 May 2012

[THOUGHTS] Ayah

Tulisan ini juga dipublikasikan pertama kali pada tanggal 20 Oktober 2008 dalam bentuk note di facebook pribadi saya, di sini.

Here we go...

===


Ayah mungkin bukan Ayah terbaik sedunia. Namun, bagi saya, Ayah tetap sempurna. Ayah memang galak – sering marah untuk hal yang bagi kami di rumah adalah hal sepele. Bahkan, terkadang kami menganggap Ayah cenderung egois karena mengharuskan apa yang baik bagi dirinya yang wajib hukumnya untuk dituruti.

Tapi, di balik semua itu sebenarnya tersimpan kelembutan seorang Ayah, terutama dari apa yang saya alami.Ayah bisa menangis jika saya tidak ada di rumah. Ayah bisa menjadi khawatir berlebihan saat mendengar dan mengetahui saya sakit. Ayah bisa menjadi sangat cerewet jika mengetahui apa yang butuhkan ternyata tidak dipenuhi oleh Ibu. Saat kelas 1 SMA, handphone mulai booming. Teman-teman saya telah banyak yang memiliki. Menyadari hal ini, Ayah juga menawarkan saya, apakah saya mau atau tidak. Namun, demi mengingat bahwa hidup saya dapat terasa lebih terkekang jika saya memiliki handphone karena Ayah dan Ibu akan dapat terus memonitor keberadaan saya, dengan berat hati saya menolak tawaran tersebut. Baru saat saya kuliah, saya bersedia dibelikan handphone karena jarak Bandar Lampung – Depok lumayan jauh, serta untuk memudahkan komunikasi antara saya dan keluarga.

Selama Ayah ada rezeki, apapun yang saya butuhkan akan berusaha dipenuhi. Bahkan, untuk urusan kebutuhan saya sebagai wanita, Ayah lebih cepat memberikan dibanding Ibu. Ayah juga orang pertama yang menentang habis-habisan rencana saya untuk bekerja part time sambil kuliah. Saya tidak ingin terlalu membebani Ayah dan Ibu untuk memberikan banyak uang bulanan kepada saya. Saya menyadari bahwa kebutuhan saya banyak dan tidak mungkin untuk selalu meminta. Saya merasa terlalu malu untuk melakukan itu. Namun, bagi Ayah, tugas saya di Depok hanya untuk kuliah, tidak perlu bekerja. Jika saya merasa kurang, saya cukup bilang ke Ayah dan Ibu. Walaupun terasa berat, saya terpaksa menuruti keinginan ini. Meskipun demikian, saya tidak kehilangan akal. Dilarang bekerja membuat saya mengajukan beberapa aplikasi beasiswa untuk menambah pemasukan. Jadi, walaupun sebenarnya uang bulanan dari Ayah dan Ibu tidak besar, bahkan sering kurang, saya tidak terlalu khawatir. Memang, Ayah dan Ibu sering bertanya keadaan keuangan saya. Saya selalu jujur jika memang sedang ada atau tidak ada uang. Hanya saja, saya tidak memaksa Ayah dan Ibu untuk memberikan tambahan uang bulanan jika saya merasa cukup dengan pendapatan saya dari beasiswa. Baru, di semester 7, Ayah dan Ibu akhirnya memperbolehkan saya part time. Itupun setelah berkali-kali saya katakan bahwa pekerjaan saya tidak akan mengganggu waktu kuliah. Masing-masing pekerjaan hanya saya lakukan sekali dalam seminggu. Pendapatan yang saya dapatkan lumayan padahal waktu kerja tidak banyak. Lelah yang saya rasakan bukan karena pekerjaan melainkan karena jarak tempuh Depok – Jakarta dan Depok – Tangerang yang lumayan jauh dan ditambah macet.

Sebaliknya, Ayah dapat menutupi kegundahan hatinya dari diri saya. Ayah bisa menutupi rasa sakit yang dideritanya dari diri saya. Ayah bisa menutupi kesedihannya dari diri saya. Justru ini yang membuat saya semakin menyesal karena merasa tidak menjadi anak yang cukup peka terhadap keadaan orangtuanya. Hal yang paling membuat saya merasa sesak adalah saat Ayah sakit menjelang saya semester 3. Saat itu, saya memutuskan untuk mengambil semester pendek serta ikut serta dalam kepanitiaan di kampus. Ternyata, di masa-masa itulah Ayah sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit selama 1 minggu. Saya baru mengetahui sakitnya Ayah setelah saya selesai UAS semester pendek dan pulang ke Bandar Lampung. Terus terang, saya sampai menangis melihat keadaan Ayah yang terlihat sangat kurus, mungkin terkurus selama saya mengenal Ayah. Saya marah ke Ayah dan Ibu karena tidak ada yang memberitahu saya. Penjelasan yang saya terima memang masuk akal. Ayah dan Ibu tidak ingin memberitahu saya karena saya sedang menghadapi UAS semester pendek. Penjelasan inilah yang membuat saya merasa sakit, merasa tidak berguna, merasa tidak berharga sebagai anak. Memang, saya sempat merasa curiga ada sesuatu terjadi pada Ayah. Saya sempat bermimpi tentang Ayah yang mendapat musibah. Saat menjalani UAS pun saya tidak tenang karena memikirkan Ayah sehingga saya tidak dapat berkonsentrasi penuh ketika itu. Selain itu, saya juga curiga terjadi sesuatu di rumah karena tidak biasanya keluarga di rumah tidak ada yang mengucapkan selamat pada ulang tahun saya saat itu. Padahal, tahun sebelumnya, di masa saya masih menjalani masa pengenalan kampus sebagai mahasiswa baru, keluarga sengaja menelepon subuh hanya untuk mengucapkan selamat. Ketika di rumahlah saya baru sadar bahwa hari Jum’at tanggal 20 Agustus 2004 merupakan hari ketika Ayah keluar dari rumah sakit sehingga keluarga sibuk mengurus Ayah. Apalagi, Ayah masih lemah.

Penyesalan terus saya rasakan hingga saya memutuskan tidak akan pernah mengambil semester pendek lagi. Waktu yang banyak tersedia di masa liburan menjelang semester pendek harus banyak saya habiskan di rumah. Minimal, pada saat itu saya harus berada di rumah selama sebulan. Dan itu saya buktikan di tahun-tahun berikutnya. Meskipun saya ada kesibukan di kampus, saya tetap meluangkan waktu hingga lebih dari sebulan untuk berada di rumah.

Selain itu, dibalik pembawaan Ayah yang terkesan sangar, Ayah bisa mengekspresikan perasaan sayangnya kepada saya. Ayah juga masih menganggap saya sebagai anak yang masih sekolah dan belum bekerja, hingga jika saya ingin keluar rumah masih sering diberi uang saku, apalagi jika menjelang saya harus kembali ke Jakarta. Walaupun, terkadang jika mood saya sedang tidak baik, saya merasa terganggu dengan wujud ekspresi tersebut. Misalnya, saat saya sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba Ayah menggoda saya.

Dari semua wujud sayang Ayah yang saya ketahui, saya paling senang jika Ayah memeluk dan mencium pipi saya. Rasanya mungkin aneh, terutama saat dicium, karena pipi Ayah terasa kasar bekas kumis dan jenggot yang baru dicukur. Saya sering mendapat perlakuan ini karena di rumah ada kebiasaan mencium tangan dan pipi Ayah dan Ibu jika saya pamit akan keluar rumah.

Ada satu hal yang saya pelajari dari Ayah dan Ibu dan kelak saya berharap jika saya berkeluarga, saya tetap dapat menjalankan kebiasaan ini. Ayah membiasakan kami anak-anaknya untuk shalat berjamaah, paling tidak di saat Maghrib. Ayah akan sangat marah jika saya dan adik-adik tidak mau shalat berjamaah. Mungkin, hanya di shalat Maghrib ini kami bisa berjamaah. Di waktu shalat lainnya kami tidak sempat. Saat Ayah masih bekerja (sekarang beliau telah pensiun), Ayah harus berangkat subuh, bahkan sebelum anak-anaknya (terutama saya) bangun tidur. Di waktu dzuhur atau Ashar kami di luar rumah. Di waktu Isya, Ayah biasa di musholla dekat rumah karena beliau menjabat sebagai Ketua di sana. Selain itu, Ayah dan Ibu juga membiasakan membaca surat Yasin sehabis shalat. Jadi, paling tidak, setiap hari setelah shalat Maghrib kami membaca Yasin bersama.

Memang, untuk masalah agama, perilaku, tindakan, serta cara berpakaian, Ayah dan Ibu sangat berperan dalam pembentukan pribadi saya saat ini.

Saya ingat, saat masih SD, saya pernah tidak mau berangkat ke sekolah karena masih belum bisa hapalan surat pendek untuk pelajaran Agama. Saat itu, Ayah sangat marah dan memaksa saya untuk tetap ke sekolah. Bagi Ayah, itu salah saya karena tidak menjalankan kewajiban dengan baik. Saya pun ingat, Ayah banyak membantu di pelajaran Agama. Saat mendapat tugas untuk membuat ceramah shalat Jum’at, Ayah sengaja ceramah di depan saya dan saya tinggal mencatat apa yang diucapkan Ayah. Saat mendapat tugas mencari sejarah agama Islam, Ayah mencarikan dari buku tafsir Al-Qur’an milik Ayah serta mencari dari buku Ayah yang tulisannya bahkan tidak saya mengerti karena menggunakan huruf Arab gundul (padahal pengejaan kalimatnya dalam bahasa Indonesia).
Ayah juga menjaga sikap saya sebagai perempuan. Ayah sering marah jika saya duduk dengan kaki naik ke atas kursi. Ayah bisa tidak segan mengatakan, sekalian saja saya ikat kaki saya di langit-langit rumah jika saya berkeras tetap menaikkan kaki ke atas kursi. Ayah juga tidak suka jika saya membantah perkataan orangtua, padahal jelas itu demi kebaikan saya.

Untuk masalah berpakaian, Ayah juga tidak suka jika saya berpakaian terbuka, apalagi memakai baju tanpa lengan. Ayah tidak segan memaki dan menghina orang yang berpakaian terbuka seperti itu. Pernah, saya memergoki Ayah menghina seorang perempuan dengan mengatakan, untuk apa pakai baju you can see? Terlihat cantik juga tidak. Memang, Ayah tidak pernah memaksa saya untuk berpakaian serba tertutup dan memakai jilbab. Tapi, Ayah orang pertama yang langsung setuju saat saya mengatakan ingin memakai jilbab. Ini berbeda dengan Ibu yang saat itu terkesan masih meragukan saya.

Ayah pun sangat tegas dengan prinsipnya. Jika saya dan adik-adik berbuat kesalahan, Ayah tidak segan menegur dan memarahi. Seingat saya, dulu saya yang paling sering melakukan kesalahan. Apabila Ayah sudah sangat marah, bukan hanya marah yang akan diterima kami, tapi kami akan disidang. Ini memang istilah saya sendiri karena saat Ayah benar-benar marah dan kecewa, Ayah akan mengumpulkan seluruh penghuni rumah, walaupun yang bersangkutan tidak bersalah. Saya ingat, adik-adik saya pernah sangat marah ke saya. Penyebabnya, karena kesalahan saya, mereka semua harus dimarahi juga. Waktu itu, sepulang bimbingan belajar saat SMA, saya tidak langsung pulang ke rumah. Saya dan pacar saat itu, pergi ke Gramedia terlebih dahulu untuk membeli alat tulis sebelum pulang ke rumah, tanpa bilang ke Ayah dan Ibu. Sebenarnya, saya tidak pulang terlalu malam. Bimbingan belajar selesai pukul 17.45 WIB dan saya tiba di rumah pukul 19.00 WIB. Namun, karena menurut Ayah seharusnya sebelum pukul 18.30 WIB saya sudah sampai di rumah, saya dimarahi karena pulang telat. Saat disidang, Ayah mengatakan bahwa saya seharusnya tahu peraturan di rumah. Bahkan, pukul 18.00 WIB, saya harus sudah sampai di rumah karena jarak tempuh rumah – tempat les tidak jauh, tidak ada kemacetan, dan saya diantar pacar menggunakan motor. Saya seperti sudah melakukan kesalahan fatal. Ayah menganggap saya lebih mementingkan pacaran dibanding pendidikan dan peraturan di rumah. Saya diancam, jika melakukan kesalahan serupa lagi, saya tidak boleh lagi ikut bimbingan belajar dan pacaran. Pulang sekolah harus sudah di rumah. Itu artinya, jika biasanya saya selesai sekolah pukul 13.45 WIB, maka pukul 14.00 WIB saya harus sudah di rumah. Jika itupun dilanggar, maka saya tidak diperbolehkan sekolah lagi.

Terlihat keras bagi saya dulu. Apalagi, jika Ayah sudah mengeluarkan ultimatum, maka seluruh penghuni rumah wajib mematuhi, termasuk Ibu saya. Ayah sangat memegang prinsip. Makanya, saya pun sadar saya harus bilang iya. “Iya Ayah”. Jika tidak, konsekuensi buruk harus saya tanggung sendiri. Alhasil, sejak saat itu, sebisa mungkin saya tidak telat pulang ke rumah. Jika ada kegiatan sepulang sekolah, saya harus menelepon ke rumah untuk memberi tahu Ibu. Jika tidak ada kegiatan sepulang sekolah, pukul 14.00 WIB saya harus di rumah. Pernah sekali, Ayah tidak masuk kerja dan saya baru sampai rumah pukul 14.30 WIB sepulang sekolah. Telat 30 menit dari waktu yang ditetapkan dan saya dimarahi Ayah. Saya langsung diinterogasi. Padahal, sepenuhnya bukan kesalahan saya. Saya harus berebut angkutan umum dengan orang-orang banyak, bukan hanya dengan teman-teman satu sekolah karena di dekat sekolah saya ada 4 SMA dan SMK lainnya.

Untuk urusan waktu pulang sekolah, Ibu pun memegang teguh aturan ini. Sekali saya melakukan kesalahan baru pulang Maghrib dan tidak memberitahu bahwa saya harus mengerjakan makalah bersama anggota kelompok sewaktu SMA. Ibu langsung marah. Beliau bilang, anak ayam pun jika sudah waktunya pulang akan kembali ke kandang tanpa harus dipaksa oleh induknya. Lalu, mengapa saya bisa kalah sama anak ayam?

Sekali lagi, saya sadar, apapun perlakuan yang diberikan Ayah untuk saya, saya senangi maupun tidak, itulah wujud cinta seorang Ayah kepada anaknya. Saya tidak berani membayangkan jika Ayah tidak pernah memperlakukan saya seperti yang biasa beliau lakukan sejak saya kecil. Pasti, saat ini, saat saya sadar seberapa besar cinta Ayah kepada saya, saya pasti akan merasa Ayah tidak pernah mengharapkan keberadaan saya, tidak pernah mencintai saya sebagai anak Ayah, tidak pernah peduli nasib saya, jika Ayah bersikap cuek dan tidak mau ambil pusing dengan apa yang saya alami.

Bagi saya, keberadaan Ayah sama penting dengan keberadaan Ibu. Jika disuruh memilih, saya pasti akan merasa sangat bingung. Saya tidak pernah berharap harus memilih salah satu di antara Ayah atau Ibu. Keduanya orangtua saya. Keduanya orang yang saya sayang dan menyayangi saya. Rasa cinta kepada Ayah sama dengan rasa cinta saya kepada Ibu dan saya bersyukur tetap memiliki keduanya utuh. I Love You, Ayah.

===

Tulisan awalnya tidak ada tambahan quote tentang Ayah. Jadi, sekarang mau saya tambahkan quote juga. Quote ini pernah saya publikasikan di akun twitter saya di sini, pada tanggal 23 Oktober 2011. Lagi-lagi, ini tulisannya Opa Gibran Khalil Gibran. Waktu itu, subuh-subuh saya dibikin galau karena kangen Ayah. Jadinya malah curhat lewat twitter, hahaha.


Ini dia tulisan Opa Gibran, about father.


I admired him for his power - his honesty and integrity.

It was his daring to be himself, his outspokenness and refusal to yield, that got him into trouble eventually.
If hundreds were about him, he command them with a word.

Cupsmuach! *ketjup sayang Ayah*
Have a blessed day!