26 May 2012

[FACTS] Kenali Rhesusmu

Sumber: Komunitas Rhesus Negatif Indonesia.

Kali ini mari kita mulai dengan pertanyaan, "Apa itu Rhesus?".

Rhesus (Rh) adalah salah satu bentuk dari sistem pengelompokkan darah pada manusia. Secara klinis, pengelompokkan Rh juga sangat penting, sama pentingnya dengan pengelompokkan berdasarkan golongan darah ABO. 

Secara umum, Rh terbagi menjadi Rh positif (Rh+) dan Rh negatif (Rh-). Hal yang membedakan Rh+ dan Rh- adalah antigen. Antigen merupakan kandungan karbohidrat dan protein di dalam sel darah manusia. Apabila di dalam sel darah terdapat antigen, maka disebut Rh+. Sebaliknya, jika tidak terdapat antigen di dalam sel darah, maka disebut Rh-.

Sebagian besar manusia memiliki Rh+. Sangat sedikit sekali manusia yang memiliki Rh-, sehingga mereka biasanya mengalami kesulitan di saat membutuhkan donor darah. Di Indonesia, sebagian besar penduduknya juga memiliki Rh+. Biasanya, yang memiliki Rh- adalah mereka yang memiliki garis keturunan Kaukasian.


Nah, "Mengapa pengetahuan mengenai Rhesus ini penting?".

Perlu diketahui bahwa masalah akan timbul apabila seorang wanita yang memiliki Rh- menikah dengan laki-laki yang memiliki Rh+. Perbedaan Rh ini dapat menjadi pemicu utama terjadinya masalah di saat si wanita mengandung di kehamilan kedua dan seterusnya. Dengan catatan, semua anak yang dilahirkan memiliki Rh negatif.

Pada kehamilan pertama, apabila seorang Ibu dengan Rh- mengandung janin yang memiliki Rh+, biasanya proses kehamilan masih berlangsung dengan lancar. Hal ini dikarenakan pada kehamilan pertama, darah janin di dalam kandungan tidak banyak yang masuk ke dalam peredaran darah Ibu.  Kemungkinan untuk terbentuk antibodi/antirhesus (sistem imun) pun sangat kecil. Walaupun tetap ada kemungkinan tubuh Ibu membentuk antibodi/antirhesus, jumlahnya tidak banyak, sehingga bayi dapat dilahirkan dengan selamat dan sehat. 

Pembentukan antibodi/antirhesus pada tubuh Ibu di kehamilan pertama baru akan benar-benar terjadi saat proses persalinan/kelahiran (maupun keguguran) anak pertama berlangsung. Pada saat ini berlangsung, darah janin akan masuk ke dalam peredaran darah Ibu ketika plasenta lepas. Akibatnya, pembuluh-pembuluh darah yang menghubungkan dinding rahim dengan plasenta akan terputus juga, sehingga darah janin (sel darah merah) akan lebih banyak lagi yang masuk ke dalam peredaran darah Ibu. "Percampuran" antara darah Ibu dan janin inilah yang pada akhirnya membuat tubuh Ibu membentuk antibodi/antirhesus. Pasca proses persalinan pun, tubuh Ibu akan dirangsang untuk membentuk antibodi/antirhesus lebih banyak lagi. Meskipun demikian, tidak akan berdampak pada janin di kehamilan pertama karena terbentuknya antibodi/antirhesus baru terjadi setelah bayi dilahirkan. Namun, kondisi ini akan sangat berbeda pada saat si Ibu mengandung untuk yang kedua kali dan seterusnya.

Pada kehamilan kedua dan seterusnya, Ibu dengan Rh- akan mendapatkan masalah selama proses kehamilan janin dengan Rh+ berlangsung. Antibodi/antirhesus yang sebelumnya telah terbentuk di dalam tubuh Ibu akan secara otomatis menembus plasenta dan menyerang keberadaan sel darah merah pada janin. Keberadaan janin dengan Rh+, yang memiliki antigen, dianggap sebagai benda asing. Secara alamiah, antibodi/antirhesus ini akan menyerang janin dengan tujuan untuk melindungi tubuh Ibu. Namun, kadar antibodi pada setiap Ibu berbeda-beda. Masalah benar-benar akan muncul apabila jumlah antibodi/antirhesus yang terbentuk pada Ibu memiliki kadar yang tinggi. Apabila kadar antibodi/antirhesus pada Ibu tinggi, maka penyerangan ini akan berdampak buruk bagi keberadaan janin, dimana sel-sel darah merah pada janin akan mengalami hemolisis (pecah). Dampak terburuk yang terjadi yaitu menyebabkan kematian bagi janin. Paling "minimal", meskipun janin berhasil bertahan dan dilahirkan, bayi  akan mengalami anemia, pembengkakan hati, jaundice (kuning), atau gagal jantung. Proses kehamilan harus selalu dipantau oleh Dokter untuk terus mengontrol gejala-gejala penderitaan janin akibat jumlah sel darah merahnya yang menjadi rendah setelah diserang oleh antibodi/antirhesus Ibu. Terkadang, proses persalinan pun harus dipercepat, selama kondisi janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan di luar rahim.


So, "whattodo?".
  1. Kenali Rhesusmu sedini mungkin, terutama bagi kita yang wanita. Alhamdulillah, saya AB+. Walaupun golongan darah AB termasuk langka karena jumlah populasinya yang sangat sedikit di seluruh dunia, namun tidak selangka golongan darah AB-. Populasi manusia dengan golongan darah AB banyak ditemukan di Jepang, Korea, dan sebagian wilayah Cina. Fyi, golongan drah O+ adalah golongan darah dengan populasi paling banyak di seluruh dunia. Jadi, kamu semua yang bergolongan darah O+ harus lebih banyak bersyukur dibandingkan dengan saya dan teman-teman lainnya yang bergolongan darah AB, hehe. Cara bersyukur yang dapat kita lakukan, salah satunya dengan menjadikan donor darah sebagai lifestyle kita. Donor darah tidak akan pernah merugikan kita. Justru membantu kita untuk melakukan regenerasi darah di dalam tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sehat. 
  2. Lakukan general medical checkup sebelum menikah. Hal ini terdengar sangat klasik, namun sebenarnya sangat penting. Paling tidak, pasangan dapat saling mengetahui kondisi kesehatan masing-masing. Apabila terdapat resiko medis, terutama terkait dengan penyakit-penyakit yang dapat diturunkan secara genetis, pasangan tersebut dapat saling membantu untuk melakukan tindakan preventif. Alhamdulillah, kalau memang keduanya sehat. Untuk pembahasan kali ini, general medical checkup ini penting untuk saling mengetahui Rh masing-masing pasangan. Apabila tidak sempat dilakukan sebelum menikah, segera lakukan setelah menikah. Paling mentok, lakukan segera di saat kehamilan diketahui. Apabila kamu adalah seorang wanita dengan Rh- dan menikah dengan laki-laki dengan Rh+, maka Dokter akan melakukan tindakan pencegahan terbentuknya zat antibodi/antirhesus dengan memberikan obat anti-Rhogama Globulin (RhoGAM) atau Rh Immunuglobulin ketika kamu mengandung untuk pertama kalinya. RhoGAM ini akan disuntikkan ke kamu ketika usia kehamilan 28 minggu atau saat proses persalinan di kehamilan pertama ini berlangsung. Apabila Rhesus kamu baru diketahui usai proses persalinan di kehamilan pertama, maka sebaiknya suntikan RhoGAM paling maksimal dilakukan 72 jam pasca persalinan. RhoGAM ini efektif bekerja selama 12 minggu, setelah itu kamu harus diberikan suntikan lagi supaya tidak mengalami masalah di kehamilan kedua dan seterusnya. Kondisi terburuk adalah kalau tidak pernah aware dengan Rhesus kamu dan tidak pernah menyadari kalau kamu adalah seorang wanita dengan Rh-. Di kehamilan pertama kamu mungkin akan menjalani persalinan dengan baik dan anak kamu dilahirkan dengan selamat dan sehat. Namun, kamu mungkin akan kehilangan calon anak kamu di kehamilan-kehamilan berikutnya.


Jadiiii, yuuukk kita sama-sama kenali Rhesus kita sedini mungkin.
Semua demi kebaikan kita bersama.

Kalau kamu ingin lebih mengetahui informasi mengenai Rh-, kamu bisa langsung follow twitter Komunitas Rhesus Negatif Indonesia.

Cupsmuach! *ketjup semua admin rhesusnegatifID*
Have a blessed day!