22 April 2012

Movie Features : Part One

Dulu saya sempat membuat daftar film-film bertema Psikologi. Tujuannya untuk memudahkan saya mencari film yang dibutuhkan saat ingin mengetahui masalah-masalah atau isu-isu terkait dengan Psikologi. Ada kalanya akan lebih mudah untuk mengenal lebih dalam tentang suatu kondisi psikologis melalui film *bilang aja deh kalau alasan sebenarnya karena malas baca textbook Psikologi yang memang terkenal luar biasa tebalnya itu, haha.

Sayangnya saya lupa darimana saja mendapatkan sumber informasinya. Maappiinn, di sini saya hanya akan mencantumkan judul film-nya. Untuk review atau spoiler jalan cerita, silakan berguru pada Mbah Gugel sajaah, hehe.

Saya juga akan mencoba memberikan penjelasan singkat mengenai gejala-gejala yang ditunjukkan oleh masing-masing isu / masalah terkait untuk memudahkan kalian (siapapun yang mau meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini) mengetahui gambaran dari masing-masing tema. Mudah-mudahan penyampaian saya cukup bisa dimengerti. Sumber penjelasan kalau bukan dari berbagai textbook atau jurnal Psikologi yang ada di kamar saya, yaa berarti dari berbagai tulisan yang jadi tugas-tugas kuliah saya selama ini, hehehe.

Kalau males untuk menonton film, coba buka-buka Youtube aja. Kadang kita menemukan tayangan dokumenter yang menjelaskan dan menunjukkan simptom-simptom dari gejala psikologis tertentu, langsung dari penderita-nya. Kalau beruntung, juga bisa mendapatkan penjelasan ilmiah dari sang ahli-nya.

Oke, ini dia daftarnya. 



Tema Schizophrenia

Orang awam biasanya mengenal penderitanya sebagai "orang gila". Makna sebenarnya siih bukan begitu. Gambaran umum penderita schizophrenia adalah mengalami kombinasi dari 3 simptom utama:
  • simptom positif, yang ditandai dengan adanya halusinasi (mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi), delusi (meyakini sesuatu yang umumnya tidak realistis dan tidak logis), dan pikiran yang cepat sekali berubah-ubah dan berbalapan (racing thought).
  • simptom negatif, yang ditandai dengan adanya sikap apatis, kurangnya emosi, dan fungsi sosial yang kurang atau tidak konsisten. 
  • simptom kognitif, yang ditandai dengan adanya jalan pikiran yang tidak teratur (disorganized thought), sulit untuk berkonsentrasi dan mengikuti instruksi yang diberikan kepadanya, sulit menyelesaikan tugas, dan memiliki masalah pada memori.

Ada beberapa jenis schizophrenia, yaitu:
Simplex Schizophrenia
Penderita jenis ini adalah yang biasanya dikenal orang awam sebagai "orang gila". Jenis ini merupakan jenis schizophrenia yang terburuk, paling sulit untuk membaik karena biasanya tidak diketahui penyebabnya dan sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Mereka seringkali terlihat di jalanan dan tidak terawat.

Paranoid  Schizophrenia
Penderitanya sering terlihat menakutkan karena biasanya mereka  menunjukkan sikap marah atau waspada yang berlebihan. Sikap-sikap ini muncul karena mereka kerap mendengar suara-suara aneh (bentuk dari halusinasi auditorik) serta mengalami delusi tentang penganiayaan / penyiksaan atau konspirasi tertentu. Penderita jenis ini masih bisa berinteraksi dengan orang lain, masih mampu untuk bekerja, dan bisa melakukan fungsi-fungsi sosial lainnya.

Disorganized  Schizophrenia
Sesuai dengan namanya, penderita  schizophrenia  jenis ini mengalami pikiran-pikiran yang sangat tidak beraturan. Mereka juga tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari, walaupun aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang rutin dilakukan, seperti tidak mampu berpakaian serta tidak bisa mandi dan sikat gigi sendiri.

Hebephrenic  Schizophrenia
Penderitanya akan berperilaku seperti anak kecil, sering tersenyum sendiri tanpa alasan, melakukan gerakan-gerakan aneh, berbicara yang cenderung ngawur dan tidak jelas, serta memiliki emosi yang datar.

Catatonic  Schizophrenia 
Penderitanya memiliki gejala khas pada aktivitas dan gerakan-gerakan tubuh. Misalnya, melakukan perpindahan posisi tubuh tanpa henti, berlebihan, dan tidak terkendali. Terkadang mereka juga tidak mampu untuk melakukan mobilitas atau pergerakan, contohnya terus menerus berdiri seperti patung. Mereka juga bisa  menunjukkan postur tubuh aneh, sesuai dengan bagaimana orang lain mengatur sikap tubuh mereka terakhir kali, dan tanpa diubah oleh mereka.

Undifferentiated Schizophrenia
Biasanya penderitanya dikategorikan di dalam jenis ini karena mereka menunjukkan simptom schizophrenia, namun simptom-simptom tersebut tidak terlalu terbentuk dan cukup spesifik untuk masuk ke dalam diagnosa schizophrenia, meskipun gejala yang ditunjukkan oleh penderitanya sudah berlangsung lama dan terus menerus muncul. Terkadang penderita jenis ini didiagnosa sebagai penderita Mixed Clinical Syndrome.

Residual Schizophrenia
Umumnya seseorang dikategorikan sebagai penderita Residual Schizophrenia ketika ia tidak lagi mengalami gejala-gejala akut schizophrenia, tetapi masih mengalami halusinasi, delusi, maupun perilaku yang menunjukkan simptom schizophrenia, meskipun simptom tersebut sudah secara signifikan berkurang.


Daftar film-film terkait dengan tema ini antara lain:
  1. Fight Club (1999)
  2. A Beautiful Mind (2001). Film wajib tonton di masa-masa awal saya belajar mengenai simptom-simptom Schizophrenia
  3. Identity (2003)
  4. Secret Window (2004)
  5. The Forbidden Door / Pintu Terlarang (2009)
  6. The Soloist (2009)
  7. Shutter Island (2010). Film wajib tonton di masa-masa saya praktek profesi dan berhadapan dengan kasus terkait dengan Childhood Onset Schizophrenia. Ceritanya siih biar saya inget-inget lagi simptom  Schizophrenia itu yang seperti apa saja *cari-cari alesan, padahal alesan aslinya karena pemeran utama film ini adalah KangMas Leo, hehehe





Tema Multiple Personality Disorder


Siapa yang tahu tentang buku Sybil dan 24 Wajah Billy?

Nah, itu merupakan dua contoh buku biografi berbentuk novel yang menceritakan tentang penderita Multiple Personality Disorder (MPD). Saat ini MPD dikenal sebagai Dissosiative Identity Disorder (DID). Biasanya DID terjadi sebagai efek dari adanya trauma berat (seringkali berasal dari masalah-masalah yang cenderung ekstrim) yang dialami selama masa kanak-kanak, atau bisa juga karena mengalami siksaan fisik, seksual, atau emosional yang terus menerus.

Penderita umumnya mengalami gangguan memori dan identitas diri, yang ditandai dengan setidaknya muncul dua identitas atau kepribadian yang berbeda pada diri penderita. Kepribadian atau identitas yang muncul ini memiliki kendali atas perilaku yang ditunjukkan oleh penderita. Bentuk dari kepribadian atau identitas yang muncul ini bisa sangat berbeda dengan kepribadian dan perilaku aslinya. Perbedaan tersebut bisa berupa beda ras, jenis kelamin, dan usia. Seringkali disebutkan bahwa kepribadian yang muncul ini adalah "alter ego" dari penderita.

Simptom yang ditunjukkan penderita DID, antara lain mengalami depresi, mudah mengalami perubahan mood (mood swing), memiliki kecenderungan untuk bunuh diri, mengalami gangguan tidur (mulai dari insomnia, teror-teror yang dirasakannya selalu muncul di malam hari, serta berjalan saat tidur), mengalami kecemasan atau serangan rasa panik atau fobia yang muncul sebagai dampak atau reaksi atas stimulus ingatan masa lalu (triggering events), memiliki ritual atau perilaku yang selalu berulang-ulang (compulsive behavior), cenderung untuk menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan, mengalami perilaku yang mengarah pada simptom psikotis (termasuk halusinasi visual maupun auditori), serta mengalami gangguan makan.

Simptom lainnya yang mungkin muncul pada penderita antara lain sakit kepala, kehilangan ingatan, kebingungan dengan perubahan waktu (time loss), mengalami keadaan tidak sadarkan diri (trance), dan merasa terkadang seperti sedang menjadi orang lain atau tiba-tiba merasa bahwa jiwanya (soul) sedang berada di luar tubuh (out of body experiences).


Daftar film-film terkait dengan tema ini antara lain:
  1. Fight Club (1999)
  2. Me, Myself, and Irene (2000)
  3. Identity (2003)
  4. Hide and Seek (2005)
  5. Soulmate / Belahan Jiwa (2005)
  6. Peacock (2010)
  7. Shutter Island (2010)
  8. Black Swan (2011)
  9. The Beaver (2011)
  10. The Ward (2011)


Tema Trans gender / Trans sexual

Dikenal juga sebagai Gender Identity Disorder (GID), yang ditandai dengan adanya konflik antara jenis kelamin yang sesuai dengan anatomi tubuh (birth gender) dengan jenis kelamin secara psikologis (psychological gender). Umumnya penderita merasa bahwa mereka tidak nyaman atau tertekan dengan jenis kelamin yang sesuai identitas gender mereka saat dilahirkan, dan mereka sangat ingin menjadi orang dengan jenis kelamin yang sebaliknya.

Saya hanya dapat informasi mengenai satu film ini saja, hehe. Selebihnya saya kurang tahu yaaaa.
  1. Boys Don't Cry (1999)
Kalau mau lebih seru, dulu jaman kuliah s1 pernah diputar film mengenai trans gender, sejenis film dokumenter gitu. Tapi kayanya film itu hanya digunakan untuk keperluan akademis. Di situ bisa dilihat kesaksian para pelaku trans sexual, ditunjukkan proses operasi pergantian kelaminnya dan diperlihatkan pula kehidupan sehari-hari mereka (before-after). Proses pergantian kelamin ini rada mirip tayangan The Swan yang sempat heboh di salah satu televisi swasta Indonesia (versi operasi tubuh wanita untuk menjadi lebih cantik dan langsing), tapi dengan versi lebih ekstrim karena benar-benar memperlihatkan bagaimana lapisan kulit dibuka dan tulang-tulang dibongkar. Berasa lagi kupas kulit pisang looh pas melihat adegan membuka lapisan kulit dan berasa kaya lagi main bongkar pasang waktu melihat tayangan tulang-tulang dipotong sana-sini. Trus ujung-ujungnya berasa main tambal-sulam, dempul sana-sini, tempel-pasang *okeeeh, ini terkesan terlalu drama penjelasannya, hahaha.

Misalnya, saat seorang laki-laki ingin menjadi perempuan, bagian-bagian tubuh yang diotak-atik antara lain tulang rahang dipotong untuk membentuk rahang yang lebih feminin, atau penis yang dipermak untuk diganti menjadi vagina (kalau tidak salah, dokter yang mengoperasi juga sempat berujar bahwa pembentukan vagina ini dilakukan supaya mereka nantinya tetap bisa mendapatkan sensasi seperti yang dialami perempuan saat nanti mereka berhubungan seksual, walaupun jelas tidak akan pernah terjadi pembuahan karena pada dasarnya para lelaki yang operasi untuk menjadi perempuan ini kan tidak memiliki rahim). 

Waktu itu saya sempat berpikir, kalau orang-orang yang berencana operasi melihat tayangan ini, mungkin akhirnya mereka tidak jadi melakukan operasi. Soalnyaaa, bagi saya pribadi, tayangannya lumayan bikin ngilu, hehehe.



Tema Obsessive-Compulsive Disorder

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan salah satu dari efek kecemasan yang berlebihan. Penderitanya akan selalu mengalami perilaku yang tidak dapat dikontrol, memiliki pikiran-pikiran yang tidak diinginkan (cenderung obsessive) dan selalu ingin melakukan perilaku sesuai yang dipikirkan tersebut secara berulangkali dan terus menerus (compulsion). 

Sayangnya, penderita sangat sulit untuk melepaskan diri dari pikiran dan perilaku-perilaku yang selalu muncul (gejala obsession) meskipun pikiran tersebut mengganggu dan sangat tidak menyenangkan, sehingga mereka merasa harus selalu melakukan ritual atau melakukan sesuatu secara berkali-kali (compulsion) dengan tujuan untuk menghilangkan obsession yang mendera.


Daftar film-film terkait dengan tema ini antara lain:
  1. As Good As It Gets (1997)
  2. Pi (1998)
  3. Matchstick Men (2003)
  4. Aviator (2004). Filmnya KangMas Leo juga looh iniiih *eaaaa, hahaha.
Kalau ada yang mengikuti TV series Monk sepanjang tahun 2002 - 2009 pasti tahu tentang Adrian Monk, seorang polisi dan juga duda yang mengalami OCD. Saya tidak mengikuti serial ini dari awal, hanya pernah menonton sedikit-sedikit (itupun dari pinjam DVD punya teman, hehe). Jadi saya tidak bisa menceritakan detail OCD yang diderita oleh Monk ini. Kayanya ada sekitar 312 hal yang 'ditakuti' oleh Monk, salah satunya susu.

Okeeh, segini dulu yaa untuk Part 1. Nanti kalau saya sempat akan dibuat lagi daftar untuk Part 2. Have Fun!

Cheers!
Have a blessed-day!