01 March 2012

Daycare

Sangat berharap bisa punya day care dengan konsep FAMILY DAY CARE.

Ide untuk membuat day care pertama kali muncul pada tahun 2007. Awalnya saya dan salah satu teman membahas mengenai apa saja hal yang bisa kami lakukan saat benar-benar ingin fokus pada dunia anak, terutama terkait dengan pendidikan anak usia dini. Kebetulan saat itu teman saya sudah sering diajak keliling Indonesia dan menjadi trainer untuk guru-guru dan staf pengajar PAUD lainnya, mewakili gereja dimana dia aktif. Kebetulan pula, Romo-nya sering mempercayakan bagian keliling-jadi-trainer ini kepada teman saya ini.

Dari mendengar cerita-cerita dia, saya jadi sedikit menyesal karena saat masih aktif kuliah tidak mencoba mengambil mata kuliah Pendidikan Anak Dini Usia (dulu istilah kerennya di kampus saya, PADU Sekarang sudah diganti menjadi Psikologi Pendidikan Anak Usia Dini supaya lebih "psikologis" sesuai dengan konsep Psikologi dan ga beririsan dengan konsep Pendidikan). Apalagi alasannya rada nyeleneh. Kalau saya nekat ambil PADU juga di semester-semester itu, artinya saya nekat untuk ambil 24 SKS which is hastaagaahh tentu saja tidaakk!! nanti saya sudah cari-cari waktu untuk ikut aktivitas non akademis. Ditambah lagi, saya lebih tertarik untuk mengambil mata kuliah pilihan lainnya. Haha, ngenes.

Back to the story, waktu teman saya banyak berbagi pengalamannya ke saya, saat itu saya baru lulus S1 - dan masih diliputi suasana euforia lulus kuliah - jadi belum ingin lanjut kuliah dalam hitungan bulan ke depan, hahaha. Jadilah saya ambil saja ilmu-ilmunya dia sebelum benar-benar memutuskan ambil jurusan Pendidikan atau jurusan lainnya saat saya memutuskan kembali ke kampus untuk lanjut profesi. Tadinya siih, sejak tahun 2004 saya tertarik untuk ambil jurusan Pendikan. Pada akhirnya justru saya tidak jadi ambil jurusan Pendidikan untuk mendalami ilmu-ilmu terkait profesi Psikolog Pendidikan. Tetapi, saya justru mengambil jurusan Klinis Anak. Nah, keinginan membuat day care pun sempat terdepak begitu saja.

Tiba-tiba, salah satu sepupu saya meminta saya untuk membuka day care. Kira-kira permintaan itu disampaikan di akhir 2009. Meh! Haha. Saat itu saya berpikir "gimana bisa saya bikin day care di Bandar Lampung, sementara saya sendiri baru mulai lanjut ambil kuliah profesi beberapa bulan. Hidup bakalan mentok di Depok sampai saya lulus". 


Masih lumayan panjang perjalanan saya untuk bisa lulus *lirik keadaan sekarang* dan saat itu saya juga belum terpikir untuk pulang ke Bandar Lampung. Jadi, saya menolak tawaran itu karena belum terbayangkan mau dibawa kemana arah day care-nya? Siapa yang akan handle? Dll.

Sebenarnya tidak sepenuhnya saya diamkan yaa ide sepupu saya itu. Saat itu saya sebenarnya langsung mencari informasi terkait day care sambil memilah mana yang kira-kira akan saya lakukan, in case saya jadi membuat day care. Nah, beberapa informasi yang saya kumpulkan tersebut, lebih banyak terkait dengan kurikulum dan operasionalisasi day care. Jujur, saya jadi kembali mabok sama masalah kurikulum. Haha. Saya tidak memiliki banyak pengalaman dalam meng-handle masalah kurikulum. Pengalaman saya meng-handle full masalah kurikulum hanya selama satu tahun, saat saya mengurus program adik asuh ketika S1. Saya juga tidak begitu paham dengan kurikulum day care. Belum fix juga kalau yang akan saya bangun nanti hanya terpusat pada day care atau ada plus-plusnya lagi.

Berbekal internet dan Mbah Gugel, saya pun berguru ke Mbah secara online. Berikut saya coba sharing informasi yang pernah saya kumpulkan hingga awal tahun 2010 yaa (note: blog ini sebenarnya saya buat tahun 2009, tapi saya banyak vakum nge-blog selama lanjut kuliah, jadi tulisan inipun sebenarnya draft yang masih tersimpan sejak tahun 2010, hehe).


Here we go...



KURIKULUM DAY CARE
Konsep kurikulum  day care yang paling saya inginkan.
Saya mau ada konsep semacam ini di day care saya
"a place where children can play, learn, and grow together"

Informasi berikut ini saya dapatkan dari googling. Saya lupa link-nya darimana. Kurikulum ini dikembangkan oleh Pusat Kurikulum Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Direktorat Pembinaan TK dan SD, Universitas Negeri Jakarta di tahun 2007.

Saya coba rangkum beberapa poin yang menurut saya penting yaa. Ini plek-plekan dari tulisan yang ada di konsep kurikulum terbitan UNJ tadi (yaa dengan sedikit editan di teknis penulisan siih, hehe).


Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan, yang ditujukan kepada anak, sejak lahir sampau dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Secara umum, tujuan pendidikan anak usia dini adalh mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini, sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Dalam melaksanakan Pendidikan anak usia dini hendaknya menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun psikis, yaitu intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional.

Belajar melalui bermain
Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya.
ilustrasi ruang bermain

Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan dengan memperhatikan keamanan serta kenyamanan yang dapat mendukung kegiatan belajar melalui bermain.
cozy place

Menggunakan pembelajaran terpadu
Pembelajaran pada anak usia dini harus menggunakan konsep pembelajaran terpadu yang dilakukan melalui tema. Tema yang dibangun harus menarik dan dapat membangkitkan minat anak dan bersifat kontekstual. Hal ini dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi mudah dan bermakna bagi anak.

Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Mengembangkan keterampilan hidup dapat dilakukan melalui berbagai proses pembiasaan. Hal ini dimaksudkan agar anak belajar untuk menolong diri sendiri, mandiri dan bertanggungjawab, serta memiliki disiplin diri.

Menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar
Media dan sumber pembelajaran dapat berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan oleh pendidik / guru.

Dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang
Pembelajaran bagi anak usia dini hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari konsep yang sederhana dan dekat dengan anak. Agar konsep dapat dikuasai dengan baik hendaknya guru menyajikan kegiatan-kegiatan yang berulang.


Standar Kompetensi Anak Usia Dini
Standar kompetensi anak usia dini adalah standar kemampuan anak usia 0-6 tahun yang didasarkan pada perkembangan anak. Standar kompetensi ini digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia dini.

Standar kompetensi anak usia dini terdiri atas pengembangan aspek-aspek sebagai berikut:
  1. Moral dan nilai-nilai agama
  2. Sosial, emosional, dan kemandirian
  3. Bahasa
  4. Kognitif
  5. Fisik/Motorik
  6. Seni


Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Anak Usia Dini
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan ajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum mencakup:
Bersifat komprehensif
Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan perkembangan anak secara menyeluruh dalam berbagai aspek perkembangan.

Dikembangkan atas dasar perkembangan secara bertahap
Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepat didasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak. Program menyediakan berbagai sarana dan bahan untuk anak dengan berbagai kemampuan.

Melibatkan orang tua
Keterlibatan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak. Oleh karena itu, peran orang tua dalam pendidikan anak usia dini sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan.

Melayani kebutuhan individu anak
Kurikulum dapat mewadahi kemampuan, kebutuhan, dan minat setiap anak.

Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat
Kurikulum harus memperhatikan kebutuhan setiap anak sebagai anggota dari keluarga dan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.

Mengembangkan standar kompetensi anak
Kurikulum yang dikembangkan harus dapat mengembangkan kompetensi anak. Standar kompetensi sebagai acuan dalam menyiapkan lingkungan belajar anak.

Mewadahi layanan anak berkebutuhan khusus
Kurikulum yang dikembangkan hendaknya memperhatikan semua anak, termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat
Kurikulum hendaknya dapat menunjukkan bagaimana membangun sinergi dengan keluarga dan masyarakat sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.

Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak
Kurikulum yang dibangun hendaknya memperhatikan aspek keamanan dan kesehatan anak saat anak berada di sekolah.

Menjabarkan prosedur pengelolaan Lembaga
Kurikulum hendaknya dapat menjabarkan dengan jelas prosedur manajemen / pengelolaan lembaga kepada masyarakat sebagai bentuk akuntabilitas.

Manajemen Sumber Daya Manusia
Kurikulum hendaknya dapat menggamabarkan proses manajemen pembinaan sumber daya manusia yang terlibat di lembaga.

Penyediaan Sarana dan Prasarana
Kurikulum dapat menggambarkan penyediaan srana dan prasaran yang dimiliki lembaga.
ilustrasi sarana dan prasarana

ilustrasi sarana dan prasarana

Komponen Kurikulum
Anak
Sasaran layanan pendidikan Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0-6 tahun. Pengelompokan anak didasarkan pada usia sebagai berikut:
  1. 0-1 tahun
  2. 1-2 tahun
  3. 2-3 tahun
  4. 3-4 tahun
  5. 4-5 tahun
  6. 5-6 tahun

Pendidik
Kompetensi Pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau Sarjana (S1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan memiliki sertifikasi profesi guru PAUD atau sekurang-kurangnya telah mendapat pelatihan pendidikan anak usia dini. 

Adapun rasio pendidik dan anak adalah:
  1. Usia 0 – 1 tahun rasio 1 : 3 anak
  2. Usai 1 – 3 tahun rasio 1 : 6 anak
  3. Usia 3 - 4 tahun rasio 1 : 8 anak
  4. Usia 4 - 6 tahun rasio 1 : 10 /12 anak

Pembelajaran
Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi (content), dan proses belajar. Materi belajar bagi anak usia dini dibagi dalam 2 kelompok usia.

Materi usia lahir sampai 3 tahun meliputi:
  1. Pengenalan diri sendiri (perkembangan konsep diri)
  2. Pengenalan perasaan (perkembangan emosi)
  3. Pengenalan tentang orang lain (perkembangan sosial)
  4. Pengenalan berbagai gerak (perkembangan fisik)
  5. Mengembangkan komunikasi (perkembangan bahasa)
  6. Keterampilan berpikir (perkembangan kognitif)
Materi untuk anak usia 3 – 6 tahun meliputi :
  1. Keaksaraan mencakup peningkatan kosa kata dan bahasa, kesadaran phonologi, wawasan pengetahuan, percakapan, memahami buku-buku, dan teks lainnya.
  2. Konsep Matematika mencakup pengenalan angka-angka, pola-pola dan hubungan, geometri dan kesadaran ruang, pengukuran, pengumpulan data, pengorganisasian, dan mempresentasikannya.
  3. Pengetahuan Alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan.
  4. Pengetahuan Sosial mencakup hidup orang banyak, bekerja, berinteraksi dengan yang lain, membentuk, dan dibentuk oleh lingkungan. Komponen ini membahas karakteristik tempat hidup manusia, dan hubungannya antara tempat yang satu dengan yang lain, juga hubungannya dengan orang banyak. Anak-anak mempelajari tentang dunia dan pemetaannya, misalnya dalam rumah ada ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang keluarga, ruang belajar; di luar rumah ada taman, garasi, dll. Setiap rumah memiliki tetangga dalam jarak dekat atau jauh.
  5. Seni mencakup menari, musik, bermain peran, menggambar dan melukis. Menari, adalah mengekspresikan ide ke dalam gerakan tubuh dengan mendengarkan musik, dan menyampaikan perasaan. Musik, adalah mengkombinasikan instrumen untuk menciptakan melodi dan suara yang menyenagkan. Drama, adalah mengungkapkan cerita melalui aksi, dialog, atau keduanya. Seni juga mencakup melukis, menggambar, mengoleksi sesuatu, modeling, membentuk dengan tanah liat atau materi lain, menyusun bangunan, membuat boneka, mencap dengan stempel, dll
  6. Teknologi mencakup alat-alat dan penggunaan operasi dasar. Kesadaran Teknologi. Komponen ini membahas tentang alat-alat teknologi yang digunakan anak-anak di rumah, di sekolah, dan pekerjaan keluarga. Anak-anak dapat mengenal nama-nama alat dan mesin yang digunakan oleh manusia sehari-hari.
  7. Ketrampilan Proses mencakup pengamatan dan eksplorasi; eksperimen, pemecahan masalah; dan koneksi, pengorganisasian, komunikasi, dan informasi yang mewakili.

Untuk mewadahi proses belajar bagi anak usa dini pendidik harus dapat melakukan penataan lingkungan main, menyediakan bahan–bahan main yang terpilih, membangun interaksi dengan anak dan membuat rencana kegiatan main untuk anak. Proses pembelajaran anak usia dini dilakukan melalui sentra atau area main. Sentra atau area tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi dari masing-masing satuan Pendidikan. 

Contoh sentra atau area bermain tersebut antara lain : Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni, Sentra Musik, Sentra Persiapan, Sentra agama, dan Sentra Memasak.

Penilaian (Assesment)
Assesmen adalah proses pengumpulan data dan dokumentasi belajar dan perkembangan anak. Assesmen dilakukan melalui : observasi, konfrensi dengan para guru, survey, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak, dan unjuk kerja. Keseluruhan penilaian /assesmen dapat di buat dalam bentuk portfolio.

Pengelolaan Pembelajaran
  • Keterlibatan Anak
  • Layanan Program
Lembaga Pendidikan anak usia dini dilaksnanakan sesuai satuan Pendidikan masing-masing. Jumlah hari dan jam layanan:
  1. Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3 – 5 hari dengan jam layanan minimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 -160 hari atau 32 – 34 minggu.
  2. Kelompok Bermain (KB) setiap hari atau minimal 3 kali seminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144 hari atau 32 - 34 minggu.
  3. Satuan PAUD Sejenis (SPS) minimal satu minggu sekali dengan jam layanan minimal 2 jam. Kekurangan jam layanan pada SPS dilengkapi dengan program pengasuhan yang dilakukan orang tua sehingga jumlah layanan keseluruhan setara dengan 144 hari dalam satu tahun.
  4. Taman Kanak-Kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggu dengan jam layanan minimal 2,5 jam. Layanan dalam satu tahun 160 hari atau 34 minggu.
Layanan pembelajaran pada masing-masing satuan pendidikan anak usia dini mengikuti kalender pendidikan daerah masing-masing.

Melibatkan peran serta masyarakat
Pelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat. Penyelenggaraan pendiikan anak usai dini dapat dilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan.

Satuan Pendidikan Anak Usia Dini.
Kerangka dasar Kurikulum digunakan pada pendidika anak usia dini jalur formal maupun jalur non formal yaitu : Taman Kanak-Kanak/ Raudhatul Athfal, Taman Penitipan Anak, Kelompok Bermain, dan Satuan PAUD Sejenis.
  1. Taman Kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Sasaran Pendidikan Taman Kanak-Kanak adalah anak usia 4 – 6 tahun, yang dibagi ke dalam dua kelompok belajar berdasarkan usia yaitu Kelompok A untuk anak usia 4 – 5 tahun dan Kelompok B untuk anak didik usia 5 – 6 tahun.
  2. Kelompok Bermain adalah salah satu bentuk PAUD pada jalur pendidikan non formal yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus program kesejahteraan bagi anak usia 2 sampai dengan 4 tahun. Sasaran KB adalah anak usia 2 – 4 tahun dan anak usia 4 – 6 tahun yang tidak dapat dilayani TK (setelah melalui pengkajian dan mendapat rekomendasi dari pihak yang berwenang).
  3. Taman Penitipan Anak adalah layanan pendidikan yang dilaksanakan pemerintah dan masyarakat bagi anak usia lahir – 6 tahun yang orang tuanya bekerja. Peserta didik pada TPA adalah anak usia lahir – 6 tahun.
  4. Satuan PAUD Sejenis (SPS) adalah layanan minimal merupakan layanan minimal yang hanya dilakukan 1-2 kali/minggu atau merupakan layanan PAUD yang diintegrasikan dengan program layanan lain. Peserta didik pada SPS adalah anak 2-4 tahun.

Penilaian Kurikulum
Evaluasi / penilaian adalah suatu analisis yang sistematis untuk melihat efektifitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh Pusat maupun Daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mngetahui sejauh mana kurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendiikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.



Okee, itu dia penjelasan mengenai kurikulum untuk day care. Sekarang kita lanjut ke masalah operasionalisasi dari day care itu sendiri.



OPERASIONALISASI DAY CARE

Untuk bagian dari operasionalisasi ini, saya rangkum dari beberapa informasi dan pengamatan saya selama ini yaaa.

Persiapan dalam membuka day care supaya sesuai dengan kurikulum pendidikannya antara lain:

Tempat
Sebaiknya dipastikan terlebih dahulu tempat untuk membuka day care ini dimana dan disesuaikan dengan arah dari tujuan awal kita membuka tempat di linkungan tersebut.

Misalnya, mengambil tempat di rumah, sengaja mengubah salah satu atau beberapa ruang di rumah kita untuk dijadikan lokasi day care berikut sengala fasilitasnya (seperti ruang istirahat, ruang kegiatan, taman bermain, dan lainnya). Dengan tujuan mengambil pangsa pasar dari lingkungan sekitar tempat tinggal kita.
ilustrasi dekorasi ruang

ilustrasi renovasi ruang

Kompetensi Dasar Yang Harus Dikuasai
Hal yang mutlak harus dikuasai adalah pengetahuan dasar tentang mengasuh anak. Meskipun kita tidak ahli dalam hal ini, kita bisa membayar orang lain sesuai dengan kompetensi dasar yang dibutuhkan. Ada baiknya jika kita mampu menyediakan tenaga ahli beserta beberapa asisten. Bahkan lebih baik lagi jika kita mampu menyediakan Psikolog Anak *tunjuk diri sendiri, hihi. Saya sendiri berencana mengajak kerjasama teman-teman yang berprofesi sebagai dokter anak dan ahli gizi (aamiin, mudah-mudahan terwujud).



Sarana Operasional
Paling minimal, hal inilah yang wajib tersedia selama menjalankan day care:
  1. Alat bermain anak yang harus disesuaikan dengan usia anak DAN WAJIB AMAN bagi anak.
  2. Makanan kebutuhan anak, termasuk susu dan makan tambahan lainnya (kalau berdasarkan pengamatan saya, bisa juga untuk makanan kebutuhan ini tidak disediakan oleh pihak day care. Tetapi, pihak day care wajib meminta para orangtua untuk selalu menyediakan makanan bagi anak-anaknya).
  3. Perangkat perlengkapan bayi dan balita.
  4. Peralatan administrasi, seperti alat tulis kantor dan komputer.

ilustrasi peralatan dan permainan
ilustrasi peralatan dan permainan




Persiapan Keuangan
Sepertinya harus ada beberapa macam persiapan keuangan. Dari yang saya pahami, setidaknya ada dua macam persiapan keuangan yang harus kita lakukan, yaitu persiapan awal sebagai modal investasi, serta persiapan biaya operasional.

Persiapan Awal (Modal Investasi)
Modal awal merupakan persiapan paling pertama dalam membuka day care. Tidak harus mengumpulkan sekian banyak Rupiah, tetapi bisa juga dari mengumpulkan peralatan atau perlengkapan lainnya yang sudah kita miliki.

Misalnya, tempat dan peralatan permainan. Jika kita memutuskan untuk membuka day care di rumah, berarti kita sudah tidak perlu memikirkan membeli atau menyewa bangunan khusus lagi. Kita tinggal melakukan renovasi, terutama renovasi interior dan dekorasi yang harus disesuaikan dengan nuansa anak-anak supaya menarik minat mereka. Interior dan dekorasi HARUS RAMAH ANAK dan AMAN bagi anak-anak.

Jika kita sudah memiliki beberapa permainan anak-anak, kita tinggal mengumpulkan permainan lainnya. Besarnya modal untuk mendapatkan berbagai permainan ini sangat tergantung dari kebutuhan day care. Harga mainan juga sangat relatif, tergantung dimana kita membeli mainan-mainan tersebut. Yang pasti, kita tidak boleh sembarang menyediakan permainan. Harus benar-benar disesuaikan dengan perkembangan anak serta AMAN saat digunakan oleh mereka.

Persiapan Biaya Operasional
Biaya operasional ini terkait dengan pengeluaran rutin bulanan yang harus kita persiapkan. Misalnya, biaya untuk membeli kebutuhan anak-anak (makanan dan perlengkapan bayi), gaji karyawan, biaya listrik, dan lainnya.


Biaya untuk membayar tenaga ahli tentu membutuhkan jumlah yang tidak sedikit. Biasanya beberapa tempat menyarankan untuk menawarkan skema minimal 30:70. Tenaga ahli mendapatkan porsi lebih besar karena kita harus membayar keahliannya (bagi saya pribadi, ini juga sebagai bentuk penghargaan saya terhadap tenaga dan kompetensi yang sudah dia keluarkan). Sedangkan usaha day care kita cukup dengan porsi yang lebih kecil dan cukup untuk menutupi biaya administrasi dan operasionalisasi tempat. Tapi, ada juga beberapa tempat yang memberikan porsi 40:60. Bahkan ada pula yang memberikan porsi 50:50. Biasanya, porsi 50:50 ini berlaku ketika tenaga ahli tersebut merupakan orang dalam dari day care yang bersangkutan. Jadi, mereka tidak masalah jika dibayar dengan proporsi sama rata. Hehe.



Penentuan Tarif Jasa Day Care
Tarif yang ditetapkan oleh masing-masing day care sangat tentatif. Ada yang memberikan  harian, paket mingguan, paket bulanan, bahkan paket 3 bulan, dan seterusnya. Dari informasi yang saya kumpulkan, rata-rata minimal menetapkan tarif harian sebesar Rp. 50.000,00. Sedangkan untuk paket, biasanya tarif disesuaikan dengan pelayanan apa saja yang diterima oleh anak. Misalnya, ditetapkan tarif paket Rp 300.000,00 per pekan, dimana anak mendapatkan konsultasi tenaga ahli di setiap akhir pekan. Tentu saja, tarif sangat berbanding lurus dengan fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh day care. Semakin banyak dan lengkap fasilitas dan pelayanan yang disediakan, maka semakin mahal tarif yang dikenakan.



Sarana Promosi
Untuk awal, sarana promosi yang sangat membantu adalah informasi dari mulut ke mulut. Informasi dari mulut ke mulut ini sangat besar pengaruhnya karena berdasarkan tingkat kepercayaan akan pelayanan yang diberikan. Tidak ada salahnya jika kita memulai dengan membantu anak-anak yang berada di lingkungan sekitar kita. Jika pelayanan day care kita memuaskan, dijamin kita akan semakin mudah mendapatkan kepercayaan.

Untuk promosi tingkat lanjut, kita bisa menyebarkan flyer, pamflet, booklet di lokasi-lokasi strategis seperti lingkungan TK, sekolah, kantor, termasuk Mall. Jika merasa siap dan tenaga mencukupi, kita juga bisa membuat website resmi untuk day care kita sehingga kita bisa menjangkau lebih banyak pelanggan potensial. Apalagi, melalui sarana website, kita dapat memberikan gambaran lengkap mengenai jasa dan pelayanan yang ditawarkan.

Nah, sekian informasi yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan bermanfaat, terutama buat kita yang punya rencana membangun day care.

Please kindly email me untuk tanya-tanya lebih lanjut atau sekedar buka sesi curhat bersama, hehe.

Saya dengan senang hati menerima masukan, saran, atau apapun itu kalau ada pembaca yang memiliki pengalaman lebih banyak dalam membangun day care.

Cheers!
Have a blessed-day!