02 April 2018

Big Bad Wolf 2018


Sebelum Big Bad Wolf (BBW) masuk ke Indonesia, saya pernah beberapa kali mengirim email ke pihak BBW Malaysia untuk bertanya, "apa mereka akan mengadakan BBW di Indonesia? ", "apa mereka terima order dan pengiriman ke Indonesia?", dan lainnya lagi saking saya iri hati dengki tanda tak mampu melihat update menggiurkan teman-teman di Malaysia yang pamer hasil kekalapan di BBW. Tapi tidak ditanggapi hahaha. Sekitar tahun 2014-15, salah satu jarahan BBW yang diadopsi oleh teman-teman di Malaysia dan paling membuat saya mupeng setengah hidup adalah boxed-set buku Harry Potter (english version). Rasanya menderita ala ala broken heart gitu karena cuma bisa ngiler melihat update mereka hahahaha... 💔

Itulah sebabnya saya menyambut kedatangan BBW di Indonesia dengan gegap gempita. Penuh kebahagiaan karena akhirnya saya bisa merasakan perayaan bookfair buku terbesar bagi jamaah penggila english-books. Jarang sekali bisa merasakan belanja buku import dengan diskon mencapai 60-80%. Kalaupun pernah ada obralan buku import murah, misalnya di Books dan Gramedia (mostly berbentuk buku second hand dan/atau tanpa segel), Periplus, dan Books & Beyond, atau di stand penyedia buku import murah di bookfair JCC, tapi rasanya jelas berbeda dengan ketika berburu di BBW. Rasakan sendiri, deh, euforianya... Sasaran utama saya ketika ke BBW adalah jelas buku import. Ada buku lokal/terjemahan yang disediakan oleh Mizan group, tapi saya hampir tidak pernah sengaja mencari buku di area ini. Mindset saya terkait BBW adalah saya ingin mencari english-book berbentuk buku anak (picture books, retold classics, board books, pop-up books, boxed-set), classics (terutama series yang saya koleksi sejak lama atau wislist tertentu), serta popular/conventional books (teenlit, YA, chicklit, romance). Terkadang juga cari nonfiksi. Saya juga tidak heran jika BBW diisi 80% oleh buku anak, sejak awal saya melihat market mereka memang di area ini, dan sebagai orang yang mengoleksi buku anak so pasti jelas saya tidak keberatan dengan hal ini hahaha.


Sejak tahun pertama saya ke BBW Indonesia, saya sudah banyak melihat orang tua datang ke sana bersama anak, dan itu pemandangan indah. Saya punya beberapa teman yang anak-anaknya senang sekali membaca, jadi saya bisa membayangkan betapa girangnya anak-anak tersebut dibawa oleh orang tuanya untuk membeli buku dan para orang tua juga akan bahagia melihat anaknya senang. Iya, kan? Saya tahu ada yang menyesalkan porsi buku anak lebih banyak dibanding buku untuk dewasa, but hey setidaknya masih ada jatah untuk kita. Hihihi.


Kebiasaan saya ketika momen BBW tiba adalah melihat update foto hasil belanja orang-orang. Menyenangkan rasanya melihat kebahagiaan mereka setelah membeli buku. Saya ikut bahagia juga karena saya tahu sekali rasanya (meskipun di kasus saya, setelah belanja pasti langsung pusyiang karena bokek seketika hahahaha). Satu yang saya makin sayangkan, makin ke sini BBW makin banyak diisi oleh penyedia layanan jastip, jadi makin sulit untuk melihat personal updates dari mereka yang ke BBW bukan untuk berjualan karena tertimbun oleh update dari layanan jastip. Tapi namanya juga orang sedang mencari rezeki.


Terkait jastip juga, di BBW 2016 saya masih bisa menyelipkan mengobrol dengan personal buyers lain, terutama ketika sedang duduk-duduk di pinggiran atau pojokan. Saya dan teman biasa berpencar saat bookfair supaya bisa sepuasnya keliling sendiri, tanpa terganggu aktivitas saling menunggu dan sebangsanya. Koordinasi via chat atau telepon dan nanti menentukan meeting point kalau merasa sudah saatnya bertemu lagi. Begitulah mengapa saya bisa menyelinap sendiri ke pinggiran atau pojokan. Saat itu di area pinggiran atau pojokan sering diisi Nenek yang sedang menyuapi makan cucu yang berlarian (saking lowongnya area yang dimaksud), Ibu muda yang sedang menidurkan anaknya, atau Bapak yang sedang menghibur anak yang sedang bosan. Atau, ya, sekadar ngaso istirahat sambil meluruskan kaki.  Saat berkeliling juga sering melihat Ibu yang membiarkan anaknya memilih buku sendiri, sambil mengobrol cekikikan. Saya juga beberapa kali mengobrol dengan Ibu-anak, Tante-keponakan, bahkan dengan mahasiswa terkait buku-buku yang ada di stand -- termasuk saling membandingkan preferensi bacaan atau juga saling merekomendasikan buku. Bahkan, ketika mengantri pun (saya dan teman mengantri terpisah di BBW 2016, tidak seperti di BBW 2018 di mana kami menyatukan belanjaan di dalam 1 troli meskipun bill tetap terpisah), saya masih mengobrol dengan mahasiswa Binus yang girang menemukan buku-buku Psikologi, serta mengobrol dengan seorang Tante yang sedang mengarahkan keponakannya untuk suka membaca -- saya dan mahasiswa Binus bahkan sempat sok memberikan rekomendasi bacaan kepada si keponakan, sambil "promosi" apa saja keuntungan suka membaca dan di mana letak asyiknya membaca buku hahaha. Lucu sekali jika teringat momen tersebut. Terasa sekali euforia kami, para personal buyers yang membeli buku untuk kepentingan pribadi, bisa menemukan surga bernama BBW. Hahaha. Nah, momen bahagia sepeeti ini tidak saya rasakan di BBW 2018.


Pojokan sini atau pinggiran sana penuh terisi troli jastipers, boro-boro bisa duduk nyaman dan mengobrol santai di sana, lha ya wong troli di mana-mana hahaha. Tidak ada aktivitas mengobrol santai dengan mereka karena mereka lebih sibuk update foto dan pesanan dengan tim masing-masing. Sekali saya mendengar obrolan sesama jastipers, salah satunya datang sendri tanpa tim dan sudah keep 6 troli menunggu konfirmasi pelanggan. Jadi, 6 troli ini akan di-hold sampai laku semua, baru kemudian akan dibayar ke kasir. Subhanallah, itu baru dari jastiper yang datang sendiri, ya. Bagaimana dengan yang datang bersama tim? Bisa lebih dari 10 troli pasti yang mereka hold hahaha. No wonder para bulk-buyers ini berdedikasi tinggi memburu buku sampai segunung. Saya sendiri sempat merasakan ketika saya memasukkan 1 buku ke troli, tiba-tiba ada tangan di depan saya yang meraup semua yang tersisa di tumpukan buku, untuk buku yang baru saja saya ambil 1. Masya Allah itu tumpukan masih tinggi, mungkin ada 20-30 buku dalam 1 tumpukan.  Hahahaha. Awkward. Saya mungkin terlihat kaget saat itu karena ketika mata kami bertemu, wajah orang tersebut terlihat agak gimanaaaa gitu, dan berakhir dengan kami sama-sama nyengir awkward hahahaha.


Saya jadi teringat pengalaman teman di preview sale BBW 2017 yang mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap perilaku jastipers. Bahkan, teman saya menyaksikan bagaimana salah 1 jastiper berjualan di dalam area bookfair! Jastiper yang dimaksud menjajakan tumpukan buku, yang tingginya bisa melebihi tinggi stand, diselingi dengan memberikan perintah kepada timnya untuk berpencar megambil tumpukan buku di area sana-sini. Edyan! Ketika ada 1 pasangan bertanya di mana dia menemukan buku tertentu, justru disuruh membeli saja bukunya di dia dengan tambahan biaya jastip. Tidak sopan sekali.  Nggilani! Baik teman saya dan pasangan tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan jastiper ini. Totally speechless.


Saya bisa memaklumi jika personal buyers, seperti saya dan teman-teman saya, protes. Di kolom komentar akun IG BBW Indonesia, pun, saya menemukan keluhan-keluhan terkait ini.  Kami berada di tingkatan terbawah dalam rantai makanan (dalam hal berburu buku) hahaha. Kadang kala (atau malah seringkali?) kami tidak kebagian buku incaran karena sudah kena keep para jastipers dan/atau bulk-buyers. 


Mau bagaimana lagi? 😝


Selama tiga tahun BBW diadakan di Indonesia, saya alpa di tahun kedua saja -- mengingat tahun 2017 saya mengalami reading slump cukup parah dan tidak bergairah untuk ke manapun yang tujuannya membeli buku, tetapi tetap menitip ke beberapa teman (baik di ICE BSD maupun di Surabaya) kalau mereka menemukan book series yang saya koleksi. Di tahun pertama, belum ada preview sale seingat saya, dan saya datang di hari ke-sekian BBW berlangsung. Di BBW 2018 saya mencoba datang ketika preview sale (membership) dan mengingat preview sale di tahun 2017 kacau balau (berdasarkan testimonial teman-teman yang hadir saat preview sale), maka saya menanyakan beberapa hal yang menjadi concern ketika saya mengambil tiket preview di kantor JOY yang terletak di Gedung Gajah Jakarta. Di situlah saya mendapat informasi bahwa:


1. Tiket preview sale di tahun 2018 diberikan terbatas. Khusus untuk member hanya diberikan kepada member yang mendaftar dan terverifikasi. No wonder di hari-H preview sale kondisi aman terkendali, tidak rusuh seperti testimoninal teman-teman di preview sale BBW 2017.


2. Kasir diberikan pelatihan agar lebih sigap dan alur untuk ke kasir sudah diubah supaya lebih rapi dan teratur. Berdasarkan pengalaman saya tahun 2016, saya merasakan kekesalan luar biasa terkait alur ke kasir yang mengganggu lalu lintas pengunjung yang masih keliling mencari buku (bahkan saya harus berhadapan dengan beberapa orang yang tidak mau memberi jalan kepada pengunjung yang masih keliling sambil membawa troli, sehingga saya beberapa kali juga bersikap keras kepada mereka walaupun saya paham mereka juga lelah mengantri), kasir yang tidak sigap menghadapi pertanyaan (karena saya non nasabah Mandiri danembayar menggunakan CC bank lain, jadi saya bolak-balik memastikan jalur antrian yang saya tempati sudah benar atau belum. Apalagi tiba-tiba ada kertas beruliskan "cash only" di kasir yang saya tuju, sementara di banner tertulis bahwa area kasir tujuan saya menerima pembayaran jenis apapun), serta kasir yang bekerja lama sekali saat memindai barcode dan menaruh buku di plastik dengan asal (saya sampai mengatur sendiri buku-buku pembelian saya di plastik supaya lebih rapi, tidak mudah jebol, dan tidak memakan banyak plastik. Pengalaman saya berburu diskonan salah satunya mengajarkan saya tentang hal ini hahahaha). Untuk kasir 2018 saya ceritakan lagi sekalian di bawah ya. 


3. BBW 2018 menyediakan area food court di dalam lokasi bookfair. Area food court pada tahun 2016 terletak di luar. Untungnya saat itu saya membawa bekal, bahkan membawa termos air panas berisi teh hahaha, setelah mendapat informasi bahwa tidak ada stand makanan di dalam area bookfair. Jadi ketika mendapat penjelasan bahwa di BBW 2018 ada food court di dalam, jelas saya ingin datang tanpa khawatir menahan lapar hahaha. Tambahan dari petugas di kantor JOY, area food court ini untuk memudahkan pengunjung jika ingin makan atau duduk-duduk istirahat, karena di tahun ini pengunjung tidak diperbolehkan keluar-masuk dengan bebas seperti di tahun-tahun sebelumnya. Area food court ini lumayan nyaman. Saya dan teman sempat lama di area food court demi bisa istirahat dan mengobrol dengan nyaman. Hehehe. Soal harga ya setara makan di mall. Kalau keberatan dengan harga, memang sebaiknya membawa bekal. 


Ketika saya datang di preview sale BBW 2018 (28/03), ada beberapa perbedaan signifikan yang saya temui di BBW 2016 vs BBW 2018, selain 3 di atas, antara lain:


1. Koleksi buku jelas lebih menarik di tahun 2018. Berhubung fokus utama saya di area classcis, modern popular, dan anak jadi saya akan sebut 3 area ini saja. Untuk classics, ini luar biasa series yang masuk termasuk buku yang termasuk baru (1-2 tahun terbit). Saya paling girang menemukan beberapa cover vintage series (di tahun 2016 saya mencari series ini di BBW tapi nihil, jadi saya membeli di Gramedia dengan harga normal itupun tidak banyak koleksinya. Beberapa bahkan tidak pernah saya lihat di Gramedia, Periplus, maupun Books & Beyond (online-offline), sehingga kalau ingin mengoleksi jalan terbaik adalah dengan membeli di Book Depository (dengan harga bahkan lebih tinggi karena mengikuti perubahan status harga Dollar). Nah, di BBW 2018 buku-bulu tersebut dijual seharga IDR 65.000-75.000 saja! Sayangnya buku incaran saya (Jane Austen's books) tidak ada. Selain itu,  saya juga melihat beberapa classics yang saya beli di 2016 dan ada perubahan harga. Di tahun 2016 series tersebut dijual seharga IDR 45.000, sementara di tahun 2018 dijual seharga IDR 50.000. Understandable. Untuk buku anak, saya juga lihat banyak stok baru dan subhanallah bikin mupeng. Nah, kejutan menyenangkan untuk buku popular/contemporer karena banyaaaaak sekali judul yang tersedia dan sebagian tersedia dalam bentuk hardback! Saya kalap memasukkan ke troli karena di mana lagi menemukan hardback seharga IDR 75.000? Hahaha. Koleksi non fiksi juga subhanallah banyak yang bagus. Saya sempat kalap juga memasukkan beberapa ke troli.


3. Tepat di tengah area bookfair itu ada MEMBER ZONE. Kalau baru akan menjadi member, bisa mendaftar on the spot. Ada volunteer yang siap siaga membantu juga. Nah, di area ini dipajang buku-buku khusus dengan barcode berwarna kuning (barcode umum berwarna putih, ada beberapa buku ditambah barcode kuning) yang berarti jika kita merupakan member BBW maka akan mendapatkan tambahan diskon member untuk buku yang dimaksud. Saya membeli 2 buku dalam kategori ini, yaitu The Psychology Book (harga umum IDR 135.000, member IDR 128.000) dan Go Set a Watchman cover merah (harga umum IDR 75.000, member IDR 71.000). Go Set a Watchman tersedia dalam 2 pilihan (harga sama), cover merah dan cover biru), dan keduanya sama-sama hardback. 


4. Ada area chinese books. Saya skip karena, nganu, saya hanya tahu "wo ai ni". Hahaha. Banyak juga yang membeli buku ini. Bahkan ada yang protes karena slotnya sedikit sekali.


5. Ada booth pengguna XL. Saya baru tahu BBW 2018 bekerjasama dengan XL di hari-H preview sale. Sebagai pengguna XL sejak 2003 jelas saya senang hahaha akhirnya ada kemungkinan keuntungan lain yang bisa saya dapatkan dari XL. Sayangnya karena telat tahu, saya tidak bisa memanfaatkan keuntungan memperoleh preview sale dari mereka. Kalau tahu sejak awal, saya bisa memberikan tiket preview sale ke salah 1 teman yang gagal mendapatkan ini. Keuntungan lainnya adalah mendapatkan jatah fast track, sehingga tidak perlu ikut antrian panjang ketika membayar di kasir. Teman yang datang di hari pertama mengakui bahwa fast track ini sangat membantu bagi dirinya, mengingat dia juga masih trauma dengan antrian berjam-jam yang harus dia jalani di preview sale BBW 2017. Personally, fast track saat preview sale ini tidak terasa karena kasir cukup sepi tidak ada antrian berarti. Untuk keuntungan lainnya dapat dilihat di akun social media XL ya karena saya sendiri tidak hapal semuanya. Hehehe.


6. Overall terasa lebih terorganisir. Penempatan lokasi stand, food court, kawasan staf, area antrian dan kasir, dan merchant-booths itu tertata rapi sekali. Jadi tidak ada lagi yang namanya berantakan tidak karuan. Tidak ada juga cerita antara pengunjung yang sedang mengantri dan yang masih berkeliling saling merasa terganggu akibat lalu lintas yang riweuh. Volunteer juga sigap keliling beberapa kali untuk mengambil buku-buku yang tidak jadi dibeli. Saya termasuk yang merasakan kesigapan mereka karena saya sortir buku berkali-kali. Sample tiap buku juga available jadi tidak perlu untuk menyobek plastik segel (untuk buku yang tersegel). Volunteer juga terasa lebih terorganisir dalam mengarahkan pengunjung yang bertanya sesuatu. Bagi saya ini terasa signifikan karena ketika saya bertanya sesuatu ke volunteer di 2016, mereka menjawab dengan tidak meyakinkan. Sementara ketika di 2018, saya bertemu volunteer yang mengarahkan dengan jelas bahkan membantu ketika saya kesulitan mencari lokasi buku yang sempat saya datangi dan terlupa itu ada di area mana. Volunteer di kasir juga sigap. Tidak ada lagi cerita saya yang harus merapikan belanjaan ketika dimasukkan ke plastik, juga tidak ada cerita saya membantu mereka memindai barcode saking terlalu lama mereka melakukan itu semua. And btw, jumlah kasir ditingkatkan bahkan konon hingga berjumlah 50 kasir. So, no wonder lalu lintas kasir yang paling terasa signifikan perubahannya.


7. Ada area art. Bertema Big Bad Art. Ini bagus-bagus sekali karya yang dipajang (dan dijual). Saya lihat banyak juga yang membeli atau sekadar selfie di area tersebut. Berhubung saya sudah terlalu lelah dan handphone juga lowbat, saya dan teman sama sekali tidak terpikir untuk mengulik area ini hahaha. 


8. Di dekat area art ada area untuk menyumbang buku. Sayangnya saya tidak sempat mampir karena, kembali ke alasan di poin 7, saya sudah terlalu lelah. 


9. Jika diperhatikan di kertas bill ada catatan dari kasir terkait jumlah plastik belanjaan saya. Ini penting sekali dan harus dijaga, paling tidak sampai pintu keluar, karena di pintu keluar akan ada petugas security yang mengecek soal ini. Apalagi troli juga tidak diperbolehkan keluar dari area bookfair, sehingga ketika kita memindahkan manual barang belanjaan ke luar pintu area bookfair itu jelas akan dipastikan juga jumlah belanjaan sesuai dengan yang tercatat di kertas bill. Biar sama-sama enak, juga, ya...


10. Ini yang paling saya senangi sebagai rakyat jelata kere hahaha. So, saya ke BBW menggunakan jalur angkutan umum: transportasi online ft KRL. Sebelum sampai lokasi BBW sudah terbayang akan seperti apa kira-kira derita yang diterima oleh bodi lansia saya ketika pulang dari BSD. I mean, pada saat BBW 2016 saya tidak terlalu memikirkan hal ini karena saat itu saya dan teman-teman berangkat ke sana menggunakan mobil pribadi (paling ditambah saya order ojek online untuk ke kos dari drop point terdekat), sementara saya dan teman murni menggunakan transportasi umum dari/ke lokasi BBW 2018. Untungnya sekarang BBW bekerjasama dengan TIKI, sehingga saya tidak perlu repot membawa pulang buku yang saya beli beserta titipan (non profit, saya bukan penyedia layanan jastip hehe) sana sini. Hal pertama yang saya dan teman lakukan begitu cuss dari pintu ke luar area bookfair adalah mencari booth TIKI hahaha. Agak jauh ya rupanya dari pintu ke luar menuju booth TIKI. Saya dan teman belum apa-apa sudah ngos-ngosan (ditambah kami kelaparan kelas berat!). Petugas TIKI juga sigap dan sabar sekali menghadapi kami berdua karena kami super lemot hahahaha lapar bodoh (kenyang gak bisa mikir). Pelayanan dari TIKI juga cukup maksimal. Kardus semuanya disediakan oleh mereka, meskipun ukuran kardusnya besar-besar sekali dan belanjaan kami tidak sebegitunya luar biasa dari segi jumlah hahaha. Tapi tenang saja. Disediakan solusi untuk menutupi kopong di dalam kardus. Misalnya, paket saya diberikan full bubble wrap di dalam kardus supaya agak padat dan menghindari buku rusak, kemudian di luar kardus masih dilapisi full plastik. Untuk paket titipan salah satu teman, di dalam kardus disumpal kertas lagi dan di luar kardus dilapisi full bubble wrap padat. Untuk pengiriman satuan juga tidak perlu khawatir. Untuk 1 buku titipan teman lainnya disediakan amplop coklat dan kemudian dilapisi full plastik. Aman lah. Pilihan jenis pengiriman juga diberikan beragam. Mulai dari paket SDS (Same Day Delivery) yang dihargai ongkos kirim sebesar IDR 15.000 per 3 kg (selanjutnya IDR 15.000 per kg), ONS (Over Night Service) seharga IDR 15.000 per kg, REG (Regular) seharga IDR 9.000 per kg, dan ECO (Economy) seharga IDR 5.000 per kg. Sebagai rakyat jelata sejati, tentu saya memilih layanan pengiriman ECO hahaha. Lagipula paket saya diantar ke Jakarta dan pengiriman Tangerang-Jakarta dengan layanan ECO biasanya tidak akan memakan waktu pengiriman lebih dari 4 hari kerja. Kalau memilih selain ECO dapat tambahan diskon 15%. Jadi, jika kurang yakin dengan layanan ECO memang sebaiknya pilih yang lain dan dapatkan privilege diskon tambahan yang tidak dimiliki oleh pengguna layanan ECO. Teman saya lainnya meminta paketnya dikirimkan dengan layanan ONS, malah tadinya ingin SDS supaya langsung terkirim. Apa daya kami kirim sudah kemalaman, sehingga layanan SDS sudah ditutup. Surprisingly, paket ECO saya sampai sedikit lebih dulu dibanding paket SDS teman yang dimaksud (pengiriman ke sesama Jakarta: saya di Jakarta Selatan dan teman di Jakarta Barat), yaitu sama-sama sampai di alamat masing-masing pada hari Kamis (29/03) pagi. ECO rasa ONS, demikianlah pengalaman saya. Hehehe.


Sayangnya saya tidak dapat membeli semua buku yang saya inginkan di BBW 2018, sama seperti yang saya alami di BBW 2016 hahaha. Budget saya sangat limited dan benar-benar seadanya. Saya sampai melakukan 4x sortir. 


Saat pertama datang di BBW 2018, itu sudah sekitar pukul 11.00 WIB (pembukaan pukul 08.00 WIB). Jelas sekali troli tarik maupun dorong yang berukuran besar sudah habis. Saya kebagian troli plastik biru yang ukurannya terkecil. Ini masih untung, ya. Saat BBW 2016, saya terpaksa menggunakan kardus tak terpakai karena sudah benar-bemar kehabisan troli. 


Begitu mulai hunting buku, biasanya saya memang main memasukkan apapun buku yang menarik bagi saya ke dalam troli, baru kemudian saya sortir. Ini kebiasaan yang terbentuk selama berburu diskonan sejak bertahun-tahun lalu, karena di urusan ini berlaku hukum rimba siapa cepat dia dapat. Minimal, saya keep dulu, urusan beli belakangan hahaha. Jadi, troli saya langsung penuh. Sangat penuh sampai beberapa kali troli terbalik ketika ditarik. Beruntung banyak dede unyu dan volunteer yang membantu saya memasukkan buku ke dalam troli hahaha. Akhirnya saya putuskan untuk cari pojokan terdekat untuk memulai sortir pertama. Nihil. Pojokan terdekat sudah penuh terisi jajaran troli penyedia layanan jastip. Duh. Akhirnya saya cari di pojokan lain yang agak jauh posisinya dari lokasi saya saat itu. Sembari mencari, saya menemukan troli plastik merah yang berukuran sedikit lebih besar. Jadilah saya berkeliling sambil menarik 2 troli. Such a rempong, memang, ye. Mana troli biru gampang sekali terbalik setiap menemukan lantai yang tidak rata hahahaha. Tidak lama, saya menemukan selipan kecil di antara troli-troli besar dan para jastipers yang sedang mencatat pesanan. Jongkok lah saya di situ. Buku-buku (sekitar 20 buku) yang tidak ingin dibeli saya letakkan di troli biru dan saya kembali bergerilya menggunakan troli merah.


Sebenarnya saya melakukan kesalahan. Banyak banner yang tertera di sana-sini, yang menyarankan pengunjung untuk mengembalikan "buku yang tidak jadi dibeli" supaya di-"simpan di tempatnya kembali" dan saya tidak mematuhi ini. Saya malah menaruhnya di dalam troli biru yang tidak lagi saya gunakan dan saya tinggalkan di antara troli para jastipers yang mangkal di pojokan. Sebaiknya jangan ditiru. 😢


Oke. Kemudian saya melanjutkan thawaf buku untuk fokus mencari buku yang ada di incaran sejak BBW mulai update buku yang mereka sediakan, serta tersedia harga member untuk buku yang dimaksud. Apalagi kalau bukan buku The Psychology Book?! Buku ini sudah ada di wishlist saya sejak tahun 2012 tapi selalu saya tunda karena harganya masih lumayan sekali, sekitar IDR 300.000-400.000. Begitu melihat harga bukh ini di BBW menjadi IDR 135.000 (harga umum) dan IDR 128.000 (harga member), siapa yang menolak? Hampir saja saya kehabisan buku ini! Saat kebingungan mencari buku di antara stand non fiksi, saya melihat orang yang memiliki 5 buah buku ini di dalam trolinya. Langsung saya kejar untuk bertanya di mana dia menemukan buku tersebut. Saya diarahkan untuk ke area member zone. Astaga silly me! Tidak terpikir oleh saya kalau buku yang memiliki diskon tambahan akan berada di area member zone. Ya sudah saya langsung ngebut ke sana. Saat itu stoknya sudah sangat sangat tipis. Bahkan saya sempat mendengar percakapan volunteer di area tersebut yang keduanya sama-sama menyatakan stok buku sudah hampir habis. Saya tidak tahu apakah sudah habis diborong atau memang stoknya sedikit.


Nah, saat berkeliling di area member zone inilah saya kemudian melihat ada troli besi berukuran cukup besar menganggur di deretan troli yang baru dimasukkan oleh volunteer. Hurray! Saya tinggalkan sebentar troli merah untuk berlari mengambil troli besi hahaha. Lalu saya pindahkan seisi troli merah ke dalam troli besi, baru saya kembalikan troli merah di lokasi troli-troli ditempatkan (dekat pintu masuk). Akhirnya. Backpack pun bisa saya masukkan ke dalam troli karena punggung saya mulai terasa pegal. Aktivitas berburu bisa dilakukan dengan lancar dan tangan-kaki ringan. Kaki terasa nyaman berkeliling dan tangan semakin rakus memasukkan buku apapun ke dalam troli dengan barbar. Sampai akhirnya, sudah tiba waktunya saya harus kembali sortir. Hahaha. Tidak masuk akal memang penampakan troli saya saat itu. Beberapa buku terus berjatuhan juga karena sudah ditambah dengan titipan beberapa teman. 


Maka, sortir ke-dua pun dilakukan. Kali ini saya benar-benar tidak menemukan pojokan yang cukup lowong untuk dipakai sortir. Terpaksa saya ke stand buku anak yang sedang sepi (masih selurusan dengan area staf) dan berdiri di situ sambil mengeluarkan isi troli satu per satu. Saya tumpuk buku-buku tersebut di atas jajaran buku di stand yang dimaksud berdasarkan skala prioritas. Ada tumpukan untuk yang benar-benar diinginkan, agak diinginkan, tidak begitu diinginkan (a.k.a khilaf mata karena covernya lucu lah, apalah lainnya hahaha), serta buku titipan teman. Lalu saya bingung buku yang disortir harus diletakkan di mana. Kemudian di pojokan dekat pintu masuk area staf ada banner bertuliskan drop point untuk buku yang tidak jadi dibeli. Saya, pun, menitipkan troli berisi tas serta buku yang saya keep kepada salah satu pengunjung, untuk membawa tumpukan buku edisi khilaf mata ke pojokan yang dimaksud hahaha. Saya tidak menghitung jumlah persisnya, yang jelas lebih dari 10 buku dan rata-rata berbentuk hardback... Ngg, berat!  Beruntung sebelum saya mencapai pojokan tadi, saya berpas-pasan dengan volunteer yang sedang mendorong kardus besaaaaaaaar sekali. Kardus ini untuk meletakkan buku-buku tidak jadi dibeli dari tiap pojokan dan selipan. Salah satu volunteer langsung mengambil tumpukan buku yang saya pegang. Kemudian, saya kembali ke troli.


Tapi saya merasa troli masih akan penuh sia-sia kalau saya kembali memasukkan buku-buku yang tersisa. Tidak pakai pikir panjang, saya melakukan sortir ke-tiga. Tumpukan buku kategori agak diinginkan pun out dari potensi masuk final list. Halah. Sayangnya, kardus volunteer sudah lenyap dari pandangan mata. Mereka sudah mulai gerilya ke arah yang sangat berlawanan dengan lokasi saya. Dengan langkah berat dan tangan pegal membawa lebih dari 10 buku mostky hardback, saya pun menuju pojok buku tidak jadi dibeli. Namun tempat itu sudah semakin penuh terisi troli jastipers. Atas saran salah satu pengunjung, saya letakkan tumpukan buku ini di salah pojokan persis di seberang pintu area staf. Kata si Mas, "Taro di sini, aja, Mbak. Nanti juga pasti diambilin.". Okay~


Selesai sortir ke-tiga, saya kembali bertemu dengan teman untuk melakukan thawaf terakhir, sekaligus berkoordinasi dengan yang menitip. Begitu sudah fixed semua para titipan ini, akhirnya kami mencari tempat untuk final sortir. Saat itu lokasi troli cenderung lowong, tidak terlalu banyak troli jastipers, sehingga kami memutuskan melakukan final sortir di sana. Inilah puncak kegalauan saya hahaha. Saya mencoba menghitung total belanjaan dan shock luar biasa. Saya sampai tertawa ngakak, saking mirisnya membayangkan betapa banyak itu melebihi budget maksimal yang saya tetapkan. Saya coba pilah-pilih lagi sampai puas dan akhirnya melepas 99% buku anak/remaja yang saya keep, serta mengenyahkan 100% YA dan popular/contemporer books lainnya. Semua non fiksi selain The Psychology Book juga saya kembalikan. Kemudian, dengan mencoba berpikir lebih matang, saya mengenyahkan 99% classics dan hanya menyisakan 2 buku Gabo -- dengan pertimbangan bahwa kedua buku ini sudah lama menjadi incaran saya dan sudah pernah baca tetapi belum memiliki buku fisiknya, sementara classics lain yang saya keep sebenarnya sudah pernah saya baca bahkan koleksi versi cover/penerbit/series selain yang saya keep di BBW 2018. So, sayonara to sekitar 30-40an buku di periode final sortir ini. Saya sempat bertanya ke salah 1 volunteer yang sedang merapikan troli, sebaiknya buku-buku yang tidak jadi dibeli saya letakkan di mana (sudah saya masukkan ke 1 troli merah yang menganggur di dekat saya saat itu), dan disarankan untuk ditinggal di antara troli itu saja karena nanti ada volunteer lain yang akan mengambil. Ya sudah. Bangkatlah saya dan teman ke kasir, itupun saya sempat-sempatnya kembali ke area literature untuk menukar buku Gabo karena saya baru memperhatikan bahwa cover-nya sobek. Untung tidak kembali kalap hahahaha. Saya hanya sanggup menebus yang ada di dalam foto hahahahaha... 💔


Dari 4x sortir ini terlihat, kan, kalau saya kebanyakan lapar matanya dibanding benar-benar membeli? Ckck. Lihat saja persentasi buku yang tidak jadi dibeli vs yang jadi dibeli. Ckck. Anggaplah yang tidak jadi dibeli sebanyak 80 buku (20 + 10 + 10 + 40), sementara yang dibeli kurang dari 20, jadi berapa total buku yang sempat mampir ke troli saya? Kurang lebih 100 judul. Buset! Mau jualan, Bu? 😂


Bagaimana kesimpulan dari cerita saya?


Rakyat jelata yang datang ke BBW jelas akan merasakan kesengsaraan yang hakiki akibat tidak mampu berfoya-foya sepuasnya.


Sekian dan terima #duituntuknia #biarbisa #jajandibbw #sepuasnya




Cheers! 

💋

30 December 2017

Blogtour The Heartbroken Heartbreaker



BLURB

"Kenapa kau bersama Seth Everett?" tanya Cedric. "Kau tahu cowok macam apa dia."
"Oh, jangan khawatir." aku menghardik mantan pacarku itu. "Kau sudah membantunya menghancurkan hatiku lebih dulu."

Kemarin malam, Seth tiba-tiba menawarkan bantuan kepada Kyla untuk membalas dendam kepada Cedric. Cedric memang tidak menyukai Seth. Mungkin itu ada hubungannya dengan reputasi Seth yang suka gonta-ganti pacar.

Kyla juga tidak menyukai Seth. Namun tawaran itu terus menerus ada di kepala Kyla. Jika ia bisa membalas Cedric yang memutuskannya demi sahabatnya... mungkin rasa sesak di dadanya bisa berkurang.


***

11 January 2017

Critical Eleven by Ika Natassa



BLURB

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat -- tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing -- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah -- delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


***

09 January 2017

Harta Karun di Pasar Cibogo

Semua bermula tahun lalu, ketika saya mulai pindah ke kos sekarang dan kangen sekali untuk berburu kebutuhan sehari-hari di pasar. Saat itu saya belum begitu paham dengan lokasi di sekitar kos yang terletak di dekat Bandung International School dan Hotel-Apartemen Majesty. Lebih tepatnya, saya tidak pernah terbayang bahwa ada pasar di dekat lokasi seperti ini, hahaha. Di bayangan saya, kalau ingin ke pasar, ya harus menempuh jarak yang lebih jauh.

Sampai akhirnya, sekitar bulan Agustus tahun 2013, salah satu adik sepupu harus tinggal di kos saya dulu selama sebulan sebelum semua urusan di kampusnya selesai -- yang sangat berantakan sistemnya karena baru berubah menjadi sebuah universitas itu, hih saya masih sangat emosi kalau ingat betapa jeleknya sistem administrasi kampus tersebut yang benar-benar merugikan mahasiswa baru, hahaha -- dan Tante saya yang sempat ikut menginap di seminggu pertama sangat "gerah" karena tidak dapat memasak dan harus membeli di tempat makan sekitar kos saya, yang saya akui bahwa rasanya benar-benar sangat "ajaib" dan terkadang tidak layak dibeli dengan harga cukup mahal, hahaha. Jadi, saya pun mencari tahu lokasi pasar terdekat (selain pasar swalayan Giant dan Griya yang tinggal ngesot sampai). Begitulah perkenalan saya dengan Pasar Cibogo dimulai. Pasar yang sangat kecil, to be honest...

Saya tidak pernah menyangka bahwa akan menemukan sebuah tempat berisi harta karun dunia yang luar biasa di sana!



Apalagi, kalau bukan buku-buku fiksi berbahasa Inggris yang murah...


***

08 January 2017

The Girl on the Train by Paula Hawkins

The Girl on the Train yang diterjemahkan oleh Penerbit Noura;
dalam bentuk buku fisik serta e-book di Jakarta Digital Library


BLURB

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggiran London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.


***

02 January 2017

Sekolah Impian : Perpustakaan dan Fungsinya


Ilustrasi gambar diperoleh dari sini.

Saya sangat menyukai buku bacaan yang menurut saya berkualitas, tidak hanya textbook. Jadi, menurut saya, sekolah impian adalah sekolah yang memiliki perpustakaan dengan koleksi yang menarik dan, ya, saya bersyukur karena memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat yang memiliki koleksi sesuai dengan impian saya tersebut. Setidaknya, saya merasakannya selama saya menimba ilmu di sekolah hingga sekarang. Cerita serupa terkait dengan aktivitas membaca koleksi buku di perpustakaan maupun tempat lainnya pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hingga SMA, saya bersekolah di Bandar Lampung dan (lagi-lagi) saya merasa bersyukur karena sekolah-sekolah tempat saya menimba ilmu memiliki koleksi-koleksi yang cukup memanjakan saya sesuai masanya. Begitu juga ketika saya mulai kuliah dan hijrah ke Depok.


***

31 December 2016

Selamat Merayakan Akhir Tahun, Buku!

Tahun 2016 kembali membuktikan kepada saya bahwa rezeki saya memang lebih sering muncul lewat buku-buku gratis. Hahaha. Bahkan, hingga di momen menjelang akhir tahun pun saya menemukan rezeki lewat paket buku dari salah satu penerbit mayor di Indonesia.

Bukan. Ini bukan buku yang didapatkan secara gratis.

Rezeki buku yang saya terima di sepanjang tahun 2016 mencapai puluhan. Dua bulan belakangan ini pun setidaknya ada lebih dari 20 buku yang saya dapatkan secara cuma-cuma, tanpa mengeluarkan uang sedikit pun.

Alhamdulillah...


***

Kaleidoskop Buku 2016 - An Unpredictable Journey

Sebagai seseorang yang memiliki ultimate bias pada karya-karya klasik, tahun ini saya menjalani perjalanan membaca yang unpredictable. Saya sendiri masih agak tidak percaya bahwa melencengnya saya tahun ini bisa sampai ke jenis tulisan yang sebelumnya sangat membuat saya tidak tertarik. Entah magnet apa yang menarik saya ke sana.


Saya tidak dapat menghitung berapa persisnya jumlah buku yang saya baca karena tidak tercatat dengan rapi. Tetapi, dengan pertimbangan jumlah buku yang saya upload di social media, dan ditambah dengan perkiraan jumlah buku yang berhasil saya baca namun tidak terpublikasikan social media saya, maka jumlah buku yang saya baca tahun ini kemungkinan mencapai 450-500 buku; mencakup buku baru dan buku yang saya baca ulang. Sebagian kecil di antaranya adalah komik.


***

30 December 2016

Peluncuran Novel Dark Memory Bersama Jack Lance dan Penerbit BIP - Edited



Dua hari yang lalu saya mengikuti sebuah event yang diadakan oleh Penerbit BIP, yaitu acara Peluncuran Buku Dark Memory Bersama Jack Lance. Nah, Jack Lance ini adalah nama penulis buku yang dimaksud.

Sudah lama saya tidak mengikuti acara peluncuran buku, sehingga saya memutuskan untuk ikut. Selain itu, saya juga sudah lama tidak ke Gramedia Central Park; ada buku import yang saya cari dan kebetulan sulit menemukannya di Gramedia lain yang menyediakan buku import. Ya, siapa tahu ada di Gramedia Central Park, kan ya? Walaupun ternyata juga tidak ada di sana, sih. Hahaha.


***

29 December 2016

Hari Setelah Kita Jatuh Cinta by Halluna Lina



BLURB

Saat membatalkan pernikahannya sendiri, Rasi merasa langit runtuh dan mengubur dirinya di kedalaman bumi hingga mustahil dirinya bangkit lagi. Akan tetapi, Tuhan tidak kehabisan kejutan. Di saat Rasi selesai membenahi hati dan kembali menjalani hidup, hadirlah Reuben. Lelaki itu membuat Rasi berpikir apakah dia hadir sebagai tiket untuk bisa bangkit kembali dan jatuh cinta? Rasi berpikir demikian saat tangan Reuben terulur, menawarkan kebersamaan, dan tanpa sadar member Rasi mimpi.

Rasi menyerahkan segala kepercayaan dan menyilakan Reuben masuk pada bagian dirinya yang tidak pernah dibagi pada sembarang orang. Tapi, di saat sama, Rasi tahu bahwa Reuben bukan datang padanya sebagai kesempatan untuk kembali jatuh cinta. Reuben justru datang untuk menggenapkan pengalamannya patah hati. Di titik itulah, Rasi terlembat menyadari bahwa penyakit yang selama dua tahun ini susah payah disembuhkan, nyatanya kembali datang. Penyakit yang membuatnya lupa, bahwa patah hati ada untuk dihadapi, bukan dihindari.


***

28 December 2016

And My Very First Book Was...

Jadi begini...

Kalau diminta untuk bercerita tentang buku pertama, jelas saya kebingungan total hahaha. Saya tidak ingat buku apa yang pertama kali saya baca atau buku mana yang pertama kalinya dibacakan kepada saya. Kita asumsikan saja, saya mulai membaca dan/atau dibacakan buku itu ketika saya berusia 2-3 tahun (dengan asumsi bahwa saya dibacakan dan/atau mulai membaca buku saat saya sudah lancar berbicara), maka kejadiannya sudah 26-27 tahun yang lalu hahaha. Ditambah dengan kemungkinan bahwa yang membacakan atau membantu saya membaca adalah Ayah - Ibu - Andung (panggilan saya untuk Nenek dari pihak Ibu) - Uncu (Tante bungsu dari pihak Ibu) yang saat itu secara aktif mengasuh saya, maka ada banyak sekali kemungkinan jenis bacaan yang saya "lahap" pertama kali. Apalagi, Ayah/Ibu/Andung/Uncu sama-sama senang bercerita dan memiliki hubungan yang dekat dengan saya, dan beliau berempat tadi memiliki latar belakang yang berbeda-beda yang pastinya akan turut mempengaruhi bacaan yang dicekoki ke saya, jadi saya menjadi semakin tidak yakin jenis bacaan seperti apa yang saya terima pertama kali, hahaha.

25 December 2016

Mom, I Love You: Kumpulan Pemenang Lomba Esai Remaja by Unicef & Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia


Judul: Mom, I Love You - Kumpulan Pemenang Lomba Esai Remaja
Pengarang: Unicef & Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia
Ilustrator: Mantox
Jenis: Non Fiksi, Esai
ISBN: 979-752-110-9
Penerbit: DAR! Mizan (Mizan Media Group)
Tahun Terbit: 2004
Jumlah Halaman: 269++



BLURB

Anak-anak mungkin tidak pernah menggugat. Mereka mungkin terlihat diam dan seolah menerima keadaan, pasrah, menurut, karena keputusan mereka hampir selalu ditentukan orang dewasa.

Ya, di tangan orang dewasalah -- salah satunya orangtua -- kebanyakan nasib dan hak anak bergantung. Sayangnya, banyak orang dewasa yang tidak bijak; buta mata-buta hati, tuli, dan menagnggap sepele persoalan anak-anak. Buku ini mengajak kita menelusuri protes dan frustrasi anak-anak menghadapi sikap orang dewasa yang bebal, yang menganggap urusan anak-anak tidak lebih penting daripada urusan negara. Huh!


***

24 December 2016

Porno! A-Z about Ponography by Azimah Soebagijo



Judul: Porno! A-Z about Ponography
Pengarang: Azimah Soebagijo
Ilustrator: Telia
Jenis: Non Fiksi, Materi Sex Education
ISBN: 979-793-138-2
Penerbit: Femmeline (Syaamil Cipta Media Group)
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 156++



Pernah nggak kamu bayangkan semua ini?
Lelaki yang kamu harapkan akan selalu menyayangi, menjaga, dan melindungi kamu, justru menjadi monster menakutkan.


***

Bagaimana Harus Memulainya? - Tanya Jawab Antara Anak, Remaja & Orangtua Seputar Seksualitas by Bunga Kamase Kobong


Judul: Bagaimana Harus Memulainya? - Tanya Jawab Antara Anak, Remaja & Orangtua Seputar Seksualitas
Pengarang: Bunga Kamase Kobong
Ilustrator: Nicholas WAP (Kobam)
Jenis: Non Fiksi, Materi Sex Education
ISBN: 979-99562-0-X
Penerbit: Sahabat Peduli bekerjasama dengan Embassy of Finland
Tahun Terbit: 2007 (Cetakan 2)
Jumlah Halaman: 119++


Kak, kalau ngomong seks dosa nggak?

Membicarakan seks atau mencari informasi yang benar tentang seks bukanlah dosa. Yang salah adalah apabila kita memakai seks untuk tujuan yang tidak baik dan melawan peraturan agama maupun nilai dalam masyarakat.

Anak saya 6 tahun laki-laki sudah terima surat cinta dari temannya. Bagaimana menjelaskannya?

Bertanyalah kepada anak, apa yang ia mengerti bila seseorang menerima surat cinta. Bagaimana perasaannya? Kembalilah kepada kesepatakan dan peraturan keluarga, tentang usia berapa anak boleh terlibat dalam hubungan cinta. Jelaskan dengan sabar apa konsekuensi suatu hubungan, bertanyalah kepada anak ia siap menjalani konsekuensi itu.


EnSexclopedia: Tanya Jawab Masalah Pubertas dan Seksualitas Remaja by Elly Risman, Hilman Al Madani, Yuhyina Maisura


Judul: EnSexclopedia - Tanya Jawab Masalah Pubertas dan Seksualitas
Pengarang: Elly Risman, Hilman Al Madani, Yuhyina Maisura
Ilustrator: ROyas Amri Bestian
Jenis: Non Fiksi, Materi Sex Education
ISBN: 978-602-96925-0-1
Penerbit: Yayasan Kita dan Buah Hati
Tahun Terbit: 2010 (Cetakan 3)
Jumlah Halaman: 119++


Untukmu...

Kalo denger kata-kata seks atau pubertas rasanya gimanaa gitu ya.. ada yang bilang joroklah, nggak panteslah, dan lain-lain deh yang bikin kita jadi risih banget ngomonginnya. Boro-boro mau nanya, lagian mo nanya siapa coba? Ortu? Guru? Nggak mungkin banget kan? Padahal yang namanya seks, apalagi pubertas bukan hal yang buruk seperti yang kebanyakan orang-orang bilang. Kalo saja kita tau yang sebenernya tentang seks juga pubertas, pasti dunia remaja yang kita jalanin bakalan aman dan asyik-asyik aja. Sepakat?

Nah, buku yang sekarang lagi di tanganmu kayaknya emang pas banget buat nuntasin rasa ingin tau kamu soal seks, seksualitas, juga pubertas dari sisi medis, psikologis, dan religius. Pastinya bakalan bener-bener komplit, enak dibaca en pas buat kita. Semoga bermanfaat! Happy reading!